MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

PRO BISNIS

Jumat, 20 September 2019 11:04
Uang Muka Rumah dan Kendaraan Kian Rendah

Turunkan Suku Bunga, BI Longgarkan Moneter

BI melonggarkan rasio loan to value/financing to value (LTV/FTV) untuk kredit atau pembiayaan properti dan uang muka kendaraan bermotor. Uang muka untuk pembiayaan perumahan turun 5 persen dan kendaraan bermotor 5–10 persen. Ketentuan itu berlaku efektif sejak 2 Desember nanti.

PROKAL.CO, JAKARTA – Ketegangan hubungan dagang AS dan Tiongkok yang diikuti risiko geopolitik membuat ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Dampaknya, perekonomian dunia melambat yang juga berimbas pada pasar domestik. Kondisi tersebut direspons banyak negara dengan melakukan stimulus fiskal dan melonggarkan kebijakan moneter. Itulah yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Untuk kali ketiga tahun ini, BI menurunkan BI 7-day reverse repo rate (BI-7DRRR) 25 bps menjadi 5,25 persen; suku bunga deposit facility menjadi 4,50 persen; dan lending facility menjadi 6 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan bahwa ada beberapa pertimbangan BI dalam memutuskan pelonggaran kebijakan moneter. ’’Kebijakan tersebut sebagai langkah preemptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat,’’ jelas Perry di gedung BI kemarin (19/9).

Untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, BI pun meluncurkan sejumlah kebijakan. Di antaranya, meningkatkan kapasitas penyaluran kredit perbankan dan memacu permintaan kredit pelaku usaha. Pengaturan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) atau RIM syariah disempurnakan dengan menambahkan komponen pinjaman atau pembiayaan yang diterima bank.

Selain itu, otoritas moneter tersebut kembali melonggarkan rasio loan to value/financing to value (LTV/FTV) untuk kredit atau pembiayaan properti dan uang muka kendaraan bermotor. Uang muka untuk pembiayaan perumahan turun 5 persen dan kendaraan bermotor 5–10 persen. Ketentuan itu berlaku efektif sejak 2 Desember nanti.

Kemudian, BI juga memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi pasar uang. Caranya, penyeragaman instrumen operasi moneter terbuka (OPT). ’’Kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi,’’ ujar Perry.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana menyambut baik penurunan suku bunga acuan yang dilakukan BI. Menurut Wisnu, kebijakan tersebut bisa menjadi stimulus untuk mendukung pertumbuhan. ’’Langkah itu dilakukan karena kinerja ekspor turun dan investasi tetap melemah,’’ katanya di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan tidak ingin kebijakan pemangkasan suku bunga oleh The Fed terus direspons Indonesia. Meski begitu, dia akan tetap mewaspadai perkembangan global sebagai akibat penurunan suku bunga AS. ’’Mungkin kita tidak perlu harus terus-menerus bereaksi terhadap keputusan tiap stage,’’ ujarnya setelah wisuda PKN STAN di ICE BSD, Tangerang Selatan, kemarin.

Dia menambahkan, langkah bank sentral AS memangkas suku bunga dimaksudkan sebagai antisipasi pelemahan ekonomi di negara tersebut. Apalagi, ada ancaman resesi yang melanda AS pada tahun depan sehingga dibutuhkan respons sejak dini.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, respons setiap negara terhadap kebijakan The Fed akan berbeda-beda. Berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, bakal melakukan langkah antisipasif menghadapi pelemahan ekonomi global dengan kebijakan fiskal maupun moneter. ’’Jadi, kami tetap siaga atau stabil dalam melihat trennya itu mau ke mana dan apa yang harus kami lakukan sebagai suatu negara untuk memperkuat ketahanan kita dalam melihat ketidakpastian,’’ jelasnya. (ken/dee/c14/oki)


BACA JUGA

Senin, 21 Oktober 2019 13:40

Investasi Terhambat, Konsumsi Tersendat

JAKARTA– Kondisi ekonomi global belum juga menunjukkan sinyal yang membaik.…

Senin, 21 Oktober 2019 10:12

Terdampak Perang Dagang AS-Tiongkok, Kinerja Ekspor Kaltim Melemah

SAMARINDA – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang…

Senin, 21 Oktober 2019 10:11

Tekan Biaya Investasi dengan Konsorsium

BALIKPAPAN – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama dengan PT…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:14

Nikmati Diskon Natal dari Sekarang

SAMARINDA – Tak perlu menunggu akhir tahun untuk menikmati diskon…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:03

April 2020, Ponsel BM Tak Lagi Bisa Beredar

JAKARTA– Rencana penegakan peraturan validasi International Mobile Equipment Identity (IMEI)…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:26

Ekspor CPO ke India Bisa Membesar

SAMARINDA – Pengusaha kelapa sawit tampaknya bisa memperbesar ekspor crude…

Jumat, 18 Oktober 2019 11:18

Perusahaan Kaltim Minat IPO, Sudah Ada 12 Perusahaan yang Serius

BALIKPAPAN – Bursa Efek Indonesia (BEI) Balikpapan terus mendorong minat…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:33

10 BUMN Bantu Merpati Terbang Lagi

JAKARTA– Sepuluh badan usaha milik negara (BUMN) bersinergi untuk membangkitkan…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:18

Tanpa IKN, Investasi Hilirisasi Harus Masuk

SAMARINDA – Tumbuhnya sektor lain selain pertambangan batu bara diharapkan…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:17

Apindo Berencana Bangun Kawasan Ekonomi, Lirik Lahan 10 Hektare di Kawasan IKN

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim bertekad untuk berkontribusi dalam pembangunan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*