MANAGED BY:
KAMIS
26 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Senin, 21 Oktober 2019 10:12
Terdampak Perang Dagang AS-Tiongkok, Kinerja Ekspor Kaltim Melemah
Pelemahan ekonomi Tiongkok berimbas kepada penurunan ekspor Kaltim, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu.

PROKAL.CO,

SAMARINDA – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir, berpengaruh besar terhadap perekonomian global, termasuk Kaltim. AS dan Tiongkok telah menjalin kerja sama dalam berbagai bidang, tetapi sebenarnya keduanya merupakan pesaing berat dalam memperebutkan dominasi dunia.

Secara umum, ekspor komoditas dari Kaltim masih didominasi ke Tiongkok mencapai 23 persen, dibandingkan ke AS dengan komoditas utama yaitu batu bara dan crude palm oil (CPO) dengan market share kedua komoditas ini masing-masing mencapai 91 persen dan 4,53 persen.

Pelemahan ekonomi Tiongkok berimbas kepada penurunan ekspor Kaltim, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, ekspor Bumi Etam Januari-Agustus 2019 mencapai USD 10,93 miliar atau turun 9,33 persen dibandingkan tahun lalu.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, awal mula trade war sudah mulai tercium pada 2016 saat masa kampanye kepresidenan Donald Trump, yang membandingkan defisit perdagangan AS dengan Tiongkok dan menyebutnya dengan istilah “pencurian”.

Lalu aksi perang tarif dimulai pada awal 2018, AS menerapkan tarif pengamanan atau safeguard pada impor mesin cuci sebesar 20 persen dan sel surya sebesar 30 persen. “Meskipun sebagian besar impor ini tidak berasal dari Tiongkok, kebijakan AS ini memperjelas bahwa dominasi Tiongkok dalam rantai pasokan global menjadi perhatian,” ujarnya, Minggu (20/10).

Dia menjelaskan, Donald Trump juga mengumumkan pengenaan tarif 25 persen pada impor baja dan 10 persen pada aluminium dari sejumlah negara, termasuk Tiongkok pada Maret 2018. Kebijakan itu ditanggapi Tiongkok dengan menaikkan tarif untuk produk daging babi dan skrap aluminium hingga 25 persen. Tiongkok juga memberlakukan tarif 15 persen untuk 120 komoditas AS lainnya, mulai dari almond hingga apel.

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Selasa, 24 November 2020 12:12

Penerimaan Pajak Jauh dari Target

BALIKPAPAN - Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kalimantan…

Selasa, 24 November 2020 10:32

Indonesia Masih Butuh Batu Bara Hingga 2040

Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan,…

Selasa, 24 November 2020 09:41

Andi M Gamal Ganesha, Antara Bisnis Kopi dan Edukasi

Kini marak kafe atau tempat nongkrong yang menyediakan kopi sebagai…

Selasa, 24 November 2020 09:40

Kuliahnya Desain Interior, Kini Fokus Kembangkan Roastery

DENGAN bekal ilmu desain interior saat kuliah dulu, Andi M…

Senin, 23 November 2020 21:29

Perkuat Maxi Yamaha Series, Varian Baru All New NMAX 155 Connected Resmi Meluncur

Jakarta – Tak pernah berhenti berinovasi untuk menjawab kebutuhan mobilitas…

Senin, 23 November 2020 11:12

Tahun Depan Siapkan Pembiayaan Perumahaan Rp 30 T

JAKARTA- Pemerintah terus melanjutkan program skema penyediaan rumah terjangkau untuk…

Senin, 23 November 2020 11:10

Penuhi Target Produksi Migas

BALIKPAPAN- Kinerja hulu migas Kaltim sepanjang tahun ini masih cukup…

Senin, 23 November 2020 11:08

Bunga Kredit Sulit Turun

Keinginan pengusaha kepada perbankan untuk menurunkan bunga kredit tampaknya bertepuk…

Senin, 23 November 2020 09:16

Membangun Usaha di Tengah Pandemi, Tawarkan Nuansa Alam Dipadu Industrial

Membangun usaha di tengah pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) bukan…

Sabtu, 21 November 2020 13:35

Melawan Tantangan Industri Sawit

Tekanan kepada industri kelapa sawit terus berdatangan. Belum selesai dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers