MANAGED BY:
RABU
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | LIFESTYLE | KALTARA

UTAMA

Selasa, 10 September 2019 09:48
Pembeli Sex Toys Didominasi Kaum Hawa

Bea Cukai Sita Ratusan Alat Pemuas Hasrat

ilustrasi

PROKAL.CO, MALANG KOTA – Keberadaan sex toys bagi banyak orang, boleh jadi hingga kini masih dianggap tabu. Namun, layaknya Kota Metropolis, peredaran alat bantu seks di Kota Malang itu ternyata cukup tinggi. Selain orang dewasa, kalangan mahasiswa juga memanfaatkan beraneka macam alat bantu untuk menyalurkan hasrat seksualnnya.

Tentang makin maraknya peredaran sex toys di Kota Malang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah ungkap kasus paket alat pemuas syahwat ilegal dari luar negeri yang masuk dalam dua tahun terakhir. Hal itu tak ditampik oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Bea dan Cukai Jawa Timur (Jatim) II Agus Hermawan. ”Sex toys ini banyak yang masuk ke Malang,” ujarnya. Pada tahun 2018 lalu, Kanwil BC II Jatim menindak pengiriman 173 paket sex toys. Sedangkan pada 2019, terhitung sejak Januari–Agustus lalu saja, timnya sudah menggagalkan 190 paket berisi sex toys. Diperkirakan, jumlah barang ilegal tersebut jauh lebih banyak lagi jika terhitung hingga bulan Desember mendatang.

Laris manisnya perdagangan sex toys juga diamini sejumlah pedagang yang menjual alat bantu seks tersebut, baik secara online maupun offline. Wartawan koran ini sempat mewawancarai dua pedagang yang menjual sex toys di Kota Malang. ”Penjualan cukup bagus di Malang. Lumayan banyak yang beli. Selain kalangan mahasiswa, banyak juga orang dewasa. Banyak perempuan yang beli sih,” ujar Adam yang memiliki toko offline di kawasan Sumbersari. Meski tak memasang keterangan tokonya menjual sex toys, namun umumnya calon pembeli sudah mafhum tokonya menjual aneka jenis alat bantu pemuas nafsu tersebut.

Dia menyatakan, peredaran sex toys mulai menggeliat di Kota Malang sejak beberapa tahun terakhir. ”Pokoknya di mana ada kota, banyak mahasiswa, pasti sasaran penjualan kami lah,” kata pria yang menekuni bisnis sex toys sejak 2015 itu.

Dalam sebulan, Adam rata-rata bisa lebih dari 15 kali transaksi alat bantu seks. Jenis dan bentuknya pun ada banyak macam, mulai dari vibrator, dildo, lidah getar hingga boneka pompa. Harga yang dipatok bervariasi, mulai dari Rp 200 ribuan hingga Rp 2,5 juta per unitnya. ”Keuntungannya lumayan,” ujarnya. Hanya saja, dia enggan merinci margin keuntungan yang didapatnya.

Meski begitu, dia mengaku bisnis penjualan sex toys itu hanya sampingan saja. ”Kalau di Kota Metropolitan, bisa jadi pekerjaan tetap. Soalnya, pembelinya lebih terbuka daripada di sini (Kota Malang),” singkatnya.

Sementara itu, Rio J., pedagang alat bantu seks lain, mengaku mendapatkan pasokan barang dari distributor. ”Saya pesan ke distributor, terus dikirim via paket,” kata alumnus universitas swasta di Kota Malang itu. Dia menyebut, salah satu produk sex toys yang banyak laku adalah jenis vibrator dan dildo dengan berbagai jenis dan ukuran. (bdr/san/c1/nay)

 

Didominasi Produk

Taiwan dan Tiongkok

Sementara itu, tentang banyaknya paket sex toys yang diamankan pihaknya, Agus menyatakan sebenarnya penindakan tersebut bukan ranahnya. Tapi pihaknya mendapat titipan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar menyita sex toys yang masuk Indonesia, khususnya Malang. ”Kata Kemenkes, kalau ada barang ini (sex toys), tolong dicegah,” kata Agus.

Menurut dia, Kemenkes memintanya menyita sex toys karena barang tersebut tidak mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Karena itu, pihaknya ikut getol mencegah beredarnya barang ilegal tersebut.

Berdasarkan pantauan Agus, Malang menjadi sasaran karena kota besar. Selain banyaknya pendatang, juga ada kantor pos-nya. ”Pokoknya, kota yang ada kantor pos itu biasanya (jadi jujukan pengiriman),” imbuhnya.

Barang-barang tersebut rata-rata dipasok dari Taiwan dan Tiongkok. ”Ada juga yang dari Inggris. Tapi, mayoritas dari sana (Taiwan dan Tiongkok),” kata dia.

Karena mengetahui masuknya sex toys menggunakan jasa pengiriman kantor pos, Agus melakukan operasi di setiap kantor pos. Setelah teridentifikasi barang dan penerimanya, Agus memanggil si penerima. ”Kami cegat di kantor pos-nya. Panggil orangnya, lalu kami jelaskan bahwa barang itu (sex toys) tidak boleh beredar,” tuturnya.

 Bagi para pembeli sex toys, keberadaan alat tersebut memiliki banyak tujuan. Ada yang dianggap sebagai variasi dalam hubungan suami istri, ada juga yang sebatas coba-coba. Seperti pengalaman, sebut saja Mirna yang pernah membeli sex toys karena sebatas iseng saja. ”Ya penasaran saja, saya belinya secara online meski yang jual juga orang Malang,” terangnya.

Mirna membeli sex toys di online shop dengan kata kunci kontrasepsi. ”Soalnya kalau beli, terus klik sex toys, biasanya penjualnya abal-abal. Rawan penipuan,” kata ibu dua anak ini. (bdr/san/c1/nay)

 

Masih Dianggap Normal, asalkan…

Terpisah, psikiater Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dr Dearisa Surya Yudhantara SpKJ menyatakan, seseorang yang membeli sex toys memiliki tiga dimensi yang harus diperhatikan. ”Pertama dari segi norma, di sini kan tabu. Maka orang yang membeli sex toys biasanya masih terbatas. Karena tabu itu sendiri,” ujarnya.

Alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini memaparkan, sisi kedua adalah kesehatan. Hingga kini, negara mana pun yang memproduksi sex toys tidak ada yang berani menjamin bahwa bahan sex toys aman digunakan. Belum ada standardisasi sex toys secara global.

”Dari segi struktur, bentuknya belum disesuaikan dengan organ intim pria maupun wanita. Sehingga dalam beberapa kasus, penggunanya merasa kesakitan hingga luka,” bebernya.

Sementara itu, dari sisi psikologi atau aspek kejiwaan, sebenarnya penggunaan sex toys sendiri bisa dibilang normal dilakukan. ”Semisal pasangannya yang bermasalah seksual, kan bisa menggunakan sex toys,” jelas dia.

Termasuk bagi pasangan sadokis-masokis (menikmati hubungan dengan cara saling menyakiti) yang tidak bisa serta-merta disembuhkan. Pasangan ini bahkan harus menggunakan beragam alat bantu agar bisa menikmati hubungan. ”Dan bisa jadi, penggunaan sex toys untuk menambah gairah atau pengalaman baru mereka. Jadi, tidak serta-merta gangguan,” kata dia.

Jika tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada diri sendiri atau pasangannya, belum dapat disebut gangguan secara kejiwaan. ”Namun, itu tidak dapat diterima oleh norma masyarakat,” pungkasnya. (badr/san/c1/dan/nay)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 12:48

Pantau Kondisi 78 WNI yang Dikarantina di Kapal Pesiar, Kemenlu-Kemenkes Kerahkan Tim ke Jepang

JAKARTA– Pariwisata menjadi salah satu sektor yang berpotensi paling terpukul…

Selasa, 18 Februari 2020 12:38

Singgung Presiden di Facebook, Dosen Unnes Dibebastugaskan dan Minta Pembuktian Akademik

SEMARANG– Dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dr Sucipto Hadi Purnomo…

Selasa, 18 Februari 2020 12:10

Lewat Omnibus Law, Pemerintah Dianggap Ingin Intervensi Pers

JAKARTA - Penolakan draf omnibus law juga datang dari Aliansi…

Selasa, 18 Februari 2020 12:06

ADUH..!! Neraca Dagang RI Kembali Defisit, Belum Lagi Dampak Corona

JAKARTA– Tahun telah berganti. Namun, neraca perdagangan RI masih tetap…

Selasa, 18 Februari 2020 11:51

Kualitas SDM Kaltim Meningkat

SAMARINDA- Kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kaltim terus mengalami…

Selasa, 18 Februari 2020 11:23

Kecelakaan Tambang Karyawan PT Pamapersada, Investigasi Dilakukan, Polisi Kesulitan

Jasad Alamsyah Arsyad, leader yang tenggelam akibat tanah longsor, hingga…

Selasa, 18 Februari 2020 10:55

Bentuk Satgas, Klaim Tutup 8.683 Titik Tambang Liar

JAKARTA– Jumlah tambang liar di Indonesia cukup banyak. Mencapai 8.683…

Selasa, 18 Februari 2020 10:20

Presentase di Pileg dan Pilkada Terus Meningkat, Dinasti Politik Kian Banyak

JAKARTA– Pengaruh dinasti politik dalam setiap pagelaran Pemilihan Legislatif (Pileg)…

Senin, 17 Februari 2020 12:17

Tanggapi Pernyataan Hotman Paris Kasus Kematian Yusuf, Ini Pernyataan Kapolres Samarinda

SAMARINDA - Kapolres Samarinda Kombes Pol Arif Budiman menanggapi pernyataan…

Senin, 17 Februari 2020 12:16

Pelajar yang Pulang ke Indonesia, Kuliah Daring sampai Tiongkok Kondusif

BALIKPAPAN–Sebanyak 14 mahasiswa Kaltim yang di evakuasi dari Kota Wuhan,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers