MANAGED BY:
MINGGU
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Selasa, 19 November 2019 11:02
Gerah di Jogja Imbas Badai, Bukan Merapi
Warga Jogja mengeluhkan suhu udara yang dirasa gerah.

PROKAL.CO, JOGJA- Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas menegaskan, erupsi Gunung Merapi tak berdampak pada suhu udara di Jogjakarta. Hal ini terkait adanya anggapan warga yang mengaitkan dua hal tersebut. Ada pula anggapan gangguan cuaca akibat aktivitas Merapi.

Penyebab gangguan cuaca, lanjutnya, adalah badai di kawasan utara Indonesia. Citra satelit Staklim BMKG mencatat adanya badai Kalmegi di sekitar perairan Filipina. Ada pula badai Fengshen di wilayah Laut Cina Selatan.

"Dua badai ini menyebabkan massa uap air di perairan Indonesia banyak bergerak ke arah badai tersebut. Imbasnya curah hujan di kawasan Indonesia masih minim dalam beberapa waktu ke depan dan suhu udara sedikit meningkat," jelasnya Senin (18/11).

Reni menjamin dampak badai tak berlangsung lama. Terlebih, arah mata badai terus menjauhi kawasan utara Indonesia. Jangka waktu hingga dua hari kedepan pergerakan badai mengarah barat laut Indonesia.

"Kalau dampak tidak terlalu signifikan seperti (badai) Tropis Cempaka kala lalu. Minimal dua hari ke depan sudah menjauhi khatulistiwa. Saat ini tercatat pergerakan sudah ke arah barat laut," ujarnya.

Terkait suhu udara di Jogjakarta, sejatinya relatif normal. Berdasarkan catatan Staklim BMKG, suhu udara siang hari kisaran 31 hingga 32 derajat Celcius. Sementara suhu udara pada malam hari mencapai 24 hingga 25 derajat celcius.

Walau begitu, Reni tak menampik adanya nuansa gerah. Sumuk. Penyebabnya utama karena tingkat kelembaban tinggi. Akibatnya, kandungan uap air di udara tercatat cukup tinggi.

Rata-rata sehari tingkat kelembaban udara (RH) minimum mencapai 60 hingga 65 persen. Batas maksimum mencapai 80 hingga 85 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya proses penguapan yang tinggi. Berimbas pada pembentukan kumpulan awan.

"Dengan adanya uap air diudara hingga tutupan awan ini maka radiasi balik bumi ke atmosfer tertahan oleh uap air dan awan. Sehingga radiasi tersebut tidak bisa keluar bebas ke angkasa tetapi diserap dan dipantulkan kembali ke bumi. Alhasil suhu udara di bumi terasa lebih panas dan gerah," katanya.

Nuansa gerah juga menjadi pertanda datangnya penghujan. Berupa awalan memasuki masa transisi dari musim kemarau. Masa peralihan ditandai dengan pembentukan awan hujan di beberapa tempat.

Di satu sisi, masa transisi tidak dibarengi hujan secara merata. Kemunculan hujan, lanjutnya, terjadi di wilayah dengan topografi datarang tinggi. Dominasi kemunculan hujan terjadi di kawasan Sleman sisi utara dan kawasan Kulonprogo.

"Pertumbuhan hujan sudah mulai muncul dibeberapa tempat meskipun belum merata. Hujan umumnya bersifat lokal. Hingga memasuki dasarian 2 November ini memang hujan yg muncul belum begitu besar atau masih kategori rendah," ujarnya.

Selain badai, ada catatan lainnya. Yakni, mundurnya musim penghujan merupakan imbas belum kuatnya angin Monsoon Asia. Angin baratan ini identik dengan angin pembawa kandungan air.

Reni menuturkan, keberadaan angin Moonson di wilayah Jogjakarta belum terlalu mendominasi. "Angin itu (Moonson) belum kuat keberadaannya di Jogjakarta. Kalau prediksi kami, hujan mulai merata saat dasarian 3 November. Kalau prediksi puncak musim penghujan di Januari hingga Februari 2020," jelasnya.

Antisipasi musim penghujan telah dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ. Imbauan berupa pengecekan dan membersihkan saluran drainase telah disampaikan. Hingga imbauan pemangkasan cabang-cabang pohon tua dan besar.

BPBD juga sedang melakukan pengecekan talud sungai maupun permukiman. Tujuannya, untuk mengantisipasi munculnya potensi longsor. Longsor memang kerap terjadi karena imbas beban air yang masuk ke dalam tanah.

"Kami sudah koordinasi hingga BPBD tingkat kabupaten kota. Juga bersama instansi yang memiliki kewenangan di bidang-bidang penanganan tertentu," kata Kepala BPBD DIJ Biwara Yuswantana. (dwi/amd)


BACA JUGA

Sabtu, 14 Desember 2019 12:42
Membantu Ekonomi Eks Napiter dengan Localov

Kombatan Filipina Selatan Jual Donat Rambo

Local dan love disatukan menjadi Localov. Aplikasi lapak online atau…

Sabtu, 14 Desember 2019 12:33

Wiranto Masuk Pemerintahan Lagi

JAKARTA- Sempat kosong hampir dua bulan, susunan Dewan Pertimbangan Presiden…

Jumat, 13 Desember 2019 13:18

Nama Randy-Yusuf Diabadikan di KPK

JAKARTA – Perjuangan Immawan Randy dan Yusuf Kardawi, mahasiswa Universitas…

Jumat, 13 Desember 2019 13:16

Sudah 12 Pegawai KPK Memilih Mundur

JAKARTA- Proses alih status pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara…

Jumat, 13 Desember 2019 13:10

Plt dan Plh Direksi Garuda Benahi Internal Jelang RUPSLB

JAKARTA– Buntut kasus penyelundupan 15 boks onderdil Harley Davidson edisi…

Jumat, 13 Desember 2019 13:07
Aplikasi Gowes Ajak Bertransportasi Minim Polusi

Bermula dari Bali, Tebar Pesona sampai Miami

Memahami tren warga yang semakin peduli lingkungan plus kebiasaan lebih…

Kamis, 12 Desember 2019 13:39

Buka Suara, Kritisi Negeri Sendiri dan WADA

Para atlet Rusia menjadi pihak yang paling dilematis menghadapi sanksi…

Kamis, 12 Desember 2019 12:10

Kasus Novel, Istana Masih Enggan Bentuk TGPF

JAKARTA- Terkatung-katungnya proses pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik…

Rabu, 11 Desember 2019 11:55

Anak Jokowi Kian Dekat Nyalon Wali Kota Solo

JAKARTA– Pencalonan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilwali Solo tampaknya bakal…

Rabu, 11 Desember 2019 11:53

Keterbatasan Anggaran, Butuh 30 Tahun untuk Standardisasi Guru

JAKARTA- Upaya Kementerian Agama (Kemenag) untuk standardisasi kemampuan guru terbentur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.