MANAGED BY:
KAMIS
30 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Kamis, 28 November 2019 13:39
Mengikuti Keseharian Ahmad Tohari, Puluhan Tahun setelah Ronggeng Dukuh Paruk Lahir (2-Habis)
Nyabut Singkong, Dikencingi Dulu, lalu Dimakan Langsung, Itu Pengalaman Nyata
Ahmad Tohari

PROKAL.CO, Ahmad Tohari akan terus menulis...selama tak ada ciap-ciap anak ayam yang terpisah dari induknya atau tangis anak-anak...

 

BAYU PUTRA, Banyumas, Jawa Pos

 

SURAT pengunduran diri itu dengan hati-hati disampaikan Tohari kepada pimpinannya di Harian Merdeka pada awal 1981. Bukan karena tak betah bekerja sebagai redaktur di sana. Dia mundur semata karena ingin menyelesaikan novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk berisi pengalaman hidup Tohari yang dikemas dalam bentuk fiksi. Awalnya berbentuk trilogi: Catatan buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Sudah 37 tahun sejak novel tersebut kali pertama diterbitkan. Sampai saat ini masih terus dicetak ulang.

Kala itu Tohari nekat pulang dari Jakarta ke Banyumas naik vespa. ”Kepala saya waktu itu sudah penuh. Ini (novel) harus diselesaikan,” kenangnya.

Sejenak Tohari menyesap kopi yang ada di hadapannya. Di teras rumah peninggalan sang mertua di tepi jalan utama Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, pada Senin (11/11) siang lalu. Rumah itu sudah mundur beberapa meter dan halamannya diisi beraneka flora.

Tohari menyelesaikan novel tersebut dalam kondisi tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan. Namun, saat itu dia hanya memikirkan novelnya. Bukan hal lain. Ibarat bayi dalam kandungan, Ronggeng Dukuh Paruk sudah lewat sembilan bulan. Tidak bisa ditahan. Ia akan lahir. Untung, sang istri Syamsiyah saat itu sudah bekerja sebagai guru honorer.

Secara keseluruhan, trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk selesai dalam waktu satu tahun. Tiap-tiap serinya memerlukan waktu sekitar empat bulan. Novel tersebut kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Ifa Isfansyah dengan judul Sang Penari.

Pengalaman memang menjadi sumber inspirasi terbaik Tohari. Di Ronggeng Dukuh Paruk, misalnya, dia memasukkan pengalaman masa kecil. Lahir di kampung yang dikelilingi sawah. Tidak jauh dari kediamannya saat ini. ”Anak-anak gembala, nyabut singkong dimakan langsung, dikencingi dulu, itu pengalaman nyata,” ungkapnya menyebut contoh adegan dalam novel.

Keberpihakan kepada rakyat kecil lewat tulisan tidak hanya muncul di Ronggeng Dukuh Paruk. Pada Bekisar Merah, Tohari menyisipkan pesan penting bagi masyarakat. Bahwa kita sebenarnya sedang menjajah bangsa sendiri. Buktinya adalah kehidupan penyadap nira sekaligus pembuat gula kelapa di novel tersebut. ”Mereka dibayar terlalu rendah dibanding ongkos produksinya,” ucap dia.

Tohari menyebutkan, karya-karyanya berangkat dari kegelisahan atas apa yang terjadi di tengah masyarakat. Bagi dia, ide tulisan baru bisa muncul bila dirinya sedang gelisah dengan kondisi tertentu. Semua kegelisahan itu adalah buah didikan di pesantren.

Ada sebuah hadis qudsi (hadis yang berasal langsung dari Tuhan) yang begitu mendalam maknanya bagi suami Syamsiyah tersebut. Alkisah, ada seorang penghuni neraka yang menggugat Tuhan. Mengapa dia dimasukkan ke dalam neraka. ”Tuhan menjawab, kamu Aku masukkan ke neraka karena tidak menjenguk ketika Aku sakit,” ucap Tohari mengulangi bunyi hadis itu.

Bagaimana Tuhan bisa sakit? Tuhan menjawab bahwa yang sakit adalah tetangga sang hamba dan dia tidak menjenguknya. Dalam tafsir yang sangat sederhana, bisa diartikan, bila ada tetangga yang sakit, kita harus menjenguk. Entah sakit perut, demam, atau sakit fisik lainnya.

Namun, ada tafsir yang lebih komprehensif. Sakit itu tidak melulu diartikan secara harfiah. ”Tetanggamu yang sakit bisa sakit sosial, sakit ekonomi, sakit politik, tersia-siakan, atau menjadi pengangguran bertahun-tahun,” lanjutnya.

Dalam kondisi sakit itulah para hamba Tuhan yang menjadi tetangganya tidak menjenguknya. Dalam arti tidak peduli akan kondisinya. ”Tuhan mewakilkan eksistensinya pada tetanggamu yang sakit,” imbuh pria yang sepanjang obrolan tampak ekspresif itu.

Ada satu cerpen berjudul Mas Mantri Menjenguk Tuhan. Saat Idul Fitri, Mas Mantri tidak ikut ke lapangan untuk salat. Dia merasa lebih wajib menunggui tetangganya yang sakit. Sebab, bagi dia, di situlah Tuhan hadir. Bukan di tempat salat Id.

Dalam menulis cerpen atau novel, Tohari tidak terlalu memerlukan suasana yang sunyi. Hanya ada dua jenis suara yang bisa mengganggu konsentrasinya kala menulis. Pertama adalah suara ciap-ciap anak ayam yang terpisah dari induknya. Satu lagi adalah suara tangisan anak-anak. Siapa pun itu. Baik anak sendiri maupun anak tetangga.

Sore menjelang, Jawa Pos bersiap pamitan setelah sejak pagi mengikuti Tohari. Sastrawan senior itu pun mengungkapkan harapan agar pemerintah lebih perhatian pada kesejahteraan sastrawan. ”Agar generasi kita makin tertarik menjadi sastrawan,” tuturnya. (*/c9/ttg)


BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 11:52

Obati Kangen dengan Makanan Indonesia

HONG KONG memang terkenal perkembangannya yang lebih pesat ketimbang Indonesia.…

Minggu, 26 Januari 2020 11:05

Lebih Dekat dengan Aktivis Lingkungan Muda Aeshina Azzahra Aqilani

Terlahir dari orang tua yang merupakan pejuang lingkungan memunculkan kepedulian…

Senin, 20 Januari 2020 14:19
Menikmati Family Fun Rally Sambut Kejuaraan Provinsi Kaltim 2020

Memperkuat Pariwisata, Ingin Lebih Banyak Orang Datang ke Balikpapan

Family Fun Rally 2020 gelaran Kaltim Post berakhir meriah, Ahad…

Kamis, 16 Januari 2020 16:10

Cerita Mengharukan, Kembar Identik yang Terpisah 16 Tahun Akhirnya Bertemu

Kisah hidup dua remaja kembar ini begitu mengharukan. Enam belas…

Rabu, 15 Januari 2020 13:45
Keraton Baru ”Calon Pemersatu Dunia”, Nasibmu Kini...

Nasib Keraton Agung Sejagat, "Keraton" Disegel Pemkab, Sang Raja dan Ratu Ditangkap Polisi

Keraton Agung Sejagat boleh menyebut diri sebagai pendamai bumi, pemulih…

Selasa, 14 Januari 2020 14:39

Inovator Semen Geo Fast Sotya Astuningsih, Pakai Limbah Smelter, 5 Jam Sudah Kuat

Semen biasa butuh waktu 28 hari untuk bisa kuat optimal.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:24
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (4-habis)

Warisan Tiongkok-Thailand hingga Surga Belanja Tepi Sungai

Sungai Chao Phraya adalah nadi kehidupan dan transportasi di Bangkok.…

Jumat, 27 Desember 2019 00:21
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (3)

Berpose di Puncak Tertinggi, Selfie dengan 75 Tokoh Sedunia

PIngin berjalan di atas kaca dari tinggi 314 meter? Menyaksikan…

Jumat, 27 Desember 2019 00:19
Jelajah Wisata Baru Negeri Gajah Putih (2)

Balet Atas Air dan Habiskan Malam bersama Waria

Informasi umum jika Thailand populer dengan waria atau lady boys…

Jumat, 27 Desember 2019 00:16
Wisata Baru Negeri Gajah Putih (1)

Taman Terluas Se-Asia Tenggara hingga Lukisan Bergerak

Pattaya dikenal sebagai kota wisata dengan hiburan malam tiada henti.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers