MANAGED BY:
SELASA
26 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Selasa, 22 Oktober 2019 11:28
Gara-Gara Ini, Status KLA Samarinda Tercoreng

Program Tak Efektif, Kekerasan pada Anak Meningkat

Fitermen

PROKAL.CO, Penghargaan demi penghargaan diperoleh Samarinda sebagai Kota Layak Anak (KLA). Teranyar, Kota Tepian diganjar lagi untuk kategori Madya oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Namun fakta menunjukkan sebuah ironi. 

--

SAMARINDA – Meraih penghargaan KLA Tingkat Pratama di 2017, Kota Tepian melanjutkan prestasinya di 2018 saat meraih KLA Tingkat Madya. Dan predikat  pun kembali direngkuh pada Juli lalu. Saat Menteri PPPA Yohana S Yembise memberikan Samarinda penghargaan untuk kategori Madya bersama tujuh kabupaten dan kota lain di Kaltim.  

Namun, sebuah fakta menunjukkan Samarinda masih berjibaku dengan kekerasan dan eksploitasi terhadap anak. Data menunjukkan, belum tutup 2019, angka kekerasan seksual anak sudah 28 kasus. Sebanding dengan kasus tahun sebelumnya. Sementara secara keseluruhan, terjadi peningkatan jumlah kasus dibandingkan 2018.  

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Samarinda Fitermen menyebut meningkatnya jumlah kasus kekerasan pada anak bisa terjadi di mana saja. Termasuk di Samarinda. Meski kota ini sudah menyandang status KLA. “Biar di kota lain juga ada kok,” ujarnya. 

Menurutnya, ini terjadi bukan hanya karena faktor kejiwaan. Melainkan ekonomi dan lemahnya iman para pelakunya. Yang berdampak pada korban anak. Karena itu pihaknya mengklaim sudah melakukan sosialisasi ke setiap kelurahan. Bahkan membentuk dua unit khusus yang menangani masalah ini. Yakni pusat pembelajaran keluarga (Puspaga) dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). 

“Puspaga yang melakukan pencegahan. Dan P2TP2A yang mengawal proses hukum serta pendampingan psikis korban,” terang Fitermen. 

Mengenai pencegahan, awak media pun menemui Koordinator Puspaga Samarinda Deasy Evryani. Kata dia, sejumlah unit Puspaga akan dibuka di setiap kecamatan. Untuk menyentuh lebih dalam dan meluas setiap wilayah demi mengurangi potensi munculnya kasus kekerasan. 

“Setiap kecamatan ada kader yang kami bina dulu. Menjadi perpanjangan tangan kami," jelas dokter gigi itu. 

Menurutnya, setiap kasus terkait kekerasan dan penyimpangan seksual yang terjadi selama ini karena pola pengasuhan orangtua dan keluarga yang tidak tepat. Rata-rata pelaku atau korban telah terpapar konten pornografi. “Bisa jadi karena pola asuh orangtua sebelumnya,” sebutnya. 

Sementara itu, Ketua P2TP2A Samarinda Siti Maidatul Jannah menuturkan, status KLA yang diterima Samarinda seharusnya menjadi motivasi untuk menekan kasus kekerasan pada anak. Menurutnya, banyak program pemerintah bahkan hingga tingkat kelurahan yang kurang efektif. Lantaran hanya mengacu pada proses administrasi tanpa mampu menekan angka kasus secara riil. 

“Ini merupakan pekerjaan rumah kita semua dalam menekan angka kekerasan anak,” ucapnya. 

Selama ini P2TP2A telah berperan dalam memberikan trauma healing termasuk bantuan hukum bagi para korban. Namun ada keterbatasan pihaknya untuk bisa menyentuh para pelaku. Dengan tujuan mendalami setiap kasus dan kemungkinan menyembuhkan kelainan atau penyimpangan seksual yang dialami. 

“Kami fokus di korban saja. Walaupun pelaku harus didalami juga. Tapi tupoksi kami terbatas. Dan (untuk pelaku) itu bukan tupoksi kami,” terangnya. 

Selain itu ada kendala soal fasilitas untuk para korban kekerasan. P2TP2A  belum memiliki tempat penitipan anak atau rumah singgah yang mampu menampung para korban dengan waktu yang  panjang. Mengingat rata-rata korban sangat tidak dianjurkan lagi kembali ke lingkungannya dengan alasan psikologis. 

“Ada beberapa kasus anak yang tidak layak kembali ke lingkungannya. Tetapi dengan terpaksa kami kembalikan,” kata wanita berjilbab itu dengan nada menyesal. (*/dad/rdh)

 


BACA JUGA

Selasa, 04 Februari 2020 12:04

Kritik Kota lewat Lirik Rap, Wajah Samarinda dari Lagu “Samar Indah"

Hanya di Samarinda kita bisa hidup sama rendah Nikmati tepian…

Selasa, 04 Februari 2020 12:03

Berkas Pasar Baqa Dilimpah, Rabu, Sidang Perdana

SAMARINDA-Berkas dugaan korupsi tiga tersangka Pasar Baqa sudah digulirkan Korps…

Selasa, 04 Februari 2020 12:01

Terima Paket Ganja 2,5 Kilo, Mahasiswi Ini Mengaku Cuma Diupah Rp 300 Ribu

SAMARINDA - Tersangka inisial IT yang menerima paket 2,5 kilogram…

Selasa, 04 Februari 2020 12:00

Merasa Dipalak Ketika Berkendara di Samarinda? Dua Pria Ini Mungkin Pelakunya

SAMARINDA - Tim Macan Borneo Satreskrim Polres Samarinda akhirnya meringkus…

Selasa, 04 Februari 2020 11:59

Hanya Sakit Demam, RS AWS Bantah Merawat 1 Pasien Terkena Corona Virus

SAMARINDA - Rumah Sakit AW Sjahranie (RS AWS) Samarinda membantah…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:48

Pengedar Sabu Berbahan Tawas Ditangkap

SAMARINDA-Banyaknya pemakai narkoba jenis sabu rupanya menjadi peluang bagi Kene…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:10

Begini Kondisi Terakhir Sopir Truk yang Sebabkan 4 Nyawa Melayang di Gunung Manggah Itu...

SAMARINDA- Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) Polresta Samarinda, pada Kamis…

Sabtu, 01 Februari 2020 09:05

Jalin Kerjasama dengan Rumah Sakit, Poltekkes “Nyebrang” ke Malaysia

SAMARINDA-Terus melebarkan sayap, kini Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes)…

Jumat, 31 Januari 2020 23:46

Samarinda Masih Kekurangan Pengajar

Di Samarinda, ada sekitar 2 ribu guru honorer. Mereka tengah…

Jumat, 31 Januari 2020 23:45

Perlu Waktu Realisasikan DOB Samarinda Seberang

SAMARINDA–Usul menjadikan Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir sebagai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers