MANAGED BY:
JUMAT
28 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

LIFESTYLE

Senin, 30 September 2019 16:50
Bijak Bermedia Sosial, Sering Update Berujung Gangguan Mental
BUYING DISORDER: Internet begitu mudah digunakan. Namun, kerap disalahgunakan hingga memberi dampak buruk, baik ari segi fisik maupun mental. Di antaranya, susah mengontrol emosi dan melampiaskan ke media sosial.

PROKAL.CO, Keberadaan media sosial (medsos) dalam genggaman membuat interaksi antara satu orang dengan yang lainnya bak tak terpisahkan jarak. Jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang untuk saling terhubung satu sama lain. Hingga memunculkan berbagai kesehatan mental terkait hal tersebut.

 

INTERNET semakin maju dan canggih mampu membuat seseorang dengan mudah mengakses dan berbagi informasi. Masyarakat kian bebas membeberkan informasi terkait hal yang bersifat pribadi.

Beberapa orang dengan percaya diri membagikan kisah senang maupun sedih di akun medsos. Entah dalam bentuk video, foto, maupun tulisan. Walhasil, orang lain pun mampu mengetahui informasi pribadinya.

Dijumpai di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Atma Husada Mahakam Samarinda, dr Yenny Abdullah SpKJ menjelaskan, seseorang yang gemar membagi kisah pribadi pada akun medsos disebabkan banyak faktor. Kendati demikian, yang paling sering terjadi karena ingin mencari pembelaan.

CURHAT: Tak hanya mengakses informasi umum, informasi terkait data pribadi mudah ditemukan. Hal ini disebabkan oleh seseorang yang selalu meluapkan emosi melalui media sosial, baik kisah sedih maupun senang.

“Dibandingkan cerita senang, yang paling sering diumbar itu biasanya kisah sedih atau amarah. Misal, saat dirinya dikhianati pasangan atau bermasalah dengan rekan. Emosi itu enggak bisa dibendung lagi dan disalurkan melalui status,” ucap dokter spesialis kejiwaan tersebut.

Yenny membeberkan, orang yang berbuat seperti itu disebabkan banyak faktor. Eksternal maupun internal. Tetapi, yang paling marak terjadi karena memiliki gangguan.

Namun, psikiater itu menuturkan, belum ada satu jenis gangguan spesifik yang membahas tentang kasus emosi yang diluapkan ke medsos. Dikatakan sebagai gangguan, karena orang melakukan hal itu kebanyakan ingin mencari dukungan dan pembelaan diri.

Dia pun mengaitkan dengan mekanisme pembelaan diri manusia. Perlu diketahui, setiap manusia hampir selalu melakukan pembelaan diri terlebih dahulu ketika salah. Minim introspeksi diri karena ingin meringankan rasa sedih, kecewa, dan marah.

“Misal, ada anak yang tidak naik kelas. Kebanyakan orang akan berpikir, ah itu salah sang guru karena terlalu kejam. Atau malah menyalahkan keadaan, ya kan kemarin mati lampu, jadi enggak bisa belajar,” jelasnya.

Mekanisme pembelaan diri seperti itu juga dilakukan oleh orang-orang yang gemar curhat di medsos. Setelah melakukan pembelaan diri, kemudian mencari dukungan.

“Sebab, biasanya mereka itu kurang atau bahkan tidak sama sekali mendapat dukungan dari lingkungannya. Akhirnya hal yang enggak dia dapat di orang terdekat, dicari di medsos,” tambahnya.

Mendapat dukungan, mendapat suntikan semangat dari followers atau pengikut di akunnya, hingga merasa, banyak orang yang sepemikiran dengannya. Namun, permasalahan akan semakin rumit jika kenyataan tidak seindah yang diharapkan.

Mengingat bahwa setiap individu memiliki pemikiran berbeda-beda. Yenny mengkhawatirkan jika aksi-aksi meluapkan emosi di medsos akan ditanggap buruk oleh orang lain. Berniat mendapat ketenangan, yang dirasakan malah emosi yang semakin meluap karena cibir dan kritik.

“Ingat ya, sama hitam rambutnya, tapi tak sama pemikirannya. Ada orang yang memberi kritik dengan cara baik, tapi ada juga yang tidak. Ujung-ujungnya malah menyulitkan diri sendiri dan membuat beban semakin menumpuk. Jadi meluapkan emosi di medsos itu sangat tidak disarankan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, hal itu tak disarankan karena warganet hanya mendengar cerita dari satu sudut pandang saja. Kemudian dengan mudahnya menjustifikasi suatu masalah. Beda halnya jika Anda memilih ke psikolog atau psikiater.

“Curhat kepada seseorang yang Anda percaya. Jangan ragu ke psikolog atau psikiater, kami mendengar cerita Anda juga harus mengklarifikasikan berbagai hal, sebelum memutuskan solusi. Jadi bijaklah menggunakan media sosial,” bebernya. (*/nul*/rdm2/k16)


BACA JUGA

Minggu, 23 Februari 2020 10:47

Cegah Jantung Koroner, Hindari Makan Jeroan

BALIKPAPAN – Kabar wafatnya Ashraf Sinclair pada Selasa (18/2) cukup…

Minggu, 23 Februari 2020 10:05

Microsleep Sama dengan Bertaruh Nyawa

MENGEMUDIKAN kendaraan dengan jarak yang cukup jauh perlu tenaga ekstra.…

Selasa, 18 Februari 2020 10:42

Mengenal Post Sex Blues, Perasaan Sedih setelah Bercinta

UMUMNYA, tiap kali selesai berhubungan seks akan membawa kebahagiaan bagi…

Selasa, 18 Februari 2020 10:41

Carpal Tunnel Syndrome, Tak Bisa Diprediksi, Pergi Lalu Datang Lagi

Hampir setiap orang mungkin menganggap kesemutan sebagai hal wajar. Bahkan…

Selasa, 18 Februari 2020 10:40

Jangan Anggap Sepele, Kesemutan Berujung Operasi

SERUPA tapi tak sama. Sindrom guyon adalah akibat dari saraf…

Selasa, 18 Februari 2020 10:37

Dulu Benci Kini Jatuh Hati, Koleksi 300 Reptil

Memiliki gecko ratusan ekor cukup membuktikan kecintaan Hansen Gunawan terhadap…

Selasa, 18 Februari 2020 10:35

Teliti Memandikan Sugar Glider

TAK cukup jatuh hati pada gecko, Hansen Gunawan kembali jatuh…

Selasa, 18 Februari 2020 10:33

Sup Buntut Bakar Kaya Rempah

Sajian menu boleh saja sama. Makin banyak orang familiar dan…

Selasa, 18 Februari 2020 10:32

Nasi Goreng Komplit dan Si Merah Romantis

Salah satu menu favorit di Swiss-Belhotel Balikpapan adalah nasi goreng…

Rabu, 12 Februari 2020 11:24

Organic Parenting, Kecerdasan Emosi Meningkat

KONTEN jadi hal utama yang harus diperhatikan orangtua. Di samping…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers