MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Kamis, 17 Oktober 2019 11:01
Curigai Fee Vonis Bebas Tak Cuma ke Kayat
Kayat (kiri) saat diamankan beberapa waktu lalu.

PROKAL.CO, SAMARINDA–Bukti penyadapan panggilan seluler jadi “juru selamat” KPK ketika keterangan kontradiktif dilontarkan Rosa Isabella. Meski bertentangan, pokrol dari firma hukum Jodi itu kukuh dengan kesaksiannya hingga sidang lanjutan kasus suap hakim usai bergulir di Pengadilan Tipikor Samarinda.

Rabu (16/10), perempuan yang turut diciduk dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Pengadilan Negeri (PN) Balikpapan pada 3 Mei 2019, dihadirkan sebagai saksi oleh dua jaksa penuntut umum (JPU) KPK Arief Suhermanto dan Nur Haris Arhadi. Selain Rosa, ada tiga saksi lain yang dihadirkan untuk terdakwa Kayat (hakim non-aktif PN Balikpapan), Sudarman (pengusaha), dan Jonson Siburian (pengacara Sudarman).

Mereka adalah, Fahrul Azami (panitera di PN Balikpapan), Supriyanto (sekuriti PN Balikpapan), dan Piratno (kenalan Sudarman). Rosa diperiksa selepas tiga saksi lainnya usai memberikan kesaksian. Sidang bergulir sekitar pukul 09.30 Wita dan baru rampung tepat Pukul 18.00 Wita.

Di depan majelis hakim yang dipimpin Agung Sulistiyono bersama Abdul Rahman Karim dan Arwin Kusumanta, Rosa menuturkan tak tahu-menahu ihwal uang komitmen atas vonis bebas ketiga kliennya; Sudarman, Kamaluddin, dan Khairani dari kasus pemalsuan dokumen lahan seluas seluas 65.449 meter persegi di Jalan Sepinggan Baru, RT 57, Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan.

Dia mengaku hanya membantu Jonson. Untuk mendampingi ketiga kliennya itu menjalani proses hukum dari kasus yang dipimpin Kayat sebagai ketua majelis hakim bersama Darwis dan Verra Lynda Lihawa medio Oktober-Desember 2018 lalu. Namun, dua jaksa KPK segera memutar rekaman percakapan udara antara Rosa dan Jonson.

Dalam rekaman itu, Rosa menyebutkan Kayat enggan menerima sertifikat lahan milik Sudarman yang diajukan pihaknya sebagai kompensasi untuk vonis bebas tersebut.

“Kenapa dalam rekaman ini, saksi (Rosa) menyebut Kayat enggak mau menerima sertifikat tapi keterangan di sidang justru mengaku tak tahu ihwal kompensasi ini,” tanya JPU Arief Suhermanto yang segera dijawab Rosa, “Saya enggak tahu soal itu, Pak. Beberapa kali Pak Kayat menelpon selalu cari bapak (Jonson Siburian),”. Rosa mengaku, dia hanya diminta menyerahkan sertifikat lahan tersebut ke majelis hakim.

Rekaman hasil penyadapan medio November 2018 yang berisi percakapan dua pengacara satu firma itu kembali digaungkan seantero ruang sidang Hatta Ali Pengadilan Tipikor Samarinda. Kali ini, fokus jaksa KPK itu, tertuju pada isi percakapan Rosa yang mengaku bingung lantaran Kayat selain menolak sertifikat itu, pun demikian soal dicicil. “Di sini (rekaman seluler), saksi menerangkan jika terdakwa (Kayat) maunya tunai, menolak sertifikat atau dicicil. Benar enggak tahu berapa nominal kompensasi itu?” lanjut Arief mencecar pertanyaan.

Rosa, sekali lagi, menegaskan tak mengetahui besaran nominal kompensasi untuk mendapat vonis bebas. Begitu pun tentang kapan munculnya komitmen uang, sebelum atau sesudah tuntutan diajukan Jaksa Mirhan dari Kejari Balikpapan pada 13 Desember 2018. Total ada enam rekaman penyadapan dalam kurun November 2018-Mei 2019 yang dibeber jaksa KPK. Bukti lain yang diungkap berupa video OTT KPK pada 3 Mei 2019.

Dari video berdurasi sekitar empat menit itu, terlihat Rosa, Jonson, Kayat yang diciduk komisi antirasuah di kawasan PN Balikpapan dan langsung diamankan ke Polda Kaltim. Rosa tertangkap ketika usai menaruh uang senilai Rp 99 juta dalam plastik hitam ke mobil sport utility vehicle (SUV) silver milik Kayat. Jonson didapati tengah menunggu di mobil lain dan Kayat berada di pos sekuriti.

Sebelum kejadian itu, Rosa menjelaskan, dia bersama Jonson menghubungi Sudarman untuk bertemu di salah satu rumah makan di kawasan Km 13 Balikpapan. “Mau bahas soal kasasi perkara pemalsuan itu. Mau berangkat ke Jakarta,” tuturnya.

Di rumah makan itu, Sudarman menyerahkan plastik hitam yang diketahui berisi uang ke Jonson dan diserahkan ke dirinya untuk disimpan dan digunakan untuk biaya akomodasi ke Jakarta.

Tumpukan uang senilai Rp 200 juta itu pun diketahuinya merupakan honorarium mereka selama mendampingi Sudarman, Kamaluddin, dan Khairani selama proses hukum bergulir. Satu jam lebih di sana, dia bersama Jonson berpisah dengan Sudarman. Mereka bergegas ke kantor firma hukumnya, sesampainya di lokasi Jonson meminta dia membagi dua uang itu.

Sebesar Rp 100 juta disimpan dan sisanya dibawa dalam kresek itu. “Sebelumnya sudah saya ambil Rp 1 juta untuk bayar makan. Sisa Rp 99 juta dalam plastik itu,” tuturnya. Mereka pun bergegas ke PN Balikpapan. Kala itu, waktu masih menunjukkan sekitar Pukul 14.00 Wita, Rosa pun langsung bersidang gugatan perdata yang dipegang firma hukumnya. Dua jam berselang OTT itu terjadi.

Keterangan mengejutkan lain terungkap ketika buku kas firma hukumnya dibeber di persidangan. Dari pembukuan itu tertulis Rp 100 juta untuk Hakim Verra Lynda Lihawa. Disinggung soal ini, Rosa mengaku tak mengetahui pasti uang itu ditransfer ke anggota majelis hakim tersebut.

“Saya hanya diminta mengirim, untuk pelayanan apa gitu. Enggak tahu juga,” singkatnya. Rosa dan Jumaiyah, istri Sudarman, pun terungkap menyerahkan fulus sebesar Rp 15 juta ketika mengurus pembebasan Sudarman selepas vonis bebas di PN Balikpapan pada 17 Desember 2019. Uang itu diserahkan keduanya tiga kali berangsur ke Fahrul Azami selaku panitera pengganti, yang mendampingi majelis hakim kasus pemalsuan itu masing-masing ketika penyetoran itu sebesar Rp 5 juta.

Alasannya, untuk biaya administrasi. Semula, dia dan Maya, sapaan Jumaiyah, hanya memiliki uang tunai sebesar Rp 5 juta. Setelah berkoordinasi dengan Jonson, barulah uang itu diberikan.

Diketahui, ketika OTT itu, Kayat, Rosa, dan Jonson Siburian ditangkap di sekitar PN Balikpapan. Fahrul Azami sempat disanggongi di kediamannya dan turut diangkut penyidik KPK.

Sementara Sudarman diadang sebelum berangkat ke Jakarta di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Selang beberapa hari, Rosa dan Fahrul dibebaskan. Ketika Fahrul bersaksi, dia mengaku memang menerima uang yang disebutkan Rosa itu dan kini fulus itu disita KPK.

Juru tulis di PN Balikpapan itu mengaku hanya diperintah Kayat untuk mencetak salinan putusan. “Dua kali, yang pertama kata Pak Kayat salah,” ucapnya. Yang diketahuinya, majelis hakim sempat bertemu dengan Jumaiyah dan Rosa setelah tuntutan. Begitu pun soal uang, setahunya, majelis hakim itu sudah menerima meski tak tahu berapa nominalnya. “Setahu saya sudah,” tuturnya.

Kayat pun langsung menyanggah keterangan itu dan meminta majelis hakim yang digawangi Agung Sulistiyono itu untuk mengonfrontasi keterangan itu. Apalagi, Jumaiyah hadir dalam ruang sidang menjenguk suaminya, Sudarman. Dikonfrontasi, Jumaiyah membantah ada pertemuan setelah tuntutan dibacakan.

Memang, dia pernah sekali bertemu Kayat ketika perkara yang membelit suaminya itu perdana bergulir. “Tapi tak ada pembicaraan apapun karena Kayat menolak bertemu,” singkatnya.

 

Bakal Panggil Hakim Verra

Nama hakim Verra Lynda Lihiwa menggaung dua pekan terakhir. Kayat, ketika bersaksi untuk Sudarman dan Jonson Siburian dua pekan lalu, mengaku semua urusan uang dari kasus pemalsuan berkas tersebut menyerahkan ke Verra. Dalam sidang yang digelar kemarin, namanya kembali menggema selepas pembukuan firma hukum Jonson Siburian itu dibeber.

Jaksa Arief Suhermanto yang dikonfirmasi media ini mengaku nama hakim perempuan itu masuk dalam berkas acara pemeriksaan ketiga terdakwa dugaan suap hakim ini. “Pasti dipanggil,” tegasnya. Kapan pemanggilan itu, dia belum bisa memastikan. Bisa di sidang selanjutnya atau pada sidang lainnya mengingat dari perkara ini terdapat 39 saksi. “Tunggu saja,” tutupnya. (*/ryu/riz/k15)


BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 23:00

Banjir Samarinda Cuma Komoditas Politik

SAMARINDA-Gaya komunikasi Wali Kota Syaharie Jaang dalam menyikapi banjir di…

Jumat, 17 Januari 2020 22:00

KLHK Investigasi Tambang Ilegal di IKN

BALIKPAPAN–Kegiatan pertambangan di sekitar lokasi calon ibu kota negara (IKN)…

Jumat, 17 Januari 2020 21:00

Tahu Sumedang yang Tiada Henti Diuji, Efisiensi setelah Tol Beroperasi, Omzet Tersisa 25 Persen

Setelah Bandara APT Pranoto Samarinda, kini Tol Balikpapan-Samarinda yang menggerus…

Jumat, 17 Januari 2020 14:31
Minta Polri Usut Tuntas Masalah ASABRI

Direksi ASABRI Bersikeras Bantah Terjadi Korupsi

JAKARTA– Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyambangi…

Jumat, 17 Januari 2020 11:51
Dari Penerbangan Perdana Susi Air Samarinda-Maratua

Selamat Tinggal Perjalanan Melelahkan ke Surga Pelepas Penat

Pulau Maratua kini hanya berjarak 1 jam 20 menit dari…

Jumat, 17 Januari 2020 11:42

Titik Longsor Bertambah, Penghuni Kuburan Bisa Keluar

Meski hujan yang mengguyur Kota Tepian tengah mereda. Namun, bahaya…

Jumat, 17 Januari 2020 11:26

Sudah Tidak Ada WNI yang Ditawan Abu Sayyaf

JAKARTA - Pemerintah Filipina memenuhi janjinya kepada pemerintah Indonesia. Melalui…

Jumat, 17 Januari 2020 11:21

Kasus Jiwasraya, Kejagung Blokir 84 Aset Tanah Tersangka

JAKARTA-- Setelah mengamankan sejumlah mobil mewah dan motor sejak Rabu,…

Jumat, 17 Januari 2020 11:01

DKPP Resmi Berhentikan Wahyu Setiawan

JAKARTA– Wahyu Setiawan secara resmi diberhentikan secara tetap sebagai komisioner…

Kamis, 16 Januari 2020 16:34
Panti Asuhan Baitul Walad yang Terus Berjuang di Tengah Banjir

Bisa Bermalam di Musala, Keluar Biaya dan Tenaga Ekstra

Banjir sudah sangat akrab dengan panti asuhan ini. Januari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers