MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Kamis, 03 Oktober 2019 11:31
Pedofilia dan Hukum Kebiri

PROKAL.CO, Oleh:

Siti Subaidah

Pemerhati Lingkungan dan Generasi

 

Sepekan terakhir ini media cetak maupun online di Balikpapan ramai memberitakan kasus pencabulan yang dilakukan oknum polisi terhadap lima orang murid SD.

Hal ini menjadi heboh dikarenakan oknum polisi yang menjadi pelaku tindak asusila tersebut juga merupakan guru mengaji dari para bocah-bocah tersebut.

Kasus terbongkar awal September 2019 lalu, ketika salah satu korban mengadu kepada orangtuanya. Tidak terima, orangtua kemudian melapor ke Polda Kaltim.

Kasus pelecehan seksual terhadap anak atau pedofilia bukanlah fenomena baru. Kasus ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus pelecehan seksual yang kini menghantui masyarakat. Perasaan waswas dan khawatir wajar terjadi karena yang menjadi korban sekarang tidak mengenal usia dan pelaku bisa siapa saja bahkan orang-orang terdekat sekalipun.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Balikpapan, Esti Santi Pratiwi bahkan menyebut pada 2019  ini kasus pedofilia terdapat sekitar 27 kasus dengan jumlah korban 23 anak perempuan dan 4 orang anak laki-laki.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 19 kasus, baik berupa pencabulan, pemerkosaan, penyekapan dan lainnya. Kasus-kasus ini baru di Balikpapan saja, belum di daerah lain.

Banyaknya kasus pedofilia yang mencuat ke permukaan menunjukkan tingginya kasus pedofilia di Indonesia dan ternyata juga diakui Federal Bureau of Investigation (FBI). Biro investigasi asal Amerika Serikat itu bahkan menyebut, kasus di Tanah Air tertinggi se-Asia. Ini tak mengejutkan, karena dalam kurun empat bulan ini saja, jumlah kasus pedofilia yang ditangani kepolisian mencapai 92 perkara. Maka barang tentu Indonesia kini memasuki zona darurat pedofilia.

Pemerintah pun memberikan perhatian pada persoalan ini, yaitu dengan menawarkan solusi berupa hukuman kebiri kimia bagi para pelaku pedofil. Praktisi hukum, Abdul Rais pun menilai kebiri kimia bagi para pelaku cabul akan memberi efek jera. Kebiri kimia telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016, dalam Pasal 81 Ayat 5 disebut jika korban lebih dari satu maka penegak hukum harus melaksanakan hukuman kebiri kimia.

Kebiri kimia sendiri adalah praktik untuk menekan hasrat seksual, sehingga orang tersebut tak lagi berminat pada hubungan seksual. Cara yang dilakukan pada kebiri kimia adalah dengan menyuntikkan obat berupa senyawa kimia ke dalam tubuh.

Obat ini berfungsi mengurangi testosterone dan estradiol, hormon seksual pada pria. Efek obat ini mampu mengendalikan gairah seksual. Sekali suntik, pengaruh obat ini dapat berlangsung selama tiga hingga lima tahun. Lalu pertanyaannya, mampukah hukum kebiri menyelesaikan kasus pelecehan seksual pada anak atau malah menambah masalah?

Jika kita tarik persoalan ini dari sudut pandang Islam akan kita dapati hukum mengenai kebiri itu sendiri. Dalam Islam, kebiri disebut juga kastrasi. Hukum kebiri baik itu kebiri fisik maupun kebiri kimia merupakan hal yang diharamkan berdasarkan tiga alasan, yaitu pertama, syariat Islam dengan tegas telah mengharamkan kebiri pada manusia, tanpa perbedaan pendapat (khilafiyah) di kalangan fuqaha.

Dalil yang menunjukkan haramnya kebiri di antaranya dari Ibnu Mas’udra, dia berkata, “Dahulu kami pernah berperang bersama Rasul Muhammad, sedang kami tidak bersama istri-istri. Lalu kami berkata (kepada Rasul Muhammad), ‘Bolehkah kami melakukan pengebirian?’ Maka Nabi SAW melarang yang demikian itu.” (HR Bukhari no 4615; Muslim no 1404; Ahmad no 3650; Ibnu Hibbanno 4141). (Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham AlIjtima’ifi Al Islam, hlm. 164; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 19/119).

Kedua, syariat Islam telah menetapkan hukuman untuk pelaku pedofilia sesuai rincian fakta perbuatannya, sehingga haram hukumnya membuat jenis hukuman di luar ketentuan syariat Islam.

Ketiga, dalam hal metode kebiri yang digunakan adalah metode injeksi kedua, yakni yang diinjeksikan adalah hormon estrogen, hukumnya juga haram dari sisi lain.

Pasalnya, injeksi itu akan mengakibatkan laki-laki yang dikebiri memiliki ciri-ciri fisik seperti perempuan, misalnya tumbuh payudaranya. Padahal Islam telah mengharamkan laki-laki menyerupai perempuan, sesuai hadis Ibnu Abbas ra bahwa, ”Rasulullah telah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR Bukhari, no 5546).

Pelaku pedofilia dalam Islam dihukum berdasarkan perbuatannya, yaitu (1) jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk pezina, yaitu dirajam jika sudah menikah atau dicambuk seratus kali jika belum menikah. (2) jika yang dilakukan pelaku pedofilia adalah liwath (homoseksual), maka hukumannya adalah hukuman mati, bukan yang lain. (3) jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (attaharusyaljinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya takzir atau sesuai ketentuan khalifah.

Dari ketiga jenis hukuman tersebut, jelas Islam menuntaskan kasus pedofilia dari segala arah. Islam sebagai dasar atau ideologi menjadikan syariat sebagai koridor untuk tetap berjalan lurus dalam menjalani hidup.

Bahkan dengan syariat  manusia mencapai martabat mulia sebagaimana seharusnya, tidak seperti sekarang yang menjadikan kebiri sebagai solusi untuk menuntaskan kasus pedofilia yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Wallahua'lambishawab. (rdh/k15)

 

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 12 November 2019 11:31

Ibu Kota Negara di Kaltim, Siapkah Sumber Daya Airnya?

Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT IPU Guru Besar…

Jumat, 08 November 2019 22:02

Sujud di Lapangan Bulu Tangkis

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Turnamen bulu tangkis level…

Sabtu, 02 November 2019 21:32

Belajar dari Kepemudaan Rasulullah

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Bulan Rabiul Awwal, bulan…

Rabu, 30 Oktober 2019 14:51

Mempersiapkan Destinasi Wisata di Ibu Kota Negara

Oleh Erny Silalahi ASN, travel enthusiast erny.silalahi@uqconnect.edu.au   Hingar bingar…

Rabu, 30 Oktober 2019 09:17

Memperbaharui (Kembali) Komitmen Integritas Kita

Oleh : Dewi Sartika SE MM Peneliti Muda Puslatbang KDOD…

Kamis, 17 Oktober 2019 13:28

Gebyar Pilkada Serentak Tahun 2020

Oleh: Galeh Akbar Tanjung* Pelaksanaan Pilkada serentak untuk pemilihan Bupati…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Indonesia yang Lebih Baik

Oleh Alias Candra Dosen IAIN Samarinda dan Wakil Sekretaris Bidang…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:11

Potret Produksi Buah-buahan di Mahulu Tahun Lalu

Oleh: Didit Puji Hariyanto Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik…

Senin, 07 Oktober 2019 01:19

Sajak Cinta

“Kerinduanku memuncak pada rabbaku Kehidupanku menari diroda hatimu Masihkah kau…

Senin, 07 Oktober 2019 01:16

Greta Thunberg, Anak STM, dan Gerakan Sosial Generasi Z

Muhammad Nizar HidayatStaff pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*