MANAGED BY:
SENIN
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 04 November 2019 09:36
Antara Influencer, Buzzer, dan Cyber Troops
ilustrasi

PROKAL.CO, Istilah buzzer terus menjadi perbincangan. Namun, belum banyak yang paham perbedaan antara buzzer, influencer, dan cyber troops. Salah kaprah di dunia maya pun sering terjadi.

 

 

Buzzer secara harfiah bisa dipahami sebagai pendengung. Belum ada definisi jelasnya di Kamus Besar Bahasa Indonesia meskipun sejumlah kata slang seperti kepo dan gebetan sudah masuk. Dengung sendiri diartikan sebagai tiruan bunyi yang bergema. Buzzer menggemakan informasi yang dianggap ”bunyi” agar cakupannya semakin luas.

Mencari buzzer di dunia maya mungkin lebih mudah ketimbang di dunia nyata. Sebagian warganet barangkali bisa membuat list tokoh-tokoh medsos siapa saja yang dianggap buzzer oleh khalayak. Tapi, di dunia nyata, lebih sulit melakukan identifikasi. Siapa bilang mereka mau dikatakan sebagai buzzer?

Kajitow Elkayeni salah satunya. Dia merupakan penulis opini yang cukup aktif di Facebook. Salah satu opini terakhirnya, sebelum halaman Facebook-nya tidak aktif pada Minggu (3/11) siang, adalah soal Projo. Selama dirinya berkiprah sebagai penulis opini, ungkap Kajitow, akunnya pernah beberapa kali nonaktif karena melemparkan kritik kepada pihak-pihak tertentu.

Istilah buzzer, sebut Kajitow, mencuat dan jadi perhatian publik begitu diberitakan Tempo. Di kalangan mereka sendiri, Kajitow mengakui, istilah itu kerap dipakai sekadar untuk bercandaan. ”Dulu ada. Tapi sekadar guyon dan ngejek-ngejek. Kemudian ada framing, istilah buzzer menjadi sangat negatif sehingga influencer pun risi karena disamakan dengan buzzer,” ujarnya Selasa (29/10).

Menurut Kajitow, orang-orang seperti dirinya dan sejumlah penulis opini beken lainnya bukan buzzer. Melainkan influencer. Dua istilah itu dibedakan berdasar cara kerjanya. Influencer bekerja sukarela, menulis isu berdasar opini dan informasi yang mereka dapatkan dari berbagai sumber. Buzzer sebaliknya, menulis sesuai pesanan pihak yang merekrut atau memakai jasa mereka. Namun, buzzer awalnya berkonotasi positif.

Kajitow mengakui, memang ada buzzer yang kemudian menulis materi yang menyerang pihak lawan. Namun, buzzer dan influencer masih berpegang pada fakta. Sedangkan orang-orang di balik akun yang menyebarkan hoaks atau propaganda lebih tepat disebut cyber troops. ”Itu cyber troops mestinya. Ada kelompok lain yang jahat, memang ada. Kerjanya bikin propaganda. Nah, kadang umpan ini dimakan influencer, agak rumit sih,” paparnya.

Kajitow sendiri sebagai influencer bekerja berdasar informasi yang dimiliki dan timing. Dia awalnya menggunakan medsos untuk tulisan yang lebih sastra. Menulis opini sebagai salah satu hobi saja. Kajitow memulai hobi beropini tersebut pada 2012. Dia butuh waktu cukup lama hingga bisa menjadi salah seorang influencer politik yang dikenal saat ini.

Influencer idealnya murni menulis opini. Materi artikel didapat dari berbagai sumber. Pertama adalah data empiris yang dirasakan atau didapatkan langsung oleh influencer tersebut. Kedua, data bisa datang dari sumber tepercaya dalam partai politik atau lembaga yang menjadi sasaran opini mereka. Nah, yang ketiga cukup menarik. ”Ketiga ini ada sedikit bumbu, istilahnya,” jelas Kajitow.

Bumbu itu diracik dari diskusi dengan pihak ketiga yang merupakan bagian dari lembaga yang ditulis. Misalnya, Kajitow pernah menulis opini tentang PDI Perjuangan. Saat mengonfirmasi data ke parpol tersebut, informan internal bisa memberikan masukan. ”Misalnya, Bro, salah ini. Ya saya ralat,” ungkapnya. Jika demikian, memang hasil tulisannya tidak lagi 100 persen opini pribadi seperti idealnya tulisan influencer.

Hasil tulisan influencer itu yang kemudian kerap disebarkan buzzer atau cyber troops. Buzzer, lanjut Kajitow, umumnya berangkat dari influencer. Dia punya follower yang cukup banyak dengan kemampuan menulis yang dianggap baik. Pihak-pihak tertentu kemudian menawarkan apakah influencer itu bersedia membuat konten sesuai pesanan.

Di sinilah, tegas Kajitow, terletak batas antara status buzzer dan influencer yang melekat pada seseorang. Namun, dia menegaskan bahwa menjadi buzzer tidak serta-merta merekrut orang. ”Nggak mungkin kan tiba-tiba, eh kamu kubayar sekian ya. Padahal, dia nggak bisa nulis,” jelas dia. Sebaliknya, hal itu berlaku dalam pembentukan cyber troops.

Cyber troops sengaja direkrut parpol, lembaga, atau tokoh berpengaruh. Tugasnya menyebarkan propaganda atau hoaks. Bentuknya tidak harus artikel atau utas, bisa juga meme cocokologi. ”Cyber troops itu kan mesin, senjata. Kalau perintahnya libas ya libas. Secara habit-nya memang merusak atau melumpuhkan lawan,” terangnya.

Materi yang disebarkan cyber troops umumnya dikompilasikan juga dari influencer dan buzzer. Persebaran informasi yang cepat dan tumpang-tindih itulah yang membuat masyarakat sulit membedakan ketiganya.

Terkait bayaran, lanjut Kajitow, memang berlaku untuk buzzer yang dikontrak secara politik atau cyber troops. Namun, hal itu tidak berlaku untuk influencer. Termasuk juga relawan. Umumnya hanya mendapat uang bensin dalam sekali kegiatan kampanye, tetapi tidak ada kontrak politik. ”Orang seperti Denny (Denny Siregar, penggiat medsos, Red) pun nggak bisa disebut buzzer karena nggak ada kontrak politik akan jadi komisaris apa atau dibayar berapa per bulan,” lanjut Kajitow.

Tidak spesifik ke isu-isu politik, Lini Zurlia juga memilih disebut influencer ketimbang buzzer. Namanya kerap muncul dalam aksi-aksi massa dan mahasiswa beberapa waktu lalu. Akunnya bahkan sangat aktif mengabarkan update selama demonstrasi berlangsung. ”Mungkin aku bisa masuk kategori itu (buzzer), tapi ya atau tidaknya tergantung follower yang menilai,” ungkapnya.

Lini memilih menjadi influencer beberapa isu tertentu karena ingin meng-counter opini-opini yang beredar. Dia memilih hanya isu-isu tertentu yang dipahami. Misalnya isu tentang RUU KPK dan lingkungan. Untuk lingkungan, contohnya, dia akan menggunakan data-data Walhi, Jatam, dan Green Peace. Lini biasanya menulis opini dalam bentuk utas disertai tagar. Lewat tagar itulah opininya bisa tersebar ke warganet yang juga turut meramaikan tagar tersebut. (deb/c9/oni)


BACA JUGA

Minggu, 15 Desember 2019 21:04

WUIHH MAKIN ENAK..!! Tahun 2020, PNS Tak Perlu Ngantor

Abdi negara bisa segera berkantor di mana saja. Pola perhitungan…

Minggu, 15 Desember 2019 21:03

Tak Semua Eselon III dan IV Dihapus

Jabatan Eselon III dan IV bakal tidak ada lagi. Aparatur…

Minggu, 15 Desember 2019 21:00

Jembatan Mahakam IV Diperkirakan Bisa Dipakai Maret 2020

SAMARINDA–Masyarakat Kota Tepian tampaknya harus banyak bersabar. Sebab, Jembatan Mahakam…

Minggu, 15 Desember 2019 20:57

Azura Luna, Warga Kediri yang Jadi Buronan Interpol Hong Kong

Sosialita asal Kediri terlibat banyak kasus penipuan. Kemudian, menghilang setelah…

Minggu, 15 Desember 2019 20:50

Progres Jalan Bontang - Samarinda dan Sangatta 95 Persen, Rampung Bulan Ini

BALIKPAPAN – Proyek preservasi jalan nasional Samarinda, Bontang, dan Sangatta…

Minggu, 15 Desember 2019 20:11

BPS Sebut Ekonomi Indonesia Tahun 2020 Bakal Suram

JAKARTA- Secara mengejutkan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan pernyataan yang…

Minggu, 15 Desember 2019 14:02

Bandara APT Pranoto Kembali Beroperasi Besok, Maskapai Ini Sudah Buka Reservasi

SAMARINDA - Bandara APT Pranoto akan kembali beroperasi pada hari…

Minggu, 15 Desember 2019 10:00

Pemerintah Kaji Bus Amfibi Jadi Moda Transportasi di Calon Ibu Kota Negara

Melihat karakter geografis calon ibu kota negara, Kalimantan Timur, banyak…

Minggu, 15 Desember 2019 09:52

IKN Perlu Daya Listrik Empat Kali Lipat Jakarta

Pemindahan ibu kota negara (IKN) ke Kaltim berdampak domino. Salah…

Minggu, 15 Desember 2019 09:47

Presiden ke Kaltim Lagi, Resmikan Tol Balsam lalu Tinjau Lahan IKN

SAMARINDA-Jalan tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) direncanakan diresmikan pekan depan. Tepatnya, Selasa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.