MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA
Selasa, 10 September 2019 09:54
Bisoq Keris, Cara Masyarakat Dasan Geria Lestarikan Warisan Leluhur
Ritual Bisoq Keris digelar di Desa Dasan Geria, Lombok Barat (Lobar)

PROKAL.CO, Ritual Bisoq Keris digelar di Desa Dasan Geria, Lombok Barat (Lobar). Tradisi ini muncul kembali setelah menghilang selama hampir tiga dasawarsa. Sebagai cara masyarakat menjaga warisan. Juga melestarikan budaya yang menjadi identitas turun temurun.

 

WAHIDI AKBAR SIRINAWA, GIRI MENANG

 

Tangan Jumarti secara perlahan menciduk air di tempayan gerabah. Mengisi centong (gayung) yang terbuat dari batok kelapa. Air itu kemudian disiramkan ke keris. Sebagai pertanda dimulainya ritual Bisoq Keris.

Bisoq berarti mencuci dalam Bahasa Indonesia. Secara harfiah Bisoq Keris berarti mencuci keris. Benda pusaka yang diwariskan secara turun temurun. Di beberapa daerah, terutama Pulau Jawa, tradisi ini dirawat dengan baik. Upaya serupa dilakukan di Dasan Geria. Salah satu desa di sebelah utara Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

Tradisi Bisoq Keris kembali eksis. Setelah nyaris tiga dasawarsa menghilang. Dihidupkan kembali masyarakat bersama budayawan Sasak. Dilakukan di Padepokan Lingsir, Desa Dasan Geria. Pada Bulan Muharram.

Ada sekitar 25 keris dan ratusan benda pusaka lain. Yang dicuci malam itu. Sabtu, 7 September atau 7 Muharram untuk tahun penanggalan Islam.

Pencucian keris mengambil tempat di lantai dua Padepokan Lingsir. Bangunan ini seluruhnya terbuat dari kayu. Suasana sakral langsung terasa. Saat ketua Padepokan Lingsir H Imam Sanusi memulai ritual Bisoq Keris.

Seluruh lampu yang menerangi padepokan dimatikan. Gelap. Hanya menyisakan cahaya temaram dari lilin. Di lantai dua, ruangan yang luasnya sekitar 3x3 meter, dijejerkan puluhan keris dan tombak.

Di samping meja, nampak H Imam Sanusi duduk bersila. Didampingi Jumarti. Tokoh masyarakat Desa Dasan Geria. Di depan keduanya terdapat empat tempayan gerabah. Tiga tempayan berisi kembang dan sisanya sebagai tempat untuk wadah air bekas mencuci keris.

Pemilik keris mengambil benda pusakanya di atas meja. Diserahkan secara perlahan ke tangan Imam Sanusi. Perlahan, Sanusi mengeluarkan keris dari bungkusnya. Memperhatikan dengan detail bentuk keris. Merabanya dengan perlahan. Seolah sedang mengajak benda pusaka itu untuk berkomunikasi.

Ritual Bisoq Keris dimulai saat Jumarti menyiram air ke atas tubuh keris. Siraman itu disambut Sanusi dengan menggosok keris menggunakan tangannya. Selain air, Sanusi juga terlihat mengoleskan wewangian di sekujur tubuh keris.

Proses serupa diulangi. Untuk seluruh keris dan benda pusaka lainnya.

Suasana sakral Bisoq Keris bertambah dengan tembang yang dilantunkan dari lantai satu padepokan. Dinyanyikan menggunakan beragam bahasa. Dari Sansekerta, Jawa Kuno, sasak wayah, dan sasak milenial. Dilantunkan Ki Ageng Jelantik Sadarudin. Seorang dalang sekaligus pengemban budaya dan adat Sasak.

”Supaya bisa dimengerti semuanya. Jadi tidak saja pakai bahasa sansekerta,” kata Sadarudin.

Dalam proses Bisoq Keris, tembang tidak mesti dilantunkan. Hanya saja, Sadarudin memilih menembang untuk menambah kesakralan prosesi. Tembang yang dilantunkan pun disesuaikan dengan kondisi. Sadarudin menyebut tembangnya mengambil semangat Paer Patut Patuh Patju. Sesuai dengan slogan Kabupaten Lombok Barat.

”Sebenarnya untuk memberi semangat. Menghadirkan nuansa sakral dan khidmat,” ucap dia.

Tak ada cerita khusus dalam tembang yang dilantunkan Sadarudin. Kata dia, rangkaian kalimat yang dilontarkannya berisi pujian kepada Allah. Memohon keselamatan dan anugerah selama prosesi Bisoq Keris.

”Jadi isinya itu, bagaimana makhluk di atas dunia ini, timur barat, selatan utara, semuanya memuji kepada Tuhan YME,” jelas Sadarudin mengenai tembangnya.

Proses Bisoq Keris merupakan budaya yang perlu dilestarikan. Setidaknya seperti yang dikatakan Kades Dasan Geria Muhammad Nawa Komtaressa. Kata dia, acara ini menjadi salah satu ritual besar. Namun sempat hilang. Tidak pernah lagi dilakukan.

”Dari dulu sudah ada. Warisan turun temurun. Tapi, sudah dua atau tiga dasawarsa ini tidak pernah terlihat lagi,” kata Nawa.

Keprihatinan Nawa akan budaya Bisoq Keris yang semakin dilupakan, membuat dia mengajak tokoh masyarakat Sasak urun rembug. Menghidupkan kembali tradisi tersebut. Apalagi Bisoq Keris merupakan salah satu budaya tertua di Lombok. Juga memiliki nilai filosofi.

Nawa mengatakan, budaya bisa menjadi kebanggaan suatu bangsa. Identitas yang harus terus dijaga. Dia pun bersyukur. Masih banyak tokoh adat dan budayawan yang mendukung tradisi Bisoq Keris.

”Kira-kira apa yang kita banggakan? Keilmuan? Dunia? Modernisasi? Kita masih belum mampu. Harta juga tidak ada nilainya. Cuma budaya ini yang bisa kita banggakan,” tegas dia.

Sebagai kepala desa ke-14, sudah menjadi kewajiban Nawa untuk menghidupkan. Menjaga dan melestarikan budaya Sasak. Agenda Bisoq Keris pun diwacanakannya untuk digelar setiap tahun.

”Dan, kita harap pemerintah bisa siap menyambut kegiatan kebudayaan ini. Intinya, nilai budaya kita dapatkan. Tapi, lebih penting lagi itu nilai silaturahminya,” sebut Nawa.

Bisoq Keris, bagi Nawa, bukan sekedar ritual. Prosesi budaya. Tapi juga sebagai pengingat diri. Bahwa ada warisan benda pusaka yang harus dijaga. ”Melalui media ini, kita mengingat, menghargai, dan melestarikan apa yang sudah ditinggalkan untuk kita. Budaya ini jadi modal untuk bangkit lagi,” tegas dia. (bersambung/r3)


BACA JUGA

Rabu, 20 November 2019 13:28

Trans Sumatera Beroperasi Sepanjang 501 Kilometer

JAKARTA– Pemerintah menargetkan total 501 kilometer Jalan Tol Trans Sumatera…

Rabu, 20 November 2019 10:26

TRAGIS..!! Anggota Sabhara Polda Bali Tewas Ditabrak saat Bubarkan Balap Liar

Peristiwa tragis terjadi kemarin dini hari (19/11). Salah seorang anggota…

Selasa, 19 November 2019 11:02

Gerah di Jogja Imbas Badai, Bukan Merapi

JOGJA- Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika…

Selasa, 19 November 2019 10:43

Kecewa Kalah Pemilihan Kepala Dusun, Pria Ini Bakar Puluhan KIS Warga Miskin

SINGARAJA - Ada-ada saja ulah Ketut Suarta, warga Desa Anturan,…

Selasa, 19 November 2019 10:29

Buku Pelajaran Agama yang Baru Mulai Diajarkan Tahun Depan, Bedanya Apa Sih?

JAKARTA– Perubahan terhadap 155 buku ajar mata pelajaran Pendidikan Agama…

Senin, 18 November 2019 11:34

Gunung Merapi Erupsi Masih Akan Terus Erupsi

JAKARTA– Setelah erupsi pada 9 November lalu, Gunung Merapi di…

Senin, 18 November 2019 11:12

PKS Target Menang 60 Persen Pilkada 2020

JAKARTA– Rapat koordinasi nasional (Rakornas) PKS memunculkan sejumlah rekomendasi penting.…

Senin, 18 November 2019 11:10

Dominan Gas dan Abu Vulkanik, Penerbangan Normal

JOGJA -  Gunung Merapi kembali mengalami aktivitas vulkanik, Minggu (17/11).…

Senin, 18 November 2019 10:52

Panasnya Pilkades di Jawa, Persaingan Suami Versus Istri di 18 Desa

KUDUS- Gelaran pesta politik arus bawah atau pemilihan kepala desa…

Senin, 18 November 2019 00:08

Mendes PDTT : LDN Bisa Ciptakan Pemain Berbakat Dari Desa

JOMBANG  - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*