MANAGED BY:
SENIN
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

BALIKPAPAN

Senin, 16 Desember 2019 12:05
Banyak yang “Bermain”, Elpiji Subsidi Mahal

Pangkalan Jual di Atas HET, Pengecer Ikut Terlibat

PROKAL.CO, Jelang Natal dan tahun baru, keperluan elpiji diperkirakan meningkat. Namun sayang, masih ada saja oknum yang memainkan harga. Melanggar ketentuan demi mengeruk keuntungan besar.

 

BALIKPAPAN-Berlabel untuk masyarakat miskin, elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram jadi bancakan oknum masyarakat untuk mencari keuntungan. Kerap berdampak pada kelangkaan hingga melambungnya harga jual.

Mahalnya harga gas melon itu turut dikeluhkan oleh sejumlah warga di lini masa Facebook. Bahkan keluhan itu turut diunggah ke grup Facebook Busam Samarinda, Kamis (12/12). Keluhan yang diunggah pemilik akun Syamsudin Noor itu menuai ratusan komentar beragam dari pemilik akun lainnya. Kemudian dibagikan 12 kali.

Dalam unggahannya, Syamsuddin menyebut, harga elpiji 3 kilogram sebesar Rp 30 ribu. Dia membeli di pengecer, lebih tepatnya di toko sembako di Samarinda. Keluhannya itu pun direspons oleh pengguna Facebook lainnya. Umumnya mereka menyebut, mahalnya harga gas melon itu sudah lama terjadi. Bahkan warga seperti mulai terbiasa mengingat selalu dikeluhkan, tapi harga tak juga turun mengikuti harga eceran tertinggi (HET).

Kemarin (15/12), Kaltim Post melakukan penelusuran. Dari tingkat agen hingga ibu rumah tangga sebagai konsumen akhir. Salah satu pengecer di Jalan DI Panjaitan, Samarinda yang ditemui Kaltim Post menjual harga gas 3 kilogram sebesar Rp 26 ribu. Ditanya mengapa menjual harga segitu?

Pemilik toko sembako yang namanya enggan dikorankan itu mengaku membeli elpiji subsidi di agen melebihi HET. “Jadi, kami juga mesti menjualnya di atas harga kami beli,” ucapnya, namun enggan membeber harga saat dia membeli elpiji dari agen.

Selain itu, media ini mendatangi pengecer lain di Jalan Sentosa, Samarinda. Harga gas melon dijualnya Rp 28 ribu. “Saya beli di agen sudah mahal. Jadi saya jual segitu (Rp 28 ribu),” bebernya.

Kondisi serupa tak jauh berbeda di Balikpapan. Sejumlah agen yang ditemui koran ini mau terbuka. Namun, mereka minta nama perusahaan tidak dipublikasi. Agen yang disambangi media ini misalnya, menyebut secara rutin tetap menerima distribusi elpiji dari Pertamina dengan jumlah tetap. Secara terjadwal, setiap harinya, menyalurkan elpiji ke pangkalan yang menjadi mitra.

“Biasa kami menerima hingga 2 ribu lebih tabung per hari. Kami kirimkan ke puluhan pangkalan di seluruh wilayah Balikpapan,” kata Ami (nama samaran), supervisor agen elpiji 3 kilogram di kawasan Balikpapan Utara.

Hubungan agen hanya sebatas hingga ke pangkalan yang menjadi mitra. Ketentuan dituangkan dalam kontrak. Dari HET, jumlah tabung hingga ketentuan laporan penjualan khusus kepada masyarakat miskin. “HET-nya Rp 17 ribu. Pangkalan tidak boleh menjualnya lebih dari itu,” katanya. Ketentuan tersebut diatur dalam SK Gubernur Kaltim Nomor 545/K.14/2017.

Lanjut dia, setiap bulan agen menerima laporan dari pangkalan. Berbentuk log book. Isinya nama, alamat, dan paraf konsumen. Ditulis tangan. Dikirimkan aslinya, lalu dirapikan kembali untuk dikirimkan ke Pertamina. “Seperti itu,” sebut Ami menunjukkan tumpukan kertas setebal dua jengkal tangan dengan sampul hijau di atas kursi besi.

Log book memiliki peran penting. Memastikan pembeli elpiji subsidi benar-benar masyarakat miskin. Catatan di dalamnya ini juga bisa memperlihatkan apakah pembelian elpiji melebihi kuota yang diatur atau tidak. “Satu rumah tangga dijatah maksimal enam tabung per bulan,” ujarnya.

Agen mengakui banyak kelemahan di dalam log book. Pertama, karena data yang disediakan masih manual. Tidak ada jaminan apakah data tersebut asli atau sudah dimanipulasi dari pihak pangkalan. Tidak ada ketentuan untuk melampirkan minimal fotokopi identitas pembeli. “Ya, bisa saja setelah beli di pangkalan satu, dia beli lagi di pangkalan lain,” ungkapnya.

Namun, dia yakin, pangkalan tak akan “nakal”. Sebab, agen bisa memberikan sanksi kalau mitra mereka terbukti menyalahi ketentuan dalam kontrak kerja. Dari yang ringan seperti penghentian sementara penyaluran hingga pemutusan kontrak. “Enggak mudah mengurus izin pangkalan itu,” sebutnya.

Setelah dari agen, media ini mendatangi pangkalan yang menjual elpiji 3 kilogram di kawasan Balikpapan Utara. Dua pemilik pangkalan yang ditemui juga tak ingin identitas mereka dipublikasi. Alasannya, mereka tak bisa berbuat banyak dengan “permainan” dan bisa mendapatkan sanksi dari agen. “Kalau ketahuan bisa distop pengirimannya,” kata Lena (nama samaran), pemilik pangkalan.

Pernah, pihak agen dan Pertamina mengadakan inspeksi mendadak (sidak) di pangkalannya. Menemukan antrean pembeli hingga membuat kemacetan jalan. Hasilnya, selama 10 hari dia tak menerima jatah elpiji subsidi. Padahal, biasanya dia mendapat pengiriman dua kali seminggu. “Mau bagaimana lagi. Jualan saya pinggir jalan,” sebutnya.

Dia mengakui, menjual elpiji subsidi tak hanya ke masyarakat miskin. Toh, meski dilarang, tapi tidak ada yang bisa membuktikan. Sekali lagi log book memainkan peran. Cukup tulis nama, alamat terdekat pangkalan, lalu paraf. Beres. “Kan enggak perlu pakai dibuktikan dengan kartu gakin (keluarga miskin). Jadi, tinggal kita tulis nama, alamat sekitar, dan paraf,” sebutnya.

Apalagi, disebutnya, masyarakat di sekitar pangkalannya tak ada yang berstatus miskin. Jadi, untuk mempercepat penjualan, dia melayani siapa saja yang datang. “Tapi saya tetap ikut aturan, satu orang hanya boleh beli satu tabung,” ujarnya.

Lena menyebut, paling banyak menghadapi pengecer dibandingkan konsumen akhir. Pengecer adalah mereka yang menjual kembali elpiji subsidi. Baik kepada konsumen rumah tangga atau dijual lagi ke warung-warung kecil. Mereka rata-rata datang dari luar wilayah penjualan pangkalan. “Yang saya heran, mereka (pengecer) itu tahu jadwal pengiriman dibandingkan saya yang punya pangkalan,” kata Lena.

Selain itu, ada Hendra, juga nama samaran. Pemilik pangkalan itu mengakui kerap menjual elpiji subsidi di atas HET. Itu dilakukan karena dia kerap merugi karena kehilangan tabung setiap ada antrean. Yang disebutnya juga akibat banyaknya pengecer yang datang. “Kesal. Belum apa-apa mereka (pengecer) sudah memaksa tukar tabung (membeli),” sebutnya.

Membedakan pengecer dengan pembeli biasa cukup mudah. Mereka biasanya membawa cukup banyak tabung. Jika menggunakan sepeda motor, mereka mampu mengangkut hingga enam tabung. Tak jarang pengecer menggunakan mobil pribadi. “Mau bagaimana lagi. Mau diusir juga kami enggak enak,” sebutnya.

Tak jarang, pemilik pangkalan harus berbohong. Mengatakan stok elpiji sudah habis. Padahal mereka menyembunyikannya demi bisa menjual kepada keluarga, kerabat atau tetangga. Terlepas dari status mereka miskin atau tidak. “Kan enggak enak kalau tetangga enggak dapat,” sebutnya.

Di tangan pengecer itulah harga diduga dimainkan. Pemilik pangkalan pun membenarkannya dan dari wawancara media ini dengan sejumlah warung penjual elpiji subsidi dan ibu rumah tangga menemukan fakta, harga elpiji subsidi mengalami disparitas jauh di atas HET. “Tadi beli di warung, satu tabung (elpiji 3 kilogram) Rp 23 ribu,” sebut Maryani, ibu rumah tangga, warga Batu Ampar, Balikpapan Utara.

Maryani menyebut beruntung bisa mendapatkan tabung dengan harga tersebut. Sebab, jika langka, harga elpiji 3 kilogram bisa mencapai Rp 25 ribu. Bahkan jika menjelang hari besar keagamaan, harganya bisa menjadi Rp 30 ribu. “Lihat aja nanti jelang Natal dan tahun baru,” tuturnya.

Lantas mengapa tak membelinya di pangkalan? Maryani mengaku tak ingin kecewa. Jarak dari rumahnya dengan pangkalan terdekat cukup jauh. Beberapa kali berkendara, hasilnya nihil. “Mending titip ke warung terdekat. Lebih mahal tapi enggak repot,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Arzaedi Rachman menyebut, pihaknya hanya bisa memberikan imbauan kepada konsumen agar membeli elpiji subsidi langsung ke pangkalan agar bisa mendapatkan harga sesuai HET. “Juga jangan panik, membeli melebihi kuota kalau dekat hari besar seperti Natal,” sebutnya.

Kata dia, untuk persiapan Natal dan tahun baru ada tambahan alokasi fakultatif sebanyak 37 ribu tabung atau 7,8 persen dari alokasi pada Desember 2019. Dia juga sudah menerima informasi dari Pertamina jika tidak ada hari libur kecuali Minggu bagi stasiun pengisian bahan bakar elpiji (SPBE), agen, dan pangkalan. “Pertamina berikan alokasi fakultatif ini mulai H-15 dari tahun baru,” sebutnya. (Baca: Pertamina Tambah Pasokan Elpiji untuk Nataru di halaman 21) (rdh/rom/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 18 Januari 2020 10:28

Gerak Cepat Tangkap Peluang IKN, Blue Sky Bangun Gedung Baru

Penetapan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur diharapkan membawa…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:19

Pelaksana Proyek Di-Black List, IPAM KM 8 Dilelang Ulang

Proyek pembangunan IPAM PDAM terpaksa dihentikan karena pelaksana proyek wanprestasi.…

Sabtu, 18 Januari 2020 10:17

Usul Jumpi Masuk Kampung Perubahan Iklim

BALIKPAPAN – Guna mendukung perlindungan hutan mangrove di Baru Ulu,…

Jumat, 17 Januari 2020 14:13

Anggarkan Rp 7 M untuk PBI, Warga Diimbau Bijak Pilih Kelas Kepesertaan BPJS

Untuk membantu masyarakat tak mampu dalam urusan iuran BPJS, Pemkot…

Jumat, 17 Januari 2020 14:10

Remaja 19 Tahun Gondol 22 Motor, Hasil Curian untuk Foya-Foya dan Main Cewek

BALIKPAPAN – Usia Arif masih muda. Baru 19 tahun. Tapi…

Jumat, 17 Januari 2020 14:09

Kebakaran Aspol Diduga Kuat Korsleting

PEMERIKSAAN barang bukti bekas kabel terbakar oleh tim Pusat Laboratorium…

Jumat, 17 Januari 2020 14:09

Cinta Ditolak, Badik Bertindak

BALIKPAPAN – Ada perkembangan terbaru dari kasus pembunuhan janda cantik,…

Jumat, 17 Januari 2020 14:07
Mural-Mural Indah di Kantor Disdukcapil

Pengunjung Jadi Nyaman, Karyawan Hilang Stres

Kantor pemerintah yang berhubungan dengan pelayanan masyarakat dituntut berinovasi. Bahkan…

Kamis, 16 Januari 2020 16:00

PDAM Rencana Tambah Jaringan, Berharap Embung Aji Raden Segera Rampung

BALIKPAPAN – Di tengah masih minimnya sumber air baku, PDAM…

Kamis, 16 Januari 2020 15:59

Ada Narkoba di Balik Tutup Obat Nyamuk

BALIKPAPAN – Peredaran gelap dan penyalahgunaan narkoba kembali terkuak. Tiga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers