MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 28 Oktober 2019 10:18
Cerita Nikolas Itlay, Pemuda Papua yang Berkorban demi Warga saat Rusuh Wamena

Menempuh Risiko, Menyelamatkan Sesama Anak Bangsa

Nikolas Itlay

PROKAL.CO, Seandainya Nikolas Itlay telat mengambil keputusan evakuasi, ratusan nyawa bisa terancam. Dia berharap dampak kerusuhan Wamena tak merusak harmoni lintas etnis di distrik yang dia pimpin. 

 

DI tangan kanan mereka tergenggam parang. Dan, ada jeriken berisi bahan bakar di tangan kiri. Nikolas Itlay mengingat, massa dalam jumlah antara 200-300-an orang itu mengenakan seragam sekolah. Tapi, dengan postur yang agak tidak lazim. “Mereka anak-anak sekolah yang tidak pernah saya lihat,” kata kepala Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Papua, itu.

Namun, bukan itu yang paling dia cemaskan. Melainkan sasaran serangan kekerasan yang sangat spesifik: warga pendatang. Padahal, Hubikiak adalah distrik tempat bermukim ribuan pendatang dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa yang berdampingan dengan warga setempat.

Insting dan nyali Itlay sebagai pemimpin pun langsung tergerak. Semua warga non-Papua dia kumpulkan. Kemudian dievakuasi melalui Kali Hetuma. Menuju ke gereja terdekat, Lachai Roi, yang terletak di tepian kali tersebut. Tindakan itulah yang akhirnya menyelamatkan banyak nyawa. “Harus lewat sungai karena melalui jalan sudah tidak memungkinkan,” katanya kepada wartawan Jawa Pos Syahrul Yunizar sekitar dua pekan lalu (8/10).

Pada 23 September itu, Wamena, ibu kota Jayawijaya, memang membara. Dipicu rumor pelecehan rasial di salah satu sekolah, yang belakangan disebut pemerintah sebagai hoaks, kerusuhan meluas.

Korban tewas mencapai puluhan. Sedangkan ribuan warga, mayoritas non-Papua, mengungsi dan meninggalkan Wamena. Semua itu selama ini tak terbayangkan di Hubikiak. Tempat di mana 17 ribuan warga dari berbagai etnis hidup dalam harmoni. Sepanas apapun kondisi yang terjadi di Wamena tak pernah sampai ke Hubikiak.

Sampai ketika pada Selasa pagi (22/10) itu saat Itlay selesai memimpin apel. Biasanya, setelah selesai apel, pria 38 tahun yang sudah dua periode memimpin Hubikiak itu akan mencurahkan waktu untuk melayani masyarakat.

Tapi, tidak pagi itu. Massa yang entah dari mana datangnya mengepung Itlay dan para warga Hubikiak. Memang yang disasar para pendatang, tapi aksi massa tersebut yang membakar gedung, ruko, dan rumah-rumah membuat sebagian warga lokal khawatir. Jadilah mereka ikut dalam rombongan yang dievakuasi Itlay ke gereja.

Kelompok massa penyerang terus membayangi. Mereka berlarian pelan, mengikuti aliran Kali Hetuma sampai di belakang gereja. Itlay sadar, ada risiko massa mengetahui jalur evakuasi yang dia pilih. Tapi, dalam situasi terjepit saat itu hanya Kali Hetuma paling aman untuk menjauhkan massa dari masyarakat yang dia selamatkan.

Sementara dirinya bertahan dan mencoba menenangkan massa. ”Kalau kami di sini, kami angkat tangan masyarakat pasti diam,” ujarnya. Namun, itu tidak terjadi. Amuk massa tetap berlanjut. Belakangan, setelah massa berhasil dikendalikan sekaligus dipukul mundur aparat keamanan, Itlay sadar.

Massa yang mengamuk itu tidak semuanya masyarakat Hubikiak. Banyak di antara mereka datang dari luar. Yang entah dari mana asalnya. ”Mereka bukan masyarakat lembah,” kata ayah dua anak itu.

Dari serangan pada Selasa pagi itu, tiga orang warga Hubikiak meninggal. Itlay tidak ingat pasti berapa jumlah orang yang berhasil dia evakuasi kala itu. Sekitar ratusan, mayoritas warga pendatang. Tapi, ada juga warga lokal. Itlay tak bisa membayangkan seandainya dia tidak mengambil risiko menyelamatkan para pendatang lewat sungai. Atau telat melakukannya.

Di luar itu, yang sangat dia cemaskan dari kejadian itu adalah rusaknya jalinan persaudaraan lintas etnis penghuni Distrik Hubikiak yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Wamena tersebut. Padahal, selama dua periode memimpin, itulah yang selalu berusaha dia rawat dan jaga.

Setelah kerusuhan, dia belum tahu pasti jumlah masyarakat pendatang yang tersisa di Hubikiak. Banyak di antara mereka memilih ke luar Jayawijaya. Mereka meninggalkan Hubikiak, meninggalkan Wamena yang sudah jadi tempat tinggal. ”Tapi, ini sementara saja. Kami juga paham,” ujarnya.

Dia yakin cepat atau lambat mereka akan kembali. Itlay berharap, kejadian serupa tidak terulang. Sehingga kerukunan di antara masyarakat Hubikiak terus terjaga. Tanpa membedakan asli maupun pendatang atau keturunan. Itlay menegaskan, mereka yang tinggal di Hubikiak punya hak sama. “Hidup berdampingan sebagai saudara satu bangsa,” katanya. (syn/JPG/rom/k15)


BACA JUGA

Selasa, 28 Januari 2020 14:43

Soal Penciutan Status Lahan WKP Migas, Pemprov Akan Negosiasi dengan Pusat

Wacana penciutan WKP milik Pertamina kembali mengemuka. Setelah upaya Pemkab…

Selasa, 28 Januari 2020 13:42

81 Orang Meninggal, 43 Ribu Diperkirakan Tertular

KETAKUTAN pada penularan virus 2019-novel Coronavirus (2019-nCov) melanda berbagai negara.…

Selasa, 28 Januari 2020 12:19

Selamat Jalan Black Mamba

LOS ANGELES -Perjalanan Kobe Bryant menggunakan helikopter pribadi pada Minggu…

Selasa, 28 Januari 2020 10:47

Pemerintah Tak Larang Warga Tiongkok ke Indonesia

JAKARTA– Rapat koordinasi mengenai antisipasi masuknya 2019 novel coronavirus (2019-nCoV)…

Selasa, 28 Januari 2020 10:34

Corona Buat Harga CPO Terkapar

Virus corona yang melanda Tiongkok ternyata tak hanya membuat sektor…

Senin, 27 Januari 2020 13:59

Virus Korona Lebih Berbahaya daripada SARS

BEIJING – Kewaspadaan terhadap merebaknya virus korona harus lebih ditingkatkan.…

Senin, 27 Januari 2020 13:57

2030 Tak Ada Lagi Tambang, Izin Dimoratorium, Jatam Curiga Ada Transaksi Gelap

BALIKPAPAN–Pemulihan lahan pascatambang di sekitar lokasi ibu kota negara (IKN)…

Senin, 27 Januari 2020 13:55

Masih Aman tapi Mulai Siaga

TIGA malam sudah Hong Kong diguyur hujan. Dari gerimis hingga…

Senin, 27 Januari 2020 13:54
Backpacker-an ke Hong Kong setelah Demonstrasi (4)

Siapkan Fisik Kunjungi Ten Thousand Buddhas Monastery

Ten Thousand Buddhas Monastery di Distrik Sha Tin jadi daya…

Senin, 27 Januari 2020 13:42

Virus Corona (2019-nCoV) Mengancam Gelaran Olahraga di Tiongkok, Pilih Menunda, Pindah Venue atau Tanpa Penonton

SAAT ini, virus Corona (2019-nCoV) yang terjadi di Tiongkok menjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers