MANAGED BY:
KAMIS
14 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 11 Oktober 2019 11:42
Problem Masa Lalu Belum Tuntas, Pelanggaran Baru Terus Terjadi

Tanpa Komitmen, Eka Pilih Berjarak dari Pemerintah

PILIHAN: Setelah berdiskusi dengan kolega, Eka Kurniawan memutuskan menolak apresiasi yang diberikan Kemendikbud.

PROKAL.CO, Eka Kurniawan menumpahkan kekecewaannya dengan menolak anugerah dari pemerintah. Dan, memilih menjaga jarak.

Perampasan buku, pelarangan diskusi, hingga pembajakan buku yang merajalela di Indonesia menjadi alasan kuat sastrawan Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. Dia sebenarnya masuk kategori pencipta, pelopor, dan pembaru dalam penganugerahan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) itu. 

Dalam surat elektroniknya kepada Jawa Pos kemarin (10/10), penulis “Cantik Itu Luka” itu menyebutkan akan tetap menjaga jarak dengan pemerintah untuk beberapa waktu. Jalan itu dipilih Eka selama pemerintah tak menunjukkan komitmen untuk menghadirkan rasa aman serta jaminan perlindungan kerja-kerja kebudayaan dan intelektual.

"Saya mungkin jenis penulis yang jarang bicara. Kekecewaan atau penolakan saya atas sesuatu biasanya saya sampaikan langsung dan jarang menyampaikannya secara terbuka," tulis penulis yang masuk dalam longlist The Man Booker International Prize 2016 itu.

Eka berkata, sebelum menolak hadir dalam Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 kemarin sudah berdiskusi dengan beberapa orang. Setelah menerima berbagai masukan, selain juga perenungan, akhirnya keputusan Eka kian bulat untuk menolak.

Penolakan oleh Eka atas anugerah itu sudah dilakukan Minggu (6/10) lalu. Dari pihak pemberi anugerah tak ada pernyataan apapun atau upaya melobi ulang Eka untuk mau menerima anugerah itu.

"Sebetulnya memang gampang ditebak (sikap pemberi anugerah). Memang begitulah sikap umum terhadap problem-problem kebudayaan (di Indonesia)," tambah Eka.

Nah, penolakan ini juga menjadi wujud nyata kekecewaan Eka kepada pemerintah. Belakangan komitmen pemerintah terhadap perlindungan hak asasi manusia (HAM) juga mengkhawatirkan. "Problem masa lalu belum tuntas dan pelanggaran-pelanggaran baru terus terjadi," ucap Eka.

Bapak satu anak itu berdoa pemerintah Indonesia suatu saat kelak punya strategi memajukan kebudayaan Indonesia. Bisa saja dimulai dengan memastikan tak ada lagi perampasan buku, pembubaran diskusi, dan pembajakan buku.

"Pemerintah bersedia membuka kasus HAM masa lalu, termasuk hilangnya Wiji Thukul. Itu akan menjadi inisiatif baik di masa depan agar tak lagi terulang," ujar Eka lagi.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menghargai keputusan Eka yang menolak penghargaan tersebut. "Bahwa kemudian Mas Eka tidak terima, ya kami tidak bisa memaksakan. Itu haknya beliau," terang Hilmar dalam acara Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi di Istora Senayan kemarin.

Menurut dia, alasan Eka menolak penghargaan tersebut juga masuk akal. Dari catatan Eka yang viral di media sosial tersebut, Hilmar justru berterima kasih. Mengingatkan pemerintah bahwa masih banyak masalah kebebasan berekspresi yang belum tuntas. Termasuk kasus hilangnya penyair Wiji Thukul tahun 1997.

Sebenarnya, landasan mengenai budaya sudah diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2017. Meski begitu, Hilmar mengakui tidak serta-merta langsung dapat menyelesaikan isu kasus kebebasan berekspresi.

"Tapi, paling tidak, sekarang kita punya landasan hukum sangat jelas bahwa kebebasan berekspresi ini sejatinya memang dilindungi," kata penulis buku Kisah Tiga Patung tersebut.

Pada acara tadi malam, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud memberikan anugerah kebudayaan dan penghargaan maestro seni tradisi kepada 59 orang yang terbagi dalam delapan kategori. Yakni, Gelar Tanda Kehormatan Presiden RI yang terdiri dari Bintang Mahaputera, Bintang Budaya Parama Dharma, dan Satyalancana Kebudayaan. Kemudian, kategori anak dan remaja, pencipta dan pelopor, pelestari, maestro seni tradisi, pemerintah daerah, komunitas, serta perorangan asing. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Mendikbud Muhadjir Effendy bersama Hilmar Farid. (dra/han/ttg/dwi/k16)

 


BACA JUGA

Rabu, 13 November 2019 22:56

Kasus Pencurian Minyak Mentah, Indikasi Permainan Perusahaan Legal

Satu demi satu perkara pencurian minyak mentah terbongkar. Peristiwa Sangasanga,…

Rabu, 13 November 2019 22:47

Masih Ada Perbaikan, Operasional Tol Balsam Molor Terus

BALIKPAPAN – Setelah beberapa kali molor, Tol Balikpapan–Samarinda (Balsam) bakal…

Rabu, 13 November 2019 21:18

Lokasi ke 6 Penyulingan Minyak Ilegal di Samarinda Ditemukan, tapi Tak Ada Tersangka yang Diamankan

PROKAL.CO, SAMARINDA - Lokasi penyulingan minyak ilegal yang keenam di…

Rabu, 13 November 2019 12:20

Formasi CPNS Bontang dan Paser Belum Diunggah

BALIKPAPAN – Pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2019 resmi…

Rabu, 13 November 2019 12:13
Mengunjungi Kampung Penekan Emisi di Hidung Kalimantan (2-Habis)

Jaga Alam, agar Danau Tetap Memukau

Kejanggalan alam yang indah, membawa nama kampung ini makin kesohor.…

Rabu, 13 November 2019 12:03

Formasi Penjaga Tahanan Paling Banyak Peminat

JAKARTA – Antusias masyarakat mengikut tes calon pegawai negeri sipil…

Rabu, 13 November 2019 12:01

Infrastruktur 5 Tahun Butuh Rp 2000 Triliun

JAKARTA – Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyebut butuh uang Rp.…

Rabu, 13 November 2019 11:58

Hujan-Angin, Waspada Poros Balikpapan-Samarinda

Musim penghujan tiba. Pengendara yang biasa melintasi poros Balikpapan-Samarinda wajib…

Rabu, 13 November 2019 11:25

Markas Polrestabes Medan Diteror Bom Bunuh Diri, 4 Luka-Luka, Tubuh Pelaku Hancur

MEDAN - Markas Polrestabes Medan di Jalan HM Said No.1…

Rabu, 13 November 2019 11:09

Si Kecil Pedas yang Jadi Pemicu Inflasi di Kaltim

SAMARINDA – Dalam sepuluh tahun terakhir, komoditas cabai berkontribusi cukup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*