MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Kamis, 10 Oktober 2019 13:05
Jangan Terlena IKN, Pikirkan Hilirisasi
Industri kelapa sawit di Kaltim yang tak kunjung hilirisasi.

PROKAL.CO, Bayang-bayang keterpurukan harga batu bara menghantui pertumbuhan ekonomi Kaltim. Pemerintah daerah diharap mampu mencari jalan keluar dari ketergantungan komoditas. Di lain sisi tidak boleh hanya berharap kepada ibu kota negara (IKN).

 

BALIKPAPAN - Memasuki kuartal terakhir tahun ini, harga emas hitam memang masih menunjukkan tren penurunan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, harga batu bara acuan (HBA) pada Oktober berada di posisi USD 64,8 atau setara Rp 907 ribu per ton (kurs Rp 14.000 per dolar). Angka ini merosot 1,5 persen ketimbang September lalu di angka USD 65,79 per ton.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, harga batu bara mulai awal tahun terus merosot. Tak hanya batu bara, crude palm oil (CPO) juga mengikuti. Termasuk harga minyak dunia yang masih fluktuatif. Komoditas itu semuanya menjadi andalan Kaltim. “Bayang-bayang ekonomi turun bisa saja terjadi,” tuturnya, Rabu (9/10).

Ia menjelaskan, Kaltim merupakan potret ekspor Indonesia. Dengan komoditas batu bara menjadi andalan. Posisi sekarang ekspor turun dan harga batu bara anjlok. Potensi perlambatan ekonomi bisa saja muncul tahun ini. “Kaltim harus bergerak cepat. Jangan terus mengandalkan komoditas ekspor. Di mana harga selalu fluktuatif karena kondisi ekonomi global yang masih belum ada kejelasan,” tuturnya.

Apalagi, sambungnya, tujuan ekspor utama Tiongkok sudah mulai tidak mengandalkan batu bara. Tiongkok dan Jepang ke depannya bakal menggunakan energi terbarukan bukan batu bara. Ancaman pasar ekspor sudah mulai menghantui.

Ia menjelaskan, dalam 1-2 tahun ini langkah antisipasi sudah harus dilakukan. Jangan hanya mengandalkan batu bara. Salah satu jalan, kembangkan industri lain, seperti manufaktur. Di Kaltim belum ada. Kemudian, sektor turunan dari komoditas. Nilai jualnya bakal meningkat. “Kalau mengandalkan produk mentah, sangat bergantung pada harga acuan batu bara. Konsumsi dalam negeri paling mentok saat ini masih ke PLN saja,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengimbau agar Kaltim tidak berharap besar pada proyek perpindahan ibu kota negara (IKN). Sebab pembangunan IKN masih lama. Lima tahun ke depan mungkin baru terlihat. Dan apakah, pembangunan nanti berdampak pada daerah. “Lihat di Pulau Jawa, pembangunan yang dijalankan apa ada dampak langsung bagi masyarakat?” selorohnya.

Dia menilai, ini dikarenakan sumber daya manusia banyak tidak memakai orang asli daerah pembangunan. Selain itu, komponen pembangunan kebanyakan sudah jadi. Tidak dibuat lokal. Jadi multiplier effect-nya sangat kurang. Bisa jadi, yang terjadi di Kaltim seperti itu juga. Kemudian, hal itu proyek jangka panjang.

 “Yang perlu dipikirkan, bagaimana mencari yang jangka pendek. Kondisi ekonomi global sedang tak menentu. Jangan dianggap sepele, ancaman bagi ekonomi Kaltim tetap ada jika terus mengandalkan SDA tidak terbarukan,” terangnya. Lebih lanjut, ia menuturkan, Kaltim bisa saja menawarkan diri kepada investor. IKN menjadi nilai jual. Mau jualan tentu harus jemput bola.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, Kalimantan tidak bisa mengandalkan konsumsi ataupun ekspor. Pulau Borneo sudah terlalu banyak melakukan ekspor SDA di tengah harga komoditas secara global yang tidak bagus. Sehingga ke depan, akan lebih banyak dibutuhkan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.

Menurut Bappenas dari rata-rata pertumbuhan PDRB (produk domestik regional bruto) provinsi tahun 2015-2018, pertumbuhan ekonomi di wilayah Kaltim paling rendah dibandingkan daerah lainnya di Kalimantan. Pertumbuhan ekonomi Kaltim jauh di bawah Kalimantan Tengah sebesar 6 persen, Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara pada kisaran 5 persen, dan Kalimantan Selatan di atas 4  persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat hanya berada di angka 2 persen.

Kondisi ini memperlihatkan Kaltim sebagai salah satu provinsi penghasil komoditas ekspor batu bata terbesar se-Indonesia masih tergantung pada penghasilan dari ekspor sumber daya alam mentah. Sehingga ketika terjadi krisis ekonomi global sejak 2015, Kaltim belum bisa mencari pengganti pemasukan dari ekspor batu bara dan minyak bumi.

Bambang berpesan, hal ini harus menjadi pertimbangan dari masing-masing kepala daerah untuk mencari alternatif pemasukan daerah dengan menciptakan industri hilir yang mampu menaikkan nilai komoditas yang akan diekspor, sehingga tidak bergantung pada ekonomi global.

Ia mencontohkan wilayah Sulawesi yang menduduki urutan tertinggi dalam indeks pertumbuhan ekonomi dengan angka hingga mencapai 10 persen selama periode 2015-2018. Menurutnya, Sulawesi sudah berhasil menciptakan industri hilir dalam pengelolaan SDA mereka sehingga menjadi produk yang dapat menaikkan pertumbuhan ekonomi padahal tidak memiliki batu bara dan minyak seperti di Kalimantan.

Contohnya industri nikel di daerah Morowali, Sulawesi Barat, telah berhasil diolah menjadi industri hilir. Hasil pertambahan nikel yang telah diolah menjadi beberapa produk seperti stainless steel memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika dijual di pasaran. “Ini bisa menjadi inspirasi, hasil pertambangan nikel tidak hanya sampai menjadi produk feronikel, namun digandeng  perusahaan swasta untuk diolah menjadi stainless steel,” jelasnya. (aji/ndu/k15) 


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 13:39

Tahun Depan UMP Naik, Hotel Belum Berani Naikkan Tarif

Meski upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK)…

Senin, 21 Oktober 2019 13:38

Courtesy Call dengan Presiden dengan Negara Sahabat, Tawarkan Kereta Hingga BUMN

JAKARTA - Momen courtesy call yang dilaksanakan Presiden Joko Widodo…

Senin, 21 Oktober 2019 11:10

Ketika Anak Kembar SMP Ikut Desain Ibu Kota Republik

Dua anak kembar asal Kota Solok berhasil membuat desain ibukota…

Senin, 21 Oktober 2019 11:09
Penghuni Rumah Dinas Wakil Presiden Berganti

Mufidah Kalla Bagikan Merpati Peliharaan, Ma'ruf Boyongan Bawa Sarung

Jusuf Kalla (JK) dan Kiai Ma’ruf Amin (KMA) menjalani kehidupan…

Senin, 21 Oktober 2019 11:01

Portofolio Calon Menteri Beredar, Ada Said Aqil, Edhy Prabowo hingga Viktor Laiskodat

JAKARTA– Presiden Joko Widodo ingin langsung tancap gas bekerja usai…

Senin, 21 Oktober 2019 10:41

CATAT JANJI JOKOWI, Akan Revisi Puluhan Undang-Undang Yang Hambat Investasi

JAKARTA– Joko Widodo berkomitmen akan bekerja dengan cepat dan memberikan…

Senin, 21 Oktober 2019 10:10

Akhir Tahun Konstruksi Menggeliat

SAMARINDA – Memasuki akhir 2019, kinerja lapangan usaha konstruksi diperkirakan…

Minggu, 20 Oktober 2019 22:10

Bincang dengan BPJS Kesehatan Wilayah Kaltimtengseltara

Alih-alih meraih break even point, BPJS Kesehatan mengaku terus mengalami…

Minggu, 20 Oktober 2019 22:09

KPK Mulai “Lumpuh”

JAKARTA – Berlakunya UU Nomor 19/2019 tentang KPK mulai melumpuhkan…

Minggu, 20 Oktober 2019 22:08

Susunan Kabinet Belum Klir

SEMENTARA itu, penyusunan kabinet diprediksi belum akan rampung dalam waktu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*