MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Senin, 14 Oktober 2019 12:58
Invasi Turki di Wilayah Kurdi Bisa Lipat Gandakan Jumlah Pengungsi
Pengungsi dari Syria

PROKAL.CO, DAMASKUS– Pelan tapi pasti, militer Turki memperluas area kekuasaannya di wilayah Kurdi. Kemarin (13/19) mereka mengambil alih Kota Tal Abyad yang masuk area Kurdi di Syria. Pasukan yang dikirim Presiden Recep Tayyip Erdogan itu berhasil memukul mundur tentara Kurdi yang tergabung dalam Syrian Democratic Forces (SDF). Kini target mereka adalah Kota Ras Al Ain.

”Lebih dari 14 orang penduduk sipil terbunuh dalam pertempuran.” Demikian bunyi pernyataan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) tentang konflik Sabtu (12/10) seperti dikutip Agence France-Presse kemarin. Artinya, lebih dari 50 nyawa warga sipil melayang sejak Turki menyerang Kurdi pada Rabu (9/10).

SOHR menambahkan bahwa kelompok pro-Turki mengeksekusi sembilan warga sipil di dekat Tal Abyad pada Sabtu lalu. Di antaranya adalah pejabat partai Kurdi dan sopirnya. Di pihak Turki, 18 penduduk sipil tewas akibat roket-roket Kurdi.

Turki berusaha menghalau SDF sampai sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Itu akan berlaku di sepanjang 120 kilometer perbatasan dua negara. SDF harus meninggalkan kawasan itu karena Turki menganggap kelompok tersebut sebagai teroris.

Nanti, setelah perbatasan bersih dari SDF, Ankara bakal menjadikan kawasan itu sebagai zona perlindungan bagi sekitar 3 juta pengungsi Syria. Saat ini mereka berlindung di Turki. Saat perbatasan sudah jatuh ke tangan Turki, para pengungsi tersebut bakal dipindahkan ke zona itu.

Dalam pertempuran Turki melawan SDF di Tal Abyad, pasukan Kurdi terpaksa membiarkan kamp Ain Issa tidak terjaga. Padahal, di kamp itu ada lebih dari 12 ribu orang. Sekitar seribu di antara mereka adalah keluarga personel ISIS. ”Kamp Ain Issa tanpa penjaga. Sekitar 785 anggota keluarga ISIS melarikan diri.” Demikian bunyi pernyataan resmi Kurdi.

Selama ini SDF adalah sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Syria. Mereka membantu memerangi ISIS. Ada lebih dari 12 ribu personel ISIS di perbatasan Syria yang dihuni kaum Kurdi. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu lokasi tepat kamp penampung ISIS.

Keluarga ISIS yang melarikan diri dari Ain Issa itu membuat banyak pihak khawatir. Salah satunya Prancis. ”Tentu kami khawatir dengan apa yang mungkin bakal terjadi. Karena itulah, kami ingin Turki secepatnya mengakhiri intervensinya,” tegas Jubir Pemerintah Prancis Sibeth Ndiaye.

Sebelumnya, Prancis dan Jerman membekukan penjualan senjata ke Turki. Keputusan yang akan dievaluasi lagi itu diambil pasca serangan Ankara ke Syria. Di mata Prancis, invasi Turki tidak bisa dibenarkan. Apalagi, yang mereka serang adalah wilayah yang dihuni Kurdi.

Kanselir Jerman Angela Merkel pun geram. Dia bahkan sampai menelepon Erdogan. Sama dengan Prancis, Jerman ingin Turki menghentikan invasi. Sebab, itu justru bisa memicu ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. Parahnya, hal tersebut juga bisa membangkitkan ISIS. Sayang, suara Merkel tidak diindahkan Erdogan.

Erdogan menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur meski beberapa negara mengancam memberikan sanksi ekonomi. Juga, embargo senjata. Ancaman-ancaman itu tidak membuat Turki berubah pikiran. Pemimpin 65 tahun tersebut juga menolak berdialog dengan Kurdi. ”Kapan Anda menemukan sebuah negara duduk semeja dengan kelompok penebar teror?” tegasnya.

Badan Kemanusiaan PBB OCHA mengungkapkan bahwa akibat operasi Turki itu, sekitar 130 ribu penduduk sipil harus mengungsi. Jubir OCHA Jens Laerke memperkirakan jumlahnya akan naik lebih dari tiga kali lipat jika serangan terus terjadi. Invasi masif Turki di kawasan Kurdi tersebut jelas akan melahirkan krisis kemanusiaan baru di Syria. (sha/c10/hep)

 


BACA JUGA

Rabu, 24 Oktober 2012 08:56

Bimtek bagi Pendata NJOP

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA </strong>&ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*