MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

KOLOM PEMBACA

Senin, 16 September 2019 14:15
Kelasnya Kota Keretek
M Chairil Anwar

PROKAL.CO, Oleh :

M Chairil Anwar

Warga Samarinda yang bekerja di Pemprov Kaltara

 

PERDANA saya menginjakkan kaki di Kudus. Kabupaten di Jawa Tengah. Dua pekan lewat. Dari Semarang, satu setengah jam perjalanan darat. Kudus disebut juga Kota Keretek. Sejak zaman kompeni. 

Kudus merupakan daerah penghasil rokok di Indonesia. Sama dengan Temanggung, kabupaten se-provinsi. Juga Kediri di Jawa Timur. Perusahaan sigaret Tanah Air berbasis di Kudus. Eksis sampai sekarang. 

Produknya bercita rasa khas. Bisa jadi untuk jenisnya: termaknyus di dunia. Tembakau dicampur cacahan cengkeh. Itulah mengapa disebut keretek. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bakunya adalah keretek. Ada intermeso. Diberi nama keretek karena saat dihisap berbunyi keretek-keretek.

 Lawatan saya ke Kudus bukan JJB alias jalan-jalan biasa. Lebih-lebih hanya untuk memburu rokok keretek. Bukan! Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan punya gawean. Tajuk kegiatan: rapat sinkronisasi program SMK tahun 2020. Empat hari di Semarang. 

Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi se-Indonesia, pesertanya. Sela-sela kegiatan, diberi slot sehari jelajah Kudus. Hari Senin itu rombongan disebar ke lima bus. Berangkat tepat pukul 7 pagi. Tiba kembali di hotel pukul 7 malam. Lima SMK jadi destinasi. 

Binaan Djarum Foundation. Organisasi nirlaba bentukan PT Djarum. Hartono bersaudara yang empunya. Taipan terkaya se-Indonesia Raya. Saya, mungkin juga sebagian peserta lain, penasaran. Punya pertanyaan sama: Apa istimewanya sekolah itu sampai harus dikunjungi?  

Saya memang sengaja tidak berselancar ke Google untuk mencari tahu bagaimana sekolahnya. Semata-mata supaya rasa penasaran terjawab alamiah. Kali ini. Tanpa campur tangan teknologi informasi. Biarlah kesimpulan itu ditarik di pengujung kunjungan. Bukannya begitu ya semestinya. Dan, afdal rasanya. Bukan terlalu dini menilai. Apalagi, cuma lewat dunia maya menontonnya. Serba terbatas. Terbatas ukuran layarnya. Terbatas juga paket data handphone saya. Hehehe. 

Singkat cerita, satu sekolah dari antaranya, membuat saya berdecak kagum. SMK Raden Umar Said (RUS) namanya. Dari gerbang sekolah, tidak ada yang spesial. Di banyak sekolah, gedung administrasi menjadi semacam ikon. Representasi wajah sekolah. 

Tidak dengan SMK RUS. Biasa-biasa saja. Ada bagusnya. Kepala sekolah jadi tak betah berlama-lama di ruang kerja. Ia harusnya banyak-banyak di luar. Mendengar curhat dunia usaha dan dunia industri (Dudi). 

Biar begitu, sekolah swasta itu punya ruang praktik siswa yang wah. Juga dibekali fasilitas luar biasa gahar. Prosesor Intel Core i7 dengan RAM 16 Gb menjadi spesifikasi terendah komputer yang digunakan. Ter-low end loh ya. Belum lagi bicara tablet grafis, hingga printer 3D untuk keperluan pembuatan animasi. Teknologi mutakhir pokoknya. Studio animasinya diklaim setara dengan studio kelas Hollywood. 

Saya mendapati ada pengajar yang berpenampilan bak karakter anime. Berambut lurus panjang nyaris sepinggang. Berjubah sepanjang di bawah lutut dengan kerah setinggi telinga. Serbahitam. 

Awal pengembangan, Woody Woodman didatangkan sebagai konsultan. Ia ilustrator profesional asal Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Pernah di Walt Disney Feature Animation. Animator film Tarzan (1999). 

Dalam satu gedung, ruang praktik dipadukan dengan ruang teori dan perpustakaan mini. Saling terhubung. SMK RUS merupakan sekolah animasi terbaik di Indonesia. Pun, se-Asia Tenggara. Sudah mendunia. 

Konon, jadi wadah magang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta. Bidang TI yang mencolok. Terkenal lagi di Indonesia. Ada embel-embel Nusantara-nya. Bukan maksud membandingkan. Lebih-lebih merendahkan. Apalagi menjelekkan. Faktanya jenjang pendidikan lebih tinggi sampai menimba ilmu ke sana. Mahasiswa belajar ke SMK. Dengan siswa maha (bahasa Kutai yang artinya saja). Wow!

Memang tidak dilarang. Kan belajar bisa di mana saja. Apa saja. Dengan siapa saja. Tanpa mengenal tingkat pendidikan dan batasan usia. 

Bentuk kagum itu saya bagikan ke WhatsApp Stories. Video durasi 30 detik dengan keterangan "Keren ruang praktik siswanya @SMK Raden Umar Said Kudus". Suasana bak studio film tersaji. 

Mafhum, baru pertama kali lihat sekolah begituan. Melihat saja sudah bangga. Prototipe-nya bisa berdiri di Kaltara, secara umum Kalimantan, pasti tambah bangga. Harusnya bisa! Sesuai slogan SMK, "Bisaaa.. Hebat". Ibrahim, rekan kerja saya saat di Samarinda, memberi komentar terhadap unggahan tersebut. "Jauh ketinggalan sekolah di Kaltim," tulisnya.

 Ada pula Koni. Perempuan yang baru melepas lajang ini berujar, "Sponsornya juga keren dong, Djarum." 

Andai saya tahu dari Google lebih awal ihwal sekolah itu, mungkin saya nilai 8 kurus dari skala 10. Pasti, beda dengan melihat langsung. Nilai 8 gemuk, bahkan 9 pun layak disematkan. Rasa yang membuat nilai tambah. Tidak ditemukan dengan menonton video di gadget. 

Saya berpendapat sarana dan prasarana itu hadir untuk menggairahkan semangat belajar siswa. Lebih dari mendukung pembelajaran tok! Siswa perlu nyaman dalam belajar. Senyaman ketika ia bermain. Kalau sudah begini, siswa jadi betah belajar dan berlama-lama di sekolah. Tidak lagi terbatas delapan jam pembelajaran sehari untuk menggugurkan kewajiban. Apalagi bergelut di industri kreatif. 

Saya masih berkeyakinan karya baik dihasilkan dari suasana hati yang tenang dan nyaman. Baru-baru ini siswa SMK RUS  merampungkan video animasi 3D pesanan perusahaan otomotif Jepang untuk tujuan pemasaran produk. Masih sekolah saja mereka sudah menghasilkan duit. 

Kurikulum kerja yang memberi ruang itu bisa diperbuat SMK RUS. Dalam perumusan kurikulum, Dudi dilibatkan. Di sana, jangan harap menemukan tata letak susunan meja bersaf. Interior ruangan dibuat berdesain unik. Ada perosotan bentuk melingkar di dalamnya. Tingginya kurang lebih dari 4 meter. 

Ruang belajar macam wahana bermain. Galeri kaca memuat miniatur action figure terpampang. Karya orisinil siswanya. Tiang-tiang bangunan jadi titik tengah meja yang melingkar. Berpendingin udara yang sejuk. Luas bangunan 450 meter persegi bikin ruang gerak lega. 

Katanya sengaja dibuat demikian biar siswa banyak bergerak. Interaksi sesama siswa jadi lebih hidup untuk saling berbagi ilmu. Ruangan itu kedap cahaya sinar. Sesekali mereka keluar ruangan untuk menghirup udara luar. 

Saya berkesempatan berjumpa Direktur Program Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Primadi H Serad. Sutradara di balik terwujudnya kelas keren pencetak animator. Sebelum duit diguyur untuk pengembangan kompetensi keahlian, dilakukan riset mendalam. 

Tidak sebentar. Ada yang sampai tahunan. Ia berujar, "Membangun infrastruktur gampang. Tinggal kasih duit, bangun, selesai. Yang sulit itu, mau diapakan setelah ada. Makanya visi kepala sekolah itu penting. Mau dibawa ke mana sekolahnya. Kami cari kepala sekolah yang bukan hanya sebagai manajer, tapi pemimpin," katanya. 

Layak atau tidak sekolah terima bantuan, kepala sekolah dan guru jadi penentu. Bukan Djarum Foundation sebagai pendonor yang memutuskan. Melainkan, melibatkan Dudi. 

Menggunakan standar mereka. Jelas. Merekalah yang paham kebutuhan sebagai pengguna jasa. Dan, handak-nya (bahasa Banjar yang artinya mau) pasar seperti apa. Sebenarnya upaya pemerintah dengan konsep teaching factory di SMK telah tepat. 

Sebagai jembatan mengatasi kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri. Ini juga bagian dari mempererat kerja sama dan sinergi SMK dengan Dudi. 

Dari sekian kompetensi keahlian di sekolah, Djarum Foundation dalam programnya hanya mengembangkan satu dari antaranya. Salah mengelola bisa muncul api dalam sekam di sekolah. Di situlah, peran kepala sekolah yang dituntut mampu mengomunikasikan kepada guru dan siswa kompetensi lain.

Sisi Oemar Bakrie yang kompetensi keahliannya dikembangkan juga harus siap. Mampu dan terampil mengoperasikan peralatan canggih. Memenuhi standar industri. 

Benar saja. Bagaimana mungkin guru bisa mentransfer ilmu kepada siswa terhadap yang tidak diketahui dan tak dikuasai. Primadi mengungkap, sekolah binaan Djarum Foundation tak melulu berhasil. Ada pula yang gagal. Dari 15 sekolah, hampir separuhnya dianggap kategori demikian. 

Dalam evaluasi, strategi diubah. Kata ia, tidak cukup kepala sekolah dan guru. Yayasan juga harus didekati. Mereka punya andil menentukan keberhasilan program. "Sudah jadi rahasia umum, ada yayasan yang lebih kuat dari kepala sekolah. Makanya diajak duduk bersama. Biar sepaham. Tidak jalan masing-masing," ujarnya.  

Dari itu semua, saya sempat berdiskusi dengan kawan asal Kaltim. Kami sepemikiran. "Kok sekolah yang didatangi semuanya swasta? Apa tidak ada contoh negerinya?" 

Kawan saya itu lalu bercerita, ia mendapat jawaban dari salah seorang pejabat kementerian. Dijelaskan, regulasi belum memungkinkan untuk diimplementasikan di SMK negeri. 

Tak spesifik aturan mana yang dimaksud. Andai benar regulasi sebagai rintangan, daerah berharap petinggi di Senayan --Kemendikbud berkantor-- melakukan pembenahan terhadap aturan tersebut. Saya berpikiran positif. Tentu, pengganjal itu sudah dipikirkan bapak-bapak di sana untuk dienyahkan. Sekarang, kami di daerah menantinya. (rdh/k15)


BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2019 13:28

Gebyar Pilkada Serentak Tahun 2020

Oleh: Galeh Akbar Tanjung* Pelaksanaan Pilkada serentak untuk pemilihan Bupati…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:13

Indonesia yang Lebih Baik

Oleh Alias Candra Dosen IAIN Samarinda dan Wakil Sekretaris Bidang…

Rabu, 09 Oktober 2019 12:11

Potret Produksi Buah-buahan di Mahulu Tahun Lalu

Oleh: Didit Puji Hariyanto Staf Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik…

Senin, 07 Oktober 2019 01:19

Sajak Cinta

“Kerinduanku memuncak pada rabbaku Kehidupanku menari diroda hatimu Masihkah kau…

Senin, 07 Oktober 2019 01:16

Greta Thunberg, Anak STM, dan Gerakan Sosial Generasi Z

Muhammad Nizar HidayatStaff pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas…

Kamis, 03 Oktober 2019 11:33

Sekolah Inklusi untuk Penyandang Disabilitas

Oleh: Eko Yuniarsih Guru BK SMA 8 Samarinda    …

Kamis, 03 Oktober 2019 11:31

Pedofilia dan Hukum Kebiri

Oleh: Siti Subaidah Pemerhati Lingkungan dan Generasi   Sepekan terakhir…

Kamis, 03 Oktober 2019 11:30

Menolak Tirani Hukum

Oleh : Harry Setya Nugraha Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman…

Kamis, 26 September 2019 13:52

Demo Mahasiswa dan Viral Tilawah Fathur

Oleh: Oleh Amir Machmud NS VIRAL tilawah sejumlah surah Alquran Juz…

Jumat, 20 September 2019 12:10

Asap dan Insaf

Oleh: Bambang Iswanto Dosen IAIN Samarinda Jadwal penerbangan ke beberapa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*