MANAGED BY:
KAMIS
30 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

SAMARINDA

Kamis, 03 Oktober 2019 10:26
Dikenal hingga Mancanegara lewat Batik

Fanti Wahyu Nurvita, Konsisten Ciptakan Inovasi Baru, Tonjolkan Budaya Daerah

Fanti Wahyu Nurvita

PROKAL.CO, Inovasi Fanti Wahyu Nurvita dalam menggabungkan tradisi sebuah daerah dengan perkembangan zaman membuahkan hasil membanggakan. Saat ini batik yang dihasilkannya tak hanya diterima masyarakat sekitar, tapi berhasil masuk pasar dunia.

NURAINI, Samarinda

SENYUM merekah di wajah Fanti. Siang itu penampilannya semakin menarik, dibalut jilbab hitam dipadu baju magenta dengan motif batik Kalimantan warna putih. Makin pas dengan rok celana abu-abu. Cantik.

“Mari mbak, silakan duduk,” sapa Fanti kepada pewarta Kaltim Post yang menghampirinya di restoran cepat saji di BIGmall Samarinda, Rabu (2/10). Bukan karena merayakan Hari Batik Nasional yang acap kali dirayakan pada 2 Oktober, Fanti memang karib dengan batik. Dengan batik yang dikenakan, dia juga sekaligus mengenalkan karyanya sendiri.

Sembari menikmati makanan ringan, Fanti berbagi cerita mengembangkan bisnis batik. Usahanya ini diawali kebiasaan mendesain sebuah baju. Dia lantas tertarik dengan batik karena lewat pakaian yang dikenakan dia bisa mengenalkan budaya sebuah daerah atau bangsa. Sekarang, dia juga membuat anyaman, ulap doyo, sulam tumpar ataupun sarung Samarinda.

Selain hobi mendesain baju, Fanti juga hobi mendesain barang-barang etnik, walaupun berlatar belakang teknik planologi. Usahanya makin besar setelah Universitas Diponegoro memperkenalkan karyanya ke negara-negara seperti, Thailand, Jepang, Australia, hingga Tiongkok. Di sana dia show dan berusaha menarik buyer.

Tahun ini dia berusaha menarik buyer dengan tampil di Hong Kong Fashion Week. Karyanya kali ini mengangkat motif kriookng, salah satu budaya di Kutai Barat. Ini merupakan seni ukir di kain yang kemudian di tempel lagi di kain, yang setiap motifnya memiliki filosofi berkaitan dengan kehidupan, seperti motivasi kita untuk hidup lebih baik.

Contohnya seperti guci, yang artinya keluarga harmonis yang saling mendukung. Ini hanya boleh dikenakan untuk orang yang sudah menikah. Sementara yang belum menikah bentuk guci yang boleh dikenakan hanya separuh. Desainnya pun dibuat lebih kekinian dan modern. Berani memadukan warna ngikutin selera pasar juga menciptakan motif-motif baru.

“Luar biasa. Orang zaman dulu bisa berfikir sampai sejauh itu. Warisan budaya ini coba kita angkat dengan tidak menghilangkan artinya dengan desain yang kekinian,” ujar Owner Hesandra Indonesia ini.

Saat ini dia memproduksi berbagai batik di workshop-nya, di Pekalongan. Dia belum berpikir memindahkan ke Samarinda karena membutuhkan biaya yang besar. Belum lagi tempat dan perizinannya. “Karena mengandung lilin dan zat kimia yang pastinya bisa mencemari lingkungan. Pengurusan izinnya aga susah, jadi sekarang masih di Pekalongan,” ungkap Fanti.

Hesandra Indonesia sempat berada di dua kota, yaitu Jakarta dan Samarinda. Namun sekarang Fanti memilih fokus untuk mengembangkan usaha di Kalimantan. Usaha yang dijalaninya berfluktuasi. Tapi usaha yang telah berhasil bertahan hingga 11 tahun ini mengajarkan bagaimana pelaku usaha dapat melihat sebuah masalah bukan sebagai hambatan tapi sebuah peluang.

“Intinya jangan pernah menyerah. Saat ini, hasil yang saya peroleh per bulan sekitar Rp 200-300 juta,” ungkapnya.

Pasang surut usaha tentu pernah ia jalani. Seperti saat membuat sesuatu yang beda lalu booming. Tapi dia belum mencetaknya secara banyak. Nah, ketika banyak pesanan dan belum mampu memenuhinya, ternyata produk tersebut ditiru orang lain dan diakui. “Sebagai pemilik ide pasti kesal. Tapi saya coba sabar. Yang penting kita tetap berkreasi. Karena rezeki orang tidak pernah tertukar,” bebernya.

Menghasilkan produk-produk berkualitas premium, Fanti konsisten menonjolkan ciri khas daerah di show-nya di berbagai negara. Biasanya produknya dihargai antara Rp 225 ribu hingga Rp 10 juta. “Untuk tas harganya Rp 750 ribu sampai Rp 5 juta. Saat ini penjualan saya sudah sampai Jepang dan Malaysia,” jelasnya. (*/ndu/k18)


BACA JUGA

Rabu, 29 Januari 2020 21:04

Ketua PDIP Samarinda Sebut Andi Harun Langgar Ketentuan Pendaftaran Calon Wali Kota di PDIP

SAMARINDA - Partai PDI Perjuangan menegaskan tak bisa mengusung Andi…

Rabu, 29 Januari 2020 20:52

272 Siswa Ikuti Pelatihan Berbasis Kompetensi

SAMARINDA - Sebanyak 272 siswa/siswi mengikuti pembukaan pelatihan berbasis kompetensi…

Rabu, 29 Januari 2020 16:50

BPK Diminta Turun Periksa Perusda Milik Pemprov Kaltim

SAMARINDA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta turun untuk audit…

Rabu, 29 Januari 2020 14:32

Imbas Keributan, PKL Jelawat “Dihambur” Satpol PP

SAMARINDA–Sebanyak 110 personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menertibkan…

Rabu, 29 Januari 2020 14:31

Paviliun Sakura AWS Disatroni Maling

SAMARINDA–Meski pernah mendekam di penjara selama enam tahun dan baru…

Rabu, 29 Januari 2020 14:30

Minta Upeti dan Bikin Rusuh, Tujuh Preman Pasar Dibekuk Polisi

Aktivitas premanisme terjadi hampir di semua daerah di Indonesia, tak…

Rabu, 29 Januari 2020 14:29

Instansi Penunggak Air Menyusut, Bayar setelah Anggaran Cair

SAMARINDA–Verifikasi instansi pemerintah penunggak rekening air yang ditempuh PDAM Tirta…

Rabu, 29 Januari 2020 14:29

Pemuda di Loa Janan Ilir Mengamuk Bawa Samurai

SAMARINDA–Jam dinding menunjukkan pukul 00.00 Wita menuju Selasa (28/1). Indekos…

Rabu, 29 Januari 2020 12:34

Soal Minyak Ilegal, Belum Ada Tersangka

PENYIDIK Subdit 4 Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Direktorat Reserse Kriminal…

Selasa, 28 Januari 2020 16:45

Pungut Rp 5 Ribu per Hari ke PKL, Polisi Tangkap 7 Preman Jalan Jelawat

SAMARINDA - Tujuh pria diduga preman yang kerap memungut uang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers