MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Jumat, 20 September 2019 12:10
Asap dan Insaf

PROKAL.CO, Oleh: Bambang Iswanto

Dosen IAIN Samarinda

Jadwal penerbangan ke beberapa bandara di Kalimantan Timur tertunda, bahkan dibatalkan. Akibatnya, banyak urusan tidak berjalan sesuai rencana. Misalnya, konser Padi di Berau hampir batal. Aksi panggung tetap dilakukan, para personel yang sedianya naik pesawat, harus rela melewati jalan darat, dengan durasi waktu yang jauh lebih lama dan melelahkan.

Ada pula beberapa acara yang seharusnya dihadiri narasumber dari luar Kalimantan tapi mesti digantikan narasumber “cadangan”. Dua hal tersebut hanyalah seujung kuku dari dampak asap yang memenuhi langit Kalimantan.

Hampir bisa dipastikan, dampak ekonomi menyertai. Banyak maskapai rugi akibat tertunda dan gagal terbang. Tidak sedikit barang-barang kiriman tertahan di bandara asal, pertemuan-pertemuan terkait bisnis jadi tidak lancar, dan seterusnya.

Dampak negatif asap yang paling ditakutkan adalah ancaman kesehatan akibat udara yang tercemar. Dalam asap terkandung karbon dioksida dan karbon monoksida yang sangat memengaruhi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Kandungan kimia yang bersenyawa di asap dapat merusak sistem pernapasan manusia. Tidak mengherankan, tiba-tiba penyakit pernapasan meningkat. Ya, semua manusia bernapas. Sumber pernapasan manusia adalah oksigen yang berpadu dengan udara.

Jika kualitas udara buruk, tentu saja kualitas oksigen yang dihirup buruk pula. Senyawa kimia yang berbaur dengan udara, masuk dan terhirup ke tubuh. Pada tingkat tertentu, tidak hanya mendatangkan penyakit, tapi sampai pada kematian.

Bencana asap yang menyelimuti udara Kalimantan dan Sumatra ternyata sangat menyengsarakan manusia. Timbul sakit, kekhawatiran, bahkan kepanikan. Ini baru asap. Saya sempat membayangkan dan membandingkan. Ini baru “anaknya” api. Bagaimana jika api yang memenuhi ruang hidup manusia?

Bisa sangat mungkin, Tuhan baru mengirimkan sinyal peringatan dan sentilan kecil kepada manusia agar mawas dan introspeksi diri. Tuhan mengirimkan pesan lewat asap. “Wahai manusia! Peliharalah alam yang sudah kusediakan, jangan rusak. Kalau merusaknya, kalian sendiri yang menanggung akibatnya”.

Lirik lagu Ebiet G Ade yang berbunyi, “Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita” adalah gambaran yang menyiratkan tentang kemarahan alam akibat ulah manusia. Tuhan memberikan teguran, cobaan, musibah, atau azab karena perbuatan dan perlakuan yang tidak adil manusia terhadap alam.

Saya tidak tahu, apakah Ebiet menulis lagu tersebut dari proses perenungannya sendiri tanpa melihat teks keagamaan, atau mencoba menafsirkan isi kandungan Alquran yang banyak menginformasikan tentang datangnya musibah akibat ulah tangan-tangan jahil manusia.

INSAF MAKSIAT DAN EKOLOGIS

Penyebab terbakarnya hutan bisa oleh dua faktor; alam dan ulah manusia. Bumi Kalimantan memiliki karakter khusus. Di bawah tanah, hutan dan lahannya memiliki panas alam yang bisa membakar. Terlebih saat musim kemarau. Akumulasi panas di udara dan panas dari bawah tanah menyebabkan munculnya api secara alami yang membakar hutan.

Dari pemberitaan, didapati fakta, kebakaran yang terjadi lebih dominan disebabkan faktor manusia. Pembukaan lahan dengan motif ekonomi, dengan memanfaatkan situasi kemarau dan kebakaran alami, dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab. Oknum-oknum ini bersembunyi di balik faktor alam.

Ketika ada hutan terbakar, bukannya memadamkan, justru dimanfaatkan untuk membuka lahan untuk kepentingan ekonomi. Keserakahan telah membutakan mata hati mereka dan tidak peduli dampak yang dimunculkan. Yang penting kantong tebal. Ada orang yang sakit, menderita, bahkan meninggal, tidak tebersit dalam benak hitam mereka. Bencana asap lahir dari ketamakan mereka.

Aparat keamanan memang sudah menangkap pelaku pembakaran lahan dan hutan ini. Ternyata asap sudah telanjur menjadi musibah. Pemerintah sudah berikhtiar memadamkan api dengan berbagai cara. Agar bencana asap cepat berlalu, ikhtiar harus dibarengi dengan doa dan tobat. Berdoa agar bencana cepat berlalu, berdoa agar hujan cepat turun membasahi bumi dan menghilangkan asap.

Selain itu, manusia harus bertobat kepada Tuhan. Tobat atas kemaksiatan secara umum dan tobat ekologis. Bencana mungkin turun karena perbuatan manusia yang tidak terkait alam, seperti maksiat. Bisa juga disebabkan dosa manusia terhadap alam.

Tobat terhadap alam dilakukan dengan kembali menjalankan peran sebagai penerima amanah khalifatullah fil ardh (wakil Allah di muka bumi) yang bertugas memelihara alam untuk kemaslahatan umat manusia.

Hanya kesadaran sebagai khalifatullah dan keinsafan atas kelalaian memelihara alam yang menjamin seseorang tidak melakukan perbuatan yang mendatangkan bencana asap dan bencana-bencana alam lainnya. Insaflah, insyaallah asap pergi dan kita terhindar dari “mbahnya asap” yaitu api neraka di akhirat kelak. Amin. (dwi/k16)

 

loading...

BACA JUGA

Senin, 27 Januari 2020 15:34

Belum Mengerucut pada Gambaran Kriteria Calon Walikota Samarinda

Oleh : Diddy Rusdiansyah A.D, SE., MM., M.Si  **) P…

Senin, 20 Januari 2020 10:16

Politisasi Banjir, “Ter-la-lu!”

Oleh Amir Machmud NS   TER-LA-LU...! Aksen gerutuan populer dalam…

Kamis, 09 Januari 2020 10:09

63 Tahun Kaltim, Menyongsong Ibukota Negara

Oleh : Devia Sherly, Founder East Kalimantan Dream EKD (East…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:30

IKN dan Ketimpangan Penguasaan Lahan

Oleh Muhammad Arman Direktur Advokasi Hukum dan HAM Aliansi Masyarakat…

Sabtu, 04 Januari 2020 11:56

Tradisi Membakar Uang

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …

Selasa, 31 Desember 2019 12:58

Tulisan untuk Hari Jadi Kabupaten Paser ke-60

Catatan: Ismail, Guru Fikih Man IC Paser   TANA PASER…

Senin, 30 Desember 2019 00:40

Landscape Pelayanan Digital di Kalimantan Timur

 Oleh: Bambang Irawan Kepala Laboratorium Kebijakan Publik  Fakultas Ilmu Sosial…

Senin, 30 Desember 2019 00:36

Mewujudkan Masyarakat Sadar Hukum

Oleh: M Gatot Subratayuda Mahasiswa Pascasarjana Universitas Brawijaya Asal Kaltim  …

Senin, 23 Desember 2019 09:55

Bela Negara di Lapangan

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Satu smash silang menukik…

Sabtu, 14 Desember 2019 11:18

Memanusiakan Manusia

Bambang Iswanto Dosen Institut Agama Islam Negeri Samarinda    …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers