MANAGED BY:
JUMAT
21 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Selasa, 03 Desember 2019 13:30
Millennials dan Digitalisasi Pariwisata

PROKAL.CO, Oleh 

Erny Silalahi                                                                                   

PNS, Travel enthusiast

erny.silalahi@uqconnect.edu.au

 

Beberapa waktu yang lalu dilaksaakan perayaan Millennials Gathering dengan tajuk “Create Creators” Milenial dalam Pariwisata di Era Industri 4.0 di Samarinda. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan beberapa komunitas anak muda yang selama ini bergeliat dengan berbagai macam cara di media sosial untuk mengenalkan pariwisata Kalimantan Timur. Acara ini tentu saja menarik dikarenakan millennial dan segala hal yang berhubungan dengan mereka saat ini sangatlah cepat perkembangannya. Kecenderungan perubahan platform dan inovasi teknologi digital tentu saja sangat mempengaruhi interaksi manusia pada saat ini dan yang akan datang. Tentu saja hal ini memberi dampak di hampir seluruh sektor, tidak terkecuali di sektor pariwisata.

Semakin cepatnya perkembangan sosial media yang tidak dapat dibendung beberapa tahun belakangan ini memberi dampak bagaimana penyedia jasa untuk berkomunikasi dan menjangkau pengguna jasa mereka. Kemunculan sosial media yang seringkali dikonotasikan dengan generasi millennial atau generasi Y adalah mereka dengan demografi lahir pada awal 1980-an, pertengahan 1990-an hingga awal tahun 2000-an.

Kemunculan generasi millennial menandai pula berakhirnya masa generasi X. Generasi millennial dikonotasikan dengan keakraban mereka dengan teknologi yang membuktikan bahwa mereka mampu menguasai dunia jauh melampaui generasi sebelumya. Facebook, Instagram, Snapchat, Youtube hingga maraknya blog pribadi yang merekam berbagai momen liburan dilengkapi dengan photo bahkan video real-time yang memuat aktivitas harian para millennials di mana saja dan kapan saja.

Dalam industri pariwisata, kehadiran generasi ini telah merubah pola perjalanan dan pemasaran itu sendiri. Dulunya, pelaku industri memasarkan produk mereka dengan membuat flyer dan brosur semenarik mungkin. Mengikuti expo atau exhibition dalam dan luar daerah hingga ke luar negeri sebagai salah satu sarana mengenalkan dan memasarkan produk yang mereka hasilkan. Tentu saja, hal tersebut membutuhkan sumber pembiayaan yang tidak sedikit. Biaya percetakan, perjalanan ke tempat expo adalah sebagian dari biaya-biaya yang harus mereka persiapkan. Namun kini, semenjak maraknya penggunaan teknologi di kalangan masyarakat maka para pelaku industri pun akhirnya menempuh cara yang ternyata jauh lebih murah namun dapat menjangkau calon konsumen mereka yang berada di beberapa belahan dunia.

Menurut majalah Forbes, generasi millennial dan generasi Z adalah pasar terpenting bagi industri pariwisata. Statistik menunjukkan bahwa 68% dari populasi generasi ini menganggap wisata adalah prioritas utama mereka. Millennials lebih suka membelanjakan uangnya lebih daripada golongan lain. Di Amerika Serikat saja, pada tahun 2017 mereka rata-rata membelanjakan $1,312 untuk setiap liburan yang dilakukan yang merupakan kenaikan 8% dari tahun 2016. Pada setiap tahunnya mereka membukukan rata-rata 3.5 kali liburan dan diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Dalam berwisata, mereka tidaklah memprioritaskan kenyamanan yang tentunya akan mengurangi biaya perjalanan. Millennials mampu membuat perjalanan yang murah menjadi menarik, informatif dan meninggalkan kesan bagi para pelakunya. Tak jarang mereka merencanakan perjalanan jauh-jauh hari sebelumnya dengan melihat harga tiket dan penginapan yang murah. Untuk menekan pengeluaran, mereka pun tidak segan-segan menginap di rumah warga ataupun mencari café-café dengan fasilitas wifi hanya sekedar untuk berhemat. Untuk urusan transportasi, jika destinasi yang dituju masih dapat dicapai dengan transportasi umum yang murah akan menjadi prioritas, malahan dengan jalan kaki akan jauh lebih baik.

 

Berbagi melalui sosial media

Dengan kedekatan pada media sosial, maka ketika generasi ini berwisata hampir dapat dipastikan mereka akan membagikan cerita, foto dan video melalui sosial media sehingga keluarga, sahabat maupun followers dapat dengan mudah melihat destinasi yang dikunjungi dan segala aktivitas yang dilakukan selama perjalanan berlangsung. Karenanya, hampir 84% pengguna aplikasi Facebook mengatakan bahwa posts teman-teman mereka mempengaruhi dalam mengambil keputusan untuk berwisata.

Dalam menentukan tujuan dan pilihan untuk transportasi, akomodasi dan segala aktivitas wisata para milllennials menggunakan internet untuk membantu mereka untuk merancang sendiri perjalanan impian. Pola ini sangat jauh berbeda dengan generasi sebelumnya yang sangat bergantung pada ketersediaan paket-paket perjalanan dari Biro Perjalanan Wisata atau Agent Perjalanan. Dengan semakin menjamurnya situs-situs Online Travel Agencies (OTAs) seperti Expedia, Kayak, Wotif, Booking hingga Traveloka memudahkan millennials mencari harga termurah yang ditawarkan OTAs kepada para pelanggan setia mereka. Tiket pesawat, kapal, kereta, hotel, restaurant, bahkan tiket masuk ke destinasi yang kadang ditawarkan dengan paket-paket discount yang tentu saja menggiurkan calon konsumen.

Proses pengambilan keputusan pun dipengaruhi oleh peer online testimonials yakni testimoni dari sesama pelancong yang sebelumnya telah menggunakan OTA dan berbagi melalui Trip Advisors. Sejumlah 92% dari wisatawan mempercayai reviews yang dibaca melalui Trip Advisor dan mempengaruhi mereka untuk menentukan keputusan akan hotel, restaurant dan aktivitas wisata yang memuat reviews positif dari banyak wisatawan.

Kecenderungan untuk berbagi ini dilakukan oleh generasi millennials bukan hanya setelah melakukan perjalanan wisata, melainkan juga sebelum dan selama perjalanan tersebut berlangsung. Hal ini menumbuhkan minat dari beberapa brands yang fokus untuk memperluas market mereka dengan menggunakan sosial media bahkan mengendorse beberapa selebriti ataupun influencer yang mempunyai banyak followers untuk mendapatkan reviews positif tentang usaha dan service yang mereka tawarkan.

Melihat fenomena ini, Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dalam usahanya untuk mewujudkan target 20 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2019 telah melakukan berbagai usaha untuk merangkul generasi millennials ini. Kehadiran GENPI (Generasi Pesona Indonesia) yang digagas sebagai wadah berkumpulnya komunitas anak-anak muda yang cinta pariwisata dan aktif di media sosial. Tugas utama dari GENPI ini adalah untuk bercerita, berbagi dan mengunggah destinasi Indonesia ke media sosialnya seperti Facebook, blog, Youtube, Instagram dan Twitter.

Pada awalnya GENPI yang terbentuk pada tahun 2016 sebagai bagian dari tim pemenangan kompetisi World Halal Tourism Award (WHTA) tahun 2016 dimana Indonesia berhasil meraih 12 penghargaan dari 16 kategori yang diperlombakan. Hal ini memicu terbentuknya GENPI di 8 provinsi dengan anggota lebih dari 500 orang. Harapan Kementrian Pariwisata dengan terbentuknya GENPI maka destinasi Indonesia lebih dikenal lagi dan dengan menguasai dunia digital maka Indonesia akan menguasai dunia. “More Digital, More Personal! More Digital, More Global! More Digital, More Professional!”. (**)

 

               

Daftar Pustaka

Harrison, Virginia (2017). Why millennials are the next tourism frontier. Diakses pada 10 November 2019, dari https://www.bbc.com/news/business-40701934

 Jordan, Peter (2018). How are millennials influencing marketing and product development in tourism. Diakses pada 10 November 2019, dari 

http://cf.cdn.unwto.org/sites/all/files/pdf/guilintsmforum_peterjordan_toposophy.pdf 

Murdaningsih, Dwi (2017). Genpi: ‘ Generasi Zaman Now’. Diakses pada 13 November 2019, dari https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/pesona-indonesia/17/11/23/ozuwcl368-genpi-generasi-zaman-now-part1 

 

 

 


BACA JUGA

Sabtu, 08 Februari 2020 12:43

Tata Ulang Kawasan Gunung Manggah

Kecelakaan lalulintas di jalur menanjak Jalan Otto Iskandardinata, atau yang…

Jumat, 07 Februari 2020 13:49

Buruknya Kecanduan Gim Online

Dr Rosdiana MKes Bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP)…

Kamis, 06 Februari 2020 11:28

Seluruh Kabupaten PPU Sebaiknya Jadi Lokasi IKN

Oleh : AJI SOFYAN EFFENDI Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan…

Rabu, 05 Februari 2020 11:07

Gunakan Mendeley, Upgrade Riset Dosen dan Mahasiswa

ARBAIN Dosen FKIP Universitas Widya Gama Mahakam     ERA…

Rabu, 05 Februari 2020 10:44

Aturan Kesehatan Internasional untuk Cegah Virus Corona

Ferry Fadzlul Rahman MH Kes med Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas…

Kamis, 30 Januari 2020 10:35

Menggagas Event Berkelas di Kalimantan Timur

  Erny Silalahi                                                                                   …

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…

Kamis, 09 Januari 2020 10:09

63 Tahun Kaltim, Menyongsong Ibukota Negara

Oleh : Devia Sherly, Founder East Kalimantan Dream EKD (East…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers