MANAGED BY:
JUMAT
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Senin, 16 September 2019 13:11
Thareq Kemal Habibie Tak Mau Berkarir di Bawah Bayangan Bapak
Dikira Pebisnis, padahal PNS Merangkap Chef Lulusan Jerman
Thareq Kemal Habibie

PROKAL.CO, Penampilan serbahitam dengan penutup mata membuat sosoknya terlihat misterius. Mirip bajak laut. Mirip juga dengan Nick Fury, tokoh di film Avengers yang tak ragu berbuat sadis demi menuntaskan misi. Namun, bayangan itu langsung buyar setelah bercengkerama dengan pria 52 tahun tersebut.

 

ZALZILATUL HIKMIA, Jakarta

 

”YA. Saya sekarang Nick Fury, direktur S.H.I.E.L.D cabang Indonesia,” kelakar Thareq, lantas tertawa. Luntur sudah kesan garang yang sempat tersemat kepadanya sejak awal kemunculan. Sosok Thareq jauh dari itu. Sepanjang obrolan, dia kerap menyisipkan guyonan. Tawanya selalu jadi selingan renyah di tengah sunyinya malam. ”Gara-gara penutup mata ini nih, saya jadi dimintain foto melulu hehe,” lanjut dia di sela-sela meladeni sesi foto bersama sejumlah warga pada Sabtu malam (14/9), di rumah duka, Jalan Patra XIII, Kuningan, Jakarta Selatan.

Jarum jam menunjuk angka 22.00 WIB. Acara doa bersama untuk almarhum Presiden Ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie sudah rampung dua jam lalu. Namun, beberapa orang masih berseliweran di depan gerbang rumah. Berharap bisa bertemu salah seorang anggota keluarga Habibie dan berfoto bersama.

Kebetulan, Thareq yang keluar gerbang. Dia mengantar Presiden Pertama Timor Leste Xanana Gusmao yang hendak pulang. Kesempatan emas itu tak disia-siakan warga yang sejak tadi menunggu. Anak kedua dari pasangan Habibie-Ainun tersebut langsung diserbu.

Sama dengan almarhum bapaknya, Thareq sangat ramah. Semua permintaan foto dilayani. Dengan memasang senyuman lebar, entah berapa kali jepretan dari belasan kamera handphone mengabadikan wajahnya. Tak ada raut lelah. Padahal, dia sibuk sejak sore. Menyiapkan acara tahlilan bersama untuk orang tuanya.

Tapi, topik soal eye patch di mata kanan dan isu donor kornea bapak ibunya sempat menghilangkan tawanya. Dia hanya geleng-geleng kepala dengan informasi liar yang tersebar di masyarakat tersebut. ”Saya nggak ngerti, siapa yang bikin hoaks kayak gitu,” katanya.

Thareq bercerita, penutup mata itu dipakai sejak 3,5 tahun lalu. Bukan disebabkan penyakit-penyakit seperti kabar burung yang beredar. Gangguan penglihatannya muncul karena diabetes yang diderita. ”Diabetes saya itu menyebabkan glaukoma,” ungkap suami Widya Leksmanawati tersebut.

Terjadi perubahan tekanan pada mata kanannya. Jadi, lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisi normal. Akibat tekanan tersebut, retina mata kanan tergencet sehingga menghancurkan sel-selnya. ”Seratus persen hancur,” jelasnya.

Thareq sempat membuka penutup matanya. Tangan kanannya bahkan melebarkan kelopak matanya untuk memperlihatkan kondisi matanya. ”Biar bisa lihat, saya nggak katarak nggak apa,” katanya menggebu.

Penutup mata itu memang dia perlukan. Ketika mata kanannya tak menggunakan eye patch, dia merasa tak bisa melihat apa pun. Semua tampak buram. Termasuk cahaya. ”Kalau ditutup gini, saya lebih fokus,” ujar dia seraya menutup mata kanannya.

Glaukoma tak bisa disembuhkan seperti kelainan mata yang menjangkiti kornea. Kerusakan pada kornea lebih mudah diatasi dengan keratoplasti atau transplantasi kornea dari pendonor mata. Sedangkan glaukoma yang menyerang retina hanya dapat dipulihkan dengan teknologi steam cell, yang dinilainya masih jauh dari harapan. ”Makanya, kabar soal donor kornea itu juga tidak benar,” tegas ayahanda Farhan Sultan Habibie, Farrah Azizah Habibie, dan Felicia Rasyida Habibie itu.

Mood-nya tampak kembali membaik ketika obrolan beralih pada keberadaannya selama ini. Banyak yang kaget dengan kemunculan pertamanya. Sebab, selama ini Thareq jauh dari sorotan. Itu berbeda dengan sang kakak, Ilham Habibie, yang kerap muncul bersama sang bapak. Thareq juga menyadari hal tersebut. Dia mengaku sengaja tak sering muncul. Selain tuntutan pekerjaan, dia ingin berusaha membangun karir sendiri tanpa disangkutpautkan dengan nama besar seorang B.J. Habibie. Alasan itu pula yang mendasarinya tidak mendaftar di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). ”Pasti kalau ada apa-apa ditanyain, udah nanya bapak lu belum? Udah ini belum? Gak mau saya gitu,” tegasnya.

Lucunya, banyak yang salah sangka dengan pekerjaannya selama ini. Banyak yang menyangka Thareq seorang pebisnis. ”Saya bukan pebisnis. Saya PNS (pegawai negeri sipil, Red) golongan IV-c,” ujar dia, kemudian terkekeh. ”Saya bisa umpetin 28 tahun, lumayan kan?” sambungnya, lantas terbahak.

Thareq resmi menjadi abdi negara pada 1991. Di awal karir, dia bertugas di Sekretariat Negara. Dia pernah membantu Akbar Tandjung ketika menjadi menteri sekretaris negara pada 1998–1999.

Kini tugas dan posisinya berbeda. Meski enggan menyebutkan jabatannya, lulusan Technical University of Braunschweig, Jerman, itu sedikit membocorkan bahwa dirinya sering dikirim ke luar negeri untuk menyelesaikan misi khusus. Pernah dalam setahun dia harus menetap sampai delapan bulan di luar negeri. Dia dipercaya karena kemampuannya menguasai banyak bahasa. Ditambah, kemahirannya berdiplomasi yang dipelajarinya dari sang bapak dan ilmu teknologi yang dipelajarinya ketika kuliah. ”Semacam tim advance. Dikirim untuk negosiasi awal. Makanya, gak boleh sering-sering muncul,” paparnya.

Menariknya, pilihan berkarir sebagai PNS muncul sejak kecil. Keinginan tersebut datang saat sang bapak menjabat menteri negara riset dan teknologi. Waktu itu Thareq yang masih berusia 12 tahun diboyong ke Indonesia oleh Habibie dan Ainun. Karena itu, sehari-hari dia sering disuguhi pemandangan kehidupan PNS yang sibuk melayani rakyat. Terlebih ketika dia memasuki ruang rapat Habibie sepulang sekolah.

”Dulu satu-satunya tempat bisa lihat bapak hanya pas di ruang rapat. Jadi, abis pulang sekolah selalu ke sana,” kenangnya.

Melihat sang bapak yang tak kenal lelah melayani masyarakat membuat Thareq kecil terinspirasi. Dia menganggap pekerjaan tersebut keren. ”Dulu kan jadi PNS itu wah banget, ya. Benar-benar bikin bangga,” katanya.

Thareq juga sangat mandiri. Dia selalu berdiri jauh dari bayang-bayang nama Habibie. ”Karena bapak selalu berpesan, lebih baik dikenal orang karena kehebatannya daripada oh, kamu anak Habibie toh,” imbuhnya.

Lama menggeluti pekerjaannya membuat Thareq enggan berpolitik. Dia bahkan ogah dekat-dekat dengan dunia politik. ”Saya benci politik. Saya mau nanti, setelah pensiun buka restoran saja,” katanya. Ternyata si bungsu itu sangat menggemari dunia kuliner. Dia pernah diam-diam masuk sekolah memasak ketika masih kuliah di Jerman. Thareq bahkan sudah memegang gelar chef. Dia mahir memasak menu-menu Jerman, Italia, Prancis, Jepang, hingga menu lokal Indonesia. ”Saya kuliah insinyur. Punya gelar S-2 tiga biji. Tapi, itu maunya orang tua saya. Jiwa saya mah pemasak,” ungkap Thareq sambil sesekali membetulkan letak eye patch-nya.

Sebelum menjadi PNS, dia pernah coba-coba buka restoran. Eh, ketahuan sang bapak. Habibie berang. Alhasil, restoran yang baru seumur jagung itu pun harus tutup. ”Marah-marah dia. Katanya, capek-capek saya kirim kamu ke Jerman jadi insinyur kok malah masak hahaha,” kelakarnya.

Tapi, kini dia sudah mengantongi izin untuk kembali menekuni dunia yang dicintainya. Jauh sebelum Habibie wafat, Thareq sempat bertanya apakah boleh dirinya membuka restoran. Siapa sangka, tanpa pikir panjang, sang bapak langsung memberikan lampu hijau. ”Terserah deh, kamu kan sudah mau pensiun. Udah habis karirmu,” tirunya, kemudian terbahak.

Begitu mendapat izin, dia langsung menyiapkan konsep restorannya. Dia ingin menu yang disajikan berbeda-beda setiap hari. ”Sekarang kan zamannya fusion restaurant, ya. Mungkin itu,” katanya. Yang pasti, dia akan menggabungkan cita rasa Jerman dan Indonesia. Apalagi, dia sudah mengantongi resep andalan sang ibu, Ainun. ”Ayam panggang yang dimulai dari ibu saya, dan saya yang mem-perfect-kan resepnya. Jadi, cuma saya yang tahu,” ucapnya, lantas tersenyum. (*/c10/oni)

 


BACA JUGA

Kamis, 17 Oktober 2019 10:30

Harga Gas Rumah Tangga Segera Naik

PROBOLINGGO  – Pemerintah berencana menyesuaikan harga gas untuk rumah tangga.…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:19

Dibayangi Ketidakpastian Global, Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Terancam

SAMARINDA – Pertumbuhan ekonomi Kaltim terancam tidak maksimal. Salah satu…

Kamis, 17 Oktober 2019 10:03

WADUH..!! Ada Temuan Retakan di Pesawat Boeing 737NG

JAKARTA, Jawa Pos - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Dirjen Hubud)…

Kamis, 17 Oktober 2019 09:58

Jangan Takut Turun ke Jalan, Perppu KPK Masih Ditunggu

JAKARTA – Larangan demonstrasi menjelang pelantikan presiden dikeluarkan aparat. Meski…

Rabu, 16 Oktober 2019 18:09

Ruangan PPK Kementerian PUPR Disegel KPK

PROKAL.CO, SAMARINDA - Salah satu ruangan yang ditempati Pejabat Pembuat…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:54

OTT di Kaltim, KPK Amankan Delapan Orang

Kepala BPJN Ikut Diperiksa--sub     JAKARTA-Untuk kali kedua tahun…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:34

Suami Bakar Istri di Depan Anak, Juga Bawa Kabur Motor Penjaga Kos

SURABAYA– Teriakan minta tolong terdengar di kamar kos yang beralamat…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:33

TNI AD Sanksi Tujuh Anggota, Pastikan Tidak Matikan Karir Prajurit

JAKARTA– Unggahan bernada sumbang atas insiden penusukan terhadap Menteri Koordinator…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:32

KPK Habis, Presiden Tak Kunjung Terbitkan Perppu

JAKARTA– Revisi UU nomor 30 Tahun 2002 Tentang KPK akan…

Rabu, 16 Oktober 2019 10:30

OTT KPK di Kaltim, Castro : Pemerintah Masih Abai Dalam Pengawasan

PROKAL.CO, SAMARINDA - Pusat Studi Anti Korupsi (SAKSI) Fakultas Hukum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*