MANAGED BY:
SENIN
27 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 10 Desember 2019 11:01
Belum Yakin Yusuf Diculik lalu Dibunuh

Jasad Mengapung Sepanjang 3,6 Km dan Lewati Jeruji

Tim Inafis Polresta Samarinda menggelar prarekonstruksi hilangnya Yusuf di PAUD Jannatul Athfaal, Jalan AW Syahranie.

PROKAL.CO, SAMARINDA–Sejak ditemukannya jasad balita yang diyakini sebagai Yusuf Ahmad Gazali pada Ahad (8/12) pagi, teka-teki hilangnya organ tubuh anak empat tahun itu belum terjawab. Setelah dilaporkan hilang pada Jumat (22/11) lalu, penyidik Polresta Samarinda mengesampingkan adanya penculikan. Termasuk kemungkinan Yusuf dibunuh. Kemudian dibuang ke parit.

Diketahui, badan Yusuf ditemukan mengambang di eks Sungai Karang Asam, Jalan Pangeran Antasari II, Gang 3, Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu. "Jika itu diculik, kemungkinannya tidak ditemukan. Ada tujuh anak dititipkan dan anak yang paling besar adalah Yusuf, lokasinya juga kecil, kalau orang masuk pasti terlihat, di setiap ruangan juga ada pengawas," beber Kasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Damus Asa.

Senin (9/12), Damus Asa memimpin langsung prarekonstruksi hilangnya Yusuf di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Jannatul Athfaal, Jalan AW Sjahranie, RT 12, Blok Mawar, No 11, Samarinda Ulu. Aktivitas belajar di PAUD tersebut terpaksa diliburkan. Bangunan biru dan hijau dengan lukisan hewan di tembok, dipenuhi dengan aparat kepolisian lengkap dengan koper oranye bertulis Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis).

Ada sekitar 25 petugas dikerahkan dalam prarekonstruksi. Enam pegawai PAUD juga ikut dilibatkan dalam mengulang peristiwa pada Jumat (22/11) lalu itu. Termasuk menghadirkan Mardiana selaku kepala PAUD, beserta Marlina dan Yanti yang saat itu bertugas mengawasi Yusuf beserta enam anak lainnya. Tercatat 22 adegan diperagakan sejak pukul 08.00–10.00 Wita. Mulai kedatangan Yusuf hingga hilangnya bocah malang tersebut.

Setiap ruangan hingga akses jalan masuk menuju bangunan dua lantai tersebut tak luput ditelusuri. Dalam rekonstruksi tersebut, diketahui pagar selebar 1,5 meter yang menghubungkan PAUD dengan jalan tidak terkunci, dan terbuka selebar 50 sentimeter. Pintu yang menghubungkan ruang belajar tengah dan kantor juga tidak tertutup. Pintu kantor yang langsung mengarah ke halaman juga tak terkunci.

Damus Asa menerangkan, prarekonstruksi dilakukan untuk memperkuat rentetan waktu hilangnya Yusuf. "Jadi kami lebih mendalami rentang waktu awal hilangnya Yusuf," ucapnya. Sebab, ke arah mana perginya Yusuf masih terus ditelusuri. "Kami persempit lagi rentang waktunya, untuk lebih meyakinkan, agar mengetahui secepat apa jalan anak itu dalam rentang waktu yang singkat," sambung Damus.

Terkait kapan Yusuf tewas, pihaknya masih akan menunggu keterangan dari rumah sakit. Polisi juga masih melakukan pemeriksaan kembali untuk menguatkan keabsahan jasad balita tersebut. "Kemungkinan besar memang Yusuf, itu berdasarkan pakaiannya, dari penjelasan dokter juga sudah memeriksa ciri-ciri fisik, tapi kami akan uji DNA juga, dan masih proses," tutur perwira balok tiga tersebut.

Mengenai adanya tindakan kekerasan lantaran jasad Yusuf ditemukan dengan bagian tubuh yang tak utuh, polisi belum bisa berasumsi. "Dari penjelasan dokter, tidak bisa dicek karena kondisinya telah membusuk. Diduga karena binatang sebab ada kulit binatang yang tertinggal," beber Damus. Perihal adanya kelalaian dan mengarah ke tindak kriminal, Damus menjawab hati-hati. "Kalau sampai sejauh itu belum ada, masih penyelidikan," jelasnya.

Kaltim Post menelusuri titik hilang hingga ditemukannya Yusuf. Dari lokasi PAUD hingga titik penemuan, sekitar 3,61 kilometer. Jasad bocah malang tersebut juga melewati dua cabang saluran parit. Selain itu, melewati jeruji besi yang berfungsi untuk menyaring sampah yang melewati parit. Kepala PAUD Jannatul Athfaal Mardiana menerangkan, sejak Ahad (8/12) malam, pihaknya telah dihubungi kepolisian.

