MANAGED BY:
SELASA
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Kamis, 31 Oktober 2019 11:41
Ada Harta yang Tak Dilaporkan Kayat

Sidang Lanjutan OTT Suap Hakim PN Balikpapan

Kayat

PROKAL.CO, SAMARINDA–Terbitnya izin membuka tanah negara (IMTN) untuk PT Sinar Agung Pakkaraja (SAK), seluas 65.449 meter persegi, di Jalan Sepinggan Baru, RT 57, Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan, kembali diulik dalam sidang lanjutan operasi tangkap tangan (OTT) KPK yang bergulir di Pengadilan Tipikor Samarinda,  (30/10).

Khairani, mantan camat Balikpapan Selatan 2001–2005, kembali hadir memberikan keterangan di depan majelis yang dipimpin Agung Sulistiyono bersama Abdul Rahman Karim dan Arwin Kusumanta itu. Pada 25 September lalu, dia telah bersaksi untuk Kayat, hakim nonaktif di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan.

Kali ini, untuk dua terdakwa yang diduga menyuap Kayat. Yakni, Sudarman dan Jonson Siburian. Dia mengaku sudah mengenal Sudarman sejak masih berstatus ASN di Kota Beriman. Komunikasi pun masih sering terjalin hingga Khairani pensiun pada 2011. Sekitar 2015, ketika Sudarman menjalani bisnis properti mereka kembali intim berkomunikasi.

“Karena Sudarman mengurus tanah untuk perumahan. Jadi, sering tanya-tanya saya soal lahan di Balikpapan Selatan,” akunya. Salah satunya, soal lahan di Sepinggan Baru itu. Kala itu, medio 2015, Sudarman membawa surat pernyataan penguasaan tanah negara (SPPTN) lahan yang akan digunakan PT SAK agar ditandatanganinya untuk diproses IMTN-nya.

Namun, dia hanya memaraf surat itu di dekat tanggal terbitnya surat yang dibuat tahun mundur pada 1985. “Padahal baru diurus pada 2015,” sambungnya. Namun, paraf itu justru membuatnya terseret dalam kasus dugaan pemalsuan berkas di PN Balikpapan yang bergulir September 2018 bersama Sudarman dan Kamaluddin sebagai terdakwa.

Dari kasus ini, dia kenal Jonson Siburian. Saat perkara ini masih disidik Polda Kaltim, Sudarman yang menawarkan untuk didampingi Jonson sebagai kuasa hukum. Untuk honorarium bakal ditanggung Sudarman. Kamaluddin pun diketahuinya menerima tawaran serupa. “Biar mudah tanganinya proses hukum makanya saya dan Kamaluddin terima saja tawaran itu,” sebutnya.

Kembali ke IMTN, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arief Suhermanto dan Andhi Kurniawan membeber fotokopi IMTN tersebut di persidangan. Namun, Sudarman menyanggah keterangan Khairani. Menurut dia, lahan itu sudah dibelinya sebelum dia berkonsultasi dengan Khairani. Karena dibenarkan saksi lahan itu tak bermasalah dan memang pernah diterbitkannya ketika menjabat camat Balikpapan Selatan.

“Saya bawa segel (SPPTN) ke saksi saat itu. Dan diakui memang lahan di sana dan pernah diterbitkan saksi, majelis,” ucap Sudarman ketika ditanya soal keterangan Khairani. Selepas perkaranya divonis bebas di PN Balikpapan pada 17 Desember 2018, Khairani mengaku jarang berkomunikasi dengan Sudarman. Soal dugaan suap sebesar Rp 200 juta yang jadi bukti OTT KPK atau adanya permintaan Rp 800 juta majelis hakim yang menangani perkaranya tak diketahuinya.

Selain mantan ASN ini, ada dua saksi lain yang dihadirkan JPU Komisi Antirasuah. Mereka adalah Muhammad Sofyan (ASN Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu/DPMPT Balikpapan) dan Kristina (istri Kayat). Saat bersaksi, Muhammad Sofyan mengaku sudah mengenal Sudarman sejak 2015, sebelum IMTN PT SAK terbit.

Sudarman menurutnya pernah berkonsultasi tentang tata cara mengurus izin lahan itu. Dia juga tak menampik jika pernah mengunjungi Sudarman di Rutan Balikpapan, mendampingi Jumaiyah, istri Sudarman. “Tapi saya tak tahu kasus apa. Hanya tahu kasus lahan,” tegasnya.

JPU Arief pun membuka bukti penyadapan seluler pada 25 Januari 2019 yang berisi percakapan Sofyan dengan Sudarman. Dari penyadapan itu, Sudarman bercerita ke saksi jika dia sudah berteman dengan hakim. “Memang ngomong seperti itu, tapi saya tak tahu hakim yang mana,” akunya.

Selepas vonis, sesudah percakapan itu saksi mengaku sempat beranjangsana ke kediaman Sudarman. Di sana, Sudarman sempat mengeluh dan menunjukkan percakapan pesan WhatsApp dengan Jonson Siburian jika seseorang yang disebut keduanya “kucing” menagih janji uang.

Sofyan pun sempat mempertanyakan siapa kucing yang dimaksud. “Kata Sudarman itu hakim. Tapi tak tahu siapa namanya,” lanjut dia. Saat giliran Kristina bersaksi, dia mengaku sempat mendengar nama Sudarman dan Jonson dari cerita suaminya, Kayat. Tapi, dia mengaku lupa detailnya.

Saksi ini dihadirkan JPU untuk mengonfrontasi keterangan Kayat ketika jadi saksi mahkota untuk dua terdakwa ini, 9 Oktober lalu. Saat itu, Kayat menerangkan jika uang senilai USD 16 ribu yang ditukarkan ke rupiah itu merupakan uang pribadinya, salah satunya berasal dari beberapa rumah kontrakan miliknya di Balikpapan.

“Seingat saya tak sebanyak itu, memang beberapa kali bapak (Kayat) kasih saya mata uang asing tapi itu dolar Singapura (SGD),” akunya. Mata uang asing itu pun diterimanya tak hanya dari Kayat, ada pula dari anaknya. Dugaan Kayat meminta uang kompensasi untuk vonis bebas untuk Sudarman, Kamaluddin, dan Khairani dia sama sekali tak tahu.

Jaksa Andhi pun melipir soal dua rumah di Perum BDS III, Sungai Nangka, Balikpapan Selatan. Kristina mengaku rumah itu memang milik suaminya yang disewakan. Tapi, saat pertanyaan beralih soal rumah itu tak masuk daftar kekayaan yang dilaporkan Kayat dalam laporan harta kekayaan pejabat negara (LHKPN) di KPK dia mengaku tak tahu soal itu.

“Enggak tahu soal itu,”singkatnya. Sidang OTT ini kini dipilah. JPU ingin menyesuaikan saksi yang dihadirkan untuk penerima suap dan penyuap. Kayat akan menjalani sidang dengan agenda saksi, hari ini (31/10). Sementara itu, Sudarman dan Jonson Siburian akan kembali menjalani sidang pada 13 November. (*/ryu/riz/k8)

loading...

BACA JUGA

Senin, 20 Januari 2020 14:16

Kendalikan Banjir Samarinda, Perlu Dam Seluas Delapan Kali Lapangan Bola

SAMARINDA–Pengendalian banjir di Samarinda memerlukan dam raksasa. Luasnya delapan kali…

Senin, 20 Januari 2020 14:14
Profil ASN Ibu Kota, 977 Janda-Duda hingga 73.535 Jomblo

Pemindahan Pegawai ke Kaltim Sedot Rp 2,9 Triliun

Selain mendapat tunjangan kemahalan dan insentif hingga dua kali lipat,…

Senin, 20 Januari 2020 14:08

KPK Rombak Satgas Kasus Harun, Pimpinan Anggap Wajar, Pegawai Sebut Tidak Lazim

JAKARTA– Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merombak para personel yang…

Senin, 20 Januari 2020 14:02

Jalan Rapak Indah Ditutup Ahli Waris, Sekda Temui Ahli Waris dan Buat Pernyataan Bersama

SAMARINDA - Ahli waris Djagung Hanafiah (almarhum), Datu Hairil Usman…

Senin, 20 Januari 2020 13:08

Dewas dan Direksi TVRI Tidak Harmonis sejak 2007

JAKARTA- Pemecatan Helmy Yahya dari posisi Direktur Utama TVRI memunculkan…

Senin, 20 Januari 2020 11:02

Tingkat Kemiskinan Kaltim Diklaim Rendah

SAMARINDA – Meski mengalami peningkatan sebanyak 990 orang, Pemprov Kaltim…

Senin, 20 Januari 2020 11:01

Lima WNI Diculik di Laut Malaysia, Pelaku Diduga Kelompok Abu Sayyaf

JAKARTA- Warga negara Indonesia (WNI) kembali menjadi korban penculikan di…

Senin, 20 Januari 2020 10:29

Atasi Banjir Samarinda, Beli Alat di Belanda

Sepekan sudah banjir menggenangi Samarinda. Aneka gangguan kesehatan menghantui. Sementara…

Senin, 20 Januari 2020 10:27

Perlu Fokus Membenahi Drainase

BANJIR masih menjadi masalah klasik bagi Samarinda. Bencana itu seperti…

Senin, 20 Januari 2020 10:26
Setelah Keraton Agung Sejagat “Runtuh

Tukang Loak Itu Pun Batal Jadi Jenderal Bintang Tiga

Seragam yang gagah, jabatan mentereng, iming-iming bayaran, dan cerita tentang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers