MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KALTIM

Senin, 11 November 2019 13:52
Merawat Biuku, Cikal Bakal Objek Wisata di Damit

Ramai Dikunjungi Peneliti dan Pencinta Hewan

MAGNET WISATA: Ratusan tukik dilepas ke habitatnya di Desa Damit, Kecamatan Paser Belengkong, pekan lalu. NAJIB/KP

PROKAL.CO, Banyaknya populasi biuku dimanfaatkan warga Desa Damit, Kecamatan Paser Belengkong, untuk menarik perhatian pengunjung. Kini habitat biota sungai sejenis kura-kura itu ramai dikunjungi peneliti dan pencinta hewan.

 

BIUKU atau kura-kura sungai Kalimantan itu banyak didapati di sekitar Desa Damit dan Olong Pinang. Setiap Minggu banyak peneliti maupun pencinta hewan berkunjung ke konservasi swadaya milik komunitas di desa itu. Pekan lalu, 230 biuku di lepas ke habitatnya dan masih sekitar 500 ekor tukik (anakan biuku) dalam perawatan.

Bila sudah berumur 1 tahun dan layak lepas, warga akan kembali melepasnya ke alam.

"Alhamdulillah tiap Minggu ada saja yang berkunjung melihat konservasi biuku ini. Dampaknya perlahan dirasakan warga sekitar yang berjalan dan menjaga parkir. Kami berharap, ada wadah khusus yang lebih menarik bisa dikunjungi dan wadah edukasi," ujar Paser Pantai Biuku (PBB), Hartono kepada Kaltim Post, kemarin (10/11).

Komunitas itu terbentuk sejak 2017, berkat kepedulian para pemudi Paser pemerhati lingkungan itu akhirnya memiliki kolam kecil berukuran 3x4, di dalamnya kini berisi tukik  ratusan ekor yang siap dilepas kembali ke habitatnya jika sudah berumur lebih 4 bulan. Kini, jumlahnya pun sampai 500 lebih dan terus berkembang dijaga warga sekitar.

Hartono berharap, pemerintah bisa lebih fokus mengembangkan potensi wisata fauna ini. Sekaligus menjaga populasinya agar tidak punah. Keberadaan biuku di sekitar Sungai Kandilo memang sejak lama. 

Hartono menuturkan, tidak ada keuntungan yang bisa didapat dari pelestarian biota ini. Hal itu dilakukan murni karena peduli terhadap sesama makhluk hidup. Karena itu, dia berharap, ada perhatian khusus dari pemerintah agar bisa membantu melestarikan reptil berkaki empat tersebut.

Bahkan, warga sekitar pernah menemukan ukuran terbesar biuku sebesar parabola. “Tapi akhirnya dikembalikan lagi ke sungai saat ditemukan. Saking besarnya harus dua orang dewasa yang mengangkat,” tuturnya.

Biasanya biuku bertelur antara Mei sampai Agustus. Yang ditakutkan jika telurnya dan menetas di tepi sungai. Tukik rawan mati diserang predator lain. Karena itu, pentingnya ada penangkaran atau konservasi resmi di bawah naungan pemerintah.

Saat melihat langsung proses bertelur sampai menetas, dari 400 telur yang dilahirkan, hanya 150 yang berhasil. Sisanya rusak dan sebagian ada yang dimangsa biota lain karena tidak terjaga. Padahal, menurut dia, perlu ada pengawasan sampai biuku berumur 4 bulan, setelah itu baru dilepas kembali ke habitatnya.

Hartono berharap, keberadaan biuku ini bisa seperti penyu di Pulau Sangalaki, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, yang menjadi lokasi wisata nasional bahkan dunia.

"Bukan hal mustahil nantinya di sini jadi pusat pariwisata Kaltim yang bisa menarik wisatawan mancanegara berkunjung atau pun penelitian. Selama ini hanya perusahaan di Paser yang mendukung beberapa bantuan dan hanya setahun sekali ada acara khusus pelepasan seperti Minggu lalu," lanjutnya.

Biuku merupakan satu di antara 29 spesies kura-kura air tawar di Indonesia. Habitat mereka nyaris punah karena diburu dan adanya predator. Habitat biuku atau tutong di Kabupaten Paser menyebar di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kandilo, Desa Damit, Kecamatan Pasir Belengkong   karena di kawasan sungai tersebut berpasir.  

