MANAGED BY:
SENIN
01 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Jumat, 20 September 2019 12:13
Walhi Yakin Korporasi Terlibat Karhutla

Polres Kutim Tangkap Dua Pelaku Pembakaran

Petugas berusaha memadamkan api yang mendekati rumah warga di Kutai Timur.

PROKAL.CO, SAMARINDA–Dugaan lahan dibakar untuk kepentingan perkebunan menguat. Kebun sawit diindikasikan jadi hasil lahan yang dibakar tersebut. Hal itu diungkapkan Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Timur Hafidz Prasetyo. 

”Memang rata-rata berada di kawasan kebun sawit titik apinya itu," kata Hafidz sambil menunjukkan peta titik api dengan hak guna usaha (HGU) kebun di Kaltim. Lanjut dia, dari monitoring Walhi Kaltim hingga 14 September, sudah ada 1.106 titik api yang berdampingan dengan HGU kebun.

Menurut Hafidz, kaitan kebakaran lahan dengan kebun sawit itu sangat erat. Dia mengatakan, ada kemungkinan mereka membakar lalu ditanami sawit. Jika begini, wajar jika kabut asap menyerbu dan mencekik napas masyarakat Kaltim. Apalagi, jumlah kebun sawit di Kaltim cukup luas.

Hingga 2017, ada 1,2 juta hektare kebun sawit di Kaltim. Paling banyak ada di Kutim dengan 460 ribu hektare. Hafidz pun mengernyitkan dahinya ketika melihat realita bahwa yang disalahkan dan banyak ditindak, adalah masyarakat lokal karena buka ladang dan kebun.

Padahal, masyarakat punya metode berbasis kearifan lokal untuk membakar lahan dan tidak luas membakarnya. "Jelas ini banyak korporasi yang terlibat dalam kejadian karhutla," imbuh Hafidz. Seperti laporan warga di Desa Mancong, Jempang, Kabupaten Kubar, menyebut jika kebakaran berasal dari areal perusahaan. 

"Dan memang motif dari perusahaan memang seperti itu," sambungnya.

Tidak sekadar lahan biasa yang terbakar. Ada juga kabut asap karena lahan gambut yang kering akibat airnya disedot sawit dan akhirnya terbakar. "Karena lahan gambutnya kering jadi mudah kebakar. Nah, kalau sudah kebakar, gambut itu jadi mudah kebakar lagi tahun berikutnya," pungkas Hafidz.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, jika ditemukan ada korporasi yang terbukti sengaja melakukan pembakaran untuk membuka lahan perkebunan, pihaknya akan menindak tegas. Sanksi hingga pencabutan izin bisa dilakukan. 

"Hal ini merujuk pada perundang-undangan dan perda yang berlaku," tegas Ujang. Namun, sejauh ini belum didapati perusahaan yang terbukti dan mendapat sanksi. Saat ini, pihaknya masih melakukan monitoring langsung ke daerah-daerah. Di sisi lain, pihaknya juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan untuk membantu monitor dan pemadaman jika ada kebakaran di sekitar kawasan mereka.

"Iya, jadi ini kami ke daerah-daerah semua buat standby api ini. Ngecek sana-sini" terang Ujang. Dia menjelaskan, sudah membuat edaran. Semua siap siaga. Misal ada lahan di luar areal mereka harus membantu memadamkan. Sebab, api bisa membesar dan bisa saja menyambar ke perkebunan mereka."Ini kan masalahnya menjaga aset mereka juga," pungkasnya.  

Sementara itu, Polres Kutai Timur berhasil menangkap terduga pelaku karhutla bernama Syafii (51) dan Rani (42). Keduanya membakar lahan seluas 4 hektare di Desa Himba Lestari, Dusun Wonosari, RT 01, SP 04, Kecamatan Muara Bengkal, sejak Selasa (17/9). Keduanya diamankan di Polsek Muara Bengkal dan tertangkap tangan karena sengaja membakar lahan untuk berkebun.

Kapolres Kutim AKBP Teddy Ristiawan menjelaskan, kedua pelaku yang diketahui melakukan pembakaran lahan sejak pukul 11.00 Wita itu, untuk membuka lahan perkebunan sawit. “Mereka membuka lahan di Desa Himba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, laporan warga itu ditindaklanjuti dengan mengirim tim dari Polsek Muara Bengkal dibantu tim Polda Kaltim yang sedang melakukan pengawasan sekitar PT MPS,” katanya.

Syafii merupakan karyawan swasta, yang beralamat di Jalan Slamet Riyadi, RT 33, Kelurahan Karang Asam Ilir, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda. Sementara itu, Rani merupakan pekerja swasta yang tercatat sebagai warga Tolo, Kecamatan Keluara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Di Kutim, keduanya tinggal di Desa Himba Lestari, Batu Ampar.

“Saat diperiksa, keduanya mengakui telah membakar lahan dengan menggunakan korek api gas. Setiap pelaku usaha perkebunan yang membuka dan atau mengolah lahan dengan cara membakar atau barang siapa dengan sengaja menimbulkan kebakaran, ledakan atau banjir dikenakan sanksi 10 tahun penjara dan denda Rp 10 miliar,” tuturnya.

Selain korek, polisi mengamankan sampel abu bekas terbakar dari TKP dan satu unit microSD card yang berisi video dan foto kebakaran lahan. Dia mengimbau pada masyarakat yang melihat atau mengetahui pembakaran hutan dan lahan agar dapat melaporkan pada pihak berwajib. Pasalnya, hal itu merupakan langkah konkret untuk menangkap pelaku yang melanggar.

"Laporkan apabila melihat atau mengetahui pelaku yang sudah atau sedang melakukan pembakaran hutan dan lahan ke kantor kepolisian terdekat," imbaunya. Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Ferry Samodra mengatakan, saat ini pihaknya sedang fokus melakukan penyidikan. Selanjutnya, jika berkas tersebut telah lengkap akan dilimpahkan ke kejaksaan.

"Mereka menetap di Kutim untuk berkebun. Polisi terus dalami kasus pembukaan lahan di Batu Ampar ini, jika memang melibatkan perusahaan akan ditindak tegas sesuai aturan, karena akibat pembukaan lahan dengan membakar membuat asap tebal dan mengganggu kesehatan masyarakat,” bebernya.

Menurut dia, kebakaran hutan di kawasan Batu Ampar ini sudah viral di media sosial, sejumlah warga menyebutkan pembakaran lahan yang ada diduga untuk perkebunan karena berada dalam kawasan perusahaan. (nyc/*/la/riz/k8)

 

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 01 Juni 2020 00:53

Samarinda Banjir Terus, Bukti Penanganan Kurang Serius

Banjir menahun di Samarinda sulit diatasi bila tanpa dilakukan dengan…

Senin, 01 Juni 2020 00:48
Perkembangan Covid-19 di Kaltim

Mau New Normal, Bukannya Turun Malah Tambah 6 Orang Positif, 18 Orang Sembuh

 SAMARINDA-Jumlah kasus sembuh kembali lebih banyak dibandingkan kasus positif Covid-19.…

Senin, 01 Juni 2020 00:42

Daerah Jadi Tumpuan Atasi Perubahan Iklim

BALIKPAPAN–Pemerintah daerah (pemda) diharapkan menjadi tumpuan dalam mengatasi perubahan iklim…

Senin, 01 Juni 2020 00:39

Perusahaan Pakaian Produksi Jaket Anti-Corona, Lihat Nih Penampakannya...

VOLLEBAK, perusahaan pakaian yang memproduksi jaket dari graphene dan t-shirt…

Senin, 01 Juni 2020 00:37

Idulfitri di Ruang Isolasi, Menikmati Opor Ayam Kiriman Keluarga

Saat banyak keluarga yang berkumpul merayakan Idulfitri, 13 tenaga kesehatan…

Minggu, 31 Mei 2020 13:35

Ada 102 Daerah yang Masuk Zona Hijau, Kaltim Berapa Daerah?

JAKARTA- Pemerintah mencatat ada sekitar 102 daerah yang masuk zona…

Minggu, 31 Mei 2020 13:21
Buntut Kematian George Floyd

Amerika Rusuh, Mal Dijarah, Jam Malam di 25 Kota

Setidaknya 25 kota di Amerika Serikat memberlakukan jam malam sebagai…

Sabtu, 30 Mei 2020 12:53

NAH KAN..!! Ada Tambang Ilegal di Sekitar Bendungan Benanga

SAMARINDA–Banjir di Samarinda tak lepas dari masifnya pembukaan lahan. Membuat…

Sabtu, 30 Mei 2020 12:49

WAJIB..!! Kantongi Surat Sehat Dulu Baru Beli Tiket

BALIKPAPAN–Setelah ditutup sejak 24 April, Pelabuhan Semayang Balikpapan akan kembali…

Sabtu, 30 Mei 2020 12:47

Angka Sembuh Meningkat, New Normal Tetap Waspada

MESKIPUN jumlah kasus sembuh terus meningkat dibandingkan konfirmasi positif Covid-19,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers