MANAGED BY:
RABU
27 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Senin, 07 Oktober 2019 01:16
Greta Thunberg, Anak STM, dan Gerakan Sosial Generasi Z

PROKAL.CO, Muhammad Nizar Hidayat
Staff pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Mulawarman
[email protected]

 

Barangkali saat Greta Thunberg (16 tahun) memutuskan untuk mogok sekolah sebagai bentuk protes terhadap lambannya pemimpin dunia dalam merespon isu perubahan iklim pada Agustus tahun lalu, ia tidak pernah menyangka bahwa aksinya itu akan memantik gelombang protes besar-besaran pada skala global. Para pelajar di lebih dari 125 negara turut serta dalam aksi School Strike for Climate yang diinisiasi Thunberg dan dengan cepat menjadi headline di berbagai kantor berita internasional.

Di Indonesia, fenomena yang serupa juga terjadi, namun kali ini pemantiknya bukan seorang pelajar 16 tahun yang geram dengan pemanasan global. Gelombang protes besar-besaran di Indonesia dipicu oleh diabaikannya kritikan terhadap pemerintah perihal seleksi pimpinan KPK dan revisi UU KPK yang kemudian disusul dengan kebijakan-kebijakan kontroversial lainnya (The JakartaPost, 2019).  Dengan modal popularitas yang tinggi pasca memenangkan pemilu 2019, agaknya pemerintah tidak menyangka bahwa gelombang protes yang terjadi akan sebesar ini.

Apa yang menarik dari fenomena ini adalah keterlibatan generasi Z dalam aksi tersebut. Generasi Z adalah mereka yang lahir pada pertengahan 90-an sampai 2010, dan salah satu ciri yang melekat pada generasi ini adalah ketidaktertarikan mereka terhadap politik, setidaknya pada proses politik formal. Meski demikian, ditengah apatisme serta anjoknya kepercayaan generasi Z terhadap proses politik formal, ternyata mereka memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam proses politik secara informal (Cox, 2015; Forbes, 2016). Saluran politik informal generasi z pun khas, berpusat pada media sosial. Kita bisa melihat contohnya melalui meme bernada satir tentang pemerintah yang kerap berseliweran di linimasa media sosial.

Namun kali ini, protes tidak hanya berhenti pada meme, twit, dan sebagainya. Ia bermanifestasi dalam aksi demonstrasi di jalanan dengan jumlah massa yang besar. Pada titik ini, bentuk partisipasi politik informal generasi z bertransformasi menjadi gerakan sosial (social movement). Konsep gerakan sosial merupakan konsep penting dalam kajian ilmu sosial yang mencoba untuk memahami bagaimana aksi kolektif terbentuk dan bagaimana orang-orang bisa berkumpul dalam jumlah besar untuk menyuarakan hal yang sama.

Konsep gerakan sosial memang lumayan rumit serta masih terdapat perdebatan antar para sarjana terkait definisinya. Tidak semua fenomena yang melibatkan orang banyak dapat dikategorikan sebagai suatu gerakan sosial, tapi untuk membantu memahami konsep ini kita bisa melihat analogi berikut: jika anda ikut serta dalam antrean panjang untuk membeli tiket Avengers: Endgame –hal yang juga dilakukan oleh  ratusan juta orang lainnya diseluruh dunia- itu bukanlah sebuah gerakan sosial. Namun jika anda memprotes keluarnya Spiderman dari Marvel Cinematic Universe dan ikut serta bersama ribuan orang lainnya untuk memboikot produk Sony, maka anda adalah bagian dari suatu gerakan sosial. Artinya dimensi penting dari gerakan sosial adalah tuntutan perubahan (reform).

Menariknya, gerakan sosial memiliki siklus hidup, ia layaknya organisme yang memiliki fase-fase tertentu yang menentukan eksistensinya. Para sarjana sosial mengidentifikasi empat fase gerakan sosial: kemunculan (emergence), penggabungan (coalescence), birokratisasi (bureaucratization), dan penurunan/kemunduran (decline) (EBSCO, 2009). Fase pertama adalah fase kemunculan yang ditandai dengan mulai nampaknya keresahan/ketidakpuasan (widespread discontent) terhadap suatu isu. Masuk ke fase kedua, keresahan/ketidakpuasan itu beralih menjadi isu populer yang menarik perhatian orang dan kelompok lain yang juga merasakan hal yang sama.

Pada fase ini koalisi yang didasari oleh identitas yang sama terbentuk Fase ketiga terwujud ketika gerakan sosial itu kemudian membentuk struktur organisasi sebagai penopang dan pengkoordinir gerakan, serta tidak lagi mengandalkan aksi spontanitas massa untuk menyuarakan protes. Fase terakhir adalah penurunan atau kemunduran. Penurunan dan kemunduran disini tidak melulu diartikan gagal, namun sebaliknya, satu gerakan sosial bisa sangat berhasil mencapai target mereka (reform) sehingga gerakan sosial itu tidak lagi diperlukan.

Identitas disini memainkan peran penting dalam gerakan sosial. Massa yang demikian besar hanya bisa bergerak bersama ketika identitas kolektif terbentuk. Identitas disini tentu bukan identitas yang berdasarkan SARA, namun lebih didasari oleh kepentingan yang sama (common interest), lawan yang sama (common foe),  dan tujuan yang sama (common goal). Oleh sebab itu, berhasil atau gagalnya suatu gerakan sosial salah satunya dipengaruhi oleh seberapa kuatnya identitas kolektif yang dibangun.

Tidak mengherankan apabila serangan balik terhadap gerakan sosial seringkali menyasar sisi identitas mereka. Bahkan dalam kasus Greta Thunberg, pihak pro status quo melancarkan serangan licik terhadap pribadi remaja Swedia tersebut, mulai dari autisme sampai pada usianya yang masih dianggap labil. Begitu pula dengan gerakan mahasiswa dan pelajar di Indonesia. Serangan balik terhadap gerakan tersebut dialamatkan pada identitas kolektif massa yang dicurigai “ditunggangi” dan “disusupi” oleh pihak-pihak lain yang ingin mengacaukan Negara, sampai pada isu “pemilik modal” yang mendanai pelajar STM untuk ikut terlibat dalam aksi. Intinya adalah deligitimasi identitas kolektif. Gerakan tersebut dinilai tidak murni sebagai sebuah gerakan mahasiswa dan pelajar Indonesia.  

Tentu saja bukan disini tempatnya untuk menilai apakah tudingan itu benar atau tidak. Yang ingin digarisbawahi disini adalah tentang identitas kolektif yang menjadi fondasi gerakan sosial baik di tingkat global maupun nasional sebagaimana contoh diatas. School Strike for Climate mungkin telah mencapai fase ketiga. Indikasinya adalah adanya struktur organisasi di masing-masing Negara yang mendukung kegiatan operasional aksi. Namun untuk konteks Indonesia, gerakan ini barangkali baru mencapai fase kedua dengan bergabungnya berbagai elemen yang menyuarakan tuntutan yang sama. Oleh sebab itu, apabila ingin berhasil, agaknya gerakan ini perlu untuk lebih memperhatikan identitas kolektif yang dibangun. Identitas yang lahir atas kepedulian terhadap nasib bangsa, bukan identitas gerakan yang hanya ingin melemahkan pemerintah.

Satu hal lagi, gerakan ini didominasi oleh generasi z, generasi yang menikmati luxury dan privilege untuk hidup pada era dimana sirkulasi dan arus informasi (tentang apapun) hampir tidak bisa lagi dibendung. Generasi z adalah generasi yang hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah. Mengenai hal itu, Herbert Simon (1971) jauh-jauh hari sudah mengingatkan kita tentang resiko dari informasi yang berlimpah. Ia mengatakan bahwa ..a wealth of information creates a poverty of attention (informasi yang melimpah menghasilkan kelangkaan perhatian). Akibatnya, generasi z sangat rentan akan pengalihan perhatian (distraction) (BBC, 2019).

Boleh jadi saat ini mereka mengarahkan sebagian besar perhatian terhadap kontroversi legislasi di Indonesia, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa dalam beberapa minggu kedepan atensi mereka tetap diarahkan pada isu tersebut. Jangan-jangan ditengah jalan atensi generasi Z malah terdistract dengan isu lain, misalnya mereka lebih tertarik dengan isu tentang seorang Youtuber sohor yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap seorang DJ. Jika ini yang terjadi, bukannya tidak mungkin gerakan sosial yang dilakukan akan padam dengan sendirinya karena atensi massa telah teralihkan. Ahsiyaaaapp. (**)

 

 

 

 


BACA JUGA

Jumat, 22 Mei 2020 14:55

Tradisi Lebaran yang Berbeda

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 21 Mei 2020 14:49

Pengangguran di Kaltim Meningkat, Apa Sebaiknya Langkah Pemerintah?

Oleh : Eka Widi Handayani Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat…

Kamis, 21 Mei 2020 14:47

Menulis, Pulihkan Kondisi Psikologis

Nurlia Santy Agustin (Guru Penulis, MAN 2 Kutai Kartanegara)  …

Selasa, 19 Mei 2020 11:16

Menyoal Narasi “Perang” dan “Lawan” Covid-19

Syamsul Rijal Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP dan Sekretaris…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:06

Covid dan Mimpi sang Nabi

Ismail, Mahasiswa Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik…

Sabtu, 16 Mei 2020 11:01

Pesantren Rumah

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Kamis, 14 Mei 2020 12:15

Perbaikan Ketahanan Keluarga

Shafa Innocentia Aqiella, Staf Keperempuanan KAMMI Komisariat Universitas Mulawarman  …

Selasa, 12 Mei 2020 15:52

Mengejawantahkan Kebajikan Fundamental

Maradona Sirajuddin, SPd, MPd Dosen Universitas Mulawarman     FILSAFAT…

Selasa, 12 Mei 2020 15:51

Sinkronisasi Kurikulum Sekolah dengan DU/DI

Irwansyah Syahrani Kakom BDP SMK 1 Samarinda PRAKTIK Kerja Lapangan…

Sabtu, 09 Mei 2020 12:52

Mendadak Imam

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers