MANAGED BY:
SABTU
07 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 12 November 2019 12:56
Mengunjungi Kampung Penekan Emisi di Hidung Kalimantan (1)
Merdeka dari Gelap, tapi Susah Sinyal Telepon Seluler
Kampung Teluk Sumbang, Berau, mengandalkan PLTS untuk mengaliri listrik ke rumah warga.

PROKAL.CO, Kampung ini sudah terkenal keindahannya dan jadi destinasi wisata. Tak sekadar itu, Kampung Teluk Sumbang di Kecamatan Biduk-Biduk, Berau tersebut menyimpan kisah yang berkontribusi menekan emisi karbon. Urusan energi, wilayah itu selangkah lebih maju.

 

NOFIYATUL CHALIMAH, Biduk-Biduk

 

LAYAR ponsel menunjukkan tulisan no service. Pertanda tak ada sinyal. Malam itu, gelap begitu pekat, ketika mobil membelah jalan buruk tak beraspal. Namun, secercah cahaya dari sorot lampu putih menunjukkan bahwa sebentar lagi masuk perkampungan. Guncangan tak lagi terasa. Rupanya jalan berubah jadi aspal mulus.

Delapan jam berkendara dari Tanjung Redeb, mobil akhirnya masuk di Kampung Teluk Sumbang. Sebuah kampung di Berau yang berbatasan dengan Kutai Timur atau tepat di “hidung” Pulau Kalimantan. Kampung itu terkenal dengan wisata air terjun, pulau-pulau, dan pantai berpasir putih.

Kisah itu benar rupanya. Saat pagi pemandangan bukit yang berpadu dengan pantai pasir putih dan air laut, memanjakan mata. Listrik pun terus menyala. Namun, sayangnya jaringan telepon tak ada sama sekali. Hanya titik tertentu sinyal ada. Itu pun lemah.

“Itu sudah, Teluk Sumbang masalahnya adalah sinyal. Lima bulan lalu Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) dan Telkom sudah datang tapi belum ada info sampai sekarang,” keluh Abdul Karim, kepala Kampung Teluk Sumbang.

Padahal, kampungnya sudah menyiapkan tanah 600 meter persegi untuk tower tersebut. Meski belum merdeka dari blank spot, Teluk Sumbang telah merdeka dari kegelapan sejak tahun lalu. Kampung itu terang karena pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang memproduksi 400 kWh dan di-backup dengan pembangkit listrik tenaga mikro-hidro (PLTM). Namun, pemakaian kampung ini hanya 30 kWh.

“Pembangkit listrik ini bantuan dari LSM (lembaga swadaya masyarakat) dari Amerika. Kami dibelikan alat, dibangunkan, dan dilatih. Beberapa bulan kemarin kami minus. Pendapatan paling Rp 7 juta. Namun, kalau lima bulan ke depan, insyaallah bisa sampai Rp 13 juta, jadi tak minus lagi. Bisa sumbang pendapatan kampung,” ungkap Rujeham, ketua supervisor Teluk Sumbang Energy, badan usaha milik kampung yang menaungi pembangkit listrik tersebut.

Kampung itu adalah daerah kunjungan. Ada beberapa destinasi wisata di Teluk Sumbang. Di antaranya, pantai, Pulau Kaniungan, dan beberapa air terjun. Salah satunya, Air Terjun Bidadari yang masih asri. Untuk mencapai air terjun itu, harus menyusuri hutan selama 45 menit hingga satu jam. Dengan jalanan yang cukup menantang, karena hutan masih begitu alami.

Hutan yang alami inilah yang menjadi alasan Teluk Sumbang masuk 150 desa program Forest Carbon Partnership Facility-Carbon Fund (FCPF-CF). Yaitu sebuah program upaya penurunan emisi karbon dari Bank Dunia. Kaltim jadi provinsi pertama di Indonesia yang ditunjuk dalam program itu dan bakal jadi percontohan.

“Bagi 150 kampung yang berhasil menjaga kelestariannya, dapat insentif USD 110 juta. Targetnya di Kaltim adalah melindungi 6,5 juta hektare lahan,” terang Tim Ahli Social Development Forrest Carbon Partnership Facility Carbon Fund (FCPF-CF) Akhmad Wijaya.

Teluk Sumbang punya potensi. Di kawasan ini hidup masyarakat adat. Ada empat suku yang berdampingan yakni suku Dayak Basap, Bajau, Bugis, dan Mandar. Sejauh ini, kehidupan mereka berbaur harmonis dengan alam. Masyarakat banyak bergantung pada alam. Mayoritas masyarakat di sana adalah nelayan dan petani. Air pun mereka dapat dari sumber air pegunungan yang masyarakat sekitar sebut Gunung Hantu.

Seperti salah satu warga suku Dayak Basap Yusfinus yang menggantungkan nafkahnya dari alam. Ditemani anjing hitamnya, lelaki tua itu mencari nafkah dari hutan dan berladang. Dia tak menjadi nelayan karena tidak memiliki perahu. Namun, dengan berladang saja dia bisa menghidupi keluarganya. “Tanam-tanam padi, ubi, dan pisang,” ucapnya sembari terus melempar senyum.

Diungkapkan Alhamid, sekretaris Kampung Teluk Sumbang, luas kampung itu sekitar 15 ribu hektare termasuk lautan. Penduduknya ada 201 kepala keluarga dengan 726 jiwa penduduk.

“Di sini potensi ikannya besar. Kelapa tua, padi gunung, dan pisangnya juga besar. Kami tidak produksi kelapa muda untuk dijual, karena kepercayaan orangtua kami, itu akan merusak alam,” ungkapnya.

Terkait alam, Teluk Sumbang menjadi salah satu kawasan yang diproyeksi bakal jadi pabrik semen. Menanggapi hal itu, Alhamid mengatakan, warga kampung awalnya ragu eksistensi pabrik semen tidak akan berdampak buruk pada alam. Namun, keraguan itu sirna setelah beberapa perwakilan warga dibawa pihak perusahaan semen untuk melihat kondisi pabrik semen di Maros, Sulawesi Selatan. “Di sana wisata dan pabrik semen bisa jalan sama-sama,” sambungnya.

Jadi, dia berharap, jika industri dan wisata bisa berjalan bersama, ekonomi masyarakat di desa bisa terangkat. Apalagi taraf ekonomi masyarakat masih rendah. (rom/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 07 Desember 2019 10:05

ALHAMDULILLAH..!! Pusat Jamin Tambahan Dana Tol Balsam, Berapa Duit...??

BALIKPAPAN–Pemerintah pusat memastikan tidak akan meneruskan megaproyek jembatan tol Balikpapan–Penajam.…

Sabtu, 07 Desember 2019 10:02

Tunjang IKN, Bangun Dua Pelabuhan Baru di Kaltim

BALIKPAPAN-Sejumlah pelabuhan baru bakal dibangun di Kaltim. Menyusul rencana pemindahan…

Sabtu, 07 Desember 2019 09:56

Tumbalkan Karyawan, Selundupkan Moge, Dirut Garuda Dicopot secara Tidak Terhormat

JAKARTA–Tanda tanya pemilik motor Harley Davidson yang diselundupkan melalui pesawat…

Jumat, 06 Desember 2019 00:31

Tol Balikpapan-Samarinda Mau Digratiskan, Gubernur Bilang Belum Bisa Dipastikan

Jalan Tol Balsam Gratis Liburan Natal dan Tahun Baru Masih…

Jumat, 06 Desember 2019 00:21

Suaka Orang Utan Jompo 10 Km dari Calon Istana Negara

 Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Penajam Paser Utara, Kalimantan…

Kamis, 05 Desember 2019 23:13

Hakim Itu Dituntut 10 Tahun dan Denda Rp 1 Miliar

SAMARINDA–Air muka Kayat datar, kala mendengar jaksa penuntut umum (JPU)…

Kamis, 05 Desember 2019 11:32

Satu Tersangka Kembali Ditangkap

TENGGARONG-Dukungan kepada Pertamina, Polri dan TNI dalam mengungkap dalang di…

Kamis, 05 Desember 2019 11:31

Bawa Misi Dagang, Gubernur Jatim Berkunjung ke Gedung Biru Kaltim Post

Dalam lawatan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa ke…

Kamis, 05 Desember 2019 11:31
Selama Libur Natal dan Tahun Baru, Difungsikan Penuh Maret 2020

Beroperasi Sebagian, Tol Balikpapan-Samarinda Bakal Digratiskan

Teka-teki pengoperasian Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) akhirnya terjawab. Jalan bebas…

Kamis, 05 Desember 2019 00:29

Dirut Pupuk Kaltim Diperiksa Terkait Perjanjian Pengangkutan Amoniak

JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Direktur Utama PT. Pupuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.