Aktivitas mereka lebih sering di air dan hanya sesekali muncul ke daratan untuk berjemur atau bertelur. Maraknya perdagangan telur dan konsumsi daging biuku merupakan tantangan besar dalam program konservasi satwa langka tersebut.

Hewan yang bernama latin batagur baska atau batagur affinis ini di Desa Damit cenderung mengalami penurunan karena tingginya konsumsi telur. Di samping itu, banyak biuku mati disebabkan perburuan dan serangan predator.

Meski bukan hewan yang menarik dalam kitaran ekosistem, tapi biuku mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan habitat sungai. Di antaranya, Desa Damit yang kaya potensi pasir dan menjadi lokasi intake PDAM Tirta Kandilo. 

Saat ini, perkembangan biuku yang masuk jenis kura-kura air payau, anggota suku geoemydidae semakin kecil karena berbagai faktor. Karena itu, warga Desa Damit berinisiatif dengan membentuk sebuah kelompok konservasi yakni Kelompok Swadaya Masyarakat Paser Pantai Biuku.

Biuku memang termasuk satwa langka dan dilindungi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) bahkan menetapkan tuntong sebagai satwa yang sangat terancam punah atau kritis (critically endangered).  

Konvensi Internasional Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam Punah (Cites) memasukkan tuntong dalam daftar Apendix II. Spesies tersebut bisa terancam punah apabila terus diperdagangkan tanpa pengaturan yang tegas.

Tuntong juga masuk daftar 55 jenis penyu dan kura-kura paling terancam punah di dunia versi Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition. Perlindungan terhadap tuntong juga tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 57 Tahun 2008. Pemerintah menetapkan tuntong sebagai satu di antara jenis satwa yang mendapat prioritas nasional untuk dilestarikan. (jib/kri/k8)

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 11:36

MAAF YOOO...!! Sendawar Belum Layak Anak

SENDAWAR – Status Kabupaten Layak Anak (KLA) tidak bisa disematkan…

Jumat, 17 Januari 2020 11:35

Banjir di Tenggarong Seberang Makin Parah, Wakil Rakyat Tuding Ini Biangnya....

Aktivitas tambang batu bara dituding sebagai biang banjir yang sering…

Jumat, 17 Januari 2020 11:34

Keluhan Warga Direspons Cepat

Pemkab Kutim langsung merespons keluhan masyarakat Desa Mata Air, yakni…

Jumat, 17 Januari 2020 11:33

“Jalan Bubur” Mulai Dikerjakan

Jalurnya berliku-liku, menanjak, dan menurun. Lebarnya sekitar 5 meter (m).…

Jumat, 17 Januari 2020 10:47

Pejabat Datang, Portal Lahan untuk Pura Itu Akhirnya Dibuka

TANA PASER - Polemik terhambatnya proses pembangunan Pura bagi umat…

Jumat, 17 Januari 2020 10:45

Masyarakat Paser Tidak Harus Konsumsi Beras

TANA PASER - Masih defisitnya hasil produksi padi di Kabupaten…

Jumat, 17 Januari 2020 10:42

Dua Kampung Akhirnya Nikmati Listrik 24 Jam, Masih Ada 73 Kampung Lagi Menunggu

SENDAWAR–Tak bisa dibayangkan bagaimana kebahagiaan warga Muara Bunyut dan Empakuq.…

Jumat, 17 Januari 2020 10:41
Tenggarong Harus Belajar dari Kegagalan Samarinda

Bekas Pasar Ini Cocok Dijadikan Kolam Penampungan Air

Persoalan banjir yang tidak kunjung tuntas di Samarinda, patut jadi…

Jumat, 17 Januari 2020 10:39

“Air Meluap karena Drainase Tersumbat”

TANJUNG REDEB–Derasnya hujan di Kabupaten Berau pada Selasa (14/1) lalu,…

Jumat, 17 Januari 2020 10:38

Pengurusan Dokumen Kependudukan di Kampung, Tak Perlu Surat Pengantar RT

TANJUNG REDEB–Dalam pengurusan pembuatan dokumen kependudukan seperti KTP dan kartu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers