MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Sabtu, 28 September 2019 22:54
Terima Kasih Palu, dan Ibu

PROKAL.CO, CATATAN

Dwi Restu, Wartawan Kaltim Post

SATU tahun lalu, tepat 28 September 2018, Indonesia berduka. Saudara kita di Sulawesi Tengah, khususnya Palu, Sigi, dan Donggala terkena musibah. Gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi menghilangkan nyawa puluhan ribu jiwa.

Hari itu, Jumat, di Kantor Kaltim Post Samarinda. Mata saya fokus ke layar monitor, sementara jemari di keyboard komputer meja kerja. Menjelang senja, rutinitas saya sebagai jurnalis berada pada jam deadline. Seketika melihat mata jadi berbayang. Tepat 5 menit sebelum azan Magrib berkumandang. Layar monitor bergoyang. Dari seberang meja kerja, teman menegur. “Bang, enggak ngerasa goyang?” tanyanya. Saya hanya membalas, ayo keluar. “Gempa,” teriak saya.

Dari lantai tiga kantor, derap langkah kaki membuat saya semakin yakin, musibah sedang melanda. Di luar kantor, lampu yang menggantung di kafe tempat saya biasa memesan makanan ketika lapar, ikut bergoyang.

Sejurus kemudian, kabar di media sosial (medsos) bertebaran, Kaltim diguncang gempa. Namun, tak lama kemudian, berita terkonfirmasi datang dari Sulawesi Tengah berkekuatan 7,4 SR. Tiga kabupaten, Palu, Sigi, dan Donggala-lah yang sejatinya diguncang gempa dan tsunami.

Di ponsel telepon berbunyi. “Kamu di mana, Nak. Kerasa gempa juga kah?” tanya ibu saya. “Enggak kenapa-kenapa ‘kan?” sambungnya. Malamnya, saya memutuskan untuk menengok ibu di Balikpapan. Hanya sehari semalam menginap, saya putuskan kembali ke Kota Tepian. Menjalankan rutinitas wartawan. Minggu pagi, masih di ujung September, telepon dari bos saya membuat hati jadi tertantang.

“Berangkat ke Palu besok (Senin),” begitu singkatnya percakapan. Saya izin dengan ibu. Walau berat, dia tahu putra keduanya itu memang keras kepala. Jujur, saat itu ibu saya masih khawatir, karena Palu masih diguncang gempa terus-terusan. Saya menuliskan pesan ketika hendak berangkat ke Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan. “Kalau saya di sana (Palu) ada apa-apa, kabar saya pasti sampai ke ibu.”

Cemas, sudah pasti. Ponsel memang saya langsung matikan. Saya harus menghemat penggunaan baterai. Tapi, jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul 15.00 Wita, dibatalkan. Sang pramugari hanya memberitahukan, runway di Bandara Palu tidak bisa dilintasi.

Ribuan orang memadati landasan pacu bandara. Sore itu pula saya berkoordinasi dengan senior. “Kamu tetap berangkat, ada kapal malam ini yang bertolak ke Palu. Semua urusan surat nanti ada yang bantu, pokoknya berangkat,” pesan senior. Saya tidak sendiri, ditemani fotografer. Saiful Anwar, atau akrab disapa Labong.

Kami diinapkan di salah satu kamar di kapal. Berkat bantuan rekan seprofesi saya, Mba Candra. “Kalian hati-hati,” begitu dia ucapkan sebelum kapal yang juga mengangkut bantuan untuk ribuan korban gempa dan tsunami itu bertolak dari Pelabuhan Semayang Senin (1/10) pukul 02.00 Wita.

Sandar di Palu, Pelabuhan Pantoloan, sekitar pukul 17.00 Wita. Ada relawan pula yang satu kapal dengan kami. Semua mengemban satu tujuan, misi kemanusiaan.

Sempat kebingungan. Palu dan sekitarnya masih mencekam saat itu. Saya keluar-masuk pelabuhan. Mencari kendaraan yang bisa ditumpangi. Langit semakin gelap. Karena untuk menuju pusat kota, sekitar 35 kilometer dari pelabuhan.

Tak kehabisan akal, truk Basarnas saya tumpangi. Padahal, di situ membawa kantung jenazah. Dalam kepala saya, yang penting sampai dulu di tengah kota. Truk pun sempat dihentikan oleh warga. Berteriak kelaparan. “Kantong mayat, Pak,” pekik dari ruang kemudi. Napas pun lega.

Kondisinya saat itu memang banyak penjarahan. Sepanjang jalan menuju pusat kota, bau anyir begitu menusuk hidung. Listrik masih padam, jaringan telekomunikasi belum maksimal, warga sekitar tinggal di pinggir jalan. Saya sempat berniat, tak bisa lama di sana. Sampai di pusat kota, guncangan gempa bermagnitudo 5,0 datang sebagai tanda selamat datang. Benar-benar tidur tak nyenyak. Setelah pagi, saya mulai petualangan.

Pengalaman saya berada di lokasi gempa dan tsunami. Merekam dan mengambil gambar kondisi tanah Palu. Saat itu masih kacau balau. Penjarahan terjadi. Pertokoan, minimarket, hingga mal jadi sasaran. Termasuk diler mobil, toko handphone, dan lainnya.

Di satu sisi, saya harus mengabarkan informasi kondisi Palu, Sigi, dan Donggala, saat itu pula short message service (SMS) di ponsel saya banyak yang masuk. Termasuk dari teman. “Tolong, carikan keluarga saya (di Palu). Nanti alamatnya dikirim” begitu bunyi pesannya. Tidak sedikit, puluhan orang meminta pertolongan.

Saya berusaha mencari keberadaan orang-orang Kaltim yang meminta pertolongan. Beberapa hari di Palu, saya merasa betah. Bukan karena “banjir” narasumber, tapi hati saya tergugah. Banyak tempat jadi objek mengumpulkan cerita. Petobo, Balaroa, Hotel Roa-Roa, pantai, dan masih banyak lagi. Bagi saya, tugas setahun lalu itu jadi berkah. Bertemu dengan orang-orang yang teramat kuat.

Saya sempat bertemu seorang perempuan yang usianya sekitar 50 tahun. Di Balaroa, Palu Barat. Tubuh dan penampilannya sepintas mirip ibu saya. Dia melempar senyum. Ramah dan menyapa.

Dia bercerita, untuk melewati aspal yang terbelah-belah sepanjang 500 meter, perlu waktu hampir dua jam. Terlebih saat itu gelap gulita. Tubuhnya terempas saat diguncang gempa. Pekikan “Allahuakbar” yang selalu terlontar dari mulutnya. Air matanya tidak kuasa dibendung. Dia kehilangan suami dan dua anaknya.

Satu pesan dari ibu itu yang sampai sekarang masih membekas dan tak terlupakan kepada saya. “Nak, Allah masih sayang sama umatnya. Doakan orangtuamu, terkhusus ibumu. Kau sampai di sini (Palu) juga berkat doa ibu,” pesannya kala itu. Air mata saya menetes satu demi satu.

Satu kalimat yang menyentuh hati. Sayang, dia tak punya ponsel. Hasrat hati ingin kembali bertemu perempuan kuat seperti ibu yang saya temui di Palu.

Namun, perlu diketahui, selama di sana, gempa terus terjadi. Komunikasi saya dengan kantor alhamdulillah berjalan lancar. Saya memakai satu provider yang saat itu masih cukup baik jaringannya. Pengiriman berita tak begitu mengalami kendala. Setiap hari, menjelang dini hari, tidur kami memang tak pernah aman. Maklum, guncangan meski skala kecil kerap membuat siapa saja terbangun.

Begitu juga pagi, menjelang siang, sore, dan malam. Sempat putus komunikasi dengan ibu, saya memberi kabar. Telepon kami tak pernah lama. Memang jaringan saat itu tak begitu baik.

Saya yakin, pasti khawatir. Namun saya meyakinkan beliau, saya masih baik-baik saja. Saya justru betah lama-lama berada di Palu. Sekitar 11 hari berada di daerah terguncang gempa, saya mendapat hidayah. Dan saya pikir semua orang bisa merasakan itu ketika berada di sana.

Komunikasi terakhir dengan rekan saya di Palu terjadi dua hari lalu. Mugni. Dia pula yang menemani dan mengenalkan beberapa titik yang menjadi gempa terparah. “Alhamdulillah, Mas. Di sini (Palu) sudah membaik. Tapi masih banyak warga yang memilih menetap di tenda,” balasnya melalui pesan WhatsApp.

Namun, sebagian besar sudah tinggal di hunian sementara (huntara) yang disediakan pemerintah. Hari ini, setahun peristiwa di Palu. Semoga Sulteng terus bangkit.

Saya berterima kasih kepada Kaltim Post. Pengalaman yang diberikan selama ditugaskan di sana jadi yang paling berkesan sebagai jurnalis. Tak pernah berharap untuk Indonesia kembali tertimpa musibah. Namun, belajar dari kejadian di Palu, Sigi, dan Donggala, jadi cara bersyukur teramat mendalam. Terima kasih juga untuk ibu. (rom/k8)


BACA JUGA

Selasa, 12 November 2019 13:11

Debat Sengit Prabowo dengan Anggota Komisi I, Perincian Anggaran Dibahas Tertutup

PERDEBATAN sengit terjadi setelah Menhan Prabowo Subianto memaparkan konsep pertahanan…

Selasa, 12 November 2019 13:05

Jokowi Singgung Terlalu Banyak Peraturan Menteri

JAKARTA – Presiden Joko Widodo menyinggung banyaknya regulasi dalam rapat…

Selasa, 12 November 2019 12:58

Jokowi - Paloh Tegaskan Tak Ada Keretakan

JAKARTA- Partai Nasdem telah merampungkan Kongres II yang digelar di…

Selasa, 12 November 2019 11:12

3 Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Dua Diantaranya Ibu dan Anak

PROKAL.CO, SAMARINDA - Borneo Orangutan Survival Foundation (Yayasan BOS) dan…

Selasa, 12 November 2019 10:35

Akhir Tahun Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Lebih Lambat

SAMARINDA-Ekonomi Kaltim pada triwulan ketiga tahun ini tumbuh 6,89 persen…

Senin, 11 November 2019 23:00

Pertimbangan IKN, Peluang Dibangun Dua Jembatan Lagi di Teluk Balikpapan

BALIKPAPAN-Rencana pemindahan Jembatan Tol Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) masih menanti…

Senin, 11 November 2019 22:57
Sindikat Mafia Minyak Beroperasi di Dekat Tambang

Dicuri di Sangasanga, Diolah di Samarinda

Selain mengamankan ratusan ton minyak mentah yang diduga ilegal, aparat…

Senin, 11 November 2019 22:38

Subsidi Tetap Harus Dibarengi Cleansing Data

JAKARTA– Pekerjaan rumah untuk membenahi BPJS Kesehatan masih banyak. Menaikkan…

Senin, 11 November 2019 13:29
(1) Indonesia U-19 vs Korea Utara U-19 (1)

Karena Berjuang Layaknya Pahlawan

JAKARTA– ’’Kami sudah sepakat sebelum pertandingan. Hari ini 10 November…

Senin, 11 November 2019 13:19
Isu Kesehatan di Pulau-Pulau Terpencil Indonesia (1)

Bu Bidan Merangkap Perawat Sekaligus Dokter

”Sedih karena saya tidak bisa berbuat banyak,” ucap bidan honorer…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*