"Dihubungi sama polisi," jelasnya. Sebagai alat bukti, sejumlah berkas perizinan PAUD juga diminta kepolisian. Tentang keamanan lingkungan PAUD, Mardiana mengaku, pihaknya telah memasang closed circuit television (CCTV) di sudut bangunan, mengarah ke pintu gerbang PAUD. "Sementara satu dulu, ke depannya akan ditambah," jelasnya.

 

PERTANYAKAN PENGAWASAN

 

Meski Bambang Sulistyo (37) dan Melisari (30), orangtua Yusuf telah meyakini jasad tersebut adalah anaknya, polisi masih terus melakukan pemeriksaan untuk menguatkan keabsahan jasad balita tersebut. Setelah prarekonstruksi selesai, pukul 12.00 Wita, Bambang beserta dua keluarganya bertandang ke PAUD Jannatul Athfaal. Kedatangannya untuk memastikan sistem pengawasan di PAUD tersebut.

"Bersama dua kakak ipar. Saya tanya lagi jam berapa pastinya anak saya hilang, sebelumnya ngapain anak saya," ucapnya. Walaupun anaknya ditemukan telah tak bernyawa dan diduga kuat hanyut terseret derasnya air, Bambang masih bertanya-tanya. "Di saluran itu juga kan ada jeruji besinya," tutur Bambang. Rasa kecewa Bambang juga sempat terlontar dari mulutnya. 

"Seharusnya ada bentuk pertanggungjawaban total, itu kan teledor. Bukan hanya dari materi, iktikad baiknya juga saya tunggu," terang Bambang. Ditanya soal makam yang dibongkar untuk kepentingan autopsi, Bambang menolak. "Saya menolak, karena sudah diambil DNA. Kalau memang diperlukan dan dipastikan penyebabnya, apa serta bisa membuktikan siapa yang melakukan akan saya pertimbangkan. Saya tidak mau ini mengambang," pungkasnya. Keluarganya terus berusaha mencari kebenaran penyebab kematian Yusuf.

 

SUSURI SUNGAI

 Di hari yang sama, polisi bersama sejumlah relawan Samarinda melakukan pencarian bagian tubuh Yusuf yang belum ditemukan di eks Sungai Karang Asam. Sejak pukul 10.00 Wita, sejumlah relawan Kota Tepian berkumpul di lokasi penemuan jasad Yusuf.

Pencarian sepanjang 2,5 kilometer dimulai dari titik penemuan jasad hingga Jalan Juanda 4, Samarinda Ulu. "Dari 5 kilometer panjang aliran, kami sudah melakukan penyisiran, diduga bagian tubuh jasad balita tersebut masih tersangkut," terang seorang relawan. (*/dad/dra/riz/k16)


BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:46

Dokter yang Menangani Pasien 2019-nCov Meninggal

HONGKONG – Usaha untuk membatasi persebaran 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) gagal.…

Minggu, 26 Januari 2020 11:39
Berkas Perkara Dua Penyiram Novel Dikirim ke Jaksa

Kasus Novel, Aktor Intelektual Belum Juga Terungkap

JAKARTA—Kendati aktor intelektual penyiram Novel Baswedan belum terungkap. Polri telah…

Minggu, 26 Januari 2020 11:38

Seluruh Pasien Negatif 2019-nCoV, tapi Belum Mau Keluar Rumah Sakit

JAKARTA– Pemeriksaan pasien diduga mengidap 2019 novel conoravirus (2019-nCoV) sudah…

Minggu, 26 Januari 2020 11:34

Indonesia Minta Malaysia Perketat Pengamanan Perairan

JAKARTA– Penculikan warga negara Indonesia (WNI) saat melintasi perairan di…

Minggu, 26 Januari 2020 11:27

Tes CPNS Mulai Besok, BKN Siapkan 425 Lokasi Ujian

JAKARTA – Ujian atau tes kompetensi dasar (TKD) seleksi CPNS…

Minggu, 26 Januari 2020 11:26

Waspadalah Bencana, Hujan Lebat Sampai Akhir Bulan

JAKARTA– Hujan lebat diprediksi terjadi hingga akhir bulan di sejumlah…

Minggu, 26 Januari 2020 10:56

Maskapai Indonesia Dilarang Terbang ke Wuhan

JAKARTA - International Notam Office Beijing telah menerbitkan NOTAM G0108/20.…

Minggu, 26 Januari 2020 00:12

Kerja Keras di Tahun Tikus Logam

PERJODOHAN enteng. Kerja lebih keras lagi. Juga, tak gegabah dalam…

Minggu, 26 Januari 2020 00:06

Mantau dan Bakpao yang Turun-temurun

MANTAU dan bakpao. Mirip tapi beda. Roti kukus khas Tiongkok…

Minggu, 26 Januari 2020 00:05

Mi Sebagai Lambang Panjang Usia

SEMANGKUK besar mi sudah terhidang. Aneka makanan pendamping juga sudah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers