MANAGED BY:
SENIN
23 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 07 September 2019 12:54
Cerita Tiga Guru Inisiator Perpustakaan Keliling

Jalan Beriringan Lewati Daerah Rawan Kejahatan

Di daerah pelosok, perpustakaan keliling ibarat oase bagi anak-anak.

PROKAL.CO, Di daerah pelosok, perpustakaan keliling ibarat oase bagi anak-anak. Mereka berduyun-duyun mencari bacaan menarik. Kondisi itu menyemangati tiga guru di Tulang Bawang Barat, Lampung, untuk rajin berkeliling membawakan buku bacaan meski melewati daerah rawan kejahatan sekalipun.

 

AGUS DWI PRASETYO, Lampung, Jawa Pos

Setiap mendengar motor roda tiga itu datang berkeliling, Novrian Alfes Setiawan kegirangan. Seperti siang itu, dia bergegas menuju halaman Musala Al Muttaqien, Tiyuh (Desa) Candra Mukti, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, tempat motor tersebut terparkir.

Dia mengamati buku-buku di rak dalam boks di belakang motor. Beberapa saat kemudian, bocah kelas IV Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Madani tersebut mengambil sebuah buku, lalu mencari tempat duduk. ”Novrian, gantian dong, aku juga pengin baca,” tegur seorang bocah. Novrian yang sedang asyik semakin mendekap erat buku berjudul Muhammad Teladanku: Perang Uhud itu. Dia enggan memberikan buku tersebut. Bocah 9 tahun tersebut malah bergegas berpindah tempat. Menjauh dari kawannya dengan air muka polos. Menggemaskan.

Sementara itu, di sekitar motor besar bermesin 150 cc tersebut, bocah-bocah makin berkerumun. Jumlahnya puluhan. Mereka berebut buku tersisa yang masih ada di rak dalam boks berukuran 1,5 x 1,5 meter itu. Makin lama, semakin banyak anak-anak mengerubungi sepeda motor. Buku di dalam rak itu cepat habis. Sebagian tidak kebagian. Mereka menunjukkan ekspresi kecewa.

Seorang pria menghampiri anak-anak yang tidak kebagian buku. Dia mengajak mereka ke Griya Baca Al Barokah, tak jauh dari situ. Di dalam rumah baca itu, buku-buku tersusun rapi di rak panjang. ”Bukunya masih ada, yang mau baca silakan ambil!” kata M. Imam Turmudzi, pria itu.

Keriuhan bocah-bocah tersebut adalah keceriaan karena bisa membaca buku-buku yang tidak ada di sekolah. Buku bergambar seperti komik Sirah Nabi paling digemari. Buku Siapakah Dokter Pertama di Dunia? juga jadi rebutan. ”Ada buku lain tentang pendidikan Islam dan sains juga,” kata Yayuk Tri Sugiarti, rekan Imam dalam mengurus perpustakaan keliling itu.

Sepeda motor tiga roda adalah perpustakaan portabel. Sudah dua tahun motor merek Viar bantuan pemerintah tersebut berkeliling ke banyak tempat di tiga kecamatan di Tulang Bawang Barat. Yakni, Tumijajar, Tulang Bawang Tengah, dan Tulang Bawang Udik. Tidak banyak kegiatan membaca semacam itu di wilayah pelosok Lampung tersebut. Kalaupun ada, lebih sering tidak aktif. Koleksi bukunya juga tidak lengkap. Kebanyakan tak sesuai kebutuhan anak-anak. ”Kalau kegiatan taman baca sudah jalan tiga tahun,” ujar Yayuk.

Di daerah lain, barangkali sudah banyak perpustakaan keliling semacam itu. Namun, di Tulang Bawang Barat bisa dihitung jari. Perpustakaan keliling dengan motor seperti barang langka di sana. ”Setiap pergi ke satu tempat, bisa 30-an anak yang datang,” terang Yayuk.

Motor itu memang bantuan pemerintah. Tapi, tidak dengan buku-buku yang selalu jadi rebutan anak-anak tersebut. Imam dan istrinya, Dian Iswandari, bersama Yayuk merogoh kocek pribadi untuk membeli buku. Tiga orang yang sama-sama berprofesi guru itu juga harus menanggung biaya operasional motor. Mulai membeli bahan bakar minyak (BBM) hingga perbaikan di bengkel bila rusak. Jika ditotal, sudah 300 buku yang mereka beli selama tiga tahun terakhir. ”Kami membeli buku baru yang sesuai usia SD dan TK,” kata Dian. ”Sebenarnya ada yang mendonasikan buku, tapi kebanyakan tidak sesuai usia,” tambah Yayuk.

Dengan motor itu, kegiatan baca dan kampanye literasi yang mereka rintis bisa menjamah berbagai tempat. Terutama daerah-daerah pelosok. Setiap saat mereka bisa pergi ke sekolah-sekolah yang kekurangan buku. Kemudian, datang ke taman pendidikan Alquran (TPA) atau taman-taman baca lain. Bahkan, bisa pula nongkrong di sekitar pasar tradisional, seperti di Pasar Pulung Kencana, Tulang Bawang Tengah.

”Kalau di pasar itu biasanya banyak anak-anak pedagang yang ikut orang tuanya menunggu lapak. Jadi, sambil menunggu, mereka baca-baca buku,” ucap Yayuk. ”Kadang orang tua juga ikut-ikutan baca,” imbuh perempuan yang juga jadi pengurus Forum Literasi Lampung Cabang Tulang Bawang Barat itu.

Imam dkk juga kerap menyisipi kegiatan lain tiap kali keliling. Mendongeng salah satunya. ”Anak-anak TK paling suka dengan dongeng karena mereka biasanya belum bisa baca,” jelas Yayuk.

Perpustakaan tersebut berkeliling setiap akhir pekan atau saat tanggal merah. Kadang juga beroperasi ketika mendapat undangan dari sekolah atau instansi tertentu. ”Biasanya sore pas pulang sekolah. Sekali keluar bisa 4 sampai 5 jam,” tutur Imam yang merupakan bapak satu anak itu.

Kegiatan baca lewat perpustakaan keliling barangkali turut menyumbang kenaikan poin minat baca di Indonesia. Hasil kajian minat baca 2018 yang dilansir tahun ini menunjukkan skor 52,3 poin (kategori baik). Skor itu meningkat jika dibandingkan dengan 2017 yang berada di kisaran 43,6 poin (kategori rendah).

Namun, kampanye gemar membaca itu bukan tanpa kendala. Selain stok minim dan kalau harus membeli buku baru di pusat kota mereka mesti menempuh 4 jam perjalanan, perpustakaan motor tiga roda tersebut juga tidak selalu mulus melintas di jalanan. Maklum, tidak semua kondisi jalan raya di Tulang Bawang Barat baik. Masih banyak jalan yang rusak. Terutama di daerah pinggiran.

Belum lagi, bayang-bayang daerah rawan kejahatan selalu menghinggapi pikiran Imam dkk. Seperti wilayah lain di Lampung, Tulang Bawang Barat tidak lepas dari stigma daerah rawan begal. Mereka mesti berpikir dua kali ketika harus keliling ke daerah yang dicap rawan oleh sebagian besar orang. ”Kadang takut juga kalau sewaktu-waktu dicegat di tengah jalan,” kata Imam yang dua tahun jadi pengemudi motor perpustakaan itu. ”Makanya, sebisanya kami jalan bareng,” imbuh guru di SDIT dan SMPIT Madani Tulang Bawang Barat tersebut.

Biasanya, Imam jalan lebih dulu membawa perpustakaan keliling. Sementara itu, Dian dan Yayuk berada di belakangnya dengan naik motor lain. Meski demikian, mereka tak pernah patah semangat menyebarkan kebaikan lewat buku yang dibawa. Mereka menyadari, membangun literasi di wilayah pelosok memang penuh keterbatasan. Belum lagi ada musuh besar yang membayangi minat baca anak-anak, yakni gawai. ”Kami ingin orang tua sadar dan mengalihkan belanja gawai ke buku,” kata Dian.

Bila di setiap pelosok negeri ini ada berjuta-juta perpustakaan keliling, mungkin saja minat baca di negara ini meningkat lebih cepat. Dengan catatan, buku yang dibawa mesti beragam. Anak-anak itu perlu asupan banyak ilmu selain yang didapat di bangku sekolah. (*/c10/ayi)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2012 13:30

Sulam Tumpar Kukar Tembus Pasar Nasional

<div> <strong>TENGGARONG </strong>- Kutai Kartanegara (Kukar) mewakili Kaltim di ajang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*