MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Kamis, 28 November 2019 11:22
Literasi Fintech Perlu Ditingkatkan, Pinjaman Online Tumbuh, Investasi Sepi Peminat
Pameran fintech beberapa waktu lalu di Samarinda. Perusahaan yang bergerak di sektor finansial teknologi (fintech) terus berusaha meningkatkan literasi di masyarakat. Sebab hingga saat ini masih banyak jasa fintech yang nakal dan membahayakan.

PROKAL.CO, Perusahaan yang bergerak di sektor finansial teknologi (fintech) terus berusaha meningkatkan literasi di masyarakat. Sebab hingga saat ini masih banyak jasa fintech yang nakal dan membahayakan.

BALIKPAPAN – Produk fintech saat ini mendapat respon positif dari masyarakat. Terutama pinjaman online. Kecepatan dan kemudahan dalam mencairkan dana pinjaman menjadi penyebab masyarakat berani beralih dari perbankan. Tapi, pengguna fintech harus tetap berhati-hati. Karena banyak yang ilegal.

Customer Service Danamas Ivonne Ruth Tondok mengatakan respons warga Balikpapan dan Samarinda terhadap produk pinjaman online cukup positif. Namun untuk produk investasi lainnya seperti dana reksa masih terbatas. Proses sosialisasi masih perlu dilakukan untuk mendorong pola pikir investor dalam meletakkan dananya. “Masih perlu diberi pemahaman lagi,” jelasnya, Rabu (27/11).

Saat ini untuk menarik investor, produk investasi reksa dana yang dimiliki pihaknya tak memerlukan batasan waktu sehingga bisa ditarik sewaktu waktu. Selain itu juga dibebaskan untuk biaya pemasukan dan penarikan.

Sementara untuk bunga yang dikenakan sebesar 0,8 persen per bulan atau maksimal 10 persen per tahun. Dari sisi pinjaman online, pihaknya telah mengantongi izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pihaknya memberikan jasa pinjaman online dimulai Rp 1 hingga Rp 7,5 juta. “Dalam sebulan ada sekitar 50 pengguna. Untuk investasi berkisar Rp 1-5 juta. Di Balikpapan pinjaman online per bulan mencapai Rp 10 juta,” jelasnya.

Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2019 yang dilakukan oleh Google dan Temasek pada akhir 2019 menyebut bahwa di Indonesia masih terdapat 92 juta jiwa penduduk dewasa yang belum tersentuh layanan finansial atau perbankan.

Jumlah tersebut lebih dari separuh total penduduk dewasa Indonesia yang mencapai 182 juta jiwa. Dalam kondisi tersebut, kehadiran financial technology (fintech) yang semakin menjamur di Indonesia menjadi angin segar dalam mendukung literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, mengingat peranannya dalam memberikan kemudahan akses keuangan lewat pemanfaatan teknologi.

Bahkan, eksistensi fintech saat ini mampu turut menggerakkan roda perekonomian negara. Hasil riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) yang dilakukan akhir 2019 ini menyebut bahwa perusahaan fintech lending diproyeksi berkontribusi Rp 100 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2020. Prediksi itu naik hampir 4 kali lipat dibanding tahun 2018, yang berada di angka Rp 25,97 triliun.

Umang Rustagi, Komisioner Kredivo mengatakan, cepatnya penetrasi pasar yang mampu dilakukan oleh fintech lantas membuat para pelaku fintech semakin mantap untuk memperkuat ekspansi bisnisnya guna memberikan dampak lebih luas bagi sektor keuangan di Indonesia atau di Kaltim.

Hal ini turut mencuri perhatian dari berbagai investor, termasuk para pelaku di sektor keuangan seperti perbankan konvensional yang turut menyalurkan dananya dan berkolaborasi dengan pelaku fintech. Bahkan, para ekonom memprediksi bahwa tren kolaborasi antara pelaku fintech dan perbankan konvensional akan semakin berkembang karena dapat saling menguntungkan satu sama lain.

“Kehadiran teknologi akan membawa perubahan bagi lanskap bisnis di sektor keuangan saat ini. Pelaku di sektor keuangan pun semakin dituntut untuk mampu memberikan layanan dan produk keuangan yang inovatif, lebih efisien, cepat, mudah, dan memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat,” ucapnya.

Melalui adanya kolaborasi yang sejalan antara fintech dan perbankan dengan berorientasi pada peningkatan ekonomi masyarakat akan menciptakan iklim sektor keuangan Indonesia yang kondusif. Selain itu, melalui kolaborasi yang terjalin, baik fintech dan perbankan dapat lebih memperkuat dan memaksimalkan perannya dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat.

Lebih lanjut, berbagai tantangan mungkin dihadapi oleh pelaku fintech di Indonesia yang hendak menjajaki kolaborasi dengan perbankan. Selain kredibilitas fintech yang menjadi faktor pertama dalam proses integrasi dengan perbankan, kemampuan manajemen risiko yang dilakukan oleh fintech juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi para perbankan yang ingin berkolaborasi dengan fintech.

Fintech yang mampu mengelola manajemen risiko dengan baik tentunya akan meminimalisasi indeks kredit macet, sehingga akan memberikan nilai tambah bagi performa bisnis perbankan. (aji/ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 13:22

Mini University Kaltim Preneurs, Ajak UMKM Go Ekspor

Pemerintah daerah semakin agresif mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan…

Jumat, 13 Desember 2019 12:59

Dukung Pelarangan Minyak Curah

PEMERINTAH daerah berharap larangan peredaran minyak curah di pasar tradisional…

Jumat, 13 Desember 2019 11:59

Menunggu Hadirnya Pengolahan Sarang Walet

BALIKPAPAN- Industri burung walet di Kaltim belum maksimal. Pasalnya hingga…

Jumat, 13 Desember 2019 11:47

Bangkok Bank Akuisisi Bank Permata

JAKARTA– Bangkok Bank Public Company Limited resmi mengakuisisi saham PT…

Kamis, 12 Desember 2019 12:29

Pengusaha Berharap Harga Domestik Batu Bara Dievaluasi

Pengusaha batu bara meminta pemerintah mengkaji ulang harga jual batu…

Kamis, 12 Desember 2019 11:58

Hotel Bumi Senyiur Siapkan Paket, Hadirkan “Serba-Lima” pada Perayaan Tahun Baru

SAMARINDA–Tidak terasa waktu cepat berlalu dan tahun baru sudah di…

Rabu, 11 Desember 2019 13:08

Ekonomi Kaltim Diproyeksi Tumbuh 5 Persen

Derasnya ekspor batu bara hingga triwulan III/2019 membuat pertumbuhan ekonomi…

Rabu, 11 Desember 2019 13:05

2020, Pemerintah Larang Peredaran Minyak Curah, Asa Baru Bisnis Kelapa Sawit

SAMARINDA- Mulai 1 Januari 2020, Kementerian Perdagangan berencana melarang peredaran…

Rabu, 11 Desember 2019 13:03

Suplai Pisang Kepok Masih Kurang

SAMARINDA- Petani pisang kepok di Kaltim dituntut meningkatkan produksi. Pasalnya,…

Senin, 09 Desember 2019 12:57

Pembangunan IKN, Para Pekerja Wajib Bersertifikat

Tenaga kerja lokal bisa diandalkan untuk menyukseskan pengerjaan proyek konstruksi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.