MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 08 November 2019 22:02
Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Turnamen bulu tangkis level dunia Danisa Denmark Open dan Yonex French Open 2019 menjadi tontonan menarik. Pertama, karena keduanya termasuk event paling bergengsi di bumi. Kedua, pemain Indonesia banyak yang “unjuk gigi”.

Pada Denmark Open, tidak tanggung-tanggung, ada tiga wakil Indonesia yang masuk semifinal pada nomor ganda putra; Kevin Sanjaya-Gideon, Muhammad Ahsan-Hendra Setiawan, dan Fajar-Alfian. Pada partai puncak tercipta All Indonesian Final antara ”The Minnions” Kevin Sanjaya-Gideon melawan “The Duddies”. Gelar akhirnya diraih The Minnions.

Tidak sampai di situ, pada partai ganda campuran, Indonesia merebut gelar juara melalui pasangan Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti. Diraih setelah mengalahkan pemain peringkat satu dunia saat ini. Indonesia dapat dua gelar juara dan satu runner up melalui Anthony Sinisuka Ginting pada nomor tunggal putra. Indonesia berjaya pada turnamen tersebut.

Tren kejayaan Indonesia berlanjut pada French Open. Indonesia kembali meraih dua gelar juara setelah Praveen Jordan dan Melati, dilanjutkan The Minnions kembali berdiri di podium sambil menggigit medali emas, masing-masing di nomor ganda campuran dan ganda putra.

Kejayaan dan kemenangan itu memang enak dinikmati. Saya berulang kali menyaksikan kembali pertandingannya di kanal YouTube. Meski bukan pemain, saya masih bisa menilai mereka adalah atlet-atlet dengan kemampuan luar biasa. Untuk itulah, mereka layak meraih kemenangan demi kemenangan dan menjadi juara.

Bulu tangkis merupakan cabang primadona bangsa Indonesia. Negara ini diharumkan oleh bulu tangkis. Negara-negara lain sering angkat topi untuk Indonesia dalam kejuaraan-kejuaraan penting seperti olimpiade, Asian Games, ASEAN Games, dan kejuaraan level dunia khusus bulu tangkis.

Sebut saja nama Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma yang berhasil mengawinkan medali emas olimpiade yang mengantarkan mereka juga ke perkawinan sebenarnya. Ada pula nama besar Rudi Hartono legenda All England yang rekornya belum terkejar oleh siapa pun sampai saat ini.

Pun Lim Swie King, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, Ricky Subagja, Rexy Mainaky, Tantowi Ahmad, Liliyana Natsir, yang namanya juga menjadi legenda dalam dunia perbulutangkisan dunia. Masih banyak nama lain yang tidak bisa saya sebut satu demi satu, yang mereka semua pernah mengharumkan Indonesia di kancah dunia.

Raihan prestasi yang mereka capai tentu bukan dengan sim salabim. Ada proses panjang dan perjuangan yang tidak biasa hingga bisa berprestasi. Ini yang jarang dilihat orang dan dipertontonkan. Orang lain banyak hanya bisa menyaksikan durasi singkat mereka bertanding dan dikalungi medali. Durasi panjang latihan dengan perasan keringat dan perjuangan “berdarah-darah” jarang dipertontonkan.

Ada proses, yang dalam bahasa Arab berbunyi man jadda wajada, dilewati. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan apa yang dimau dan dicita-citakan.

Tidak sedikit dari kita terkadang memberi pujian setinggi langit saat mereka meraih kemenangan, setelah itu mengempaskan ke bumi karena kekalahan mereka. Banyak yang tidak sadar sudah berapa banyak kontribusi mereka mengharumkan bangsa ini, tidak layak mereka dicaci maki karena pernah kalah, mereka tetap pahlawan olahraga. Paling tidak, hormatilah usaha mereka yang sudah sungguh-sungguh berjihad menjadi yang terbaik untuk mengharumkan bangsa.

HIKMAH DARI BULU TANGKIS

Pemain-pemain bulu tangkis tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi contoh orang-orang yang membuat Indonesia bangga. Sering tanpa disadari, mereka sering mengajarkan kepada kita semua agar melupakan perbedaan jika kita memperjuangkan Indonesia. Penonton tidak mempermasalahkan agama, ras, suku, dan golongan.

Pernahkah ada yang berduka kalau yang menjadi juara tidak seagama? Atau tidak sama dengan ras bangsa keturunan mereka? Tentu tidak, semua merasa senang karena yang juara adalah Indonesia. Inilah nasionalisme yang harusnya terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bermasyarakat, bukan hanya saat menonton acara olahraga.

Hikmah lain yang sering disaksikan dalam bulu tangkis adalah bagaimana seseorang tetap bisa mengejawantahkan ajaran agamanya secara istikamah. Muhammad Ahsan adalah figur yang mewakili, pebulu tangkis yang mencoba konsisten menerapkan ajaran agama meski di lapangan dan semua orang tetap respek kepada Ahsan, tidak ada yang merasa terganggu.

Dalam hal berpakaian, Ahsan berpendapat dan meyakini bahwa menutup aurat adalah keutamaan selalu coba dilaksanakan. Sejak memiliki keyakinan seperti ini, dia selalu menggunakan legging (penutup) yang meng-cover paha sampai betisnya.

Demikian pula, bagaimana Ahsan bersalaman dengan wasit atau service judge wanita, ia salaman tanpa bersentuhan tangan dengan merapatkan kedua tangan di dada sebagai pengganti salaman biasa. Toh semua bisa memaklumi, bahwa Ahsan tetap melaksanakan etika dalam olahraga, seperti bersalaman dengan pemain lain dan para pengadil lapangan dengan caranya. Tidak ada yang menganggap Ahsan kurang ajar, justru sebagian salut karena Ahsan tetap memegang prinsipnya di manapun, terlebih di dunia yang membesarkannya.

Cara minum Ahsan juga dianggap unik. Sejak mencoba beragama secara komprehenship, ketika turun minum atau diperkenankan wasit untuk minum, Ahsan minum dalam posisi jongkok. Dia tidak mau minum sambil berdiri karena ingin meninggalkan larangan agama minum dan makan sambil berdiri.

Entah kebetulan atau merespons Ahsan, saat ini turnamen-turnamen bulu tangkis dunia menyediakan tempat duduk di sebelah tempat raket, pemain bisa duduk saat istirahat atau jeda game. Jika benar karena merespons pemain, BWF patut diapresiasi karena menyediakan ruang bagi pemeluk agama seperti Ahsan untuk menjalankan agamanya di lapangan bulu tangkis.

Hal menonjol dari Ahsan adalah saat menang dalam pertandingan, dia wujudkan dengan bersyukur. Dulu jarang kita melihat orang yang bersujud di lapangan. Kini pemandangan itu sudah biasa. Ahsan seperti halnya Mohammed Salah dalam sepak bola mengajarkan kepada kita semua, menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan agama, menghidupkan sunah Rasul bisa di mana saja, tidak hanya di tempat-tempat ibadah. Wallahu a’lam. (dwi/k16)

 


BACA JUGA

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…

Kamis, 09 Januari 2020 10:09

63 Tahun Kaltim, Menyongsong Ibukota Negara

Oleh : Devia Sherly, Founder East Kalimantan Dream EKD (East…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:30

IKN dan Ketimpangan Penguasaan Lahan

Oleh Muhammad Arman Direktur Advokasi Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat…

Sabtu, 04 Januari 2020 11:56

Tradisi Membakar Uang

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Selasa, 31 Desember 2019 12:58

Tulisan untuk Hari Jadi Kabupaten Paser ke-60

Catatan: Ismail, Guru Fikih Man IC Paser   TANA PASER…

Senin, 30 Desember 2019 00:40

Landscape Pelayanan Digital di Kalimantan Timur

 Oleh: Bambang Irawan Kepala Laboratorium Kebijakan Publik  Fakultas Ilmu Sosial…

Senin, 30 Desember 2019 00:36

Mewujudkan Masyarakat Sadar Hukum

Oleh: M Gatot Subratayuda Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Asal Kaltim  …

Senin, 23 Desember 2019 09:55

Bela Negara di Lapangan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Satu smash silang menukik…

Sabtu, 14 Desember 2019 11:18

Memanusiakan Manusia

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Jumat, 13 Desember 2019 12:01

Harus Jaga Kepercayaan

Oleh: Yaser Arafat Ketua Kadin Balikpapan   DENGAN makin beragamnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers