MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SELISIK/LAPSUS

Senin, 23 Desember 2019 11:14
PELUIT MAFIA LIGA TIGA
Diminta Mengalah, Bayarannya Rp 500 Juta

PROKAL.CO, Peluang Bontang City FC menembus 16 besar Liga 3 masih terbuka. Syaratnya, mereka harus menundukkan Perseta Tulungagung yang bermain di kandang sendiri. Di tengah perjuangan, mafia pengaturan skor masuk. Menggoda untuk mengalah dengan imbalan tumpukan rupiah.

 

PONSEL milik Tito– nama samaran petinggi Bontang City FC – berdering, Ahad, 15 Desember, sekira pukul 22.00. Panggilan dari nomor tidak dikenal itu diabaikan. Merasa penasaran, dia menghubungi balik selang 20 menit kemudian melalui pesan WhatsApp. Jawaban yang diterima Tito semakin membuatnya penasaran, “Bos saya (mau) telepon pak.” Benar saja, nomor tidak dikenal lainnya menghubungi. Dengan sedikit basa-basi, Tito ditawari agar timnya mengalah. Per gol dihargai Rp 20 juta. Jika sepakat, mafia pengaturan skor akan memberinya uang muka.

 

Dia coba mengulik bos yang dimaksud. Namun hanya diberi jawaban bahwa mafia itu berasal dari Malaysia. Jangkauannya tidak cuma di Liga 3, tapi juga Liga 1 dan 2. “Saya coba pancing, apakah bos yang dimaksud itu adalah David. Ternyata bukan. Bahkan disebut bahwa jaringan bos itu lebih besar dari David,” kata Tito, ditemui di kediamannya, Rabu (18/12). David diduga merupakan sosok di balik pengaturan skor yang melibatkan Bontang FC (BFC) pada Indonesian Premier League 2013. Pelatih BFC Camara Fode dihukum seumur hidup larangan berkecimpung di sepak bola Indonesia.

 Pun dengan manajemen dan asisten pelatih turut dihukum. BFC pun didegradasi ke Liga Nusantara, kasta terendah kompetisi sepak bola nasional. Kaltim Post secara eksklusif mendapat rekaman percakapan Tito dengan perantara dan mafia. Pertama durasi 1 menit 13 detik, lalu 3 menit 11 detik. “Saat menelepon dia tidak mau menyebut namanya,” tuturnya. Di akhir percakapan, Tito menolak tawaran itu. Mereka memilih untuk berjuang di laga pamungkas kontra Perseta. Meskipun peluang lolos ke babak 16 besar putaran nasional dirasa sulit.

 Kala itu, Bontang City FC mengemas satu poin. Hasil imbang melawan tim PSID Jombang di laga kedua. Sebelumnya, anak asuh Almashuri takluk atas Persemi Mimika 1-2 di Stadion Brawijaya Kediri. "Memang peluangnya tipis. Tetapi kami memilih bermain fight," tutur dia.

Pagi hari, pukul 08.39 Tito dihubungi anggota mafia lainnya. Dia kembali ditawari. Akan tetapi, petinggi klub tetap pada pendirian untuk menolak tawaran itu. "Setelah itu saya dihubungi hingga empat kali. Tetapi tidak saya angkat hingga pertandingan dimulai," terangnya.

 

Ternyata bukan hanya Tito yang mendapat tawaran. Asisten pelatih Eko Hariyanto pun dihubungi. Kali ini mengaku sebagai agen wasit. Pria yang disapa Ocha itu dirayu jelang keberangkatan tim menuju Kediri. Dia memprediksi, nomornya didapat saat manajemen menyerahkan biodata ketika technical meeting Liga 1 U-18. Di mana Bontang menjadi tuan rumah. "Jadi mereka meminta uang agar wasit berpihak kepada Bontang City FC," kata Ocha. Sayangnya, nominalnya enggan disebutkan. Agen itu terdiri dari satu orang. Hal ini berdasarkan nomor yang menghubungi seluruhnya sama.

 

Pertama, manajemen dirayu saat berada di Samarinda. Ketika dalam perjalanan menuju Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan. Sekira pukul 00.30 Wita. Selanjutnya upaya komunikasi kembali dilakukan satu setengah jam berikutnya dan pukul 06.00 Wita. Akhirnya, keputusan diberikan manajemen pada pukul 08.00. Tepat saat berada di Bandara Juanda. "Kami memutuskan untuk menolak tawaran itu. Dari awal kami sudah komitmen untuk berjuang semampunya," ucapnya.

 

Bahkan, godaan dialamatkan langsung ke jajaran pelatih tepat sebelum kick-off. Ocha menyebut pendirian pelatih dan pemain tidak goyah. "Jadi mereka menyebutkan wasit akan mengambil waktu pada menit akhir untuk memihak," sebut dia.

 

DIKERJAI WASIT

 

Penolakan Bontang City membuat tim itu harus lebih ekstra untuk bisa memenangkan pertandingan. Selain menghadapi lawan, Tito menyebut timnya kerap dirugikan wasit. Dalam tiga pertandingan, dua di antaranya selalu terkena penalti.

Pertandingan pertama melawan Persemi Mimika, menurut Ocha pemainnya bermain all out dari menit awal. Bahkan sempat unggul terlebih dahulu melalui aksi penyerang andalannya Fahri. Pada babak kedua, wasit mulai menunjukkan gelagat aneh. Gol balasan dari Persemi dipandang kontroversial.

Sebab penyerang lawan dalam posisi dua langkah mendahului bek Bontang City. “Pemain kami saat itu berpaku bahwa itu offside. Ternyata pandangan hakim garis tidak demikian,” papar dia. Gol kedua tim lawan bermula dari titik putih. Setelah wasit memvonis pemain Bontang City melakukan pelanggaran keras di kotak 12 pas. "Padahal itu bola fifty-fifty. Sledding memang iya, tetapi mengenai bola, tidak sama sekali menyentuh pemain," sebut Ocha.

Ocha menjelaskan, kerugian kembali melingkupi Bontang City saat melawan Perseta Tulungagung. Fahri kembali mencatatkan namanya di papan skor melalui golnya menit 50. Empat menit berselang hadiah penalti didapatkan tuan rumah. Berawal dari kemelut di depan gawang Bontang City hasil dari tendangan sudut ditahan satu pemain belakang dengan menggunakan dada. Namun, wasit langsung menunjuk titik putih.

"Pemain Bontang City melakukan protes tetapi tidak digubris oleh wasit," terangnya. Gol ini membuat mental anak asuhnya jatuh. Kesempatan ini tidak disia-siakan tim lawan untuk memperbesar keunggulan. Alhasil, Bontang City FC dikalahkan dengan skor 1-3. "Sebenarnya kekuatan permainan Bontang City FC tidak kalah. Hanya keputusan wasit itu yang membuat hasil jadi berbeda," ulasnya.

Pemain Bontang City FC Mardi Lambe mengakui timnya gagal melaju ke fase 16 besar. Tapi ia bangga karena kekalahan yang diderita bukan dari segi permainan. Tapi ulah mafia. “Percuma kami mencetak gol. Tapi beberapa menit kemudian pasti diganjar penalti. Padahal kami selalu unggul terlebih dahulu," kata Mardi. Puncaknya saat lawan Perseta. Pemain mengaku sudah tidak konsen dalam pertandingan.

Semenjak hadiah penalti yang diberikan wasit kepada tim lawan. “Kami capek di dalam lapangan tetapi lebih parahnya lagi dikerjai wasit," pungkasnya.

 

TAK DATANG BERTANDING

Rayuan untuk mengalah diakui Tito sudah datang sejak fase sebelumnya. Bontang City FC dijanjikan mendapat Rp 500 juta dari pesaingnya. Syaratnya, tim yang didirikan dua tahun lalu itu tidak datang bertanding. Tito menyimpan rapat klub mana yang memberi tawaran itu. Pun demikian tahapan apa. Karena sebelum itu, Bontang City FC menempuh fase zona Kaltim dan regional Kalimantan. Alasan penolakan kembali kepada target awal. Yakni lolos ke Liga 2. Bahkan, tawaran itu juga disampaikan kepada pemain. Tanggapan pemain pun selaras dengan petinggi klub.

"Mereka bilang sia-sia perjuangan selama ini kalau tawaran ini diambil," ucapnya.

Kondisi inilah yang membuat kami tidak merombak total komposisi pemain jelang putaran nasional. Daya juang pemain mendapat apresiasi dari manajemen klub. "Sebenarnya bisa (merombak pemain) karena peraturannya memperbolehkan. Tetapi kami melihat kecintaan mereka terhadap tim itu lebih besar daripada uang," tutur dia.

Diketahui, Bontang City FC di Zona Kaltim masuk Grup B. Tergabung satu grup dengan IP Gelora Pantai, Berau Merin, ACN Muara Badak, Bocah Liar, GMC Sportivitas, dan Nostalgia. Pada fase ini, Bontang City FC berhasil menjadi juara grup. Di babak delapan besar kembali nasib mujur melekat pada skuat yang didukung Bontang Mania ini. Kemenangan demi kemenangan mengantarkan tim ke laga pamungkas bertemu dengan Harbi Putra.

Bontang City FC berhasil mengalahkan Harbi melalui drama adu penalti 6-5. Setelah pada waktu normal kedua tim bermain imbang 1-1. Sementara di putaran Regional Kalimantan, Bontang City FC memperoleh keuntungan saat drawing digelar. Sebab mereka dipastikan langsung maju ke semifinal dengan bertemu Persikat Ketapang.

Bertindak sebagai tuan rumah, Bontang City FC unggul tipis 2-1. Saat melawat ke Ketapang, Mardi cs berhasil menahan imbang tuan rumah tanpa gol. Dan lolos ke 32 besar putaran nasional. (*/ak/edw/riz/k15)

Percakapan manajemen tim dengan mafia

 

(percakapan pertama)

M: Assalamualaikum

T: Ya pak wassallamualaikum, gimana pak? tadi itu bagaimana?

M: oke jadi bisnis kah kita sore.

T: mau dengar penjelasannya dulu

M: Apa? uangnya? iya Rp 60 juta. empat (gol) Rp 80 juta, lima (gol) Rp 100 juta.

T: Jadi tiga bola itu Rp 60?

M: iya. Sekarang saya di Surabaya ini. Kalau oke saya meluncur ke Kediri. saya jelasin cara kerja, saya jelasin uang. Kita harus ketemu sebelum pertandingan. Biar tidak ada miss komunikasi nanti.

T: Saya juga ngasih keputusan biar paknya tidak terlalu anu.

M: soalnya perjalan ke Kediri butuh 3 jam. Bisa bertemu sekitar jam 12 atau jam 1.

T: tidak usah lah pak

M: Nanti juga bapak bisa bicara langsung dengan big bos saya dari Malaysia. Jangan takut tidak terbayar. Saya juga ada di situ. Nanti setelah pertandingan langsung transfer 70 persen dari Malaysia.

T: oh dari Malaysia ya? Lain mister David kah?

M: tidak dengar pak

T: bukan Mister David kah?

M: Bukan. David tidak main kecil. Ini malah big bossnya ini. Dari Liga 3, Liga 2, dan Liga 1 semua dihajar. Ini yang lebih besar dari David. Nanti saya ceritaan kalau kita bertemu. Gimana?

T: Dasarnya kami tidak mau sih pak. Tetap fight saja. Apapun hasilnya.

M: Kalau tim sudah tidak ada peluang buat apa pak. Apalagi lawan tuan rumah. Tuan rumah butuh poin. Menang dia harus lolos. Kalau hitung-hitungannya bukan lawan tuan rumah. Kita masih ada peluang okelah kalau main fight. Kalau nanti lawan tuan rumah. Saya sih tidak maksa. Kalau lihat posisi Bontang kan serba sulit.

T: Makanya saya kasih kabar ke masnya tadi. Iya atau tidaknya. Kami sudah putuskan tidak. Minta maaf ya pak.

 

 

(Percakapan kedua)

T: Halo

M: pagi pak. Dimana pak?

T: di hotel

M: Kapan ke stadion? Main di Rejoagung kan?

T: iya main di Tulung Agung

M: Di kandangnya Perseta berarti. Bagaimana bapak?

T: apanya yang gimana?

M: yang semalam. ditunggu tidak ada kabar.

T: Tidak usah mas

M: kenapa pak?

T: Tidak apa-apa.

M: Tulung Agung kan di kandangnya dia.

T: Besar juga kemungkinan Tulung Agung menang

M: Sebenarnya kalau iya, tidak usah kelihatan. Beberapa bola saja.

T: Apa itu?

M: Berapa bola lepa saja.

T: Tidak mas. Anak-anak juga tidak mau juga

M: Tidak mau ya pak. Siap-siap. Makasih ya pak ya? selamat pagi.

loading...

BACA JUGA

Senin, 23 Desember 2019 11:12

Mafia Bola di Kaltim, Ada Campur Tangan Aparat

HASIL penelusuran terhadap tiga nomor yang menghubungi Tito, membuat dada…

Senin, 23 Desember 2019 11:11
Mafia Bola di Kaltim

Mafia Bola Sempat Berkeliaran di Stadion Segiri

UPAYA mafia untuk menggoda tim sepak bola dilakukan dengan berbagai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers