MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

BALIKPAPAN

Jumat, 20 September 2019 10:47
Sembilan Tahun Cuma Dapat Angin PDAM

PROKAL.CO, APA yang dialami warga Gunung Guntur Asri terasa mengecilkan kesusahan yang dirasakan sebagian warga perbukitan Balikpapan Barat yang sudah sepekan tak teraliri air PDAM.

Mereka juga sudah lama tak dapat air PDAM. Tujuh hari? Terlalu kecil. Tujuh bulan, mereka masih bisa maklum. Tapi tujuh tahun lebih, bagaimana rasanya? Tepatnya 9 tahun, air PDAM tak pernah menyinggahi rumah mereka.

"Meteran PDAM ada. Tuh di pojok teras. Tapi nggak ada gunanya," ketus Takur, demikian ia mengenalkan diri kepada media ini kemarin sore.

Bersama sejumlah warga, Takur sedang berleha-leha di teras rumahnya di RT 29 Kelurahan Gn Sari. Raut tak senang tampak di wajahnya saat PDAM jadi bahan pembuka obrolan.

Hanya perlu pancingan sedikit soal air ngadat saat kemarau, Takur lantas nyerocos di kawasan tempatnya tinggal air ngadat tak kenal musim. "Musim kemarau, musim hujan, musim rambutan sampai musim kawin sama saja. Air tak pernah ngalir," katanya.

Dulu, duluuuuu, lanjutnya. Air masih ngalir kalau jelang perayaan hari besar. Misalnya Lebaran atau Natal. Tapi beberapa bulan terakhir, ups, beberapa tahun terakhir, aliran air insaf menyinggahi kawasan ini.

Satu dua tahun pertama warga meski dengan berat hati masih membayar biaya abonemen, retribusi wajib PDAM. Tapi karena air tak kunjung mengalir, warga pun protes. Baik kepada petugas yang tiap bulan mendata meteran, atau kepada petugas loket tempat biasa melunasi rekening air. "Saya ngamuk-ngamuk di loket PDAM. Masak tiap bulan bayar abonemen tapi air nggak pernah ngalir. Zalim nggak pemerintah kalo begini," katanya.

Lalu tanpa digerakkan, warga pun insaf membayar biaya abonemen. Petugas PDAM yang biasa datang mendata juga tak pernah muncul lagi.

Soal tak bayar abonemen ini dibenarkan petugas PDAM yang beberapa hari sebelumnya bertemu media ini saat mendata meteran air di sekitar Gn Guntur. Petugas yang tak ingin dikorankan namanya ini menyebut, ia malu datang ke sebagian besar kawasan Gn Guntur Asri untuk mendata meteran, sebab sudah sekian lama air PDAM tak mengalir di kawasan ini.

Kembali ke Takur, menurutnya warga sudah telanjur kecewa. Baik dengan PDAM ataupun sejumlah caleg yang sering menjanjikan air akan lancar jika warga memilih caleg yang berkampanye di kawasan tersebut.

"Kalau ada pertanyaan apa mau kami sekarang, kami mau ganti itu semua direksi PDAM. Ganti bagian distribusi. Bagi kami ini soal pilih kasih. Warga di sini dianaktirikan," katanya berapi-api.

Sejumlah tetangga yang bersamanya duduk di teras kompak membenarkan pendapat Takur. Ogel salah satunya. Ia mencontohkan, jika alasan air tak mengalir karena kawasan Gunung Guntur Asri ada di perbukitan, masalah itu termentahkan. Karena permukiman warga di Jalan Beller lebih tinggi, dan nyatanya air mengalir terus di situ.

"Kalau bicara masalahnya tekanan, harusnya PDAM tambah booster untuk penguat. Bukan membiarkan pelanggan nungguin air sampai tengah malam. Yang ditunggu tak pernah datang," katanya.

Lalu bagaimana mereka mengatasi persoalan ini? Takur menyebut, warga tak kurang 100 KK pada akhirnya tak bisa menunggu pemerintah membereskan. Kini warga mengusahakan air secara swadaya. Mereka menggali sumur bor, membuat IPA mini, lalu mendistribusikan air ke rumah-rumah warga dengan pipa PVC.

Masing-masing KK dijatah maksimal dialiri air 1 hingga 1,5 jam per hari. Bergantung topografi rumah. Dengan durasi itu biasanya sudah bisa tertampung 2 hingga 3 drum ukuran 200 liter.

Soal tarifnya? Takur mengaku paling banyak Rp 50 ribu per bulan. Untuk bayar listrik dan operasional IPA.

Takur menyebut, warga masih berharap pemerintah mau mengulurkan bantuan berupa mesin pompa. Karena yang ada belum optimal.

"Hitung-hitung bayar dosa pemerintah. Bertahun-tahun kami bayar abonemen, tapi saat buka keran cuma dapat angin. Memangnya tambal ban," timpal Ogel. (ms/k15)


BACA JUGA

Selasa, 22 Oktober 2019 13:34

DIKIT BANGET..!! Kuota CPNS Balikpapan Hanya 250 Orang

BALIKPAPAN— Ada kabar terbaru soal seleksi calon pegawai negeri sipil…

Selasa, 22 Oktober 2019 13:34

Tahun Depan, UMK Naik 8,5 Persen

BALIKPAPAN – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan kenaikan upah minimum…

Selasa, 22 Oktober 2019 13:32

KIA untuk Murid SD Diproses Kolektif

BALIKPAPAN - Sesuai aturan pemerintah yang memberlakukan kartu identitas anak…

Selasa, 22 Oktober 2019 13:30
Menengok Siswa-siswi Berprestasi Asal Balikpapan (1)

Ketagihan Matematika, Kantongi 5 Medali Emas Internasional

Usia yang masih muda tak menciutkan semangatnya mengukir prestasi. Sederet…

Senin, 21 Oktober 2019 11:06

November, Roda Tiga Siap Dibagikan

Urusan mengelola sampah harus inovatif. Terbaru, kendaraan roda tiga yang…

Senin, 21 Oktober 2019 11:06

Genangan dan Jalan Rusak Dikeluhkan

BALIKPAPAN— Kondisi Kota Minyak sekitar 85 persen merupakan daerah perbukitan…

Senin, 21 Oktober 2019 11:05

Penjahat Narkoba Melawan, Tembak di Tempat

BALIKPAPAN – Peningkatan kasus penyalahgunaan narkotika yang kian tinggi, membuat…

Senin, 21 Oktober 2019 11:04

Level Air Sisa 8,6 Meter, Hujan Ngga Ngefek di Waduk Manggar

Sepekan terakhir Balikpapan sering diguyur hujan. Sayangnya itu belum berpengaruh…

Senin, 21 Oktober 2019 09:44

KABAR BAIK..!! Proyek Coastal Area Kembali Bergairah

Pemindahan ibu kota ke Kaltim membuat Balikpapan diuntungkan. Proyek yang…

Senin, 21 Oktober 2019 09:38
Muhammad Dendy, Penyandang Disabilitas Tuli di Pemuda Pelopor

Kenalkan Bahasa Isyarat hingga Tak Ingin Disebut Tuna Rungu

Berbeda tak lantas membuatnya merendah. Meski jadi satu-satunya wakil dari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*