MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Selasa, 10 September 2019 09:48
Pembeli Sex Toys Didominasi Kaum Hawa

Bea Cukai Sita Ratusan Alat Pemuas Hasrat

ilustrasi

PROKAL.CO, MALANG KOTA – Keberadaan sex toys bagi banyak orang, boleh jadi hingga kini masih dianggap tabu. Namun, layaknya Kota Metropolis, peredaran alat bantu seks di Kota Malang itu ternyata cukup tinggi. Selain orang dewasa, kalangan mahasiswa juga memanfaatkan beraneka macam alat bantu untuk menyalurkan hasrat seksualnnya.

Tentang makin maraknya peredaran sex toys di Kota Malang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah ungkap kasus paket alat pemuas syahwat ilegal dari luar negeri yang masuk dalam dua tahun terakhir. Hal itu tak ditampik oleh Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Bea dan Cukai Jawa Timur (Jatim) II Agus Hermawan. ”Sex toys ini banyak yang masuk ke Malang,” ujarnya. Pada tahun 2018 lalu, Kanwil BC II Jatim menindak pengiriman 173 paket sex toys. Sedangkan pada 2019, terhitung sejak Januari–Agustus lalu saja, timnya sudah menggagalkan 190 paket berisi sex toys. Diperkirakan, jumlah barang ilegal tersebut jauh lebih banyak lagi jika terhitung hingga bulan Desember mendatang.

Laris manisnya perdagangan sex toys juga diamini sejumlah pedagang yang menjual alat bantu seks tersebut, baik secara online maupun offline. Wartawan koran ini sempat mewawancarai dua pedagang yang menjual sex toys di Kota Malang. ”Penjualan cukup bagus di Malang. Lumayan banyak yang beli. Selain kalangan mahasiswa, banyak juga orang dewasa. Banyak perempuan yang beli sih,” ujar Adam yang memiliki toko offline di kawasan Sumbersari. Meski tak memasang keterangan tokonya menjual sex toys, namun umumnya calon pembeli sudah mafhum tokonya menjual aneka jenis alat bantu pemuas nafsu tersebut.

Dia menyatakan, peredaran sex toys mulai menggeliat di Kota Malang sejak beberapa tahun terakhir. ”Pokoknya di mana ada kota, banyak mahasiswa, pasti sasaran penjualan kami lah,” kata pria yang menekuni bisnis sex toys sejak 2015 itu.

Dalam sebulan, Adam rata-rata bisa lebih dari 15 kali transaksi alat bantu seks. Jenis dan bentuknya pun ada banyak macam, mulai dari vibrator, dildo, lidah getar hingga boneka pompa. Harga yang dipatok bervariasi, mulai dari Rp 200 ribuan hingga Rp 2,5 juta per unitnya. ”Keuntungannya lumayan,” ujarnya. Hanya saja, dia enggan merinci margin keuntungan yang didapatnya.

Meski begitu, dia mengaku bisnis penjualan sex toys itu hanya sampingan saja. ”Kalau di Kota Metropolitan, bisa jadi pekerjaan tetap. Soalnya, pembelinya lebih terbuka daripada di sini (Kota Malang),” singkatnya.

Sementara itu, Rio J., pedagang alat bantu seks lain, mengaku mendapatkan pasokan barang dari distributor. ”Saya pesan ke distributor, terus dikirim via paket,” kata alumnus universitas swasta di Kota Malang itu. Dia menyebut, salah satu produk sex toys yang banyak laku adalah jenis vibrator dan dildo dengan berbagai jenis dan ukuran. (bdr/san/c1/nay)

 

Didominasi Produk

Taiwan dan Tiongkok

Sementara itu, tentang banyaknya paket sex toys yang diamankan pihaknya, Agus menyatakan sebenarnya penindakan tersebut bukan ranahnya. Tapi pihaknya mendapat titipan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar menyita sex toys yang masuk Indonesia, khususnya Malang. ”Kata Kemenkes, kalau ada barang ini (sex toys), tolong dicegah,” kata Agus.

Menurut dia, Kemenkes memintanya menyita sex toys karena barang tersebut tidak mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Karena itu, pihaknya ikut getol mencegah beredarnya barang ilegal tersebut.

Berdasarkan pantauan Agus, Malang menjadi sasaran karena kota besar. Selain banyaknya pendatang, juga ada kantor pos-nya. ”Pokoknya, kota yang ada kantor pos itu biasanya (jadi jujukan pengiriman),” imbuhnya.

Barang-barang tersebut rata-rata dipasok dari Taiwan dan Tiongkok. ”Ada juga yang dari Inggris. Tapi, mayoritas dari sana (Taiwan dan Tiongkok),” kata dia.

Karena mengetahui masuknya sex toys menggunakan jasa pengiriman kantor pos, Agus melakukan operasi di setiap kantor pos. Setelah teridentifikasi barang dan penerimanya, Agus memanggil si penerima. ”Kami cegat di kantor pos-nya. Panggil orangnya, lalu kami jelaskan bahwa barang itu (sex toys) tidak boleh beredar,” tuturnya.

 Bagi para pembeli sex toys, keberadaan alat tersebut memiliki banyak tujuan. Ada yang dianggap sebagai variasi dalam hubungan suami istri, ada juga yang sebatas coba-coba. Seperti pengalaman, sebut saja Mirna yang pernah membeli sex toys karena sebatas iseng saja. ”Ya penasaran saja, saya belinya secara online meski yang jual juga orang Malang,” terangnya.

Mirna membeli sex toys di online shop dengan kata kunci kontrasepsi. ”Soalnya kalau beli, terus klik sex toys, biasanya penjualnya abal-abal. Rawan penipuan,” kata ibu dua anak ini. (bdr/san/c1/nay)

 

Masih Dianggap Normal, asalkan…

Terpisah, psikiater Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dr Dearisa Surya Yudhantara SpKJ menyatakan, seseorang yang membeli sex toys memiliki tiga dimensi yang harus diperhatikan. ”Pertama dari segi norma, di sini kan tabu. Maka orang yang membeli sex toys biasanya masih terbatas. Karena tabu itu sendiri,” ujarnya.

Alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini memaparkan, sisi kedua adalah kesehatan. Hingga kini, negara mana pun yang memproduksi sex toys tidak ada yang berani menjamin bahwa bahan sex toys aman digunakan. Belum ada standardisasi sex toys secara global.

”Dari segi struktur, bentuknya belum disesuaikan dengan organ intim pria maupun wanita. Sehingga dalam beberapa kasus, penggunanya merasa kesakitan hingga luka,” bebernya.

Sementara itu, dari sisi psikologi atau aspek kejiwaan, sebenarnya penggunaan sex toys sendiri bisa dibilang normal dilakukan. ”Semisal pasangannya yang bermasalah seksual, kan bisa menggunakan sex toys,” jelas dia.

Termasuk bagi pasangan sadokis-masokis (menikmati hubungan dengan cara saling menyakiti) yang tidak bisa serta-merta disembuhkan. Pasangan ini bahkan harus menggunakan beragam alat bantu agar bisa menikmati hubungan. ”Dan bisa jadi, penggunaan sex toys untuk menambah gairah atau pengalaman baru mereka. Jadi, tidak serta-merta gangguan,” kata dia.

Jika tidak menimbulkan ketidaknyamanan pada diri sendiri atau pasangannya, belum dapat disebut gangguan secara kejiwaan. ”Namun, itu tidak dapat diterima oleh norma masyarakat,” pungkasnya. (badr/san/c1/dan/nay)


BACA JUGA

Senin, 23 September 2019 10:13

Tujuh Hari Lahan di Cagar Alam Kersik Luway Terbakar, Petugas Minta Water Booming

PROKAL.CO, SAMARINDA - Areal cagar alam, Kersik Luway Kabupaten Kutai…

Senin, 23 September 2019 09:01
Bandar Narkoba Tewas

Satu Proyektil Bersarang di Kepala Bandar Narkoba

SAMARINDA–Irwan (35), pengedar narkoba yang ditangkap di kawasan simpang empat…

Senin, 23 September 2019 08:52

Bangun Ibu Kota, Perhatikan Kota Penyangga

Pembangunan ibu kota negara (IKN) di Penajam Paser Utara (PPU)…

Sabtu, 21 September 2019 11:45

Dilumpuhkan setelah Kejar-kejaran

SAMARINDA–Penyelundupan narkoba di Samarinda masuk radar Badan Narkotika Nasional (BNN)…

Sabtu, 21 September 2019 11:40

Ketika Ribuan Mahasiswa Menyuarakan Penolakan RUU KUHP dan UU KPK

Keprihatinan yang sama terhadap isu RUU KUHP dan UU KPK…

Sabtu, 21 September 2019 11:28

Jalan Ibu Kota Negara Dibagi Lima Zona

Ada banyak alasan mengapa kereta dipilih dibanding moda transportasi lain.…

Sabtu, 21 September 2019 11:27

Ancam Kebebasan Berekspresi, Banyak Masalah di RKUHP

BALIKPAPAN- Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) masih menjadi sorotan.…

Sabtu, 21 September 2019 11:26
RUU KUHP Hanya Ditunda, Bukan Dibatalkan

Jokowi Minta 14 Pasal RUU KUHP Dikaji Ulang

JAKARTA– Makin tingginya gelombang penolakan pada Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang…

Jumat, 20 September 2019 12:13

Walhi Yakin Korporasi Terlibat Karhutla

SAMARINDA–Dugaan lahan dibakar untuk kepentingan perkebunan menguat. Kebun sawit diindikasikan…

Jumat, 20 September 2019 11:39

Pembangunan Jalan Perbatasan Kaltim-Kaltara Sudah Tembus..!! Tapi...

BALIKPAPAN- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secara bertahap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*