MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Rabu, 09 Oktober 2019 11:30
Assad Siap Rangkul Etnis Kurdi
Bashar Al Assad

PROKAL.CO, DAMASKUS – Tenda-tenda besar bermunculan di Kota Ras Al Ain, Tal Abyad, dan Kobane sejak Senin (7/10). Warga etnis Kurdi berkumpul di dalam kemah yang letaknya tak jauh dari wilayah paling selatan Turki. Ya, mereka berdemo.

Masyarakat yang sudah lama tinggal di timur laut Syria itu berencana menghadang militer Turki dengan tubuh mereka sendiri. Sepertinya, mereka ingin mencari cara damai untuk menarik dukungan internasional. ”Mereka ingin menjadi tameng manusia,” ujar Arin Sheikhmous, aktivis komunitas Kurdi, kepada Al Jazeera.

Sheikhmous ikut memimpin ratusan pengunjuk rasa di depan kantor PBB di Kota Qamishli. Mereka meminta agar lembaga perdamaian dunia tersebut bisa turun tangan. Menurut pria 31 tahun itu, semua kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut resah. Baik etnis Kurdi, Arab, maupun etnis Kristen Asyiria.

”Kami takut akan ada pembantaian jika Turki menginjakkan kaki di wilayah ini. Wilayah ini adalah satu-satunya yang terbebas dari serangan saat perang sipil terjadi,” ungkap Sheikhmous.

Wajar jika kaum Kurdi senewen. Penyokong terbesar mereka, angkatan bersenjata AS, baru saja angkat kaki. Sementara itu, tentara Turki, kubu yang selalu melabeli Kurdi sebagai teroris, akan masuk. Syrian Democratic Force (SDF), kelompok militan yang menguasai wilayah tersebut, harus mempertahankan wilayah mereka.

”Keputusan mereka (AS) akan merusak hubungan dan kepercayaan selama ini. Apa pun itu, kami wajib mempertahankan wilayah ini,” ungkap Jubir SDF Mustafa Bali kepada Agence France-Presse.

Di tengah semua kesusahan itu, rezim Bashar Al Assad muncul. Mereka mengatakan siap merangkul etnis Kurdi dan melindungi dari serangan Turki. Asalkan, mereka mau kembali dalam aturan pemerintah Damaskus.

”Kami akan mempertahankan kedaulatan seluruh wilayah Turki. Tak ada pendudukan yang boleh dilakukan di sini,” ungkap Wakil Menteri Luar Negeri Syria Faisal Mekdad kepada Al Watan.

Saat ini, SDF merupakan penguasa de facto wilayah timur laut Syria. Wilayah yang mereka duduki mencapai hampir seperempat dari total wilayah Syria. Namun, sejak AS menyatakan ingin berhenti mencampuri urusan Syria, mereka terpaksa mempertimbangkan untuk kembali bersatu dengan pemerintah Assad.

”Negara ini menyambut semua rakyatnya. Karena itu, kami meminta kepada yang tersesat untuk segera kembali,” ungkap Mekdad.

Iran, sekutu terdekat Syria, ikut menolak operasi militer yang bakal dilakukan Turki. Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif meminta agar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bisa menghormati kedaulatan Syria. Dia menegaskan bahwa operasi itu justru bakal membuat keamanan di Turki makin rawan.

Hal itulah yang membuat tokoh politik di AS geregetan. Pasalnya, risiko ISIS kembali bangkit lebih tinggi dengan operasi militer. Sepuluh ribu tahanan ISIS yang masih berada di kekuasaan SDF bisa saja kabur saat konflik terjadi.

Yang paling penting, AS bakal kalah dalam perang proksi melawan Rusia. ”Pencabutan personel di Syria hanya akan menguntungkan Rusia, Iran, dan rezim Assad,” ujar Senator Mitch McConnell. McConnell merupakan salah satu politikus Republik yang akhirnya angkat bicara memprotes keputusan Trump.

Trump pun mencoba membela diri. Dia mengatakan bahwa Turki tak akan memulai genosida di perbatasan. Jika Erdogan melewati batas, dia siap memberikan sanksi ekonomi sebagai hukuman. Sayang, ancaman itu tak digubris Turki.

”Turki bukanlah negara yang bertindak berdasar ancaman,” ujar Wakil Presiden Turki Fuat Oktay.

Turki sejak lama menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan untuk menyediakan zona aman bagi kembalinya pengungsi Syria. Erdogan meminta bisa melakukan operasi di wilayah 30 kilometer dari perbatasan sepanjang 480 km. Menurut dia, wilayah tersebut bisa menampung setidaknya satu juta pengungsi untuk kembali. Saat ini Turki menampung setidaknya 3,6 juta imigran Syria. (bil/c6/dos)


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 13:51

Tawarkan Tranquility Rp 2,8 Triliun

KUALA LUMPUR– Genting Group melelang Tranquility. Dulu superyacht itu bernama…

Senin, 21 Oktober 2019 13:42

Johnson Optimistis Ratifikasi Tepat Waktu, UE Pantau Sikap Parlemen Inggris

LONDON– Kalah dalam pemungutan suara soal British Exit (Brexit) pada…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:25

Kaum Hawa Juga Bisa

Duo astronot asal Amerika Serikat (AS) Jessica Meir (kiri) dan…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:24

Gencatan tanpa Jeda Senjata

RAS AL AIN – Talk is cheap. Bicara memang mudah.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:32

Agenda Politik Lam Berantakan

HONGKONG – Chief Executive Hongkong Carrie Lam terpaksa kembali membatalkan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:30

Kirim Surat Kasar ke Erdogan, Trump Bikin Geram

ANKARA– Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence tiba di…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:50

Empat Benua Buru El Chapo Asia

SYDNEY– Tse Chi Lop sedang menjadi pusat perhatian. Tapi, tidak…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:26

Turki Ogah Gencatan Senjata

ANKARA– Sanksi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) tidak…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:06

Cegah Munculnya Sulli-Sulli Lain, Korsel Bahas Perundang-undangan Berantas Perundungan

SEOUL– Meninggalnya Sulli masih jadi isu panas di Korea Selatan.…

Selasa, 15 Oktober 2019 23:32

Kini Kurdi Gabung Assad dan Lawan Militer Turki

Hubungan AS dan Syrian Democratic Forces (SDF) makin renggang. Minggu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*