MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

MANCANEGARA

Sabtu, 21 September 2019 12:08
Aksi Global Tuntut Perlindungan Lingkungan
ANCAMAN SEMESTA: Seorang aktivis lingkungan tampil dengan kostum beruang kutub di Berlin, Jerman, untuk menyuarakan bahaya perubahan iklim. Aksi serupa digelar di banyak negara termasuk Prancis. THOMAS SAMSON/JOHN MACDOUGALL/AFP

PROKAL.CO, class="Default">Banyak negara memberi perhatian lebih terhadap perubahan iklim. Perusahaan-perusahaan pun mengizinkan karyawan turun ke jalan untuk aksi lingkungan.

===============

WASHINGTON–Anda akan mati karena usia tua, saya akan mati karena perubahan iklim. Kalimat itu terpampang jelas di spanduk yang dibawa Samra Shehzad. Perempuan 20 tahun itu salah satu peserta Global Climate Strike dari India. Aksi mogok massal tersebut digelar di berbagai kota besar di lebih 150 negara secara serentak, kemarin (20/9).

''Kita harus melakukannya sekarang. Ini adalah masa depan kita,'' ujar Shehzad seperti dikutip BBC.

Penduduk India memang patut waswas. Delhi merupakan satu dari 21 kota di India yang diperkirakan akan kehabisan air bawah tanah pada 2020. Ibu kota India itu juga masuk dalam daftar kota paling berpolusi di dunia.

Aksi kali ini lebih besar dari Maret lalu. Yang turun juga ke jalan juga bukan hanya para pelajar dan orangtua mereka. Tapi juga para pekerja. Berbagai kota memberikan toleransi pada sekolah agar siswanya bisa ikut aksi. Pun demikian dengan perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia.

The Guardian, misalnya. Seluruh pegawai di kantor pusat di London, Inggris, diperbolehkan bergabung dengan massa untuk aksi kepedulian lingkungan. Patagonia, Ben and Jerry's, The North Face, dan puluhan perusahaan lainnya juga melakukan hal serupa.

Pemerintah New York, AS, jauh hari sudah mengumumkan bahwa para pelajar di kota tersebut boleh bolos sekolah dan ikut aksi turun ke jalan. Hal serupa dilakukan Pemerintah Boston. Ada sekitar 10 ribu massa yang beraksi di kota tersebut. Mereka yang turun ke jalan tidak hanya membawa spanduk. Ada yang memakai kostum beruang kutub, dinosaurus, globe, dan berbagai hal lain.

Jika aksi di berbagai kota besar di dunia dipenuhi dengan ratusan ribu massa, tidak demikian halnya dengan di ibu kota Rusia, Moskow. Hanya satu orang yang berdiri di tengah kota sambil membawa spanduk tentang perubahan iklim.

Dia adalah Arshak Makichyan. Pria yang berprofesi pemain biola itu sudah enam bulan ini melakukan aksi mogok Fridays for Future. Aksi yang diprakarsai aktivis lingkungan Greta Thunberg itu digelar setiap Jumat.

Sejatinya pemuda 24 tahun itu sudah minta izin untuk menggelar aksi yang lebih besar kemarin. Tapi, Pemerintah Rusia menolaknya. Aksi protes lebih dari satu orang di pusat kota Moskow harus mendapatkan izin dari pemerintah. 

''Saya berusaha mendapatkan dukungan dari pemuda di sini jadi kamu bisa memengaruhi pemerintah untuk bertindak,'' tegasnya.

Rusia adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keempat setelah Tiongkok, AS, dan India. Para ilmuwan mengungkap, Rusia sudah memiliki tanda-tanda perubahan iklim. Misalnya, kebakaran yang terjadi di Siberia dan gedung-gedung yang ambruk karena mencairnya permafrost dan banjir. Permafrost adalah tanah yang berada di titik beku. Biasanya tanah tersebut membeku sepanjang tahun. Rusia juga masih aktif mengebor minyak bumi di Artik.

Sementara itu di Jerman, pemerintah sepakat menggulirkan rencana terkait perubahan iklim. Dilansir Agence France-Presse, Jerman akan mengucurkan setidaknya EUR 100 miliar (Rp 1,5 kuadriliun) hingga 2030 untuk usaha perlindungan lingkungan.

Rencananya, anggaran itu dipakai untuk memangkas emisi di sektor industri dan energi, insentif untuk kendaraan listrik dengan nol emisi maupun transportasi publik. Nantinya tiket pesawat akan naik sedangkan tiket kereta api dibuat jauh lebih murah. (sha/jpg/dwi/k8)

 


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 13:55

Panggilan Suara WA Kena Pajak, Warga Lebanon Demo

BEIRUT– Unjuk rasa menggoyang pemerintahan Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad…

Senin, 21 Oktober 2019 13:51

Tawarkan Tranquility Rp 2,8 Triliun

KUALA LUMPUR– Genting Group melelang Tranquility. Dulu superyacht itu bernama…

Senin, 21 Oktober 2019 13:42

Johnson Optimistis Ratifikasi Tepat Waktu, UE Pantau Sikap Parlemen Inggris

LONDON– Kalah dalam pemungutan suara soal British Exit (Brexit) pada…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:25

Kaum Hawa Juga Bisa

Duo astronot asal Amerika Serikat (AS) Jessica Meir (kiri) dan…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:24

Gencatan tanpa Jeda Senjata

RAS AL AIN – Talk is cheap. Bicara memang mudah.…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:32

Agenda Politik Lam Berantakan

HONGKONG – Chief Executive Hongkong Carrie Lam terpaksa kembali membatalkan…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:30

Kirim Surat Kasar ke Erdogan, Trump Bikin Geram

ANKARA– Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence tiba di…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:50

Empat Benua Buru El Chapo Asia

SYDNEY– Tse Chi Lop sedang menjadi pusat perhatian. Tapi, tidak…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:26

Turki Ogah Gencatan Senjata

ANKARA– Sanksi Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) tidak…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:06

Cegah Munculnya Sulli-Sulli Lain, Korsel Bahas Perundang-undangan Berantas Perundungan

SEOUL– Meninggalnya Sulli masih jadi isu panas di Korea Selatan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*