MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 11 September 2019 11:20
Setiap Keris Punya Karakter, Salah Pakai Bisa Didenda
Mencuci keris atau bisoq keris bukan tradisi kemarin sore. Budaya ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Hanya saja, tak banyak yang melaksanakannya secara massal. Dengan jumlah keris mencapai puluhan.

PROKAL.CO, Setiap tahapan dalam prosesi Bisoq Keris menyimpan makna. Begitu pula peranti yang digunakan. Air bersih, bunga, hingga wewangian memiliki nilai filosofis. Yang membuat pemiliknya semakin dekat dengan benda pusakanya.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, GIRI MENANG

 

Mencuci keris atau bisoq keris bukan tradisi kemarin sore. Budaya ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Hanya saja, tak banyak yang melaksanakannya secara massal. Dengan jumlah keris mencapai puluhan.

”Selama ini memang belum ada yang melakukan. Kalaupun ada, itu dilakukan sendiri-sendiri. Tidak seperti (sebesar) ini,” kata Ki Ageng Jelantik Sadarudin. Seorang dalang sekaligus pengemban budaya dan adat Sasak.

Bagi Sadarudin, Bisoq Keris merupakan hajatan yang baik. Perilaku positif ditunjukkan pemiliknya terhadap warisan benda pusaka, yang diwariskan kepadanya. Bertujuan menjadikan pemilik lebih dekat dengan kerisnya.

”Tentu setelah ritual ini, kita lebih merasa menyatu. Lebih aman, lebih enak rasanya kalau membawa benda itu,” tutur dia.

Ritual Bisoq Keris tak terlepas dari peranti yang ada. Sebagai bagian dari prosesi. Setidaknya ada empat hal yang paling dibutuhkan dalam ritual ini. Air, kembang atau bunga, wewangian, dan keris itu sendiri.

Karakter air, kata Sadarudin, sebagai sarana untuk membersihkan. Juga menyucikan sesuatu. Kemudian bunga, yang identik dengan keharuman. Menandakan bahwa tradisi Bisoq Keris merupakan sesuatu yang baik. Tidak sedikitpun berniat untuk menentang nilai agama.

Adapun keris, lanjutnya, sebagai gambaran ketajaman akal luhur dan akal budi. Pada dasarnya, keris selalu dipegang seorang laki-laki. Dengan benda pusaka itu, sang pemegang harus mampu menunjukkan keluhuran akal. Juga perbuatan baik.

”Semuanya ada maksud dan tujuannya. Ke depannya bisa menjadi sesuatu yang positif,” terang ia.

Keris bukan sekedar senjata pusaka. Benda klasik yang diwariskan secara turun temurun. Kata Sadarudin, setiap keris biasanya identik dengan pemegangnya. Karakter keris menyesuaikan karakter pemiliknya.

Tak jarang, orang yang hendak membuat keris, memiliki hitung-hitungan tertentu. Terutama untuk mengukur panjang dan bentuk keris. Ada yang mengukur menggunakan ibu jari. Juga selembar daun yang telah dibagi dua.

”Kalau karakter (orang) yang lembut dan halus, tentu tidak mau memegang (keris) yang keras,” sebut Sadarudin.

Karakter di dalam keris, itu pula yang membuat benda pusaka tersebut tak bisa dipakai sembarangan. Kata Sadarudin, ketika pemakaian keris menyimpang dalam proses adat, pemakainya bisa terkena denda.

Karena besarnya nilai keris, benda ini tidak bisa sembarangan dikeluarkan. Hanya di acara-acara dengan nilai kesakralan tinggi. Misalnya, dikeluarkan kala prosesi Sorong Serah Aji Krame. Salah satu tradisi upacara dan rangkaian prosesi perkawinan adat Suku Sasak.

Keris juga akan ke luar kala dilakukannya ritual adat. Kata Sadarudin, ada beberapa keris yang menuntut pemiliknya untuk diadakan roah atau syukuran berupa ritual adat. ”Misalnya setiap bulan Maulid. Dan ada persyaratan khusus,” sebut Sadarudin.

Sadarudin mengatakan, ada banyak benda pusaka dengan cara pemakaian yang berbeda-beda. Umumnya, semua benda, seperti pemaje; kojongan; pisau; juga keris, memiliki wajah atau muka. Yang ketika dipakai, harus menghadap ke depan. Sesuai dengan arah wajah pemakainya.

Sebaliknya, ketika diletakkan di bagian punggung, wajah atau muka keris harus menghadap ke belakang. Bukan ke arah punggung sang pemakainya. Jika ini yang terjadi, keris seolah-olah tidak bernafas. Juga menunjukkan kesombongan dan aura menantang dari si pemakai keris.

”Ada tata caranya. Ada pakemnya. Untuk meletakkan sesuatu sesuai proporsinya. Kalau tidak seperti itu, bisa terkena denda,” terang Sadarudin.

Sementara itu, pemerhati budaya Sasak Sahnan mengatakan, prosesi Bisoq Keris juga merupakan salah satu cara untuk memelihara benda pusaka. Sahnan lantas merujuk pada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Di beleid tersebut, diterangkan mengenai perlindungan benda cagar budaya. ”Itu latar belakang kenapa keris harus dimandikan. Salah satu cara untuk melindungi keris, yang merupakan benda cagar budaya,” ucap dia.

Kata Sahnan, orang dulu memiliki cara berbeda dalam melindungi pusakanya. Celakanya, cara-cara tersebut justru membuat keris tidak telestarikan. Misalnya, ada orang tua dulu, yang pantang untuk menghunus keris. Mengeluarkannya dari sarung. Mereka takut melakukan itu akan membuat sakit perut.

”Ternyata tidak dihunus, keris malah jadi karatan. Akhirnya rusak,” tuturnya.

Terkadang juga. Pemilik keris lalai menjaga kerisnya. Sebagai benda pusaka, keris tentu bernilai mahal. Apalagi yang memiliki nilai sejarah turun temurun. ”Jadi sasaran pencurian. Boleh sebenarnya kita jual keris, tapi itu duplikatnya,” terang Sahnan.

Sementara itu, tokoh masyarakat Dasan Geria Jumarti mengatakan, Lombok Barat sesungguhnya memiliki banyak atraksi kebudayaan. Yang mampu mendongkrak pariwisata. ”Dulu pernah, pas Pak Iskandar menjadi Bupati, itu ada festival Senggigi dirangkai dengan pengukuhan kades. Ramai itu, disaksikan banyak pejabat,” kata pria yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Lobar ini.

Adapun Bisoq Keris ini, merupakan budaya yang harus dipertahankan. Sebagai kearifan lokal. Kata Jumarti, di beberapa daerah Pulau Jawa, ritual memandikan keris kerap dijadikan atraksi pariwisata.

”Pemkab dan Pemprov seharusnya bisa menyambut momen ini,” ucap dia.

Lebih lanjut, kata Jumarti, Bisoq Keris tidak sekadar bisa menjadi daya tarik wisata. Tradisi ini sekaligus menjaga kearifan lokal. Budaya yang harus terus dijaga keasliannya. ”Kita lihat sekarang sudah banyak pergeseran budaya, seperti nyongkolan. Makanya, kita berharap Bisoq Keris bisa terus dilestarikan,” pungkas Jumarti. (bersambung/r3)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*