MANAGED BY:
KAMIS
30 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13
Indonesia yang Lebih Baik

PROKAL.CO, Oleh Alias Candra

Dosen IAIN Samarinda dan Wakil Sekretaris Bidang Riset, Teknologi dan MSDM PWPM KALTIM

 

TULISAN R. William Liddle, “Marx atau Machiavelli?: Menuju Demokrasi Bermutu di Indonesia dan Amerika Serikat,” serta merta membuat saya teringat dengan mendiang Nurcholish Madjid (Cak Nur). Beberapa kali Cak Nur mengutarakan bahwa para founding fathers, bapak-bapak pendiri negeri ini, banyak terilhami oleh sejarah pembentukan Amerika Serikat.

Cak Nur memberikan contoh Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang ada kemiripan dengan Declaration of Independence. Kita pun memilih Republik sebagai bentuk negara sebagaimana Amerika Serikat. Lambang negara kita adalah elang rajawali, garuda, sebagaimana juga Amerika Serikat menjadikan seekor elang sebagai lambang negaranya. Sistem pemerintahan Indonesia dan Amerika Serikat pun sama, presidensial.

Yang tak kita tiru, masih ujar Cak Nur, adalah federalisme. Tak berarti bahwa perdebatan tentang federalisme tak pernah mengemuka. Bahkan kita sempat, walau sebentar, berada di bawah naungan Republik Indonesia Serikat (27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950).

Tentu saja perjalanan bernegara di Amerika Serikat sangat berbeda dengan di Indonesia. Dalam hal berkonstitusi saja, misalnya. Konstitusi Amerika Serikat sudah diamandemen berulang kali, 27 kali. Amandemen pertama diajukan 13 tahun setelah Declaration of Independence.

Karena, konstitusi harus mampu menjawab tantangan-tantangan baru untuk lebih mengokohkan nilai-nilai inti yang diyakini bersama untuk mencapai tujuan bersama, yakni: Life, Liberty and the Pursuit of Happiness. Konstitusi juga menetapkan kendaraan untuk mencapai tujuan bersama itu. Selain tentu saja membuat rambu-rambu dan tata aturan agar roda pemerintahan bisa berjalan dengan lancar dan akuntabel sehingga memperoleh legitimasi dari rakyat.

Apakah kehidupan bernegara di Amerika Serikat adalah contoh terbaik? Tidak harus mencontoh, tentu saja. Kita bisa belajar banyak dari perjalanan sejarah bangsa-bangsa, namun kita harus menemukan jati diri kita sendiri dan memilih model untuk kita sendiri, sesuai dengan nilai-nilai inti yang kita anut dan lingkungan strategis yang kita hadapi.

APA YANG HARUS KITA PERBUAT?

Menuju Indonesia yang lebih baik, apa yang harus kita perbuat? tantangan terbesar terhadap Indonesia yang lebih baik di masyarakat modern terdiri atas pembagian sumber daya politik yang tidak merata. Secara ideal setiap warga negara memiliki kemampuan yang sama untuk menentukan kebijakan-kebijakan penting yang diambil negaranya.

Setidaknya kalau demokrasi dimaknai sebagai political equality, kesetaraan politik antara semua warga negara. Sayangnya, cita-cita itu sulit diwujudkan di masyarakat-masyarakat ekonomi bersistem kapitalisme pasar (capitalist market economies), baik yang maju seperti Amerika maupun yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Indonesia, negeri zamrud khatulistiwa yang dianugerahi Allah kekayaan alam yang sangat melimpah. Tidak ada negara di dunia yang memiliki kekayaan alam seperti di Indonesia. Itulah mengapa dari dulu Indonesia selalu menjadi incaran para kolonial, baik kolonialisme gaya lama maupun penjajahan gaya baru.

Sementara Indonesia sendiri tidak pernah berdaulat secara ideologis, yang menyebabkan bangsa ini mudah diintervensi bahkan dijajah oleh bangsa lain, dari dulu hingga sekarang. Inilah yang menyebabkan negeri ini tidak memiliki martabat. Dalam istilah martabat terkandung nilai kemuliaan, keadaban, kemandirian, kehormatan, bahkan disegani oleh orang lain. 

Psikologi keterjajahan bangsa ini telah lama mengurat syaraf dari generasi ke generasi. Dalam istilah lain bangsa ini dalam kubangan hegemoni dan intervensi kolonialisme. Strategi mencari jalan keluar dari hegemoni dan imperialisme asing inilah, yang menjadi tugas pertama para cendekiawan Muslim dengan gagasan dan pemikirannya.

Sebab, tugas pertama seorang mukallaf (muslim) menurut Imam Syafi'i adalah memikirkan kemajuan agamanya. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan potensi cendekiawan muslim yang juga melimpah, sudah semestinya Indonesia berdaulat dan bermartabat dari sejak dulu, tetapi faktanya hingga hari ini bangsa ini justru kian terjajah.

Dalam Alquran, kalimat yang paling banyak diulang, yakni sebanyak 31 kali dengan redaksi yang persis sama adalah kalimat yang berkaitan dengan nikmat dan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Allah menekankan, kalimat itu dengan sebuah pertanyaan, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seolah mengindikasikan sebuah sikap yang tidak adanya rasa syukur dalam diri manusia.  Sebab, faktanya kebanyakan manusia tidak mensyukuri nikmat dan anugerah, yang diberikan Allah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.

Ketidaksyukuran manusia kepada Allah direfleksikan dengan pengabaian nilai dan hukum Allah, dalam mengelola bumi dan seluruh kekayaan yang ada di dalamnya terkait dengan bidang ekonomi. Pengabaian itu juga terjadi dalam mengelola manusia dalam pola pikir dan pola sikapnya yang terkait dengan bidang sosial, budaya, politik, hukum, dan pendidikan.

Allah mengingatkan, sekaligus mengancam kaum muslimin yang abai terhadap peringatan dan hukum Allah dalam surah Thahaa: 124, "Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."

Di antara ayat-ayat pertanyaan tentang kenikmatan yang diberikan kepada manusia dalam surah Ar-Rahman, Allah membeberkan berbagai fenomena kosmos, sains, dan hubungannya dengan teologi. Adalah penting dan mendesak merealisasikan Islam rahmatan lil'alamin dalam perspektif peradaban bermartabat yang mampu menjadikan bumi Indonesia ini terjaga, maju, dan menyejahterakan rakyat, bukan peradaban sekuler apalagi komunis yang anti terhadap aspek teologis. Akibatnya, kini bumi Indonesia di ambang kerusakan ekologis dan sosiologis. Padahal, Allah telah menata sedemikian sistemis dan sistematis.

Bahkan, Allah mengingatkan dalam surah al-A'raaf: 85, "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman."

Inilah karakteristik epistemologi Islam yang mengintegrasikan antara fenomena kosmos, sains, dan teologis sekaligus. Dalam perspektif inilah, peran strategis cendekiawan muslim menemukan relevansinya. Sebab, menyandang gelar cendekiawan dan muslim, sekaligus berarti mengintegrasikan sains dan teologi secara bersamaan. Cendekiawan Muslim bukanlah cendekiawan sekuler parsial, tapi integratif holistik. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…

Kamis, 09 Januari 2020 10:09

63 Tahun Kaltim, Menyongsong Ibukota Negara

Oleh : Devia Sherly, Founder East Kalimantan Dream EKD (East…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:30

IKN dan Ketimpangan Penguasaan Lahan

Oleh Muhammad Arman Direktur Advokasi Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat…

Sabtu, 04 Januari 2020 11:56

Tradisi Membakar Uang

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Selasa, 31 Desember 2019 12:58

Tulisan untuk Hari Jadi Kabupaten Paser ke-60

Catatan: Ismail, Guru Fikih Man IC Paser   TANA PASER…

Senin, 30 Desember 2019 00:40

Landscape Pelayanan Digital di Kalimantan Timur

 Oleh: Bambang Irawan Kepala Laboratorium Kebijakan Publik  Fakultas Ilmu Sosial…

Senin, 30 Desember 2019 00:36

Mewujudkan Masyarakat Sadar Hukum

Oleh: M Gatot Subratayuda Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Asal Kaltim  …

Senin, 23 Desember 2019 09:55

Bela Negara di Lapangan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Satu smash silang menukik…

Sabtu, 14 Desember 2019 11:18

Memanusiakan Manusia

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers