MANAGED BY:
SENIN
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 21 Oktober 2019 11:10
Ketika Anak Kembar SMP Ikut Desain Ibu Kota Republik

Kantor KPK di Kepala agar Mudah Pantau Kementerian

Rafif Hamdillah dan Rafi Hamdallah,memperlihatkan desainnya.

PROKAL.CO, Dua anak kembar asal Kota Solok berhasil membuat desain ibukota baru Indonesia di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Meski baru berusia 15 tahun, anak muda ranah Minang ini optimistis karya mereka bisa juara sayembara desain kawasan ibukota negara yang diselenggarakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

 

Adetio Purtama, Padang

 

Rafif Hamdillah dan Rafi Hamdallah, 15, terlihat serius saat mempresentasikan desain kawasan ibukota negara yang mereka buat saat mengunjungi Graha Pena Padang Ekspres, Minggu (20/10). Satu per satu struktur dan lokasi gedung dalam desain ibukota dijelaskan dengan rinci dan tepat seolah-olah kakak-adik ini sedang presentasi desain miliknya di hadapan dewan juri.

Dua anak kembar asal Kota Solok yang bercita-cita jadi dokter dan apoteketer itu, berhasil mendesain kawasan ibukota negara di usia mereka terbilang cukup muda.

Di usia 15 tahun, mungkin sebagian teman sebayanya masih sibuk bermain. Namun, pasangan adik-kakak yang terlahir kembar ini sudah berpikir bagaimana tatanan masa depan ibukota negara Indonesia yang dipindahkan dari DKI Jakarta ke Kaltim. “Disainnya kami bikin unik, futuristik, modern dan sesuai konsep masing-masing kementerian dan lembaga negara,” ungkap Rafif Hamdillah memulai paparannya di depan Pemred Padang Ekspres Heri Sugiarto dan jajaran redaksi.

Rafif menceritakan, ia dan kakaknya mendesain kawasan ibukota negara berawal dari melihat pemberitaan yang sempat viral. Presiden RI Joko Widodo memutuskan memindahkan ibukota negara Indonesia dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim.

Berangkat dari hal tersebut, dia bersama kakaknya mulai tertarik memikirkan bagaimana tatanan ibukota negara Indonesia yang baru di masa depan tanpa meninggalkan cirri khas kebhinekkaan republik ini. “Jadi setelah melihat dan mendengar pemberitaan tentang pemindahan ibukota, kami langsung terpikir membuat sendiri desain kawasan ibukota yang efisien dan ramah lingkungan,” ucap siswa yang saat ini duduk di bangku kelas IX SMPN 2 Kota Solok itu.

Setelah itu, dia membayangkan desain dan bentuk seperti apa yang cocok untuk dijadikan struktur ibukota baru. Tak berlangsung lama, lambang negara Republik Indonesia yakni Garuda Pancasila yang mereka berdua pilih sebagai desain kawasan ibukota negara. “Menurut kami lambang burung Garuda itu sangat teratur dan terstruktur sehingga mudah sekali jika konsep kawasan ibukota negara disesuaikan dengan bentuk lambang negara kita itu,” tuturnya.

Anak dari pasangan Hendrianto dan Adhesni Susanti itu melanjutkan, setelah memilih desain ibukota negara, mereka mulai menggambar di kertas karton ukuran besar. Mereka berbagi tugas dan peran. “Saya yang menggambar desain burung Garuda di kertas karton. Kemudian kakak saya Rafi yang bikin nama-nama kawasan yang akan ditempati kantor-kantor pemerintahan di ibukota nantinya, termasuk lokasi gerbang masuk ibukota, jalan, istana, kantor kementerian dan lembaga, kantor legislatif dan yudikatif hingga perumahan aparatur dan museum,” jelasnya.

Lebih lanjut putra kelahiran 14 Juni 2004 itu menyampaikan, setiap bagian dari burung Garuda yang mereka gambar sudah ditetapkan bangunan apa saja yang akan dibangun. “Istana negara terletak pada bagian tengah atau jantung burung Garuda. Alasannya agar kantor presiden dan wapres terpusat di tengah ibu kota yang aksesnya mudah dicapai dari mana pun. Letaknya persis di lambang sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Agar nantinya pusat pemerintahan juga selalu menjunjung tinggi nilai keagamaan dan kejujuran,” jelasnya.

Kemudian pada lokasi sila kedua merupakan kawasan kemanusiaan yang mencakup lembaga sosial kemasyarakatan sesuai dengan bunyi sila kedua, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Di sini bisa didirikan kantor seperti Palang Merah Indonesia dan kantor duta besar.

Setelah itu pada lokasi sila ketiga, Persatuan Indonesia diisi perkantoran Mabes TNI dan Polri. “Lokasinya lebih dekat dengan Istana. Agar TNI dan Polri senantiasa bisa menjaga keamanan pemimpin Negara dan persatuan dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia,” katanya.

Selanjutnya pada lambang sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan akan menjadi kawasan perkantoran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). “Dan yang terakhir pada lambang sila kelima, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia akan diisi perkantoran lembaga yudikatif seperti Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Mahkamah Konstitusi dan lainnya,” ujarnya.

Sementara itu di bagian ekor Garuda, menurut anak kembar ini akan dijadikan kawasan kantor lembaga negara non kementerian, seperti Komisi Pemilihan Umum, Bawaslu, Komisi Penyiaran Indonesia, Komnas HAM dan lainnya. “Untuk nama ibukota kami usulkan empat, yakni Garuda Raya, Garuda Jaya, Raja Ina dan Ina Raya. Semuanya mencerminkan negara Indonesia dan menjunjung tinggi Kebhinnekaan,” jelasnya.

Rafif yang pernah sekolah di SDN 01 Tanjung Paku Kota Solok melanjutkan, untuk bagian kedua sayap Garuda akan ditempati oleh kawasan perumahan aparatur negara yang bekerja di ibukota. Pada kawasan tersebut diwarnai berbagai warna sehingga tampilannya semakin menarik. “Nanti di ibukota ini diperbanyak tanaman atau pepohonanan sehingga terlihat lebih hijau, segar dan sehat,” katanya.

Tak kalah uniknya, kedua anak ini membuat lokasi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berada tepat di bagian kepala atau mata burung Garuda. KPK mudah memantau dan melihat segala aktivitas pemerintahan di ibukota itu sehingga korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) bisa dihindari. Berdekatan dengan bagian leher yang akan diisi bangunan kementerian. “Kalau kantor KPK di bagian kepala kan lebih dekat dalam melihat atau memantau kerja kementerian sehingga bisa meminimalisir terjadinya korupsi,” tukasnya.

Sementara itu di bagian tulisan Bhinneka Tunggal Ika, diusulkannya dibangun museum kebudayaan dari 34 provinsi di Indonesia. “Bhinneka tunggal Ika kan artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu. Jadi kami menginginkan semua kebudayaan di Indonesia bisa bersatu dalam perbedaan tersebut di ibukota baru yang berada di tengah nusantara ini,” tukasnya.

Untuk tema desain ibukota negara yang mereka buat yakni efisien dan ramah lingkungan, Rafif menyebutkan, ramah lingkungan sesuai tema yang telah ditetapkan Presiden Jokowi. “Dalam desain kami ini selain sudah terstruktur rapi dengan konsep burung Garuda, kami pun menjamin kawasan ini ramah lingkungan. Penataan tempatnya disesuaikan kondisi lingkungan perhutanan yang ada di Kaltim,” sebutnya.

Pengerjaan desain kawasan ibukota negara tersebut menghabiskan waktu sekitar sebulan. Rafif dan kakaknya membuat gambar desain tersebut menggunakan pensil, krayon, dan cat akrilik. "Kami sangat bangga dan terharu ide kami bisa diikutsertakan dalam sayembara ibukota. Apalagi yang menikmamti ibukota baru nantinya adalah kami yang muda-muda ini. Semoga bapak Presiden Joko Widodo bisa melihat langsung desain yang kami buat. Semoga benar-benar terealisasikan untuk ibukota baru,” harapnya.

Hendrianto mengatakan, kedua anaknya itu sejak kecil suka membaca dan sudah menunjukkan bakat di luar cita-cita mereka sendiri yang ingin jadi dokter dan apoteker. “Mereka suka menggambar dan membuat kaligrafi. Sering juara kelas dan menjuarai lomba kaligrafi juga. Bahkan hadiah dari berbagai juara lomba itu mereka tabung sampai sekarang,” ungkapnya seraya berharap disain karya anaknya masuk nominasi dan bias presentasi di depan presiden.

Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota Unisba, Haryanto YMS mengaku dirinya mengetahui adanya karya anak kembar asal Solok itu dari rekannya yang dosen di Universitas Bung Hatta. Dia tertarik menjadi pendamping Rafif dan Rafi.

Setelah desain ibukota negara karya Rafif dan Rafi masuk dalam sayembara gagasan desain kawasan ibukota negara, kedua anak itu akan didampingi tenaga ahli yang akan membantu dalam perancangan desain ibukota negara tersebut. Apalagi sayembara itu mengharuskan adanya sertifikasi ahli yang mendesainnya berjumlah 10 orang, sementara kedua anak itu baru SMP. “Namun, yang dipakai tetap ide Rafif dan Rafi ini. Pendaftaran sudah dilakukan secara online dengan akun pakai email mereka,” jelas Haryanto.

Menurutnya, kriteria penilaian desain sayembara gagasan ibukota negara harus mencerminkan identitas bangsa. Di samping itu mampu menciptakan ruang budaya yang tidak hanya fungsional namun inspirasional dan memiliki karakter indah, nyaman, dan bersih. “Selain itu desain kawasan ibukota harus mampu mewujudkan prinsip-prinsip pembangungan berkelanjutan, khususnya terkait pembangunan perkotaan. Selain itu, harus mencerminkan karakter kearifan lokal sebagai habitat hutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, ide ibukota negara karya Rafif dan Rafi itu akan mereka padukan dengan aturan-aturan yang mengatur tata letak bangunan dan jumlah kapasitas bangunan. “Ini ide yang luar biasa dari anak-anak yang baru berusia 15 tahun. Mereka telah memiliki konsep sendiri dalam penataan kawasan ibukota negara baru. Kami akan siap mendampingi dan mendukung anak kembar ini,” ungkapnya.

Sementara itu, tokoh muda Solok Nofi Chandra mengapresiasi inisiatif dan terobosan dua orang anak SMP itu. Menurutnya, ide dan disain yang dibikin Rafif dan Rafi ini biasanya dilakukan orang yang sudah doktor nan visioner. “Saya salut karena Rafif dan Rafi ini juga sudah memikirkan bangsa dan masa depan republik ini. Visinya sudah jauh ke depan, bahkan melampaui arsitek dan para doktor,” kata Nofi.

Agar anak itu sukses dalam proses sayembara tersebut, mantan Anggota DPD RI ini mendorong Pemprov Sumbar ikut berkontribusi mengawalnya hingga tuntas. “Ini kan sumbangan pemikiran penting anak muda ranah Minang bagi republik. Sebaiknya Pak Gubernur undang anak ini presentasi dan bantu berbagai keperluannya mengikuti sayembara ini. Sebab, saya dapat informasi nantinya mereka juga butuh biaya terbang ke lokasi ibu kota baru,” ujar mantan senantor yang ikut mendampingi dua anak SMP itu ke Graha Pena kemarin.(***)


BACA JUGA

Senin, 18 November 2019 12:13

BERUBAH LAGI KAN....Mendikbud Susun Rancangan Perubahan Kurikulum

JAKARTA – Kurikulum pendidikan bisa jadi bakal berubah. Menteri Pendidikan…

Senin, 18 November 2019 12:09

Wisata ”Plus” di Puncak, Langganan Pria Timur Tengah

Prostitusi spesialis pelancong asal Timur Tengah (Timteng) di kawasan Puncak…

Senin, 18 November 2019 11:41

Jadi Calo Vila dan PSK gara-gara Lapak Digusur

SOLUSI kasus perdagangan orang spesialis wisatawan Timur Tengah (Timteng) tak…

Senin, 18 November 2019 09:58

Kasus Minyak Ilegal, Cium Aroma Kongkalikong dengan Aparat

Polisi masih kesulitan dalam mengusut kasus penyulingan minyak ilegal di…

Senin, 18 November 2019 09:56

Peluang ASN Tertutup..!! Badan Otorita Pemindahan IKN Bukan Birokrat

JAKARTA-- Peluang aparatur sipil negara (ASN) menempati posisi Kepala Badan…

Senin, 18 November 2019 09:29

Ibu Kota Pindah, Kriminalitas di Kaltim Naik

PEMINDAHAN pusat pemerintahan baru ke Kaltim, pertimbangan di antaranya aspek…

Senin, 18 November 2019 09:21

Sopir Mabuk Ugal-Ugalan, Tabrak Suami Istri Hingga Tewas

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Lambung Mangkurat, (16/11). Insiden itu…

Minggu, 17 November 2019 14:59

MAAF AJA..!! Yang LGBT Tidak Boleh Melamar CPNS Kejaksaan

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019 yang sedang berlangsung…

Minggu, 17 November 2019 14:58

MAAF AJA..!! Yang LGBT Tidak Boleh Melamar CPNS Kejaksaan

Seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019 yang sedang berlangsung…

Minggu, 17 November 2019 14:56

Nikah Makin Ribet, Bimbingan Pranikah Libatkan Sejumlah Kementerian

Pembicaraan pembinaan pranikah dan sertifikasi masih bergulir. Menteri Koordinator Bidang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*