MANAGED BY:
RABU
29 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Minggu, 15 Desember 2019 20:57
Azura Luna, Warga Kediri yang Jadi Buronan Interpol Hong Kong

Ganti Nama sejak 2009, Tipu Kawan hingga Mantan

BANYAK CARA: Azura Luna di kediamannya di Hongkong. Kini keberadaannya belum diketahui. (Instagram)

PROKAL.CO, Sosialita asal Kediri terlibat banyak kasus penipuan. Kemudian, menghilang setelah satu per satu boroknya terkuak.

 

Para Bellum. Kalimat yang dalam bahasa Latin berarti bersiap perang itu tertulis di profil WhatsApp Azura Luna Mangunhardjono, September lalu. Dia menulisnya entah sebelum atau setelah diwawancarai Suzanne Harrison, jurnalis South China Morning Post. Setelah wawancara singkat itu, Azura tak pernah muncul lagi.

Perempuan 45 tahun itu hilang bak ditelan bumi setelah satu demi satu aksi penipuannya terkuak dan para korban mulai berani lapor polisi. Perempuan berkulit kecokelatan itu kini menjadi buron kepolisian Hong Kong. Salah satu tuduhan yang menjeratnya adalah memiliki barang dengan cara penipuan.

Sebelum bertemu Harrison, grup WhatsApp yang berisikan para korban Azura mengungkap bahwa dia berada di Florence, Italia. Selama di kota tersebut, dia menginap di Hotel Continentale dan Borgo Dolci Colline. Entah bagaimana, Azura berhasil pergi dari Florence tanpa membayar tagihan hotel. Saat dikonfirmasi, pihak hotel memilih tutup mulut karena itu adalah privasi.

Azura menghubungi Harrison, 26 September lalu. Dia mengirimkan gambar boarding pass-nya. Tertulis bahwa Azura akan terbang dari New York City ke Hong Kong dengan penerbangan first class Cathay Pacific. Dia juga mengunggah beberapa foto di akun Instagram-nya. Salah satunya, pembicaraannya via pesan teks dengan Elon Musk. Akun tersebut sempat vakum dan tak mengunggah apapun sejak 6 Mei.

Meski sudah dikirimi boarding pass, Harrison rasanya masih tidak percaya. Sebab, di Hong Kong nama Azura sudah dikaitkan dengan berbagai penipuan. Dia tak yakin Azura berani balik.

''Dengan begitu banyaknya orang yang luar biasa marah di luar sana, kenapa dia mau balik ke Hong Kong?'' pikir Harrison, kala itu.

Tapi keesokan harinya perempuan yang tengah menjadi pembicaraan itu mengirim pesan lagi. Pesan itu menggunakan jaringan CSL. Itu adalah jaringan layanan telepon di Hong Kong. Azura ingin bertemu di Captain’s Bar, Mandarin Oriental Hotel. Namun berselang sesaat, dia mengubah lokasi ke Starbucks di Citibank Tower.

Perempuan yang juga dikenal dengan nama Alexandra, Ally, dan Miss M itu datang 10 menit sebelum waktu pertemuan. Kemeja putih oversized membalut tubuhnya yang langsing. Tangan kanannya memegang tas belanja Net-a-Porter berukuran besar. Sedangkan tangan kirinya memegang tas Valentino. Mata cokelatnya tak menunjukkan ketakutan sama sekali.

Percakapan dengan Harrison sore itu hanya berisi sanggahan terhadap tuduhan yang menerpanya. Azura kala itu mengaku sedang hamil anak kembar. Usia kandungannya sudah masuk lima bulan. Tangannya beberapa kali bergetar. Harrison tak menulis dengan detail paparan Azura. Pun tak memaparkan siapa ayah dari jabang bayi yang diklaim sedang dikandung Azura.

Keesokan harinya, Azura tampaknya sudah meninggalkan Hong Kong. Akun Instagram-nya menunjukkan dia di Le Bristol Hotel, Paris, Prancis. Pesan yang dikirim ke nomor WhatsApp-nya hanya centang satu. Nomornya tak lagi bisa dihubungi. Kini akun Twitter dan Instagram-nya juga sudah dihapus.

Sophia, penduduk Los Angeles, AS, menjadi salah satu korban Azura. Dia membeli beberapa tas Hermes milik Azura senilai USD 86 ribu (Rp 1,2 miliar). Azura berkata uang itu akan dipakai untuk amal. Tapi ketika Sophia mengecek keasliannya ke toko, tas-tas itu palsu. Penipuan itu terjadi setahun lalu. Azura bahkan sempat ditahan pada 26 November 2018.

Namun, dia dilepaskan karena kurangnya bukti. Harus ada pakar Hermes yang memastikan tas itu palsu agar kasus bisa diteruskan. Namun, 21 November lalu, Sophia mengirim pesan singkat via WhatsApp ke Harrison. ''Hermes berkata semua tas itu palsu!''

Kejahatan Azura ibarat gunung es. Kian dikuak kian luas. Bahkan mantan suaminya, Robert, juga ditipunya. Pada 2017, dia mengaku ayahnya meninggal dan minta uang USD 150 ribu (Rp 2,1 miliar) untuk membantu pemakaman. Padahal, dalam wawancara via video call dengan Post Magazine, Agustus lalu, Azura mengaku kedua orangtuanya meninggal di Timor Timur saat usianya masih 11 tahun. Menurut dia, kala itu terjadi baku tembak dan orangtuanya tewas karena melindunginya dari peluru.

Azura juga meminta Robert untuk menyumbang di beberapa acara amal di Hong Kong. Robert akhirnya memberikan USD 30 ribu (Rp 420,5 juta). Sebulan kemudian Robert menghubungi lembaga penyelenggara amal yang dimaksud Azura. Hasilnya, tidak ada sumbangan atas nama Robert ataupun Azura.

Tak semua berupa kebohongan tentu saja. The One International yang didirikan David Harilela mengaku, Azura memang pernah berdonasi ke lembaga yang punya hubungan dengan Rotary grup itu. Tepatnya 2013 lalu senilai HKD 30 ribu (Rp 35,9 juta) untuk membangun panti asuhan di Bangladesh.

Azura juga menipu pembantunya di Hong Kong. Dia tak membayar gajinya senilai HKD 76 ribu atau setara Rp 136,4 juta. Pembantu itu sudah delapan tahun bekerja untuknya. Kini dia melaporkan Azura ke pengadilan untuk buruh. Azura juga memiliki utang pada pembersih karpet dan beberapa florist.

BEDA NAMA DAN PENAMPILAN

Semasa SMA, Azura Luna Mangunhardjono memiliki nama asli Enjang Widhi Palupi. Diana Purna Sari, temannya angkatan 1996, menuturkan kebiasaan Enjang–begitu nama panggilannya di sekolah–waktu berseragam putih abu-abu itu. Perempuan asal Banyakan itu masuk ke SMA 2 Kediri (Smada) pada 1993 dan lulus 1996.

“Jadi, kami angkatan 96 di Smada,” kata Diana kepada Jawa Pos Radar Kediri. Diana mengaku tidak pernah satu kelas dengan Enjang. Saat duduk di kelas tiga (sekarang disebut kelas 12), dia masuk kelas biologi. Sedangkan perempuan kelahiran 27 Oktober 1978 itu memilih Jurusan Sosial.

“Seingat saya, dulu kelas dibagi tiga jurusan. Kelas fisika ada empat kelas, biologi dua kelas, dan sosial tiga kelas. Kelas satu dan dua belum penjurusan,” ujarnya.

Meski tidak pernah sekelas, Diana mengaku, tahu sosok Enjang. Di sekolah, Enjang termasuk populer di mata beberapa teman satu angkatannya. Bukan karena prestasi akademiknya tetapi karena supel. “Gimana, ya, pokoknya anaknya SKSD (sok kenal sok dekat). Agak centil juga,” aku Diana.

Pada masa sekolah, biasanya antara teman satu dengan yang lain akan dijodoh-jodohkan. Menurut Endang, saat sekolah dulu, Enjang juga merasakan hal demikian. “Dipacokno (dipasangkan) dengan cowok. Dulu seringnya begitu,” kata perempuan 41 tahun ini.

Namun, menurut dia, penampilan Enjang dulu berbeda dengan sekarang yang dikenal masyarakat sebagai Azura Luna. Kata Diana, dulu penampilannya sangat sederhana. Tidak tampak seperti anak orang kaya raya.

“Kulitnya juga tidak putih seperti sekarang (Azura Luna). Pokoknya sangat beda,” katanya.

Saat datang ke sekolah, kata Diana, anaknya sering menggunakan angkutan umum. Dari rumahnya di Banyakan, jarak rumahnya ke sekolah sekitar 8 kilometer. “Setahu saya tidak pernah diantarkan. Selalu naik angkot,” ungkapnya.

Di sekolah, Diana menambahkan, Enjang pernah ikut palang merah remaja (PMR). Namun, soal aktivitasnya di PMR, Diana tidak banyak tahu. “Organisasinya itu yang diikuti. Kalau lomba-lomba setahu saya tidak pernah ikut,” ujar perempuan asal Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, Kota Kediri, ini.

Selepas lulus SMA pada 1996, Diana mengakui kehilangan kontak dengan Enjang. Termasuk teman-temannya yang lain di satu angkatan. Karena itu, Diana tidak tahu apakah Enjang melanjutkan kuliah atau langsung bekerja.

Baru pada 2009 atau sekitar 10 tahun lalu, tiba-tiba namanya muncul di Facebook (FB) dengan nama akun “Azura Luna Mangunhardjono”. “Zaman itu kan FB sangat booming. Dia (Enjang) sudah pakai nama Azura Luna,” imbuhnya.

Di foto profilnya, banyak perubahan yang dialami Enjang. Menurut Diana, kulitnya lebih putih dibanding masa SMA. Gaya berpakaiannya juga lebih modis. Tidak lagi tampil sederhana seperti di sekolah dulu.

Meski banyak mengalami perubahan, Diana dan teman-temannya masih sangat mengenali wajah Enjang, teman sekolahnya dulu. Apalagi, setelah itu, Enjang atau Azura Luna mengundang teman-teman satu angkatannya datang ke Jakarta. “Yang diundang ada lima anak. Dipilih-pilih anak orang kaya. Salah satunya sahabat saya,” ucapnya.

Di Jakarta, dari cerita sahabatnya, kata Diana, Azura Luna menyewa sebuah hotel mewah. Dia mengajak lima temannya tersebut menginap di sana. “Dan memang benar Azura Luna itu ya Enjang. Waktu itu anaknya cerita banyak sebagai TKW (tenaga kerja wanita) di Hong Kong,” katanya.

Sementara itu, Kepala Smada Sony Tatar Setya membenarkan Enjang Widhi Palupi pernah bersekolah di SMA 2 Kediri. Sesuai tahun lulusnya, yang bersangkutan termasuk angkatan 1996. “Ya dulu memang pernah di Smada,” kata Sony.

Sementara itu, ketika Jawa Pos Radar Kediri menelusuri alamat yang tercantum di buku kenangan Enjang, Jalan Banyakan 22 Grogol, Kabupaten Kediri, rumah yang berlokasi di alamat itu adalah rumah besar berpagar warna oranye. Kondisinya tertutup dengan gembok terpasang di luar.

Namun, pemilik rumah itu bukan Wowok seperti nama ayah Enjang. Menurut Diro, seorang warga sekitar, nama pemiliknya adalah Arifin. Tapi sudah tidak dihuni sejak beberapa bulan terakhir. “Pemilik rumahnya yang wanita sakit, dibawa ke rumah anaknya, di Kediri,” terang lelaki tersebut.

Ketika ditanya soal nama Wowok dan Enjang, Diro menggeleng. “Tidak ada itu, Mas, yang namanya Enjang. Kalau yang punya rumah sudah almarhum, tinggal ibu (istri, Red) almarhum saja,” terangnya.

Diro tidak mengenal Enjang, seperti yang tertulis dari alamat Banyakan 22 Grogol Kediri. Karena selama ia tinggal di sana, Diro mengetahui bahwa rumah tersebut dari awal sudah ditempati oleh keluarga Arifin. “Anaknya masih kuliah, ibunya (istri Almarhum Arifin, Red) sakit, dan dibawa ke rumah anaknya yang satunya lagi di Kediri,” paparnya.

Sementara itu, Konsul Muda fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya Konsulat Jenderal RI di Hong Kong Vani Alexandra Lijaya menerangkan, pihaknya justru mengetahui kasus penipuan Azura dari media setempat. Koordinasi lantas dilakukan dengan otoritas Hong Kong maupun Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Meski demikian, KJRI membenarkan pernah menerbitkan paspor penggantian atas nama Azura pada 2016.

”Berdasarkan koordinasi dengan otoritas pusat (Kemenlu) Azura terdeteksi meninggalkan Indonesia menuju Singapura pada 2018. Dan sejauh ini yang bersangkutan diketahui tidak berada di Hong Kong,” jelasnya.

Mengenai informasi Azura menjadi buronan kepolisian Hong Kong, perempuan yang akrab disapa Vania itu menepisnya. ”Hingga saat ini, KJRI Hong Kong tidak pernah menerima laporan maupun tuntutan terhadap Azura dari pihak mana pun,” terangnya.

Meski begitu, pihaknya akan memberikan bantuan hukum kepada setiap warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Hong Kong. Baik sebagai pelaku maupun korban. Mulai memberikan advokasi, pendampingan proses sidang, penerjemah, dan langkah lain yang dianggap perlu.

Sementara itu, Polri juga telah mengetahui terkait sejumlah tindak pidana Azura Luna. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Argo Yuwono menuturkan telah berkomunikasi dengan Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter). ”Untuk mengetahui adanya permintaan dari Hong Kong untuk menangkap Azura,” tuturnya.

Namun, sayangnya belum ada permintaan atau red notice yang seharusnya didapatkan melalui Interpol. Namun, Polri segera menghubungi Interpol untuk memastikannya. ”Nanti dicek,” paparnya.

Pihaknya juga akan memastikan keberadaan Azura saat ini berada di Indonesia. Jika demikian, tentu Polri bisa untuk melakukan langkah hukum. ”Namun bila tidak tentunya perlu koordinasi Kemenlu,” jelasnya. (baz/syi/fud/sha/jpg/dwi/k8)


BACA JUGA

Rabu, 29 Januari 2020 13:33

Orang Tua yang Khawatir Anaknya Berada di Tiongkok, Sehari Bisa Video Call sampai Sepuluh Kali

Para orang tua ini diliputi kecemasan. Anak-anak mereka sedang belajar…

Rabu, 29 Januari 2020 13:24

Maksimalkan DBH CPO dan Sarang Walet

SAMARINDA–Sekitar 13 persen ekspor batu bara nasional berasal dari Kaltim.…

Rabu, 29 Januari 2020 13:02

Evakuasi WNI dari Wuhan Masih Menunggu, Pemerintah Kirim Masker dan Logistik

JAKARTA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan bahwa bantuan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:18

Tiga Petinggi Sunda Empire Ditetapkan Jadi Tersangka

JAKARTA — Fenoma Sunda Empire bakal berakhir. Polri memastikan telah…

Selasa, 28 Januari 2020 14:56

Mahasiswa Penajam Sempat Terjebak di Wuhan

TERUS BERJUANG: Aaliyah (kanan) bersama sang ayah, Ghozali, sebelum berangkat…

Selasa, 28 Januari 2020 14:43

Soal Penciutan Status Lahan WKP Migas, Pemprov Akan Negosiasi dengan Pusat

Wacana penciutan WKP milik Pertamina kembali mengemuka. Setelah upaya Pemkab…

Selasa, 28 Januari 2020 13:58

Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Diusulkan Jadi Peringatan Nasional

TENGGARONG–Ingatan Paiman masih jelas. Pada 73 tahun lalu, pasukan kolonial…

Selasa, 28 Januari 2020 13:47
Backpacker-an ke Hong Kong setelah Demonstrasi (5)

Bisa Tenang di Tengah Padatnya Bangunan Bertingkat

Jangan harap banyak melihat rumah tunggal di Hong Kong. Negara…

Selasa, 28 Januari 2020 13:42

81 Orang Meninggal, 43 Ribu Diperkirakan Tertular

KETAKUTAN pada penularan virus 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) melanda berbagai negara.…

Selasa, 28 Januari 2020 12:19

Selamat Jalan Black Mamba

LOS ANGELES -Perjalanan Kobe Bryant menggunakan helikopter pribadi pada Minggu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers