MANAGED BY:
SELASA
25 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 20 Januari 2020 10:26
Setelah Keraton Agung Sejagat “Runtuh
Tukang Loak Itu Pun Batal Jadi Jenderal Bintang Tiga
Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Totok Santosa (kanan)- Fanny Aminadia(kiri). (BUDI AGUNG/JAWA POS RADAR JOGJA)

PROKAL.CO, Seragam yang gagah, jabatan mentereng, iming-iming bayaran, dan cerita tentang Pentagon menjadi pemikat banyak orang ikut Keraton Agung Sejagat. Tak peduli harus pinjam uang tetangga, menjual sapi, atau meninggalkan pekerjaan.

 

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Purworejo

 

BUKAN main senangnya Siti Hariati mengenakan seragam itu. Ada pangkatnya lagi: bintang satu. Alias senopati atau semacam camat. Belum lagi gajinya. Kata Siti, puluhan sampai ratusan juta. “Agustus nanti gaji kami berdua cair,” katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya di Purworejo, Jawa Tengah.

Ya, Siti tak sendirian yang menjadi pejabat di Keraton Agung Sejagat (KAS). Suaminya, Estrianto, malah lebih tinggi lagi kedudukannya: Yuamantri atau setingkat menteri. Tapi, Kamis siang (16/1) lalu itu, hanya Siti yang berseragam. Teguh, sapaan akrab Estrianto, tidak. Malu katanya.

Siti dan Teguh adalah dua di antara ratusan penggawa KAS, kerajaan yang berpusat di Desa Pogungjurutengah, Purworejo. Tapi, tak seperti banyak kolega mereka yang baru sadar telah jadi korban penipuan, keyakinan suami-istri itu tak goyah. Bahwa KAS akan membawa Jawa pada zaman kemakmuran.

“Mudah-mudahan sinuwun dan kanjeng ratu bisa segera bebas lagi agar misi Keraton Agung Sejagat bisa segera terwujud,” kata Siti yang bersama Teguh sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu.

Siti Heriati menunjukkan sertifikat yang dia dapat dari KAS

 

 

 

Sinuwun yang dimaksud adalah Totok Santoso, sedangkan sang permaisuri adalah Fanny Aminadia. Keduanya kini menjadi tahanan Polda Jateng karena kasus penipuan dan penyebaran berita bohong.

Sinuhun Totok Santosa Hadiningrat dan Kanjeng Ratu Dyah Gtarja, gelar Totok serta Fanny, “memproklamasikan” KAS pada Minggu pekan lalu (12/1). Totok mengklaim kalau KAS hadir untuk melaksanakan perjanjian yang dilakukan Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Kerajaan Majapahit dengan Portugal sebagai wakil orang-orang Barat di Malaka 500 tahun silam.

Tapi, raja dan ratu dadakan itu kemudian diringkus polisi dua hari setelah deklarasi tersebut. Menurut Kapolda Jateng Irjen Rycko Amelza Dahniel, korban penipuan mereka mencapai ratusan.

Para penggawa KAS memang disebut mencapai 450 orang. Asalnya dari berbagai daerah, tak cuma Purworejo. Latar belakang mereka juga beragam. 

Lalu, apa yang menyebabkan ratusan orang itu bisa demikian percaya dengan umbaran janji Totok tentang jabatan dan kemakmuran meski, menurut polisi, mereka harus rela merogoh kocek antara Rp 2–10 juta? Dan, bagaimana nasib mereka sekarang? “Saya tertarik ya karena iming-iming jabatan dan gaji. Juga, kelihatan gagah kalau pakai seragam,” kata Eko Pratolong, penggawa KAS.

Tak seperti Siti dan Teguh yang masih percaya penuh dengan KAS, Eko kini sadar telah ditipu. Dia harus menanggung tak cuma malu, tapi juga beban finansial. Bagaimana tidak, posisinya yang strategis di kerajaan itu, dibelinya dengan cara meminjam uang tetangga. Eko dilantik menjadi jenderal bintang tiga saat kirab sekaligus deklarasi KAS pekan lalu. Padahal, sang istri sedari awal sudah mengingatkan.

Eko mengaku sudah membayar Rp 2 juta. Pembayaran tersebut digunakan untuk membeli seragam keraton. "Harganya beda-beda, tergantung dari pangkatnya," ucap Eko.

Siti dan Teguh mengaku, jika ditotal, mereka sudah menghabiskan Rp 20 juta. Itu terhitung sejak kali pertama mereka bergabung di Development Economic Committee (DEC), organisasi yang lebih dulu didirikan Totok, sampai ketika aktif di KAS. Pembayaran pertama sekitar Rp 7 juta pada 2016.

Pada akhir tahun kemarin, sebelum pembentukan keraton, mereka membayar masing-masing Rp 2 juta. Dengan alasan, untuk membuat seragam saat kirab dan pelantikan. “Pembayaran sesuai kemampuan anggota. Kami jual sapi untuk semua biaya itu,” kata Siti yang tinggal di desa yang berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi KAS itu.

Eko sehari-hari adalah Kasi Pemerintahan Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo. Itu yang membuat beban yang dia rasakan berlipat-lipat setelah KAS “runtuh” dan raja serta ratunya ditangkap polisi. “Semula, saya janji ke tetangga yang meminjamkan uang, akan saya bayar setelah bayaran sebagai pejabat di KAS cair. Tapi, itu ya tak mungkin lagi sekarang,” katanya.

Namono juga sampai rela meninggalkan pekerjaan sebagai tukang loak demi mengabdi ke KAS. Selama mengabdi, Mono, sapaan akrabnya, tak pernah digaji. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, istrinya yang harus jualan sayur dan menjadi buruh pijat. Bahkan, akhir tahun kemarin, dia meminta uang kepada istrinya Rp 1 juta.

Tujuannya untuk membayar seragam. “Pangkatnya jenderal bintang tiga," ucap Utami, istri Namono. Mono, kata sang istri, adalah tenaga bangunan yang mengerjakan bangunan keraton. Tapi dia tidak pernah dapat uang. Nantinya, bayarannya, seperti dijanjikan juga kepada Siti, Teguh, Eko, dan para penggawa lain, baru akan turun tahun ini.

Semakin tinggi jabatan, gaji yang dijanjikan juga semakin tinggi. Tapi, untuk bisa naik jabatan, penggawa KAS juga harus membayar dulu. Yang seperti Namono, yang sampai rela melepas pekerjaan juga tak sedikit. Chikmawan, misalnya, rela keluar dari pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil di Pemkab Purworejo.

Chikmawan menjadi tangan kanan Totok di Purworejo. Dia bertugas mencari anggota. Baik ketika membuat DEC atau saat mendirikan kerajaan. Chikmawan ini sosok yang loyal. Tanahnya seluas 1 hektare di Pogung Juru Tengah pun direlakan untuk dibuat keraton.

Beberapa warga sekitar juga sempat direkrut. Namun, banyak yang keluar karena tak mampu membayar iuran keanggotaan. Karena itulah, segelintir saja warga di sekitar keraton yang ikut di KAS. Empat orang saja.

Dalam kolomnya di Jawa Pos (16/1), Adrian Perkasa menulis, revivalisme Majapahit yang dimaksud dalam kasus KAS adalah ide akan kebangkitan suatu masa keemasan yang pernah dicapai kerajaan tersebut pada masa lalu. Menurut Henley dan Davidson (2008), revivalisme semacam ini semakin menjamur di Indonesia pasca-reformasi karena berbagai macam faktor. Di antaranya, politik, ekonomi, dan sosial.

Dalam bahasa lain, kepincutnya para penggawa KAS akan iming-iming seragam, jabatan, bayaran, itu bisa jadi karena dalam benak mereka sudah tertancap keyakinan akan zaman kemakmuran itu. Zaman ketika kekuasaan dunia dikembalikan ke Jawa dan segala kemerosotan dibenahi, seperti yang dijanjikan Totok lewat KAS. ?

Siti mengenang bagaimana Totok pernah bercerita pernah jadi agen CIA, lembaga intelijen Amerika Serikat (AS). Di lain waktu, Totok juga mengaku pernah menerbangkan pesawat tempur dari Pentagon alias Kementerian Pertahanan AS. 

Siti dan Teguh tak tahu apa itu CIA dan Pentagon. Tapi, mereka kagum dan percaya penuh dengan cerita sang raja. Untuk alasan yang kurang lebih sama, mungkin, yang menyebabkan pula kemunculan sejumlah kerajaan baru. Ada Sunda Empire-Earth Empire di Bandung. Pajang di Sukoharjo dan Djipang di Cepu, Blora.

Pajang dan Djipang memang punya pijakan historis sebagai sejarah. Mereka yang belakangan “menghidupkannya” lagi beralasan sekadar “uri-uri” atau ekspresi kebudayaan.

Tapi, untuk Sunda Empire, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, seperti dikutip Radar Bandung, menyebut fenomena itu menunjukkan banyak yang stres di republik ini. Sayang Emil, sapaan akrab sang gubernur, tak memerinci yang mengakibatkan stres itu.

Yang jelas, nun di Purworejo sana, memang banyak yang sadar telah jadi korban penipuan. Banyak pula yang malu. Tapi, ada juga yang seperti Siti dan Teguh. Ikhlas, tak merasa ditipu, serta masih sepenuhnya yakin kalau KAS akan membawa mereka ke “zaman yang dijanjikan” itu. “Saya kasihan dengan raja dan permaisuri, semoga segera bebas,” kata Siti. (*/ttg/rom/k8)     

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 25 Februari 2020 15:25

Mahathir Jadi Pelaksana Tugas sampai PM Baru Terpilih

KUALA LUMPUR– Politik Malaysia meledak dalam 24 jam terakhir. Perdana…

Selasa, 25 Februari 2020 13:18

Tanpa Corona Batu Bara Sudah Susah

Pada awal 2020, Tiongkok yang menjadi tujuan utama ekspor Kaltim…

Selasa, 25 Februari 2020 11:47

PPU Banjir, Apakah Lokasi IKN Rawan Banjir Juga..?

JAKARTA- Salah satu kawasan yang hendak dijadikan lokasi ibu kota negara…

Selasa, 25 Februari 2020 11:41

WOW..!! Pembangunan Tol dan Mal Menjadi Incaran Swasta di Ibu Kota Baru

JAKARTA- Ibu Kota baru di Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi incaran…

Senin, 24 Februari 2020 17:27

Dicalonkan Ketua Golkar Kaltim, Isran Tersenyum dan Enggan Jawab Pertanyaan Wartawan

SAMARINDA - Isran Noor kembali enggan menjawab pertanyaan wartawan. Kali…

Senin, 24 Februari 2020 15:10

Panik Corona, Korea Tetapkan Status Darurat

Korea Selatan (Korsel) makin panik dengan persebaran virus corona. Terakhir,…

Senin, 24 Februari 2020 14:45

Gara-gara Virus Korona, Bali Bisa Kehilangan Sejuta Wisatawan Tiongkok, Pantai Kuta Kini Didominasi Turis India

Keputusan pemerintah menghentikan penerbangan dari dan ke Tiongkok membuat pariwisata…

Senin, 24 Februari 2020 14:14

Seluruh Siswa Berhasil Ditemukan, Korban Meninggal Susur Sungai Jadi 10 Orang

JAKARTA--  Tim SAR Gabungan dibawah koordinasi BPBD Yogyakarta berhasil menemukan…

Senin, 24 Februari 2020 14:10

KPK Minta Parpol Usung Calon Tanpa Mahar

JAKARTA- KPK memberikan perhatian serius terhadap proses pencalonan kepala daerah…

Senin, 24 Februari 2020 14:08

Di Proyek Ini Tenaga Kerja Tiongkok Tak Datang, Pakai Tenaga Lokal

JAKARTA– Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung sempat dikhawatirkan molor pasca…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers