MANAGED BY:
JUMAT
06 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Senin, 18 November 2019 11:10
Dominan Gas dan Abu Vulkanik, Penerbangan Normal
Gunung Merapi kembali mengalami aktivitas vulkanik, Minggu (17/11).

PROKAL.CO, JOGJA -  Gunung Merapi kembali mengalami aktivitas vulkanik, Minggu (17/11). Seismogram Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat letusan memiliki amplitudo max 70 mm dan berdurasi 155 detik. Adapula ketinggian kolom mencapai ketinghian 1000 meter. Letusan disertai material vulkanik ini bertiup ke arah barat.

Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida memastikan aktivitas ini masih tergolong wajar. Terlebih kawasan kubah lava masih menunjukan keaktifan. Munculnya letusan merupakan akumulasi gas dalam pembentukan kubah lava.

"Letusan terjadi pukul 10.46 yang mengakibatkan munculnya hujan abu vulkanik sejauh 15 kilometer. Bertiup ke arah barat dengan imbas daerah terdampak di Desa Sumber dan Desa Keningar, Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang," jelasnya, Minggu (17/11).

Disatu sisi Hanik mengakui adanya perbedaan aktivitas kali ini. Komposisi letusan tidak didominasi awan panas. Berdasarkan catatan, volume awan panas cenderung kecil. Walau begitu letusan tetap memgandung material kubah lava yang terbongkar.

Terkait potensi ancaman masih sama. Berupa luncuran awan panas dari runtuhnya kubah lava. Adapula jatuhan material vulkanik dari letusan eksplosif. Suplai magma menjadi penyebab utama. Terlebih masih adanya gempa vulkanik dalam (VTA) dan adanya akumulasi gas.

"Letusan ini menghasilkan awan panas yang kecil tidak seperti sebelumnya. Tapi untuk ancaman bahaya utama memang dari awan panas itu. Untuk material dominan gas dan abu vulkanik," ujarnya.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso menambahkan perbedaan karakteristik letusan. Aktivitas sebelumnya mengeluarkan awan panas berwarna dominan putih. Sementara untuk letusan kali ini, asap berwarna kelabu.

Sementara untuk aktivitas kegempaan relatif stabil. Tercatat ada satu low frekuensi, sementara untuk gempa multi phase mencapai 12 kejadian. Gempa vulkanik dangkal (VTB) mencapai dua kejadian. Sementara untuk VTA tercatat ada dua kejadian.

"Untuk volume kubah lava masih sama dengan sebelumnya. Belum ada perubahan signifikan karena pembentukan (kubah lava) juga tergolong lamban," katanya.

Tak hanya awan panas, Agus menghimbau warga waspada akan bahaya sekunder. Berupa kiriman lahar dingin selama musim penghujan. Titik bahaya meliputi sungai-sungai yang berhulu dengan Puncak Merapi.

"Pasti ada potensi kiriman lahar dingin, apalagi jika kawasan puncak terjadi hujan. Warga yang beraktivitas atau kediamannya di sekitar hulu sungai agar lebih waspada," himbaunya.

General Manager PT. Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisucipto Jogjakarta Agus Pandu Purnama memastikan aktivitas penerbangan berlangsung normal. Jajarannya telah melakukan pengecekan kualitas aerodome bandara. Tak hanya di Adisucipto tapi juga Yogyakarta International Airport (YIA).

Berdasarkan paper test, kualitas aerodome masih baik. Terbukti dari tidak adanya sebaran abu vulkanik di dua bandara tersebut. Walau begitu jajarannya tetap berkoordinasi dengan BPPTKG. Terutama untuk memantau aktivitas Gunung Merapi dan dampaknya.

"Dua bandara tetap beroperasi normal karena anginnya tidak menuju ke wilayah penerbangan. Jarak capaiannya juga tidak terlalu tinggi. Paper test dilakukan setiap 30 menit. Ditambah laporan dari pilot jika melihat pergerakan abu vulkanik di udara," jelasnya.(dwi)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2012 13:00

Edisi Ketiga UKW Luluskan 23 Wartawan KPG

<div> <div> <strong>BALIKPAPAN</strong> &ndash; Uji Kompetensi Wartawan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.