MANAGED BY:
KAMIS
28 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Senin, 07 Oktober 2019 01:21
Perajin Kapal Tradisional Samarinda, Begini Cara Mereka Menolak Punah
Perajin Kapal di Selili, Samarinda.

PROKAL.CO, Pada usia yang beranjak senja, pria itu masih tampak perkasa dengan mesin bornya, menembus kayu bengkirai setebal 10 centimeter. Maridun (52) sesekali menyeka keringat di dahinya. Ia menguras tenaga, mengencangkan baut yang terpasang dengan kunci sepuluh di tangan kanan, sampai kayu bengkirai itu merekat dengan dinding kapal yang sudah dikerjakannya dari dua bulan lalu.

Di sudut lain, tampak beberapa perajin sedang sibuk dengan alat tukangnya masing-masing. Ada yang memotong kayu, mengamplas, mengecat, ada juga yang sedang memasukkan pasak ke dinding kapal. Beginilah pemandangan di salah satu pusat pembuatan kapal tradisional di tepian Sungai Mahakam, Kelurahan Selili, Kecamatan Sambutan, Samarinda.

Ada yang bekerja berkelompok, tapi tidak sedikit yang bekerja sendirian, seperti Maridun. Ia tengah mengerjakan satu unit kapal ukuran lebar 2,5 meter dan panjang 14 meter pesanan seorang nelayan dari daerah Samboja, Kutai Kartanegara.
Maridun masih semangat membuat kapal demi menafkahi keluarganya. Ia sudah menekuni bidang ini lebih dari dua dasawarsa. Merantau dari kampung halamannya Palopo, awalnya Maridun hanya ikut membantu sebagai tukang. Sampai akhirnya mahir, ia pun menerima pesanan kapal sendiri.

“Orang di sini kerja sendiri-sendiri, kalau saya sudah lama dari sebelum zaman krisis moneter,” ungkap Maridun, Jum'at (4/10/2019).

Bahan pembuatan kapal menggunakan kayu ulin dan bengkirai. Semua bahan didapat dari penjual material di Kota Tepian, namun yang sulit adalah kayu bengkirai ukuran 5x20 cm untuk gading kapal. "Karena banyak yang butuh, kadang harus nunggu sebulan baru bisa dapat," ungkap pria yang memiliki delapan cucu ini.

Semua pembuatan kapal di Samarinda dikerjakan warga sekitar secara perorangan, tanpa ada badan usaha yang mewadahi para perajin. Pemesan datang langsung ke lokasi dan melakukan kesepakatan dengan perajin. Jika mencapai sepakat, pembuatan kapal pun dimulai.

Untuk kapal yang ditarget selesai sebulan lagi ini, Maridun mengaku harga yang disepakati adalah Rp 75 juta dibayar bertahap. Meski nilainya terbilang besar, bagi Maridun itu masih kecil karena modal yang harus dikeluarkan sama besarnya.

Rasyid, 57 tahun, perajin lainnya mengungkapkan aktivitas pembuatan kapal tradisional di Selili sudah turun temurun berlangsung dari tahun 70-an. “Dulu waktu pindah ke sini (Selili) sekitar tahun 1972, orang tua saya sudah membuat kapal seperti ini. Waktu masih bujang saya juga sempat bantu-bantu tahun 78-79,” kata dia.

Namun pada awal tahun 80-an Rasyid berhenti membantu orang tuanya, ia bekerja di pabrik plywood di Selili. Sampai akhirnya tahun 2002 tempat Rasyid bekerja bangkrut, ia salah satu yang di-PHK (pemutusan hubungan kerja).
Sejak itu Rasyid kembali menekuni pembuatan kapal tradisional. Dibantu anak lelakinya, dan dua orang pekerja, ia bisa memproduksi sampai tiga kapal sebulan.

Kapal-kapal tradisional buatan Selili banyak dipesan oleh nelayan dari daerah muara Sungai Mahakam, seperti Sungai Mariam Anggana, Samboja, dan Handil. Memiliki kualitas yang baik, kapal-kapal buatan Selili dapat dipakai sampai 15 tahun. Harga yang dibanderol pun bisa mencapai puluhan juta rupiah. "Kebanyakan yang kita buat itu memang kapal untuk mencari ikan di laut, untuk mukat atau angkut-angkut barang," ungkap Rasyid.

Meski mampu menghasilkan puluhan kapal per tahun, namun jumlah perajin di Selili terus berkurang. “Dulu mungkin ada sampai 20 orang yang bikin kapal, tapi sekarang cuma sekitar 7 orang saja yang bertahan,” ungkap Rasyid.

Penyebabnya adalah para perajin yang sudah meninggal dunia, juga banyak menyebar ke daerah lain. Faktor lainnya juga disebabkan karena tidak ada kesepakatan standar harga antara para perajin kapal tradisional.

Rasyid mengatakan karena semakin sedikitnya pesanan kapal, membuat perajin berani mematok harga rendah, sehingga keuntungan yang didapat semakin sedikit.

Padahal modal yang harus dikeluarkan untuk membuat sebuah kapal semakin mahal. Seperti kayu ulin dan kayu bengkirai yang menjadi bahan utama pembuatan kapal misalnya, harganya kini berada di kisaran Rp 6 juta per kubik.

Belum lagi sewa tempat pembuatan kapal kepada pemilik lahan yang dibayar per unit berdasarkan ukuran kapal. Pemilik lahan memungut biaya sewa mulai dari Rp 900 ribu sampai Rp 3 juta. Hal itu semakin mengurangi keuntungan dari perajin kapal di Selili.

Atas alasan itu satu demi satu perajin berkurang, dan memilih profesi lain yang dinilai lebih menguntungkan. “Semoga pemerintah bisa bantulah bagaimana jalan keluarnya. Kalau tidak pintar-pintar mengatur uang, bisa tidak dapat untung kita kerja bikin kapal ini,” pungkas Rasyid. (selasar/pro)


BACA JUGA

Selasa, 04 Februari 2020 12:04

Kritik Kota lewat Lirik Rap, Wajah Samarinda dari Lagu “Samar Indah"

Hanya di Samarinda kita bisa hidup sama rendah Nikmati tepian…

Selasa, 04 Februari 2020 12:03

Berkas Pasar Baqa Dilimpah, Rabu, Sidang Perdana

SAMARINDA-Berkas dugaan korupsi tiga tersangka Pasar Baqa sudah digulirkan Korps…

Selasa, 04 Februari 2020 12:01

Terima Paket Ganja 2,5 Kilo, Mahasiswi Ini Mengaku Cuma Diupah Rp 300 Ribu

SAMARINDA - Tersangka inisial IT yang menerima paket 2,5 kilogram…

Selasa, 04 Februari 2020 12:00

Merasa Dipalak Ketika Berkendara di Samarinda? Dua Pria Ini Mungkin Pelakunya

SAMARINDA - Tim Macan Borneo Satreskrim Polres Samarinda akhirnya meringkus…

Selasa, 04 Februari 2020 11:59

Hanya Sakit Demam, RS AWS Bantah Merawat 1 Pasien Terkena Corona Virus

SAMARINDA - Rumah Sakit AW Sjahranie (RS AWS) Samarinda membantah…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:48

Pengedar Sabu Berbahan Tawas Ditangkap

SAMARINDA-Banyaknya pemakai narkoba jenis sabu rupanya menjadi peluang bagi Kene…

Sabtu, 01 Februari 2020 11:10

Begini Kondisi Terakhir Sopir Truk yang Sebabkan 4 Nyawa Melayang di Gunung Manggah Itu...

SAMARINDA- Unit Kecelakaan Lalu Lintas (Lakalantas) Polresta Samarinda, pada Kamis…

Sabtu, 01 Februari 2020 09:05

Jalin Kerjasama dengan Rumah Sakit, Poltekkes “Nyebrang” ke Malaysia

SAMARINDA-Terus melebarkan sayap, kini Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes)…

Jumat, 31 Januari 2020 23:46

Samarinda Masih Kekurangan Pengajar

Di Samarinda, ada sekitar 2 ribu guru honorer. Mereka tengah…

Jumat, 31 Januari 2020 23:45

Perlu Waktu Realisasikan DOB Samarinda Seberang

SAMARINDA–Usul menjadikan Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir sebagai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers