MANAGED BY:
SENIN
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Rabu, 20 November 2019 23:02
Hari Ayah Nasional

PROKAL.CO, Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

 

BANYAK sebutan untuk memanggil orangtua laki-laki. Sebagian keluarga di Indonesia menggunakan istilah bapak. Sebagian lagi menggunakan istilah abi atau abah. Ada pula menggunakan sebutan disesuaikan dengan lokalitas-etnik, seperti babe di masyarakat Betawi atau romo pada sebagian masyarakat Jawa.

Pada era modern, masyarakat urban, panggilan orangtua laki-laki memiliki istilah yang semakin bervariasi. Ada sebutan daddy, papa, dan papah. Bahkan, ada keluarga yang menggunakan istilah sendiri seperti pepsye, poya, dan lain sejenisnya.

Dari sekian banyak panggilan, tampaknya panggilan ayah menjadi panggilan yang banyak digunakan. Telinga orang Indonesia tidak asing dengan lagu anak-anak berjudul “Sayang Semuanya” ciptaan Bu Kasur.

Pada salah satu baitnya, “Dua dua juga sayang ayah”. Begitu pula pada lagu ciptaan Ebit G Ade yang bercerita tentang kerasnya perjuangan orangtua laki-lakinya, Ebit menggunakan diksi ayah.

Dari beberapa penyanyi Tanah Air, Ebit termasuk pencipta lagu yang menggunakan pilihan kata yang sesuai dengan kaidah bahasa. Mungkin karena seringnya kosa kata ayah digunakan, ayah dijadikan istilah resmi untuk menyebut sebagai Hari Ayah Nasional, yang ditetapkan setiap 12 November sejak 2016.

Sebelum 2016 dalam lingkungan keluarga inti, hanya dikenal istilah hari anak dan hari ibu. Ternyata, kesadaran tentang perlunya ada sebuah peringatan hari khusus untuk menghargai peranan seorang ayah. Entah mengapa baru bisa direalisasikan kesetaraan gender dalam hal apresiasi peringatan, hingga baru tahun 2016 bisa ditetapkan. Padahal, ayah dan ibu memiliki peran yang sama penting dalam keluarga.

Hari Ayah Nasional di Indonesia harus diakui memang tertinggal jauh dibanding beberapa negara lain. Awal abad ke-12 bahkan sudah ada negara yang memperingati hari ayah. Di beberapa negara Amerika dan Eropa sudah mulai memperingati hari ayah sejak awal abad ke-19. Peran penting seorang ayah dalam keluarga di negara lain sudah diakui dan layak diberi apresiasi secara monumental dalam kalender, sudah jauh-jauh hari.

Bisa jadi, kebanyakan struktur keluarga di Indonesia menerapkan sistem patriarkis, yang terlalu bertumpu kepada peran seorang ayah. Tidak memerlukan ada peringatan hari khusus tentang ayah.

Pada sebagian masyarakat Indonesia, peran ayah sering diposisikan sangat dominan dibandingkan peran ibu. Posisi ibu subordinat dari ayah. Tidak berada dalam posisi paralel sejajar dan bermitra, serta berbagi peran yang saling mengisi. Ayah di atas, ibu di bawah.

Hal di atas tentu merupakan pandangan yang tidak ideal. Peran ibu dan ayah dalam keluarga adalah peran berbagi tanggung jawab yang sama sebagai kepala keluarga. Seorang ayah tidak layak mengklaim berhak mengatur rumah tangga tanpa melibatkan istrinya sebagai ibu dari anak mereka.

Atau bisa jadi sebaliknya. Seorang ibu yang memiliki pendapatan lebih bisa mengatur rumah tangga tanpa mengindahkan suaminya sebagai ayah dari anak mereka. Idealnya keduanya bermitra dan berbagi peran dan tanggung jawab yang seimbang dalam menjalankan bahtera rumah tangga. Demikian pula keseimbangan dalam mengapresiasi peran keduanya dalam sebuah peringatan monumental seperti hari ayah dan ibu.

AYAH DAN IBU SEDERAJAT

Teks hadis yang menceritakan pertanyaan kepada Rasulullah. Siapa yang paling berhak diperlakukan dengan baik dan dijawab oleh beliau, “ibumu” sebanyak tiga kali, dan disusul dengan “ayahmu”. Juga, bukan alasan argumentatif untuk menjelaskan bahwa seorang ayah tidak lebih dihormati dari ibu.

Keduanya harus dihormati oleh anak. Sangat mungkin, dalam kondisi tertentu seorang ibu memiliki nilai lebih dibanding ayah. Misalnya, ucapan atau doa ibu yang terluka karena durhaka anak yang sudah keterlaluan lebih cepat berdampak dibanding ucapan atau doa seorang ayah.

Karena betapa sakit dan beratnya perjalanan seorang ibu dalam merawat seorang anak sejak kandungan sampai melahirkan dan membesarkan. Sebaliknya, doa seorang ayah yang berisi kebaikan untuk sang anak, mungkin lebih cepat dibanding ibu karena lebih sering berbuat maksimal banting tulang untuk kebaikan anaknya.

Selain hadis “ibumu...ibumu...ibumu”, sebenarnya banyak hadis yang berbicara tentang ayah. Seperti hadis yang menceritakan tentang kemarahan Rasul kepada seorang anak yang sudah menjadi kaya, mengadukan ayahnya kepada Rasul karena dianggap telah mencuri harta miliknya.

Si ayah tertunduk malu di hadapan Rasul dengan raut menahan ucapan. Rasul menyuruhnya untuk mengucapkan apa yang ada dalam unek-uneknya. Si ayah akhirnya berucap bahwa waktu anaknya masih kecil, ia rela tidak makan asalkan si anak tetap kenyang.

Dia rela tidak memiliki pakaian baru asalkan si anak tetap berpakaian yang sama dengan anak lain. Ketika anaknya sakit, dia yang merasakan lebih sakit dan selalu mendoakan kebaikan. Namun pada saat tua, saat ia tak mampu lagi bekerja. Si anak menelantarkannya padahal si ayah hanya mengambil sedikit makanan. Mendengar cerita dari ayah si anak kaya, Rasul memegang si anak yang mengadukan dan mengatakan, “anta wa maluka li abika (kamu dan seluruh hartamu adalah milik ayahmu)”.

Rasul tidak menghukum orangtua yang diadukan mencuri, justru berbalik memarahi si anak. Hadis itu mengajarkan bahwa kebaikan seorang ayah tidak pernah sebanding dengan seluruh kebaikan anak. Apalagi harta yang dipunyai. Kebaikan ayah tidak pernah terbelikan dan tidak bisa ternilai dengan harta. Rasul secara tegas mengakui betapa besar jasa dari seorang ayah terhadap anak. Tidak kalah dengan peran ibu yang sering disampaikan pada kesempatan lain.

Ayah dan ibu harus diapresiasi, harus dihormati dan ditakzimi secara seimbang. Tidak salah ada peringatan Hari Ayah Nasional di samping Hari Ibu Nasional. Hari peringatan hanyalah pengingat dalam setahun bagi yang mungkin pernah melupakan ayah dan ibunya. Mari berbakti dan doakan keduanya kapan pun! (rom/k8)


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 12:01

Harus Jaga Kepercayaan

Oleh: Yaser Arafat Ketua Kadin Balikpapan   DENGAN makin beragamnya…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:54

Sama di Hadapan Tuhan

Oleh : Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:52

Guru Bermutu, Jembatan Indonesia Maju

Oleh : ARIS SETIAWAN (Guru, Kandidat Doktor MP Unmul)  …

Selasa, 03 Desember 2019 13:30

Millennials dan Digitalisasi Pariwisata

Oleh  Erny Silalahi                                                                                   …

Sabtu, 30 November 2019 00:50

Guru yang Mulia

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda  …

Selasa, 26 November 2019 10:22

Mengagas Guru Masa Depan

Catatan Guru Oleh: Nanang Eko Saputro, S.Pd. (Guru SMA Negeri…

Rabu, 20 November 2019 23:02

Hari Ayah Nasional

Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda   BANYAK sebutan untuk memanggil…

Selasa, 12 November 2019 11:31

Ibu Kota Negara di Kaltim, Siapkah Sumber Daya Airnya?

Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT IPU Guru Besar…

Jumat, 08 November 2019 22:02

Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Turnamen bulu tangkis level…

Sabtu, 02 November 2019 21:32

Belajar dari Kepemudaan Rasulullah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Rabiul Awwal, bulan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.