MANAGED BY:
JUMAT
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 15 Januari 2020 13:23
Banjir Samarinda yang Tak Berkesudahan
Imbas Alih Fungsi Lahan dan Drainase Buruk
Banjir di Jalan Pramuka Samarinda. Di jalan ini drainasenya sangat buruk.

PROKAL.CO, BANJIR yang terjadi di Samarinda bukan semata karena topografi ataupun fenomena cuaca ekstrem belakangan ini. “Jika masalahnya itu, Samarinda bakal banjir sejak jaman purbakala,” ucap akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Bernaulus Saragih. Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan Samarinda kerap banjir. Mulai intensitas hujan, luas daerah tangkapan air (daerah aliran sungai), kualitas tangkapan air, hingga drainase (saluran air) yang ada.

“Empat faktor itu yang menjadi penentu. Kalau curah hujan memang tidak bisa kita tentukan karena faktor alam, yang bisa dianalisis itu soal daerah tangkapan airnya,” jelasnya. Pengupasan dan alih fungsi lahan menjadi penyebab daerah tangkapan air di ibu kota Kaltim menjadi menurun. “Itu juga didukung dengan keadaan selama ini, bisa dilihat dari informasi yang ada, seperti di hulu Sungai Karang Mumus, seperti Pampang, Sungai Siring, dan Sungai Lantung yang dulunya hijau dan daerah tangkapan air tapi sudah berubah fungsinya,” ungkap dosen Fakultas Kehutanan Unmul tersebut. 

Selain itu, pendangkalan SKM dan sistem drainase yang buruk turut memperbesar faktor banjir. Bernaulus turut mempertanyakan kualitas pembangunan drainase yang ada. “Saya juga selalu mengatakan untuk mengatasi banjir perlu satu koordinasi, selalu konsistensi dan adanya keberlanjutan. Jangan sporadis, bangun di sana-sini tapi tidak kesinambungan, ya sama saja bohong. Harus ada rencana yang baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim Hafidz Prasetyo mengungkapkan, penanganan banjir di Kota Tepian seolah tidak menyentuh permasalahan utamanya. Menurutnya, perhatian pemerintah di wilayah hulu masih minim. Pembukaan lahan yang masif, membuat banjir makin parah terjadi di Samarinda. Hulu yang semula sebagai tempat resapan air, berubah menjadi lahan tambang dan perumahan.

Akibatnya, sungai pun menambah beban berat akibat air semua lari ke sungai ditambah tanah sedimentasi. “Kan kita tahu Samarinda 70 persen wilayahnya sudah dikaveling konsesi tambang. Nah, parahnya enggak ada satu pun perusahaan tambang yang melakukan reklamasi atau rehabilitasi lahan seusai mengeruk. Pemerintah pun sepertinya tidak ada upaya untuk mendorong perusahaan melakukan reklamasi itu,” ucap Hafidz.

Sementara itu, Kecamatan Samarinda Utara menjadi yang paling terdampak banjir. Sekitar 29 RT yang terdiri atas 5.431 jiwa menjadi korban banjir dari kecamatan ini. Padahal, Samarinda Utara adalah kawasan paling dekat dengan hulu Sungai Karang Mumus (SKM), sungai yang membelah Samarinda. Seharusnya, kawasan ini menjadi tempat paling banyak penghijauan. Tetapi sayang, di kawasan ini banyak pula pertambangan batu bara.

Dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kaltim 2014, sistem pengendalian banjir di Samarinda sebagaimana dimaksud melalui pembuatan kolam retensi dan kolam detensi untuk menampung luapan air yang terletak di Kecamatan Samarinda Utara, Samarinda Ulu, dan Sungai Pinang. Namun, pembuatan kolam retensi juga susah karena sudah banyak permukiman di Samarinda Utara. Normalisasi SKM pun masuk Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diusulkan Pemprov Kaltim dengan nilai Rp 2 triliun.

Diharapkan, normalisasi sungai ini bisa menanggulangi banjir di sebagian besar wilayah Samarinda. Anggarannya, mayoritas dari pusat. Pemprov hanya membantu upaya pembebasan lahan. “Pemprov Kaltim berusaha menghindari pembiayaan megaproyek dengan APBD. Namun, diarahkan agar bisa masuk ke skema pembiayaan proyek strategis nasional (PSN),” ucap Gubernur Isran Noor.

Namun, tepi SKM sudah dipenuhi rumah masyarakat, lebar sungai ini tinggal 5 meter, padahal seharusnya 40 meter, akibat banyaknya penduduk di tepi sungai. SKM harus menanggung beban dari hulu, masyarakat di tepinya, dan limbah masyarakat di sepanjang tubuhnya, kala hujan dia pun meluap. Pemerintah pun, harus menemui persoalan serius jika hendak melakukan normalisasi sungai. Ribuan rumah harus direlokasi, selain butuh uang tak sedikit, relokasi ribuan rumah ini perkara berat karena berkaitan masalah sosial.

Tentu, bukan perkara mudah memindahkan orang yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut. Meski begitu, Hafidz mengatakan, sudah banyak uang yang digelontorkan untuk mengatasi banjir. Namun, persoalan ini tak kunjung tuntas. Harus sinergi berbagai instansi karena kerjanya bukan hanya pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kaltim atau Samarinda yang biasanya membuat drainase atau polder saja. Namun, lebih dari itu. Sebab, bicara mengatasi bukan lahan dan mengurangi izin tambang.

Normalisasi SKM pun disebut Hafidz sebagai penanganan jangka pendek, jika tidak menyentuh di hulu. “Rehabilitasi lahan dan menambah RTH (ruang terbuka hijau) yang menurutku ideal,” pungkas Hafidz. (nyc/dra/*/dad/*/eza/riz/k16)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 20 Februari 2020 16:55

Orangtua Yusuf Minta Keadilan ke Presiden

KASUS Yusuf Ahmad Gazali, balita yang ditemukan tewas tanpa kepala…

Kamis, 20 Februari 2020 14:56

Terancam Longsor, Warga Desa Mulawarman Mengungsi

Adanya pergerakan tanah di Desa Mulawarman membuat warga setempat mengungsi.…

Kamis, 20 Februari 2020 11:47

Pemerintah Serahkan RUU IKN ke DPR Pekan Depan

JAKARTA– Persiapan pembangunan dan pengelolaan ibu kota negara (IKN) yang…

Kamis, 20 Februari 2020 10:43

Kedatangan Harun Baru Tercatat 19 Januari, Imigrasi Berdalih Server Tidak Sinkron

JAKARTA -- Tim gabungan independen beberapa kementerian dan lembaga mengumumkan…

Rabu, 19 Februari 2020 12:08

Lokasi Ibu Kota Negara Tak Terdampak Banjir di Penajam

Gara-gara foto dan narasi tak terkonfirmasi di media daring, banyak…

Rabu, 19 Februari 2020 12:05

Makmur Diklaim Usung Isran, Musda Golkar Kaltim, Calon Tunggal Menguat

SAMARINDA–Hiruk-pikuk mencari pengganti Rita Widyasari memimpin Golkar Kaltim lima tahun…

Rabu, 19 Februari 2020 12:04

Makam Dibongkar, Bawa Tulang ke Jakarta

Jasad Yusuf Ahmad Gazali digali dari kuburnya kemarin (18/2). Untuk…

Rabu, 19 Februari 2020 12:02

Keluarga Berharap Ada Titik Terang

TATAPAN Bambang Sulistyo beberapa kali melihat ke arah makam anaknya,…

Rabu, 19 Februari 2020 11:29

Pengusaha Malaysia Mulai Petakan Peluang

Hadirnya ibu kota negara (IKN) di Kaltim membuat mata investor…

Rabu, 19 Februari 2020 11:24

Coastal Road Tunggu Izin Reklamasi

BALIKPAPAN – Meski awalnya target pembangunan fisik berjalan Februari, proyek…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers