MANAGED BY:
SABTU
30 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Senin, 21 Oktober 2019 10:12
Terdampak Perang Dagang AS-Tiongkok, Kinerja Ekspor Kaltim Melemah
Pelemahan ekonomi Tiongkok berimbas kepada penurunan ekspor Kaltim, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu.

PROKAL.CO, SAMARINDA – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir, berpengaruh besar terhadap perekonomian global, termasuk Kaltim. AS dan Tiongkok telah menjalin kerja sama dalam berbagai bidang, tetapi sebenarnya keduanya merupakan pesaing berat dalam memperebutkan dominasi dunia.

Secara umum, ekspor komoditas dari Kaltim masih didominasi ke Tiongkok mencapai 23 persen, dibandingkan ke AS dengan komoditas utama yaitu batu bara dan crude palm oil (CPO) dengan market share kedua komoditas ini masing-masing mencapai 91 persen dan 4,53 persen.

Pelemahan ekonomi Tiongkok berimbas kepada penurunan ekspor Kaltim, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, ekspor Bumi Etam Januari-Agustus 2019 mencapai USD 10,93 miliar atau turun 9,33 persen dibandingkan tahun lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, awal mula trade war sudah mulai tercium pada 2016 saat masa kampanye kepresidenan Donald Trump, yang membandingkan defisit perdagangan AS dengan Tiongkok dan menyebutnya dengan istilah “pencurian”.

Lalu aksi perang tarif dimulai pada awal 2018, AS menerapkan tarif pengamanan atau safeguard pada impor mesin cuci sebesar 20 persen dan sel surya sebesar 30 persen. “Meskipun sebagian besar impor ini tidak berasal dari Tiongkok, kebijakan AS ini memperjelas bahwa dominasi Tiongkok dalam rantai pasokan global menjadi perhatian,” ujarnya, Minggu (20/10).

Dia menjelaskan, Donald Trump juga mengumumkan pengenaan tarif 25 persen pada impor baja dan 10 persen pada aluminium dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok pada Maret 2018. Kebijakan itu ditanggapi Tiongkok dengan menaikkan tarif untuk produk daging babi dan skrap aluminium hingga 25 persen. Tiongkok juga memberlakukan tarif 15 persen untuk 120 komoditas AS lainnya, mulai dari almond hingga apel.

Setelah itu kedua negara raksasa ekonomi dunia tersebut terus melakukan aksi saling balas tarif dan berlangsung hingga sekarang. Trade war biasanya terjadi antar dua negara yang akan saling memberikan tarif bea masuk tinggi dan trade barriers lainnya ke masing-masing negara, atau melarang produk tertentu beredar di dalam negeri dari masing-masing negara bertikai.

“Tujuannya, selain memproteksi pasar dalam negeri, juga menekan defisit perdagangan negara bersangkutan terhadap negara lain,” ungkapnya.

Begitu pula, tambahnya, dengan trade war yang terjadi antara AS dan Tiongkok. Pembatasan-pembatasan tersebut akan mengakibatkan ekspor kedua negara turun dan akan langsung berdampak pada perekonomian masing-masing negara. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perang dagang yang terjadi antara AS dan Tiongkok akan mengakibatkan pelemahan ekonomi secara global.

Penurunan ekspor antara AS dan Tiongkok secara tidak langsung akan menyebabkan permintaan impor komoditas ke negara tersebut juga akan turun. Indonesia yang saat ini merupakan salah satu negara pengekspor komoditas ke negara-negara tersebut juga mendapatkan dampak negatif. “Apalagi Kaltim, ekspor Kaltim 23 persennya dikirim ke Tiongkok. Secara umum, ekspor komoditas kita masih didominasi ke negara Tiongkok dibandingkan ke AS,” tuturnya.

Menurutnya, pelemahan ekonomi Tiongkok juga berimbas kepada penurunan ekspor Kaltim, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu. Berdasarkan hasil perhitungan elastisitas pertumbuhan ekonomi Tiongkok, terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekspor Kaltim masing-masing sebesar 1,25 dan 0,19.

Namun, tensi dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok menyebabkan Pemerintah Tiongkok memilih untuk mengurangi impor soybean oil dari Amerika dan menggantikannya dengan CPO. Sehingga bisa menurun, namun juga bisa meningkat.

“Namun kecenderungannya, ekspor Kaltim menurun akibat perang dagang tersebut. Hilirisasi memang menjadi jawaban mutlak agar komoditas kita memiliki nilai jual dan tak bergantung terhadap ekspor ke negara-negara tersebut,” pungkasnya. (ctr/ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 31 Januari 2020 11:47

Tambah Satu Crane, PT Pelindo IV Matangkan Rencana Pengembangan Semayang

PT Pelindo IV Balikpapan optimistis kinerja sepanjang tahun ini lebih…

Kamis, 30 Januari 2020 15:04

Jadi Favorit, Permintaan Kopi Terus Naik

SURABAYA– Permintaan kopi dalam negeri terus meningkat. Itu tidak terlepas…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

RUU Omnibus Law Optimistis Dongkrak Ekonomi Daerah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) kebijakan omnibus law bisa mendorong kinerja…

Kamis, 30 Januari 2020 14:44

Kunjungan Bisnis Terganggu Corona

SAMARINDA – Penyebaran wabah virus corona berpotensi menghambat pengusaha dalam…

Rabu, 29 Januari 2020 13:09

Krakatau Steel Restrukturisasi Utang

JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk berhasil merestrukturisasi utang senilai…

Rabu, 29 Januari 2020 12:07

Target Integrasikan Pelabuhan di Kaltim

BALIKPAPAN - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV siap mendukung berjalannya…

Selasa, 28 Januari 2020 13:40

Garap Mobil Listrik Hyundai Inves USD 750 Juta

JAKARTA– Grab Indonesia bekerja sama dengan PT Hyundai Motor Indonesia…

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Bantu UMKM Perluas Pasar

SAMARINDA- Tak hanya mempermudah pelaku usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 28 Januari 2020 10:42

Pertahankan Resep Warisan Mertua, Terbantu Marketplace

Menjaga konsistensi rasa masakan dan memuaskan pelanggan menjadi kunci sukses…

Senin, 27 Januari 2020 12:09
Menjaga Eksistensi Usaha ala Hadlan Feriyanto Munajat

Jangan Lupa Bahagia, Kombinasikan Hobi dengan Bisnis

Berbisnis tak melulu soal keuntungan. Tapi akan lebih memuaskan jika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers