MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 30 November 2019 00:50
Guru yang Mulia

PROKAL.CO, Bambang Iswanto

Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda

 

 

HYMNE Guru ciptaan Sartono, diawali dengan kalimat “terpujilah wahai engkau Bapak-Ibu Guru” dan diakhiri dengan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Makna dua kalimat tersebut sangat dalam. Kalimat pertama menunjukkan posisi terhormat dan mulianya seorang guru. Kalimat pamungkas lagu seakan menunjukkan hal yang paradoks. Posisi mulia seorang guru disejajarkan dengan pahlawan bangsa, namun tidak ada tanda jasa untuk posisi guru.

Bangsa dan agama apapun di dunia memosisikan guru sebagai manusia yang mulia. Posisi tersebut disebabkan oleh ilmu yang dimiliki dan kesadaran membagi ilmu kepada murid-murid.

Dalam Islam, guru biasanya diidentikkan dengan ulama. Kalau ulama biasanya juga disebut guru. Karena ulama pasti memiliki ilmu, dan ulama berkewajiban membagikan ilmu yang dimilikinya. Hal itu dikuatkan dengan fenomena dalam masyarakat Indonesia, ulama sering disebut juga sebagai guru atau tuan guru, seperti halnya yang dikenal dalam sebagian masyarakat Kalimantan.

Posisi guru atau ulama sangat tinggi, sebagaimana yang termaktub dalam QS Al-Mujadalah Ayat 11, Allah tinggikan derajat orang-orang beriman dan yang memiliki ilmu. Sangat wajar dan logis jika guru (orang yang berilmu) mendapat posisi yang tinggi, karena sejak awal memang Allah yang meninggikan derajatnya. Allah Yang Mahamulia saja memuliakan, apalagi manusia. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kemuliaan orang yang berilmu.

Selain Alquran, tidak sedikit hadis yang berbicara tentang kemuliaan guru. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan At-Turmudzi disebutkan, tinta para ulama lebih tinggi nilainya dibandingkan darah para syuhada.

Secara kontekstual, hadis itu tidak bermaksud untuk merendahkan jasa para syuhada yang mengorbankan jiwanya, dalam hal tertentu orang yang berilmu sering menjadi pelita dalam kehidupan.

Dengan ilmunya, para ulama atau guru bisa mengantarkan manusia untuk berpikir, membawa manusia untuk dekat dengan penciptanya, dan mampu membuat manusia mencapai kemaslahatan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.

Guru sering disandingkan dengan orangtua dalam hal kebaktian. Bahkan, dalam situasi tertentu, posisi guru lebih tinggi dibandingkan orangtua, lantaran jasa guru tidak terbatas dalam keluarga saja tetapi untuk banyak manusia. Tidak sebatas menyelamatkan anak dari godaan dunia, tetapi ulama dan guru bisa menyelamatkan manusia dari godaan dunia dan selamat di akhirat dari siksaan api neraka.

Imam Al-Ghazali memiliki kesimpulan tersendiri yang disaripatikan dari Alquran dan hadis tentang posisi guru atau ulama. Beliau menyebut, guru sebagai manusia hebat (great individual) karena menjadi pelita dalam segala zaman, satu bagian aktivitas mendidik diibaratkan lebih baik dari amal perbuatan ibadah dalam satu tahun.

Dalam fakta keseharian, nasib guru sering tidak simetris dengan posisinya seperti yang digambarkan dalam Alquran, hadis, ataupun gambaran Imam al-Ghazali. Guru juga hanya sering dijadikan pahlawan dalam lagu saja seperti himne guru. Banyak guru yang tidak mendapatkan perlakuan sebagai orang yang terpuji dan terhormat seperti dalam ajaran agama atau yang tergambar dalam lagu.

Dalam kesempatan peringatan hari guru tahun ini, saya berharap, ada perubahan nasib guru ke depan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tampaknya sangat mengetahui “dalaman” nasib guru, berat namun terpuji.

Pak Menteri menyadari banyak guru yang ingin berdedikasi penuh untuk mengajar di kelas, tetapi masih disibukkan oleh urusan administrasi. Banyak guru yang mengetahui bahwa ukuran keberhasilan pembelajaran bukan hanya dari angka-angka, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kalah dari pemangku kebijakan.

Banyak guru yang ingin berimprovisasi mengajar di luar kelas, tetapi tidak berdaya karena harus menerapkan banyaknya kurikulum yang mengharuskan kakinya menancap di kelas. Banyak guru yang tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan pembelajaran yang berbeda tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena perintah untuk menyeragamkan pembelajaran akibat birokrasi.

Di pengujung sambutan, Pak Menteri menyebut akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Mudah-mudahan ini menyiratkan pula tidak ada lagi guru yang tidak dihormati, guru yang masih direpotkan urusan-urusan administrasi di sekolah, tidak ada guru yang tidak profesional karena hambatan birokrasi dan regulasi yang tidak mencerdaskan.

Semoga Pak Menteri bisa mewujudkan hak guru untuk bisa mengajar dengan nyaman, memenuhi kesejahteraannya sesuai kewajiban berat dan terpuji yang telah ditunaikannya. Dan menjadikannya sebagai pahlawan dalam dunia nyata, bukan hanya dalam lagu. Selamat Hari Guru! (rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 12:01

Harus Jaga Kepercayaan

Oleh: Yaser Arafat Ketua Kadin Balikpapan   DENGAN makin beragamnya…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:54

Sama di Hadapan Tuhan

Oleh : Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:52

Guru Bermutu, Jembatan Indonesia Maju

Oleh : ARIS SETIAWAN (Guru, Kandidat Doktor MP Unmul)  …

Selasa, 03 Desember 2019 13:30

Millennials dan Digitalisasi Pariwisata

Oleh  Erny Silalahi                                                                                   …

Sabtu, 30 November 2019 00:50

Guru yang Mulia

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda  …

Selasa, 26 November 2019 10:22

Mengagas Guru Masa Depan

Catatan Guru Oleh: Nanang Eko Saputro, S.Pd. (Guru SMA Negeri…

Rabu, 20 November 2019 23:02

Hari Ayah Nasional

Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda   BANYAK sebutan untuk memanggil…

Selasa, 12 November 2019 11:31

Ibu Kota Negara di Kaltim, Siapkah Sumber Daya Airnya?

Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT IPU Guru Besar…

Jumat, 08 November 2019 22:02

Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Turnamen bulu tangkis level…

Sabtu, 02 November 2019 21:32

Belajar dari Kepemudaan Rasulullah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Rabiul Awwal, bulan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.