MANAGED BY:
MINGGU
12 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Minggu, 26 Januari 2020 00:06
Mantau dan Bakpao yang Turun-temurun
-

PROKAL.CO,

MANTAU dan bakpao. Mirip tapi beda. Roti kukus khas Tiongkok yang tak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia. Hasil akulturasi dengan budaya, dua kudapan itu berkembang dengan bentuk dan rasa, bergantung pada selera pembuatnya.

Di Balikpapan, meski tak setenar kepiting, mantau sudah menjadi alternatif oleh-oleh bagi pelancong yang datang ke Kota Minyak. Penjualnya tak hanya dari warga keturunan Tionghoa. Banyak warga pribumi mengolahnya dengan berbagai isian. “Kalau mantau di sini itu tanpa isi,” kata Hilda, pemilik Kedai Mantaw dan Bakpao Canton di Jalan Jenderal Sudirman, Balikpapan Kota.

Meski mantau dan bakpao sama-sama dibuat dengan adonan tepung beras yang difermentasi dengan ragi, keduanya berbeda secara tekstur dan rasa. Mantau memiliki tekstur lebih padat dan rasa lebih manis. Bisa dikukus atau digoreng. Biasanya disantap dengan menu pendamping. “Lebih sedap dimakan bersama sapi lada hitam,” ujar pemilik nama lahir Mie Tjun itu.

Sementara itu, bakpao memiliki tekstur lebih mengembang. Masaknya pun hanya dengan cara dikukus. Hilda menyebut, bakpao memang harus kaya isian. Di kedainya, dia menjual bakpao dengan tujuh varian isi. Ada ayam panggang, ayam kecap, cokelat, kacang hijau, kacang merah, kelapa, dan durian. “Khusus untuk durian, dibuatnya ketika sedang musim,” sebutnya.

Tampilan bakpao yang dibuatnya juga lebih berwarna. Itu karena dia menambahkan bahan lain selain tepung beras. Yakni, ubi dan labu. Rasa bakpao masuk ke level berbeda. Teksturnya lebih lembut. Campuran ubi atau labu menimbulkan sensasi manis tersendiri. Apalagi jika disajikan hangat sambil ditemani secangkir kopi atau teh susu panas. “Cocok buat sarapan,” ungkap pemegang 23 sertifikat memasak makanan dari Italia hingga Thailand itu. 

Mengulik sejarah, mantau dan bakpao memang sudah dikenal di Tiongkok hampir 2.000 tahun lamanya. Dulu, kedua kudapan itu lebih dikenal dengan nama roti kukus isi. Menjadi makanan pokok terutama di kawasan utara dataran Tiongkok. Menemani perjalanan panjang era Dinasti Tiga Kerajaan (220–280 M).

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 24 Juni 2020 20:44

Perempuan 48 Tahun di Paser Positif Corona Meninggal Dunia

SAMARINDA - Kasus meninggal dunia positif Corona (covid-19) di Kaltim…

Rabu, 24 Juni 2020 17:37

Kaltim Tertinggi di Kalimantan, Angka Pengangguran Meroket karena Corona

SAMARINDA- Akibat penyebaran virus corona (covid-19) di Kaltim, Dinas Tenaga…

Selasa, 23 Juni 2020 20:35

Kasus Covid-19 Tambah 9 di Balikpapan dan 3 di Berau, Total 447 di Kaltim

SAMARINDA - Kasus positif virus corona (covid-19) di Kalimantan Timur…

Selasa, 23 Juni 2020 13:05

Tiga Jam Tengah Malam Bersama Ketua DPRD Balikpapan Abdulloh

Minggu (21/6) malam, manajemen Kaltim Post ngobrol santai bersama Ketua…

Selasa, 23 Juni 2020 13:05

PDIP Ingatkan Peta Politik Bisa Berubah

DARI Balikpapan, sejauh ini ada dua figur yang mencuat ke…

Selasa, 23 Juni 2020 13:04

Ngos-ngosan Usung Kader Sendiri

SAMARINDA–Manuver Demokrat dan Golkar menyambut Pilkada Samarinda masih terbilang landai.…

Senin, 22 Juni 2020 13:19

Balita di Balikpapan Positif Covid-19

SEMENTARA itu, masih terlalu dini untuk menilai apakah penularan Covid-19…

Senin, 22 Juni 2020 13:17

Heri Yulianto, Sembuh dari Stroke setelah Rutin Bersepeda

Dia mengaku sebagai gila sepeda. Rela bercapek ria menempuh ratusan…

Senin, 22 Juni 2020 12:41

Pilwali Samarinda, PDIP Belum Tentukan Sikap, PAN Resmi Usung Barkati-Darlis

SAMARINDA–Duet Barkati dan Darlis Pattalongi yang sudah mengantongi restu DPP…

Senin, 22 Juni 2020 12:39

Sering “Kecolongan” Pendatang lewat Pelabuhan

BALIKPAPAN- Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Balikpapan masih mencari formulasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers