MANAGED BY:
SABTU
16 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 18 Oktober 2019 12:05
Dibalik OTT KPK di Samarinda dan Bontang
Begini Praktik Curang yang Dilakukan Kontraktor untuk Menangkan Tender

Kontraktor Rutin Setor “Gaji” ke PPK, Sudah Habis Rp 630 Juta, Kiriman Uang sebelum Pengumuman Pemenang Lelang

Salah satu proyek yang pernah digarap oleh kontraktor yang terduga ditangkap KPK.

PROKAL.CO, BONTANG-Operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Samarinda dan Bontang pada Selasa (15/10), membuka praktik curang pengaturan pengadaan barang dan jasa di provinsi ini. Khususnya pengaturan pemenang lelang proyek pemeliharaan jalan. Gratifikasi “lahan basah” itu menyeret pemborong dan aparatur sipil negara (ASN) sebagai tersangka.

Yakni Hartoyo (HTY) selaku Direktur PT Harlis Tata Tahta (HTT). Serta Refly Tuddy Tangkere (RTU) selaku Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XII Balikpapan dan Andi Tejo Sukmono (ATS ) selaku Pejabat Pembuat Komitmen di Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional XII Balikpapan.

Ketiganya diduga bermufakat jahat terkait pekerjaan preservasi jalan di Sp 3 Lempake (Samarinda)-Sp 3 Sambera-Santan-Bontang-dalam Kota Bontang-Sangatta (Kutim) dengan anggaran tahun jamak 2018-2019. Nilai kontraknya sebesar Rp 155,5 miliar. Dalam proses pengadaan proyek, Hartoyo diduga memiliki kesepakatan untuk memberikan commitment fee kepada Refly Tuddy Tangkere dan Andi Tejo Sukmono.

Commitment fee yang diduga disepakati adalah sebesar total 6,5 persen dari nilai kontrak setelah dikurangi pajak. Refly diduga menerima uang tunai dari Hartoyo sebanyak delapan kali. Dengan besaran masing-masing pemberian uang sekitar Rp 200-300 juta. Adapun jumlah total uang sekitar Rp 2,1 miliar terkait pembagian proyek-proyek yang diterima Hartoyo.

Sementara Andi Tejo, diduga menerima setoran uang dari Hartoyo dalam bentuk transfer setiap bulan melalui rekening atas nama berinisial BSA. Rekening tersebut diduga sengaja dibuat untuk digunakan menerima setoran uang dari Hartoyo.

Andi Tejo juga menguasai buku tabungan dan kartu ATM rekening tersebut. Serta mendaftarkan nomor teleponnya sebagai akun SMS banking. Rekening tersebut dibuka pada 3 Agustus 2019 dan menerima transfer dana pertama kali dari Hartoyo pada 28 Agustus 2019.

Transfer dana itu masuk sebelum PT HTT diumumkan sebagai pemenang lelang pekerjaan pada 14 September 2019 dan menandatangani kontrak pada 26 September 2019. Rekening milik Andi Tejo menerima transfer uang dari Hartoyo dengan nilai total Rp 1,59 miliar. Serta, telah digunakan untuk kepentingan pribadinya sebesar Rp 630 juta.

Selain itu, Andi Tejo beberapa kali menerima pemberian uang tunai dari Hartoyo senilai total Rp 3,25 miliar. Uang yang diterima Andi Tejo dari Hartoyo salah satunya merupakan sebagai pemberian “gaji” sebagai PPK proyek pekerjaan yang dimenangkan PT HTT. “Gaji” tersebut diberikan kepada Andi Tejo sebesar Rp 250 juta setiap kali ada pencairan uang pembayaran proyek kepada PT HTT.

Setiap pengeluaran PT HTT untuk gaji Andi Tejo, dicatat oleh ROS selaku staf keuangan PT HTT dalam laporan perusahaan. Diketahui, PT HTT berkantor pusat di Bontang. Dari penelusuran Kaltim Post, orang yang turut diamankan di Bontang dengan inisial LSY adalah istri Hartoyo.

“Ia benar. Lsy itu istri Hty (Hartoyo),” kata salah seorang kerabat Hartoyo yang meminta namanya tak dipublikasikan. Berdasarkan paparan narasumber tersebut, Hartoyo juga memiliki kedekatan dengan salah satu pejabat di Pemprov Kaltim. Sebab itu, beberapa proyek pengaspalan di provinsi selalu dimenangkannya.

“Hubungan itu sudah dekat sejak dulu,” ucapnya. Sementara itu, dikonfirmasi Kaltim Post, putri Hartoyo berinisial N justru tidak tahu apa-apa. Saat disinggung mengenai kronologis kejadian penangkapan ayahnya.

“Saya saat ini berada di Jawa sudah sepekan. Ada apa ya?” kata N.

Ia memberikan informasi bahwa ibunya, yakni Lsy yang merupakan komisaris PT HTT sedang berada di rumah. Bahkan, komunikasi keduanya baru saja dilakukan sebelum awak media menghubungi N. “Bunda tadi telepon. Kabar beliau baik-baik saja,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (PUPRK) Bontang Bina Antariansyah mengatakan, hingga kini dirinya belum mendapatkan informasi secara detail mengenai titik lokasi pengerjaan jalan yang menjadi temuan KPK itu. Hanya dipastikan menyasar jalan nasional.

Diketahui, jalan nasional di Bontang melingkupi Jalan Letjen S Parman, Brigjen Katamso, Bhayangkara, MT Haryono, R Suprapto, hingga Mayor Jenderal DI Panjaitan. Total panjang dari jalan ini mencapai 7 kilometer. Menurutnya, rencana pengerjaan ini dimulai November mendatang. “Tetapi informasi yang saya peroleh yang dikerjakan hanya 2 kilometer. (Hanya) sepanjang itu karena keterbatasan anggaran. Pengerjaan ini menyasar dua lajur,” kata Bina.

Dijelaskan dia, proyek ini bersumber dari APBN. Berdasarkan ketentuan, Pemkot Bontang tidak diperkenankan untuk melakukan overlay di jalan nasional. Wewenang pemerintah daerah ialah hanya melakukan pemeliharaan. “Jadi kalau ada lubang ditambal sedikit itu bisa. Tetapi status jalan nasional ialah tanggung jawab pemerintah pusat,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan Kaltim Post, kondisi jalan di sejumlah titik mengalami kerusakan. Kerusakan terparah berada di Jalan Letjen S Parman dan Brigjen Katamso. Kondisi jalan tersebut ambles. Selain itu, akses di simpang empat RS Amalia juga tidak nyaman. Struktur jalan bergelombang. (*/ak/riz2/k15)

 

OTT Korupsi Proyek Jalan di Kaltim

 

• KPK melakukan serangkaian OTT di Samarinda, Bontang, dan Jakarta pada 15 Oktober 2019 terkait pengadaan proyek jalan nasional di Kaltim tahun 2018-2019.

• Setelah mendapatkan informasi terkait adanya transaksi penerimaan uang melalui mobile banking, tim langsung bergerak ke tempat ATS (Andi Tejo Sukmono), pejabat pembuat komitmen (PPK) di Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Wilayah II Kaltim di Samarinda.

• Tim mengamankan ATS di kantornya di Samarinda pukul 13.30 Wita.

• Tim kemudian membawa ATS ke rumahnya untuk mengamankan barang bukti berupa kartu ATM beserta buku tabungan.

• Secara paralel, tim lain menangkap HTY (Hartoyo), direktur PT HTT di kantornya di Bontang pukul 13.30 Wita bersama ROS (Rosiani), staf keuangan PT HTT dan APR (Aprilia Rahmadani).

• Tidak lama setelah itu, pukul 14.30 Wita, tim juga mengamankan LSY (Lis Isyana), komisaris PT HTT dan BST (Budi Santoso), bendahara lapangan PT Budi Bakti Prima di kantornya.

• Bersamaan dengan itu, tim lain mengamankan SBU (Setia Budi Utomo), pimpinan Cabang Kaltim PT Budi Bakti Prima di kantornya di Jalan Teuku Umar, Samarinda.

• Tim mendapatkan informasi bahwa RTT (Refly Tuddy Tangkere), kepala BPJN XII Balikpapan sedang berada di Jakarta dan langsung menghubungi tim untuk mengamankan RTT sekitar pukul 19.00 WIB di kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

• Tujuh orang diamankan di Samarinda dan Bontang kemudian dibawa ke Markas Polda Kaltim untuk dilakukan pemeriksaan awal.

• Pada Rabu (16/10) pagi, tim membawa ketujuh orang tersebut ke Gedung Merah Putih KPK untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

 

 

Ungkap Aliran Dana

 

? PT HTT milik Hartoyo adalah pemenang lelang pekerjaan preservasi, rekonstruksi SP 3 Lempake–SP 3 Sambera-Santan-Bontang-dalam Kota Bontang-Sangatta dengan anggaran tahun jamak 2018-2019. Nilai kontraknya adalah sebesar Rp 155,5 miliar.

? Dalam proses pengadaan proyek, Hartoyo diduga memiliki kesepakatan untuk memberikan commitment fee kepada Refly Tuddy Tangkere dan Andi Tejo Sukmono.

? Commitment fee yang diduga disepakati sebesar 6,5 persen dari nilai kontrak setelah dikurangi pajak.

? Commitment fee tersebut diduga diterima Refly Tuddy Tangkere dan Andi Tejo Sukmono melalui setoran uang setiap bulan dari Hartoyo baik secara tunai maupun transfer.

? Refly Tuddy Tangkere diduga menerima uang tunai dari Hartoyo sebanyak delapan kali. Dengan besaran masing-masing pemberian uang sekitar Rp 200-300 juta. Dengan jumlah total sekitar Rp 2,1 miliar terkait dengan pembagian proyek-proyek yang diterima oleh Hartoyo.

? Andi Tejo Sukmono diduga menerima setoran uang dari Hartoyo dalam bentuk transfer setiap bulan melalui rekening atas nama BSA. Rekening tersebut diduga sengaja dibuat untuk digunakan Andi Tejo Sukmono menerima setoran uang dari Hartoyo.

? Andi Tejo Sukmono juga menguasai buku tabungan dan kartu ATM rekening tersebut serta mendaftarkan nomor teleponnya sebagai akun SMS banking.

? Rekening tersebut dibuka pada 3 Agustus 2019 dan menerima transfer dana pertama kali dari Hartoyo pada 28 Agustus 2019. Atau sebelum PT Harlis Tata Tahta diumumkan sebagai pemenang lelang pekerjaan pada 14 September 2019 dan menandatangani kontrak pada 26 September 2019.

? Rekening tersebut menerima transfer uang dari Hartoyo dengan nilai total Rp 1,59 miliar dan telah digunakan untuk kepentingan pribadi Andi Tejo Sukmono sebesar Rp 630 juta. Selain itu, Andi Tejo Sukmono juga beberapa kali menerima pemberian uang tunai dari Hartoyo sebesar total Rp 3,25 miliar.

? Uang yang diterima oleh Andi Tejo Sukmono dari Hartoyo salah satunya merupakan sebagai pemberian “gaji” sebagai PPK proyek pekerjaan yang dimenangkan oleh PT Harlis Tata Tahta.

? “Gaji” tersebut diberikan kepada Andi Tejo Sukmono sebesar Rp 250 juta setiap kali ada pencairan uang pembayaran proyek kepada PT Harlis Tata Tahta. Setiap pengeluaran PT Harlis Tata Tahta untuk gaji PPK, dicatat oleh ROS.

 

Tersangka:

• RTT (Refly Tuddy Tangkere)

• ATS (Andi Tejo Sukmono)

• HTY (Hartoyo)

 

Turut Diamankan

• LSY (Lis Isyana), komisaris PT HTT

• SBU (Setia Budi Utomo), pimpinan Cabang Kaltim PT Budi Bakti Prima

• BST (Budi Santoso), bendahara lapangan PT Budi Bakti Prima

• ROS (Rosiani), staf keuangan PT HTT

• APR (Aprilia Rahmadani)

 

Sumber: KPK


BACA JUGA

Jumat, 15 November 2019 13:15

  Kepercayaan Publik ke KPK Menurun, Presiden Harus Turun Tangan  …

Jumat, 15 November 2019 13:12

Tahun Depan, Ngga Lulus Sertifikasi, Ngga Bisa Nikah

JAKARTA– Bagi anda yang berencana menikah tahun depan, bersiaplah untuk…

Jumat, 15 November 2019 09:55

Gempa Membuat Masyarakat Bali Panik

JAKARTA– Warga penghuni pulau Bali sebelah utara dan barat dikagetkan…

Jumat, 15 November 2019 09:48

Kementerian Inilah yang Pindah Pertama Kali ke IKN di Kaltim

 JAKARTA- Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menjanjikan bahwa kementeriannya akan menjadi…

Jumat, 15 November 2019 09:44

Teroris Medan Terpapar Istri yang Intens Temui Napiter

JAKARTA— Densus 88 Anti Teror menemukan fakta baru terkait RMN,…

Kamis, 14 November 2019 12:38

Otak Penyulingan Minyak Ilegal Masih Berkeliaran

Memanfaatkan lahan kosong dan tak jauh dari perusahaan tambang, lokasi…

Kamis, 14 November 2019 12:26
Sidang Kayat, Hakim PN Balikpapan yang di-OTT KPK

Hakim Non Aktif Itu Tolak Sertifikat Tanah, Maunya Uang Tunai

SAMARINDA–Lahan seluas 7,6 hektare di Km 8, Transad, Balikpapan Utara,…

Kamis, 14 November 2019 12:19

Terapkan Nontunai di Tol Balsam, Lima Bank Digandeng

BALIKPAPAN–Gerbang Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) dipastikan dilayani tanpa petugas. Setiap…

Kamis, 14 November 2019 12:05

Venesia, Kota Terapung yang Makin Tenggelam

Acqua alta kembali menghanyutkan seluruh permukaan Kota Venesia, Italia, Selasa…

Kamis, 14 November 2019 11:19

ALAMAK..!! Hutang BPJS Kesehatan Kian Menumpuk

JAKARTA – Utang BPJS Kesehatan kepada rumah sakit tak tanggung-tanggun.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*