MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Rabu, 13 November 2019 12:13
Mengunjungi Kampung Penekan Emisi di Hidung Kalimantan (2-Habis)
Jaga Alam, agar Danau Tetap Memukau
Kecamatan Bidukbiduk peuh dengan pesona alamnya yang indah.

PROKAL.CO, Kejanggalan alam yang indah, membawa nama kampung ini makin kesohor. Selain itu, hamparan pasir putih berpadu laut dengan ikan warna-warni lalu lalang, membuat makin banyak yang penasaran melepas penat di sini. Oktober 2019, kampung ini pun ditetapkan sebagai desa wisata. Tak hanya itu, kampung di ujung Berau ini juga turut andil dalam keberlangsungan udara yang kita hirup.

NOFIYATUL CHALIMAH, Berau

“Tunggu dulu Mbak, masih ada angin. Enggak cantik nanti gambar airnya. Nanti, kalau tak ada angin, langsung pilih gaya yang cantik, ya,” teriak Ahmad kepada seorang perempuan yang berdiri di haluan perahu yang mengapung di perairan jernih kebiruan.

Ahmad dulunya nelayan. Kini banting setir jadi motoris perahu. Kadang-kadang juga jadi juru foto gratis. Jika dahulu dia membawa ikan, kini yang dibawanya adalah turis yang membayar Rp 100 ribu untuk satu kapal sekali berangkat dan kembali.

Para pelancong ini ingin menikmati Labuan Cermin, sebuah danau 60 meter persegi nan jernih dengan air asin di bawah dan tawar di bagian atas. Danau inilah yang juga membuat nama Biduk-Biduk dikenal masyarakat luas.

“Kalau hari ramai libur, bisa 30 kali bolak-balik dari pelabuhan. Dari pelabuhan ke danau ini paling sepuluh menit,” ucap lelaki 57 tahun tersebut.

Ahmad mengisahkan, dahulu Labuan Cermin adalah tempat nelayan mencari ikan. Sejak 2012, Labuan Cermin dikembangkan jadi tempat wisata. Dia pun tertarik jadi motoris perahu. Berinteraksi dengan orang banyak membuatnya makin bersemangat mengenalkan kampungnya pada para pelancong.

“Di atas ada juga danau Labuan Kelambu. Tapi belum dibuka karena memang belum tahu isinya di dalam itu apa. Ada hewan ganas atau apa, kami belum tahu. Kami tidak berani buka. Dulu saya pernah temani turis Belanda. Ih, berani sekali dia berenang di situ,” kisah Ahmad.

Labuan Cermin terus dikembangkan jadi destinasi wisata yang tak hanya danau. Meski begitu, mereka tetap menjaga keasrian alamnya. Sebab, mereka meyakini jika hutan rusak, maka rusak pula keindahan Labuan Cermin.

Hal inilah yang diakui Erham Ahmad, kepala badan usaha milik kampung (BUMK) Lek Malamin yang mengelola Labuan Cermin. “Di sekitar danau Labuan Cermin ini 2 ribu hektare hutan lindung. Ini sangat kami jaga. Ini juga alasan tidak boleh ada pedagang di sini, biar tidak kotor,” kata Erham.

Dia mengungkapkan, saat ini jalur trekking sepanjang 1,8 kilometer di Labuan Cermin tengah dibangun. Di jalur ini, pengunjung bisa bersua satwa liar seperti monyet, bekantan, atau lutung. Selain itu, wahana flying fox dan bukit pandang pun tengah dipersiapkan.

“Jadi, Kampung Biduk-Biduk terus berusaha mengembangkan wisata dan melindungi alam. Kalau kami memang menolak pabrik semen. Tetapi, jika Teluk Sumbang mau ada pabrik semen, ya, terserah mereka. Adanya pabrik semen di tempat mereka, mungkin tak begitu berpengaruh ke Labuan Cermin,” ucap Erham.

Tetapi, Biduk-Biduk bukan sekadar Labuan Cermin. Masih banyak destinasi pelepas penat di kampung ini. Begitu yang dikatakan Sekretaris Kampung Biduk-Biduk Abdul Rakhman. Mereka mengembangkan wisata dengan terus menjaga alam.

“Kami melarang masyarakat membuka lahan. Kami justru mewajibkan menanam, satu orang minimal lima pohon buah,” kata Rakhman.

Dia melanjutkan, kampungnya dalam proyeksi mengembangkan wisata kebun buah. Jadi, pengunjung bebas makan di kebun, tapi kalau dibawa pulang harus bayar. Beberapa pohon yang sudah ditanam adalah langsat, rambutan, dan durian. Sekretaris di kampung berpenghuni 1,8 ribu jiwa ini menambahkan juga bakal mengembangkan pantai.

“Ada tiga titik yang tengah kami kembangkan. Dua titik di RT 2 dan satu titik di RT 4. Selain itu, bisa buat wisata memancing di sini,” sambung Rakhman.

Tak hanya wisata, kampung ini juga terpilih jadi salah satu 150 desa yang masuk program penurunan emisi karbon yang bernama Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF). Dalam program besutan Bank Dunia ini, Kaltim jadi provinsi pertama dan percontohan untuk daerah lain di Indonesia. Bahkan negara lain.

“Terpilihnya Kampung Biduk-Biduk ini karena mereka yang berusaha melindungi alamnya. Walaupun hanya punya 2 ribu hektare hutan lindung dan ada 12 ribu hektare lahan berstatus APL (area penggunaan lain), tetapi mereka bersikukuh tetap menjaga hutannya. Misalnya tadi disebutkan tak boleh buka lahan lagi dan kewajiban menanam pohon itu. Sudah ada inisiatif dari masyarakat mengelola hutan,” ucap Tim Ahli Social Development FCPF-CF Akhmad Wijaya.

Nantinya, Biduk-Biduk bersama 149 kampung lain di seluruh Kaltim yang berhasil menjaga kelestariannya, dapat insentif USD 110 juta dengan target melindungi 6,5 juta hektare lahan. Insentif tersebut digunakan untuk pengembangan kampung-kampung itu sendiri. Selain itu, upaya kampung-kampung ini pun akan menjadi salah satu topik perbincangan dunia. (dwi/k15/habis)


BACA JUGA

Senin, 27 Januari 2020 13:59

Virus Korona Lebih Berbahaya daripada SARS

BEIJING – Kewaspadaan terhadap merebaknya virus korona harus lebih ditingkatkan.…

Senin, 27 Januari 2020 13:42

Virus Corona (2019-nCoV) Mengancam Gelaran Olahraga di Tiongkok, Pilih Menunda, Pindah Venue atau Tanpa Penonton

SAAT ini, virus Corona (2019-nCoV) yang terjadi di Tiongkok menjadi…

Senin, 27 Januari 2020 13:16

Wacana Pemerintah Hapus Honorer, Targetnya Tuntas 2021

JAKARTA– Pemerintah berencana menghapus tenaga honorer. Baik di instansi pusat…

Senin, 27 Januari 2020 13:10

SORRY YA..!! MenPAN RB: Pusat Ngga Urus Tenaga Honor Daerah

JAKARTA- Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB)…

Senin, 27 Januari 2020 12:41

WALAH..!! Pemerintah Belum Larang WNA Tiongkok Masuk Indonesia

JAKARTA - Kekhawatiran mengenai penyebaran 2019 novel conoravirus (2019-nCoV) dirasakan…

Senin, 27 Januari 2020 12:21

8 Penumpang Tiba di Bandara APT Pranoto Terindikasi Terjangkit Virus Corona? Ini Penjelasan RS AWS

SAMARINDA - Kabar 8 penumpang dari Jakarta tiba di Bandara…

Minggu, 26 Januari 2020 11:57

RSKD Balikpapan Siapkan Ruang Isolasi dan Tim Spesialis

RSKD Balikpapan ditetapkan sebagai tempat rujukan jika ada pasien suspect…

Minggu, 26 Januari 2020 11:54

Penghapusan Tenaga Honorer Tunggu Instruksi Pusat

SAMARINDA – Pemerintah berencana menghapus tenaga honorer di lingkungan pemerintahan.…

Minggu, 26 Januari 2020 11:54
Backpacker-an ke Hong Kong setelah Demonstrasi (3)

Perayaan Sederhana, Makan Bersama serta Berbagi dengan Keluarga

  Gong Xi Fa Cai. Sesuai kalender Tionghoa, tahun ini…

Minggu, 26 Januari 2020 11:50

Masih Timpang, tapi Potensial Berkembang

SEBAGIAN besar wilayah utama proyeksi ibu kota negara akan terletak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers