MANAGED BY:
KAMIS
12 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 26 November 2019 11:16
Catatan Kaltim Post Tur Mandiri Nyetir Mobil Keliling Eropa (4-Habis)
Bebas Ngebut di Jerman, Taat Speed Limit di Prancis dan Belanda
-

PROKAL.CO, SEMUA PATUH: Suasana tertib berlalu lintas saat jalanan macet di Linz, Austria. Ada kebiasaan membuat ruang kosong di tengah untuk jalur darurat. ERWIN D NUGROHO/KP

 

 

Aturan berlalu lintas di setiap negara di Eropa berbeda-beda. Agar tidak gagap di jalanan, wajib mempelajari dulu rambu, aturan, dan kebiasaan-kebiasaan.

 

ERWIN D NUGROHO, Paris

 

LALU lintas di Eropa tidaklah selalu lancar. Sesekali ada macetnya juga. Terutama di lokasi-lokasi yang merupakan akses menuju masuk dan keluar pusat kota (downtown). Menariknya, dalam kemacetan pun semua masih tampak tertib. Kendaraan melaju beriringan dengan kecepatan stabil, tanpa ada yang saling serobot atau rebutan mencari kesempatan mendahului.

Pengalaman pertama berjumpa jalanan macet Eropa saya alami saat mengemudi di Kota Linz, Austria. Hari itu, setelah puas mengeksplorasi Salzburg, kota kelahiran musisi Mozart di Austria, perjalanan kami lanjutkan ke Praha, Republik Ceko. Lalu lintas melambat di dekat intersection (persimpangan) antara jalan tol ke arah Praha dengan jalan menuju masuk Kota Linz.

Dari tiga lajur jalan yang sedang dilanda macet tersebut, yang terisi iring-iringan kendaraan hanya dua lajur, yakni kiri dan tengah. Lajur paling kanan, biasanya untuk kendaraan berhenti darurat, tetap kosong.

Sementara antara lajur kiri dan tengah itu masih ada ruang yang sebenarnya sangat cukup untuk satu baris kendaraan lagi. Namun, tidak satu kendaraan pun yang memaksa mengisi ruang kosong tersebut. Semua tetap tertib mengikuti iring-iringan di dua lajur kiri dan tengah itu saja.

Ruang kosong di antara dua lajur itu rupanya memang sengaja dibiarkan kosong sebagai persiapan apabila terjadi situasi darurat, yang mengharuskan mobil polisi atau ambulans segera melintas. Jadi, di tengah kemacetan, upaya mobilisasi yang sifatnya darurat tidak akan ikut terganggu. 

Situasi seperti itu juga selalu terlihat setiap melewati terowongan (tunnel). Di jaringan jalan tol Eropa, terowongan dibuat untuk menyiasati rute yang terhalang pegunungan, sungai atau danau. Alih-alih membuat jalan berkelok dan memutar, sehingga menjadi lebih jauh, gunung atau sungainya ditembus saja dengan tunnel. Jaraknya bisa sampai belasan kilometer.

Nah, di dalam terowongan yang lebar jalannya bisa untuk tiga mobil berjejer itu, iring-iringan kendaraan tertib hanya dengan membentuk dua barisan. Yakni, di sisi paling kiri dan sisi paling kanan. Lajur tengahnya selalu dibiarkan kosong, yang juga memang sengaja disiapkan untuk keadaan darurat.

Untuk sikap-sikap seperti ini, tidak terlihat ada rambu yang mengaturnya. Jadi, semacam kebiasaan saja. Mungkin juga karena sudah terbangun adab: dalam situasi apapun, selalu siapkan ruang untuk kendaraan yang harus melintas dalam kondisi darurat.

Bandingkan dengan kondisi lalu lintas di tempat kita. Ketika jalanan macet, hampir tidak pernah ada lagi ruang kosong tersisa. Kendaraan akan saling berjejal mengisi setiap celah yang memungkinkan dimasuki.

Bahkan sampai memenuhi bahu jalan. Semua berlomba mendapatkan jalur karena kepengin tiba di tujuan lebih cepat. Di Jakarta, malah sering disaksikan orang dengan alasan macet sampai memaksa menjalankan kendaraannya di atas trotoar yang jelas-jelas fungsinya untuk pejalan kaki.

Sikap disiplin dan tertib berlalu lintas ini membuat perjalanan dengan mengemudi di Eropa menjadi menyenangkan. Yang penting, kita juga sudah mempelajari semua aturan dan rambu agar tidak justru menjadi pengacau.

Saya secara khusus membaca-baca dulu aturan berlalu lintas di Eropa, sebelum berangkat. Mempelajari simbol-simbol yang umum digunakan agar tidak keliru memahami rambu. Juga menonton berbagai tayangan di YouTube yang banyak mengulas cara mengemudi yang baik di Eropa.

Hertz sebagai perusahaan penyedia jasa mobil rental pun membekali penyewa dengan buku panduan berisi poin-poin penting aturan berlalu lintas yang harus diperhatikan ketika mengemudi di Eropa, termasuk aturan-aturan berbeda di setiap negara.

Poin paling banyak diulas terkait speed limit (batas kecepatan). Ini harus dipatuhi karena risiko bila melanggar sangat berat. Dari denda tilang hingga pencabutan izin atau lisensi mengemudi. Di jalan tol di Prancis, Swiss, dan Belanda, rata-rata batas kecepatan yang diizinkan 130 kilometer per jam dan harus turun menjadi 100 kilometer per jam apabila cuaca hujan atau sedang musim dingin dan jalanan bersalju.

Aturan berbeda berlaku di Jerman, untuk jalan tol, tidak ada batas kecepatan. Pengemudi bisa injak gas sedalam-dalamnya. Batas kecepatan hanya diatur untuk kawasan tertentu, seperti ketika ada pertigaan dengan jalur masuk dan keluar tol, atau persimpangan dengan jalan lain.

Setelah melewati kawasan seperti itu, silakan memacu mobil lagi sekencang-kencangnya. Saya sendiri hanya berani memacu mobil hingga 140 kilometer per jam ketika di Jerman. Jauh tertinggal dari mobil-mobil berkecepatan tinggi yang terus bergantian menyalip.

Di jalanan dalam kota, kecepatan maksimum dibatasi 80 kilometer per jam. Apabila masuk ke kawasan yang mulai agak padat, turun menjadi 60 kilometer per jam. Di permukiman atau lingkungan perumahan lebih dibatasi lagi. Kecepatan tidak boleh melebihi 30 kilometer per jam. Ini tidak ada toleransi. Semua harus mengemudi di batas kecepatan tersebut.

Aturan speed limit yang sangat ketat ini akan memaksa siapa pun tetap patuh meski peluang untuk menginjak gas lebih dalam sangat terbuka. Misalnya, jalanan sepi dan sedang tidak ada kendaraan lain di depan maupun dari arah berlawanan. Saya beberapa kali mengemudi malam ketika jalan sudah sepi, dan harus ikut iring-iringan mobil lain di kecepatan 30 kilometer per jam karena berada di kawasan permukiman.

Begitu pentingnya speed limit ini, rambu dan petunjuknya dipasang di banyak tempat. Dari yang berbentuk tiang rambu di pinggir jalan, sign board yang melintang di bagian atas jalan, hingga tulisan di atas aspal jalanan. Mobil Renault Captur yang saya sewa juga dilengkapi GPS yang terkoneksi dengan data speed limit di setiap kawasan yang dilewati, sehingga ada alarm yang otomatis selalu berbunyi setiap kali kecepatan melebihi batas yang diperbolehkan.

Meski di Indonesia sebenarnya ada juga aturan terkait batas kecepatan, tapi dalam praktiknya selama ini sering tidak dipatuhi. Mungkin malah tidak dianggap penting. Bukti paling nyata adalah di perumahan-perumahan sudah lazim warga memasang polisi tidur (speed trap atau traffic bump), agar kendaraan yang lewat mau tak mau mengurangi kecepatan. Daripada terguncang dan bikin mobil rusak. Kita rupanya belum cukup patuh bila hanya diatur dengan rambu. Masih harus dipaksa dengan polisi tidur.

Contoh tertib dan taat aturan lalu lintas di Eropa juga bisa dilihat dari banyaknya dibangun bundaran untuk mengatur perempatan atau persimpangan jalan. Fungsi bundaran ini sebagai pengganti traffic light. Tanpa menggunakan tanda lampu merah-kuning-hijau, perlintasan di perempatan bisa lancar dan tertib hanya dengan bundaran.

Kuncinya: semua pengemudi paham aturan dasar melewati bundaran. Yakni, pertama, semua kendaraan wajib berhenti sejenak di depan bundaran, ada atau tidak ada kendaraan lain. Kedua, selalu memberi prioritas kendaraan dari arah kiri untuk lewat terlebih dulu.

Jadi, setiap ketemu bundaran, tidak perlu lagi saling menunggu atau saling menyerobot rebutan jalur. Siapa saja yang posisinya dari arah kiri, dia berhak lewat duluan. Aturan ini sangat efektif membuat lalu lintas di setiap perempatan atau persimpangan yang diberi bundaran menjadi lancar.

Bahkan di kawasan Arc de Triomphe di Paris, gerbang legendaris yang berada di tengah-tengah sebuah bundaran besar itu sekaligus menjadi sumbu dari 12 cabang jalan (avenue) ke berbagai arah. Kendaraan berjalan mengalir melingkari bundaran tersebut dan secara bergantian keluar-masuk di 12 ruas jalan itu tanpa saling bertabrakan. Padahal tidak diatur dengan traffic light.

Aturan lain yang sudah baku dan akhirnya juga menjadi kebiasaan adalah mengenai posisi kendaraan dan bagaimana cara menyalip atau mendahului kendaraan lain. Posisi kendaraan harus selalu di lajur sebelah kanan, karena lajur kiri hanya dipakai untuk menyalip. Tidak boleh berkendara di lajur kiri terus-menerus, meskipun lajur tersebut kosong. Setiap habis menyalip, wajib bergeser kembali ke tengah atau ke kanan.

Kemudian aturan wajib berhenti sejenak di depan pertigaan, bagi kendaraan yang hendak masuk ke jalur utama. Tidak boleh nyelonong masuk begitu saja. Ada juga kewajiban berhenti di depan zebra cross untuk memberi kesempatan bagi pejalan kaki yang hendak menyeberang. Ingat, hierarki berkendara di Eropa sangat jelas: pejalan kaki prioritas paling tinggi. Disusul pengguna sepeda, sepeda motor, dan terakhir mobil.

Disiplin dan tertib berlalu lintas ini membuat negara-negara di Eropa berhasil menekan angka kecelakaan lalu lintas dan meminimalkan risiko kematian atau korban jiwa di jalan raya. Berbanding terbalik dengan Indonesia yang sampai hari ini masih termasuk negara dengan angka kecelakaan lalu lintas paling tinggi setelah India dan Tiongkok. (rom/k16)

 


BACA JUGA

Rabu, 11 Desember 2019 13:15

Masuk ke Pusat Suaka Orang Utan, Jangan Pakai Parfum, Lihat Wanita Gelisah karena Belum Pernah Kawin

Sebagai orang utan, yang mereka butuhkan adalah hutan. Belasan tahun…

Rabu, 11 Desember 2019 13:12

Rombongan Eks Pejabat Garuda Diperiksa KPK

JAKARTA- Upaya pemerintah "bersih-bersih" di lingkungan PT Garuda Indonesia (Persero)…

Rabu, 11 Desember 2019 13:07

Matangkan Infrastruktur Pelabuhan untuk IKN, Ini yang Dilakukan Pelindo

BALIKPAPAN- PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV berencana menyiapkan beberapa proyek…

Rabu, 11 Desember 2019 11:23

Presiden Janjikan Ungkap Kasus Novel dalam Hitungan Hari

JAKARTA- Presiden Joko Widodo meminta Kapolri Jenderal Idham Aziz untuk…

Selasa, 10 Desember 2019 11:51

Kasus Novel Kembali Molor, Jokowi Panggil Kapolri, Begini Kata Polri

JAKARTA - Harapan akan adanya penyelesaian terhadap kasus penyiraman air…

Selasa, 10 Desember 2019 11:48

WADUH..!! Ada 44 Lapas Sarang Narkotika Belum Tersentuh

JAKARTA— Masih banyak lapas yang menjadi tempat peredaran narkotika. Badan…

Selasa, 10 Desember 2019 11:30

KPK Tagih Komitmen Reformasi Birokrasi, Honor Tambahan ASN Dihilangkan

JAKARTA– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta pemerintah mempercepat penerapan sistem…

Selasa, 10 Desember 2019 11:27
INDONESIA vs VIETNAM

Saatnya Lepas Dahaga Juara

MANILA- Tim sepak bola Indonesia menunggu cukup lama untuk bisa…

Selasa, 10 Desember 2019 11:04

MANTAP..! Pulau Tukung Jadi Pelabuhan Kapal Pesiar, Ada Banyak Fasilitas Wow....

BALIKPAPAN–Pulau Tukung di Kawasan Melawai, Balikpapan Kota, bakal disulap jadi…

Selasa, 10 Desember 2019 11:03

Koordinator Ditangkap, Kenapa Penadah Minyak Curian Belum Tersentuh..??

Belum genap sepekan menjabat Kapolres Kukar AKBP Andreas Susanto Nugroho…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.