MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

FEATURE

Selasa, 26 November 2019 13:22
Kisah Tutik Suwani, Sarjana Perhotelan yang Pilih Mengajar di SLB

Sempat Minder, Kini Bangga karena Jadi Ladang Amal

Tutik dan anak didiknya.

PROKAL.CO, Tugas seorang guru salah satu adalah mengajarkan baca dan tulis kepada muridnya. Namun pernahkah terpikir bagaimana cara mendidik anak dengan kebutuhan khusus? Seperti Tutik, yang mengabdikan dirinya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Kencana.

Pahlawan tanpa jasa, adalah julukan yang melekat erat pada profesi seorang guru. Sosok yang mengenalkan huruf hingga cara berhitung. Seorang guru harus sabar dalam menghadapi anak didiknya. Apalagi, jika anak tersebut memiliki keterbatasan dalam proses belajar-mengajar.

Sejak 2007 Tutik Suwarni memutuskan untuk menjadi pengajar di sekolah khusus untuk anak disabilitas. Padahal ia merupakan seorang sarjana perhotelan. Selama dua belas tahun, dirinya melalui suka-duka yang tidak semua guru dapat rasakan.

SLB Dharma Kencana ialah sekolah yang dirintis oleh almarhum suaminya, Mujiyo, pada 2003. Suaminya, yang memang menempuh pembelajaran anak berkebutuhan khusus memiliki impian untuk membangun sebuah SLB di Balikpapan.

Tutik yang sempat mengajar di sekolah dasar umum, memutuskan untuk pindah. “Dari situ saya tergerak untuk mengajar di SLB. Apalagi, saat itu guru-guru SLB memang sangat sulit,” tuturnya.

Dia berkisah, saat awal-awal menjadi guru SLB dirinya sempat merasa minder. Hal itu dia rasakan pada saat pertemuan guru-guru. Seakan menjadi guru SLB saat itu adalah hal memalukan.

Akan tetapi, hal itu adalah suatu kebanggaan tersendiri baginya. Dia mengaku senang ketika anak didiknya dapat berprestasi seperti anak normal lainnya. Meski tak dapat dimungkiri, dia sedih jika anak yang dia didik belum mampu menangkap apa yang diajarkan. Namun, hal itu dia jadikan motivasi untuk lebih berusaha lagi mendidik anak-anak muridnya.

Dalam proses belajar-mengajar, ia mengatakan perlu kesabaran lebih. Khususnya pada anak-anak penyandang tunagrahita (anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata). Perlu pendekatan lebih dalam mengatur emosional dan keaktifan mereka.

Sementara untuk anak tunarungu, pembelajarannya diutamakan ke latihan verbal. Para murid diajarkan untuk menggerakkan bibir agar tidak kaku. Bahasa isyarat hanya digunakan bahasa bantu.

Di sisi lain, dia menyayangkan masih ada beberapa orangtua dari penyandang disabilitas, yang menyembunyikan anaknya dari publik. Menurut Tutik, orangtua dari anak-anak ini harusnya bangga. Sebab, mereka diberikan anak-anak pilihan yang bisa menjadi ladang amal mereka.

“Saya berharap pada semua pihak untuk tidak menyembunyikan anak-anak berkebutuhan khusus ini. Karena mereka juga punya hak untuk belajar seperti anak normal lainnya,” tuturnya.

Kini, wanita 52 tahun ini menjabat sebagai kepala sekolah di SLB Dharma Kencana. Bahkan kedua anaknya juga mengambil jurusan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Dengan enam belas guru lainnya, mereka terus berupaya untuk meningkatkan kinerja dalam mendidik para anak berkebutuhan khusus tersebut. (*/okt/ms/k18)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 10 Desember 2019 11:09

Cerita Kelompok YPAC Music Percussion, Senyumin Aja kalau Ada Yang Nyinyir

YPAC Music Percussion menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menjadi…

Sabtu, 07 Desember 2019 12:16
Rindu Leluhur, Bocah-Bocah Omah Cangkem Diundang ke Kaledonia Baru

Seperti Bertemu Saudara, Trenyuh Gamelan 30 Tahun Ditabuh Lagi

Bocah-bocah yang tergabung dalam Omah Cangkem belum lama ini menorehkan…

Sabtu, 07 Desember 2019 11:10
SMPN 20 Depok setelah Puluhan Siswanya Terinfeksi Hepatitis A

Diliburkan Tiga Hari, Sediakan Ujian Susulan untuk Yang Masih Dirawat

Pihak sekolah membantah kesimpulan Kementerian Kesehatan bahwa penular virus adalah…

Senin, 02 Desember 2019 12:38

Sijantang Koto dan Abu ”Abadi” Cerobong Pembangkit Listrik

AGUS DWI PRASETYO, Jawa Pos, Sawahlunto   Bocah laki-laki itu…

Kamis, 28 November 2019 13:39
Mengikuti Keseharian Ahmad Tohari, Puluhan Tahun setelah Ronggeng Dukuh Paruk Lahir (2-Habis)

Nyabut Singkong, Dikencingi Dulu, lalu Dimakan Langsung, Itu Pengalaman Nyata

Ahmad Tohari akan terus menulis...selama tak ada ciap-ciap anak ayam…

Rabu, 27 November 2019 12:07
Sehari Bersama Ahmad Tohari, sang Penulis Ronggeng Dukuh Paruk (1)

Dari Gus Dur Belajar tentang Permainan Kata dan Humor

Sampai usia 71 tahun sekarang ini, Ahmad Tohari terus bersetia…

Selasa, 26 November 2019 13:22

Kisah Tutik Suwani, Sarjana Perhotelan yang Pilih Mengajar di SLB

Tugas seorang guru salah satu adalah mengajarkan baca dan tulis…

Selasa, 26 November 2019 11:31

Cerita Penyusunan Buku Saku Penanganan Kasus Kekerasan Seksual di Kampus

Inge dan Yayas pertama menggagas buku ini saat sama-sama menangani…

Rabu, 20 November 2019 10:17
Ahnaf Fauzi Zulkarnain, 10 Besar KJSA Goes Digital 2019

Belajar lewat YouTube, Bikin Robot Pelayan Penderita Stroke

Berawal dari rasa peduli terhadap sesama, siswa MTsN 4 Gunungkidul…

Sabtu, 16 November 2019 12:57

Ananda Badudu yang Ingin Kembali Teruskan Karir Bermusik

Menjadi jurnalis dan musisi sudah dilakoni Ananda Badudu. Namun, begitu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.